Post View:
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan

Cerpen Mimpi Terindah Sebelum Mati

Jumat, 12 Oktober 2012
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. 

***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005

 Maya Wulan

Kisah Sedih Seorang Istri Solehah

Kamis, 11 Oktober 2012

Mengharu biru; kekuatan kata istri shalehah dalam kisah ini begitu mengena. Catatan yang diambil dari page di sajadah cinta ini , semata-mata ingin menyebarkan manfaat yang terkandung dalam kisah ini. Semoga bermanfaat_

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.

“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Dia mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..

Sahabat..
Kekeliruan slama ini, orang mengganggap kebahagiaan itu adalan kaya akan materi.. mobil mewah.. rumah bagus..
Tapi sesungguhnya kekayaan sebanarnya itu ada saat kita merasa cukup akan nikmat ALLAH walaupun tampa ada materi yang bersifat wah..

Cerpen Islami Ada Apa Denganku

Pagi itu langit hitam kelam. Angin membelai masuk melewati jendela kosan 3x4m, Matahari malas keluar, dia terus bersembunyi di balik awan gelap. Seperti halnya aku yang masih bersembunyi di balik selimut tebal peninggalan nenek yang sangat bau yang aku sangat suka. Hari ini adalah hari Kamis, hari terakhir dalam seminggu aku berkuliah. Sungguh malas kuliah pagi ini, ditambah “tamu” yang setiap bulan datang membuat perutku merasa tidak nyaman dan menambah semangatku untuk tidak kuliah. Dan setiap aku teingat raut muka kedua orang tuaku perasaan itu sedikit hilang, ya, hanya sedikit.

Berjalan menyusuri gang-gang sempit yang setiap hari aku lalui ini sungguh memuakkan, ditambah dengan keringat orang-orang pasar yang membuat aku semakin muak dengan keadaanku sendiri. Sengaja aku lewat gang pasar karena hanya gang pasar akses tercepat yang menghubungkan kosanku dengan kampus. Bertemu dengan orangorang apatis yang sangat tidak peduli dengan orang lain. Masyarakat kota yang individualis. Berbeda sekali dengan kampungku, kampung cinta damai. Dimana hanya ada satu dua orang yang sedikit individualis dan itupun bukan penduduk asli kampung, orang kota yang punya segudang bisinis di desa. Benar kata Frankie, petani mencari kerja di kota, orang kota mencari kekayaan di desa. Sesaat menerawang jauh ke kampungku tiba-tiba saja ada sepeda motor yang hendak menubrukku dari depan yang kemudian menyadarkanku bahwa inilah kota.

“Goblok, jalan gak liat-liat, pake mata dong”, bapak berkumis tebal itu memarahiku. Sepertinya dia tergesa-gesa sekali hendak mengantarkan barang dagangannya. Hanya mampu menghela nafas panjang, terlalu banyak umpatan yang ditujukan kepadaku, tapi kali ini adalah murni salahku. Dengan wajah memelas aku hendak meminta maaf dan sebelum kuucapkan kata maafku orang tua itu sudah enyah dari hadapanku. Mungkin sudah peringaiku untuk selalu berlaku lemah lembut akan tetapi di sini, di kota yang belum pernah aku kunjungi sebelum aku dinyatakan lolos SNMPTN, mereka selalu menyebutnya dengan lelet. Sakit hati iya, tapi lama kelamaan aku sudah bebal dengan ejekan tersebut.

Kursi depan selalu penuh setiap kali aku datang, entah jalanku terlalu lambat atau mereka yang datang terlalu dini. Aku selalu menempati bangku paling belakang di kelas. Ada sesuatu yang tidak membuat aku nyaman berada di antara mahasiswa baru ini. Aku jarang sekali mengerti kuliah yang diberikan dosen, dan aku benci ini. Dengan belajar keras pun IP ku hanya mencapai 2,89. Dosen menurutku layaknya sales yang menawarkan produknya yang aku sama sekali tidak berminat dengan produk yang ditawarkannya. Jujur, tidak ada niatan sedikitpun berkuliah jurusan teknik. Dulu aku bercita-cita ingin jadi sastra, tapi Tuhan berkata lain. Katanya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan faktanya sampai saat ini semester 2 aku masih belum bisa menerima keadaan ini.

“I’, nanti kita ngerjain tugas kelompok di rumah Gita ya, awas kalau sampai pulang”, ancam Vina salah seorang temanku yang sangat membenci keleletanku. Mereka memanggilku Ai’, nama lengkapku Aina Fitri. Entah apa filosofi dari namaku, setiap kali aku tanya orang tuaku, mereka menjawab dulu waktu lahir bapakku lihat ada model pakaian yang cantik bernama Aina dan karena aku lahir pada hari raya Idul Fitri makanya mereka menambahkan kata Fitri di belakang.

“Emangnya tugas dikumpulin kapan? bukannya masih 2 minggu lagi ya? gimana kalau besok Senin aja? aku pengen pulang kampung, hampir tiga bulan aku belum pulang”, tawarku dengan lagi-lagi wajah memelas. Wajah memelasku sering membuat luluh orang dan inilah andalanku.

“Yahh, padahal aku pengen cepet selese, ya udah lah aku juga mau main, salam buat orang rumah ya”, meski kadang benci padaku tapi Vina adalah teman yang baik. Dia kadang merasa kasihan dengan keadaanku. Aku juga heran kenapa dia kasihan padaku. Alasannya cukup simpel, katanya aku lugu, mudah dibohongi juga, kalau semua orang ingin memanfaatkan keluguanku setidaknya ada satu orang yang tidak akan memanfaatkan keluguanku dan dia bilang orangnya adalah dia sendiri.

Kereta berangkat pukul 14.00. Kereta ekonomi yang baunya nggak karuan adalah transportasi yang biasa aku gunakan untuk mengobati rasa rinduku untuk pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah aku berada di samping ibu-ibu dan depanku bapak-bapak. Sepertinya mereka orang-orang baik. Ketika tahu bahwa aku adalah seorang mahasiswa, bapak-bapak di depanku terus menasehatiku,”Sekolah yang bener, Nak, kasihan orang tua yang membiayai, gak usah pacaran-pacaran dulu, nanti kalau sudah jodoh pasti Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pasangan yang tepat”. Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali mengiyakan. “Tuhan itu Maha Adil, laki-laki baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik, begitu juga sebaliknya, jadi kamu tidak usah takut kamu besok dapat lelaki yang tidak baik, kalau kamu adalah wanita baik insya Allah kamu pasti dapat lelaki yang baik pula”, lanjut pak tua yang tepat duduk di depanku. Walaupun agamaku masih sangat cetek, tapi aku tahu dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sangat disayangkan remaja sekarang banyak yang melakukan aktivitas pacaran. Dan yang lebih sangat disayangkan, aku sering melihat mahasiswa perempuan dengan kain yang menutupi kepalanya bergandengan tangan dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahramnya. Tak tahulah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin mereka tidak kasihan dengan orang tua yang membiayai sekolah mereka. Mungkin juga orang tua mereka kaya raya jadi tak perlu lah merasa kasihan kepada orang tua. Tapi bukankah kedua orang tua akan lebih senang seandainya anak yang mereka bangga-banggakan itu berada pada jalan yang diridhoi Allah. Sebenarnya aku tidak berhak berbicara seperti ini, agamaku saja masih awut-awutan. Lihat kerudungku, layak dibilang kelambu. Rambutku terlihat dari luar, sempat aku berpikir untuk membenahi cara berkerudungku tapi ibuku bilang ibu tidak suka anaknya terlalu fanatik dengan agama. Padahal jelas-jelas aku tahu bahwa fanatik itu perlu. Aku memang bukan lahir dari keluarga yang agamis, ibuku pun jarang menutupi auratnya seperti apa yang diperintahkan Allah untuk membalut tubuh dengan pakaian taqwa. Jika ada pengajian atau berita lelayu saja ibu memakai kerudung. Sedang bapakku adalah sesosok bapak yang otoriter yang ilmu agamanya sangat minim sekali. Lahir dari keluarga militer membuat bapakku dididik layaknya seorang prajurit. Setelah kakek nenekku meninggal, bapakku menjadi orang yang paling disegani di keluarga meski bapak adalah anak bungsu dari keluarganya tapi anak-anak budhe paling takut sama bapakku.

Tak terasa 6 jam sudah berlalu, akhirnya sampai juga aku di stasiun Tugu Yogyakarta, aku lahir di Kali Kotak, sebuah desa terpencil di daerah Sleman. Bapak sudah menjemputku lengkap dengan atribut layaknya tukang ojek kebanyakan. Bapakku memang lahir dari keluarga berada tapi naasnya kakekku suka main perempuan, tak teruruslah keluarga bapakku. Meski kakek seorang tentara berpangkat kapten tapi anaknya tak ada yang meneruskan sekolah hingga ke bangku SMA, hanya budheku saja yang hampir menamatkan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sayangnya kakekku keburu tergoda wanita lain dan hancurlah rumah tangga kakek nenekku.

“Kamu belum makan to? ini bapak beliin bakmi goreng Pak Yanto”, kami memang dari keluarga sederhana tapi bapak selalu menomorsatukan anak, apalagi masalah makanan. Tak ayal tubuhku tambun.

“Emang ibu ndak masak, Pak? kan sayang buang-buang uang”, aku mencoba untuk menyadarkan bapak kalau kami adalah keluarga pas-pasan.

“Sudahlah, kamu cuma bapak suruh makan aja susah”, bapak memang selalu tak memberiku ruang untuk berpendapat. Dari keempat anak bapak, akulah yang paling disayang dan aku juga yang paling sering membuat bapak murka.

Rumah sepi kala aku membuka pintu seraya mengucapkan salam. Rupanya ibu sedang pengajian di Mushola kampung. Mandi kemudian makan bakmi goreng kesukaanku. Dengan mulut penuh dengan makanan dari tepung itu aku bercerita tentang kuliahku yang membosankan, teman-teman yang selalu menertawakanku seolah-olah aku adalah bahan lelucon mereka, dan cerita tentang ospek yang tak kunjung usai.

Seharian penuh aku lalui dengan melepas rindu pada rumah dan seluruh isinya. Sore hari biasanya kami sekeluarga kumpul di ruang tengah, mendiskusikan apa saja yang ringan-ringan hingga waktu maghrib tiba kami mengantri kamar mandi untuk berwudlu kecuali bapakku. Tidak lupa aku mengingatkan bapak untuk sholat walaupun aku tahu kalau bapak pasti tidak akan mau. Ini yang membuat aku pilu, selalu pilu. Berbagai macam cara aku ajak bapakku untuk sholat tapi masih saja beliau enggan. Mulai dari sindiran halus sampai tidak halus sekalipun tak mempan. Sampai pernah suatu hari bapak marah padaku karena aku terlalu memaksa untuk sholat. Setiap tahajud aku selalu berdoa kepada Allah supaya Allah mau membuka hati bapakku.

***

“Bu, aku pengen merubah penampilanku, aku pengen pakai kerudung besar tapi aku malu orang-orang menertawakanku. Nanti dikiranya aku sok alim”,rengekku pada ibu yang tengah menjahit kain.

Ibu menghentikan jahitannya,”Kenapa harus malu untuk menjadi lebih baik? Ibu juga ingin sehari-hari menutup kepala ibu seperti yang kamu inginkan, Nduk”. Kaget bercampur haru, aku memeluk ibu erat. Air mataku menetes, langsung kuseka, aku tidak ingin ibu tahu kalau anak perempuannya sudah pandai menangis lagi. Karena dewasa ini aku memang jarang menangis kecuali menonton film India. Ibu melepaskan pelukanku, pergi ke kamarnya dan memanggilku,”Kamu pengen paki rok kan, Nduk? Ibu punya banyak, bawalah dua dulu. Nanti kalau kamu pulang kampung lagi ibu belikan rok lagi”, sekali lagi kupeluk ibu.

***

Malam sepertinya cepat sekali, ternyata tadi siang ibu menjahit kerudung untukku, kerudung yang tidak seperti kelambu. Kerudung yang menutupi mahkotaku. Dengan rok hitam milik ibu dan setelan putih milik kakakku nomer satu yang sekarang sudah bekerja di pabrik rokok. Kucium pipi dan tangan ibu, seperti enggan untuk melepaskannya tapi waktulah yang mengharuskan semuanya berjalan dengan cepat. Ternyata bapak tidak jadi mengantarku dengan alasan yang rumit daan sulit aku cerna. Setelah kucium tangan bapakku aku diantar Lek Karyo menggunakan motor bututnya. Malam ini aku berjanji aku harus menjadi diri yang baru, aku tidak mampu untuk menyia-nyiakan tanggung jawab yang diberikan orang tuaku. Aku terlalu sayang kepada kedua orang tuaku. Akan kukubur dalam-dalam mimpiku untuk menjadi sastrawan. Jika belajar keras pun tak akan mengubah IP ku maka aku akan belajar dengan temanku yang pandai. Setidaknya aku akan membuka sedikit diriku, aku yakin mereka adalah orang baik, hanya logat bicaranya saja yang “sedikit” kasar bagiku. Perjalanan pulang penuh dengan wajah teduh ibu,”Tuhan, jaga wanita itu. Sungguh, aku rela jika harus menumpahkan darahku untuk kebahagiaan wanita itu”, doaku dalam hati yang kemudian aku amini sendiri. Bagaimana dengan bapakku? Entahlah, aku hanya terus berdoa semoga Allah membukakan hati bapakku. Benci iya, tapi sayang sangat. Dan rasa benciku tertutupi oleh sayangku yang teramat dalam.

Pagi buta aku sampai di Surabaya, kota tempat yang indah ketika aku merasakan bahwa disinilah aku akan mendeklarasikan diri menjadi anak yang berbakti dan bertanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Kosan masih sepi, anak-anak sepertinya belum semua yang balik ke kosan. Setelah mandi kubaringkan sejenak badanku sebelum harus berangkat untuk mengejar harapan. Ganti pakaian dengan baju “baru” kebanggaanku. Melangkah dengan gontai diiringi senyuman setiap melewati orang yang melihat ke arahku. Gang pasar itu berubah layaknya red carpet yang dengan bangganya aku berjalan melewati gang itu. Ternyata bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Kutunaikan maghribku di mushola dekat kos yang berjarak tak lebih dari satu jengkal, kosanku memang bersebelahan dengan mushola. Sesudah sholat kuputuskan untuk pulang. Belum sempat kulepas mukenaku ponsel monochrome ku bordering.
“Assalamu’alaikum, Nduk” suara yang selalu aku rindukan .
“Wa’alaikumsalam, apa apa Bu?”
“Sampai Surabaya jam berapa? Kok ndak kasih kabar rumah?”
“Pukul 05.00, aku kira Ibu sudah tahu kalau aku sampai sini puku 05.00”
“Ya sudah, itu ndak penting, Ibu punya berita bagus. Bapakmu mau sholat, Nduk”

Kaget bercampur haru membuat tangisku pecah seketika. Lama aku tak bicara membuat ibu kebingungan.

“Nduk…Nduk…kamu kenapa? Jangan-jangan kamu tidur ya?”, ibu terus kebingungan,”Owalah, ditelepon orang tua kok malah ditinggal tidur, yowes jangan lupa belajar, jangan tidur terus, ndak maju-maju nanti kamu, Nduk”

Nut..nut..nut..nut..
 


Tiara Widodo

Cerpen Islami Arief Jadi Pengantin

Pagi masih berkabut. Embun masih bergelayut manja di tepian rerumputan seolah enggan untuk turun membasuh tanah. Hunian serasa sepi ngelangut meski samar-samar terdengar suara beberapa ibu tadarus bergantian di sebuah mushola.

“Bu…Ibu…Assalamualaikum!”
Seorang pemuda nampak bersijingkat mendekati pintu. Tak ada jawaban.
“Bu…Ibu…Assalamualaikum!” ia mengulang sapa. Tetap tak ada jawaban tapi pintu berkerenyit separuh terbuka.
“Ya ampuuun Adeeen! Kemana saja selama ini Den. Ibu dan Bapak mencari kemana-mana lho! Kasihan mereka!”
“Ibu kemana Bi?” pemuda yang di panggil Aden itu tak menghiraukan pertanyaan perempuan paruh baya si pembuka pintu tetapi malah mengajukan pertanyaan lain.
“Ibu pergi tadarus di mushola, Bapak ada di dusun sebelah. Bibi mau nanya, Aden dari mana saja?”

Tanpa menjawab, pemuda tadi melenggang memasuki rumah. Sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan sang Ibu tapi rasa lelah begitu menguasai seluruh jiwa dan raga.

Arief tertidur dan ia tersenyum dalam tidurnya. Ia melihat Ibu tertawa gembira, menari-nari bersamanya. Arief sangat suka melihat cahaya di mata Ibu, cahaya kegembiraan yang tidak pernah ditemuinya di alam nyata. Sosok Ibu yang ia lihat, adalah sosok yang selalu menyembunyikan kesedihan. Ibu selalu tersenyum di depan Arief, bergembira, bercanda tapi dibelakang itu, ia memergoki Ibu melamun, bersedih.

Dulu Arief tak merasakan semua itu sebagai suatu siksaan batin, semakin ia beranjak dewasa, semakin tahu bahwa ibu menderita karena ayah. Ibu memang tak pernah mengeluhkan, dari pancaran mata ibu ia tahu bahwa ibu tak bahagia. Ibu merasa menjadi wanita yang tersisihkan, tak dihargai.

Ayahnya, seorang juragan yang paling kaya di dusun . Juragan kelapa dengan tanah berhektar-hektar. Sebelum Arief lahir ke dunia ini, ayahnya itu menikah lagi dengan Lastri, gadis dari dusun sebelah. Alasannya adalah karena Ibu tak dapat memberikan anak laki-laki, ke empat kakak Arief semuanya perempuan. Sebagai wanita kampung yang nerimo, ibu tak berani menentang. Ia pasrah. Tapi ayah semakin bertingkah. Apalagi ayah memiliki semua yang diinginkan wanita. Belum lagi Lastri memiliki anak, ayah menikah lagi dengan Weni, masih satu dusun dengan Ibunda Arief. Ibu tetap nerimo, meskipun gerah karena semua warga dusun memperbincangkan poligami suaminya.

Dulu Arief kecil sangat mendamba ayah. Apalagi saat-saat ramadhan tiba. Begitu ingin ia bisa shalat tarawih bersama ayah. Seperti layaknya anak laki-laki lain yang ada di dusun. Tarawih di samping ayah bersama jamaah lain. Arief kecil tak punya pengalaman itu. Kalau saja ibu tak membujuk, rasanya malas untuk ikut shalat tarawih. Ingin berada di depan, di shaf laki-laki, ia belum berani. Ia shalat di samping sang Ibu dan empat kakak perempuannya yang semuanya mengenakan mukena. Ia jengah. Tapi ia tak bisa mengeluhkan karena ibu akan menyuruhnya untuk mencoba ke shaf depan. Sendirian di shaf laki-laki. Arief tak berani. Dimatanya, semua anak laki-laki didampingi oleh ayah mereka. Karena ayah tak ada disampingnya, ia merasa takut.
Tak hanya itu yang dirasakan oleh Arief kecil, dalam segala hal ia merasakan timpang. Tak lengkap. Ia sering mendengar cerita kawan-kawannya tentang ayah yang galak, yang suka memukul karena kebandelan anaknya. Ada juga cerita tentang ayah yang baik, yang suka membawa anaknya bermain, berenang, memancing, memanjat, bahkan berburu. Arief tak memiliki pengalaman seperti itu, sosok ayah yang ia lihat adalah sosok laki-laki yang hanya datang untuk memberikan uang nafkah pada ibunya, lalu pergi lagi menemui istri lain yang lebih muda dan lebih memesona. Semakin dewasa Arief menjadi tahu kalau alasan ayahnya menikahi perempuan lain karena ingin mendapatkan anak laki-laki adalah bohong semata. Buktinya setelah ia lahir, ayah tetap bersama wanita-wanita lain. Menikahi banyak wanita merupakan prestasi bagi ayah. Arief tahu, ayah bangga karenanya.

“Rief….Arief!” Arief merasa ada sentuhan dirambutnya. Pasti Ibu. Ingin sekali ia membuka mata namun masih terasa amat berat. Usapan lembut jemari Ibu malah membuat ia lena dan meneruskan mimpi. Ia melihat lagi Ibu yang tertawa-tawa gembira bersamanya menari-nari di nirwana. Ibu mendendangkan sesuatu. Arief semakin terlena dalam rengkuhan kasih sayang itu. Semakin lena, membuat matanya enggan terbuka. Arief merindukan sentuhan seperti ini.

***

“Arief tak lama berada disini Ibu. Arief hanya datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Juga bakti terakhir sama Ibu!”
“Maksudnya apa nak? Bukankah kamu pergi hanya untuk sekolah? Kenapa bakti terakhir, dan salam perpisahan?”
“Ibuuu…berbahagialah Ibu, anakmu ini, menjadi laki-laki yang terpilih untuk menjadi pengantin!”
“Pengantin? Bukankah tujuanmu pergi ke luar dusun ini untuk sekolah yang lebih tinggi. Baru juga lulus SMA, belum bekerja, mau menikah?”
Arief menatap ibunya. Tersenyum. Ibunya ikut tersenyum.
“Kamu itu…le, kenal sama perempuan mana…kok langsung ingin menikah? Katanya mau sekolah, tak ingin mengandalkan harta ayah. Lha kalau menikah sebelum memiliki pekerjaan tertentu bukankah sama saja dengan mengharapkan bantuan ayahmu yang memiliki perkebunan berhektar-hektar itu?”

Arief tak menjawab. Ia hanya memeluk ibunya erat. Biarlah ia tak perlu menerangkan panjang lebar karena ia sangat yakin semua yang ia lakukan untuk kebahagiaan ibu. Ia akan menjadi pengantin bukan dengan wanita manapun. Ia akan menikahi syahid, menikahi maut. Dari sekian banyak lelaki, ia yang terpilih untuk menjadi pengantin. Waktunya tidak akan lama dari hari ini. Lokasi sudah ditentukan. Ia mendapat cuti satu minggu untuk mengucap salam perpisahan pada keluarga. Mata Arief menerawang, teringat seorang teman yang telah berpulang karena terpilih menjadi pengantin beberapa waktu yang lalu. Ia yakin, Dani temannya itu kini telah berada di syurga, seperti yang selalu dibicarakan dalam kajian mereka. Dani telah sukses, menjadi pengantin maut. Sebentar lagi ia akan menyusul.

Semua untukmu Ibu. Ibu akan memiliki anak yang mati syahid, yang akan membawa ibu bersama menuju syurga. Ibu tak akan menderita lagi. Ibu akan bahagia. Ustad Jabbar el Amin, amir (-pimpinan jamaah-) di tempat ia latihan pernah bilang bahwa ganjaran bagi seorang ibu yang memiliki anak mati syahid adalah syurga.

“Ya sudah le, nanti biar Ibu bicarakan dengan ayahmu mengenai keinginanmu itu. Biar kita bisa mempersiapkan lamarannya. Walaupun Ibu merasa kamu masih terlalu muda le, belum genap delapan belas tahun! Cukup umur sih untuk menikah, tapi belum cukup dewasa!”
Arief tersenyum, merenggangkan pelukan. Ia yakin, ibunya tak sepaham. Tapi ia yakin akan pemahamannya sekarang. Ia memang tak pernah memiliki ayah yang mengajarinya ilmu-ilmu agama, tak mengajarinya ilmu-ilmu kedewasaan. Ia beruntung telah di rekrut oleh Ustad Jabbar el Amin untuk menjadi santrinya. Hanya tiga bulan, tapi ia sudah banyak menguasai ilmu-ilmu ruhani. Bahkan Ustad Jabbar sendiri yang memberikan ilmu. Arief merasa memiliki seorang ayah, ia selalu pergi bersama-sama. Shalat, berburu, berlatih. Cerita-cerita kawan-kawan yang dulu hanya bisa ia dengar dan lamunkan kini bisa ia rasakan bersama Ustad agung itu. Arief seperti menemukan ayah. Dan ia menelan semua petuah dan ajaran yang diberikan. Arief tersanjung. Arief ingin seperti Dani, temannya yang sudah shahid setelah terpilih menjadi pengantin. Dan saat itu akan segera tiba. Ustad Jabbar memenuhi janjinya untuk menjadikan Arief sebagai pengantin.

“Tapi ayahmu baru berkunjung kesini minggu depan, le. Jadi sebaiknya pernikahanmu itu di undur, bagaimana?”
Sekali lagi Arief tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan memeluk ibunya lebih erat. Memang, ia akan menjadi pengantin, tapi tentu saja bukan menjadi pengantin seperti yang ibunya bayangkan. Sudahlah, tak perlu membicarakan panjang lebar dengan ibu karena ia yakin, ibu tak bisa memahami.

***

Hari-hari berlalu. Ibu bimbang, ayah tak kunjung datang! Ingin mendatangi rumah Lastri, ia takut suaminya tidak berada disana. Pun ketika ingin mencari suaminya di rumah Weni, meski masih satu dusun, ia malas bertemu dengan madunya. Lagipula ia juga takut kalau suaminya itu tak berada di rumah Weni! Sungguh benar-benar membingungkan. Padahal ia ingin segera membicarakan atau lebih tepatnya meminta pertimbangan atas permintaan Arief. Semakin hari ia semakin tak faham. Yang dibicarakan oleh Arief setiap harinya hanya tentang pengantin…pengantin..dan syahid. Ibu tak paham. Apa hubungannya pengantin dan mati syahid? Arief selalu membicarakan itu. Berpesan supaya ibu menjaga diri baik-baik, mendoakannya. Berpesan supaya Ibu tak terlalu mengingat kesedihan karena dimadu. Ada kebahagiaan lain yang lebih hakiki. Lebih abadi daripada kebahagiaan disisi seorang suami. Kebahagiaan di sisi Tuhan. Kebahagiaan di alam akhirat. Karena sesungguhnya hanya Tuhanlah pemilik cinta sejati semua manusia. Begitu selalu yang dibicarakan Arief Mau jadi pengantin tapi tak pernah mengusahakan atau setidaknya menyuruh ibunya bersibuk untuk mempersiapkan sesuatunya seperti barang-barang hantaran, mahar, atau uang. Arief….Arief…anak itu memang selalu penuh teka-teki.

Penuh teka-teki atau ngelantur? Semakin hari semakin tidak bisa dipahami oleh Ibu. Apalagi setelah ramai dibicarakan orang tentang tewasnya gembong teroris bernama Jabbar el Amin. Arief seperti orang gila. Setiap hari kerjaannya membeli surat kabar. Melahap setiap berita-berita.

“Ibu…aku bagaimana ibu? Aku bagaimana?” tangisnya meledak suatu ketika, membuat ibu serasa ingin tertawa. Kontradiktif dengan penampilan dan kesan yang secara cepat ingin ditampilkan oleh anaknya itu. Meski masih terlihat belia, Arief memelihara kumis dan janggot yang terlihat mulai melebat.
“Tenang nak! Ayah pasti akan datang, ia pasti setuju dengan pernikahanmu itu. Pasti!”
“Bukan..bukan itu Bu! Bukan!” Arief tergugu di pangkuan Ibu. Tingkahnya berbanding terbalik dengan saat kedatangannya beberapa minggu yang lalu. Ibu seolah baru bertemu dengan Arief yang benar-benar anaknya. Bukan Arief yang sok dewasa, sok bicara pernikahan, sok berdakwah, sok lebih tahu tentang agama.
“Ibu lihat gambar ini Bu? Dia pimpinan Arief, dia yang akan menjadikan Arief sebagai pengantin, dia yang menuntun Arief..tapi dia telah tiada.. Dia di tembak, Bu! Sialan…sial…sial…!” Arief menendang apa saja yang ada di depannya.
“Arief…Arief..! Tenang dong! Tenang!” meski tak terlalu mengetahui tentang politik, tentang kisruh perterorisan, ibu selalu mengikuti berita itu. Apalagi ketika Arief pulang dengan penampilan yang tak disangka-sangka. Ibu takut Arief anaknya mengikuti jejak seorang Dani yang ia ketahui lewat berita. Yang dinyatakan sebagai pelaku bom bunuh diri. Ah…akhirnya ia bisa menarik benang merah dari pengantin yang sering dibicarakan oleh anaknya itu.
“Arief bener-bener ingin mati syahid, Ibu. Arief ingin jadi pengantin berikutnya!” Arief kembali terduduk, semakin membenamkan kepala dalam pangkuan Ibu . Ada air mata yang mengalir dari sudut mata Arief. Mengalir perlahan. Ibu yakin ada alasan mengapa Arief terlihat begitu kecewa. Sampai-sampai berita tertembaknya seorang gembong teroris yang membuat seluruh rakyat Indonesia bergembira justru membuat Arief anaknya menangis tersedu sedan. Pasti ada alasan.
“Ibu…ibu. Maafkan Arief…Sorga itu…sorga itu..ah..ah..sialan…sialan…!” teriaknya lebih keras.

Arief kembali mengamuk, menendang apa saja yang ada dihadapannya. Ibu yakin, selama ini otak Arief anaknya telah di cuci oleh seseorang di luar sana. Dan ia mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya seperti semula. Menjadikan Arief kembali menjadi sebenar-benarnya Arief, anaknya.

Cirebon, 28 mei 2012

Eliyana Zbd

Cerpen Islami Tujuan Hidup Seorang Gadis Kecil

Seorang gadis kecil tinggal di suatu kota di Negara Indonesia. Dia mempunyai satu orang kakak perempuan dan kedua orang tua. Sekarang, gadis kecil itu menginjak kelas XII di SMA favorit di kotanya.

Suatu hari yang berbahagia, gadis kecil itu sedang memperhatikan seorang guru yang sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Setelah menerangkan sesuatu, guru itu bertanya kepada setiap murid tentang suatu hal termasuk pada gadis kecil itu.

“Fatimah, apa cita-citamu kelak?” Tanya Pak Guru.
“Saya tidak mempunyai cita-cita yang pasti seperti teman yang lainnya, Pak. Seperti dokter, insinyur, arsitektur, dan lain-lain. Tetapi saya memiliki tujuan hidup yang semaksimal mungkin harus saya lakukan. Tujuan itu adalah saya hidup hanya untuk ibadah kepada Allah, menjadi khalifah fil ard, dan kehidupan saya di dunia ini harus berguna untuk manusia. Itulah tujuan hidup saya. Apa pun profesi yang saya geluti nanti, saya akan menjalankannya dengan baik, yang penting profesi itu sesuai dengan kemampuan dan kecocokan saya dalam bidang tersebut dan tidak terlepas dari tujuan hidup saya.” jawab Fatimah.

“Jawaban yang bagus Fatimah, tapi kenapa Fatimah bisa memiliki tujuan hidup seperti itu? Tidak seperti teman yang lainnya yang mempunyai cita-cita setinggi langit?” tanya Pak Guru.

“Saya memang tidak punya cita-cita setinggi langit, tapi saya yakin, Pak. Saat saya memiliki tujuan hidup dan saya memaksimalkan usaha dan kemampuan yang saya punya, tanpa bermimpi atau menarget pasti hasilnya akan lebih baik. Mungkin saya bisa melebihi cita-cita teman saya yang setinggi langit yaitu menjadi seluas alam semesta.” jawab Fatimah.

“Wah, bagus kamu, Fath. Tak sangka ternyata di zaman seperti ini masih ada seorang remaja yang memliki pola pikir seperti itu.” Kata Pak Guru.

Bel berbunyi, tandanya waktu pulang tiba. Semua murid bersiap-siap untuk pulang. Fatimah tidak pulang, dia pergi ke tempat lesnya. Di tempat lesnya terpampang sebuah poster yang isinya menjelaskan tentang beasiswa untuk siswa yang kurang mampu, kalau siswa tersebut lolos dalam tahap-tahap penerima beasiswa, maka siswa tersebut dibebaskan biaya saat dia kuliah nanti. Fatimah tertarik dengan beasiswa itu, dia pikir jika dia diterima menjadi salah satu siswa penerima beasiswa pasti kedua orang tuanya akan tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Fatimah pun menulis syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti beasiswa tersebut.

***

“Mah, tadi di tempat les Ade ngeliat poster beasiswa. Ade mau ikut beasiswa itu, syarat-syaratnya ini, diusahain besok udah ada. Nanti sama Ade syarat-syarat dan formulirnya dikasih ke tempat les.” kata Fatimah. “Emang beasiswa apa, Fath?” Tanya Mamah.

“Beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, nanti kalau Ade lolos seleksi, Mamah enggak usah bayarin Ade kuliah.” jawab Ade sambil tersenyum.

“Ikutan aja, Fath. Biar Mamah yang ngumpulin syarat-syarat untuk beasiswanya. Kalau kamu nanti lolos, mamah sangat terbantu sekali.” kata Mamah. “Siap deh, Mah. Makasih ya, Mah.” Kata Fatimah sambil memeluk Mamahnya.

“Sama-sama, Fatimah sayang.” Kata Mamah.

***
Ada beberapa tahap untuk bias mendapatkan beasiswa itu. Tahap pertama adalah tes akademik I, tahap kedua adalah wawancara, dan tahap ketiga atau akhir adalah tes akademik II. Tahap pertama yaitu tes akademik I dilaksanakan di Ganesha (tempat dilaksankanannya setiap tahap beasiswa), banyak sekali siswa yang mengikuti beasiswa tersebut. Kurang lebih ada sembilan ratus orang yang mengikuti beasiswa itu. Fatimah menempati duduk di belakang, dengan persiapan tes yang kurang maksimal, Fatimah tetap berdoa agar diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah dan diberikan hasil yang terbaik oleh Allah.

Tes akamedik I pun dimulai, semua siswa mengerjakan soal yang diberi oleh panitia. Satu menit, dua menit, tiga puluh menit, waktu berlalu begitu cepat.

“Waktu yang tersisa lima belas menit lagi.” kata panitia. Dan waktu untuk mengerjakan soal pun habis. Fatimah mengerjakan soal itu semampunya, semampu yang bisa dia kerjakan. Hasil yang nanti dia dapati, baik buruk maupun baik. Dia serahkan semuanya pada Allah.

***

Pengumuman siswa yang lolos beasiswa pun dibuka. Dengan cepatnya, Fatimah melihat hasilnya. Syukur Alhamdulillah, Fatimah lolos tahap pertama. Tak ada kata yang bisa Fatimah ucapakan selain ucapan terima kasih kepada Allah atas jalan yang Dia beri untuk Fatimah. Siswa yang lolos tahap pertama kurang lebih tiga ratus orang.

Siswa yang lolos tahap pertama, diminta untuk datang ke Ganesha untuk pendataan dan ada beberapa hal yang akan disampaikan kepada siswa yang lolos.

***
Semua siswa pun berkumpul di Ganesha pada hari yang telah ditentukan. Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa tahap kedua yaitu wawancara telah dilalui, mereka mewawancarai peserta melalui formulir yang diisi oleh peserta.

Tersisa satu tahap lagi untuk mendapatkan beasiswa tersebut, tahap ini adalah tes akademik II yang akan diselenggarakan berbarengan dengan gelombang kedua beasiswa tersebut. Pada bulan Desember, tahap ketiga ini akan dilaksanakan. Supaya para siswa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk tes akademik II, siswa diberi les gratis oleh Yayasan Ganesha dan salah satu tempat les di kota itu.

Para siswa diberi secarik kertas, di sana tertulis jadwal yang akan dipilih untuk les. Fatimah pun memilih hari-hari yang tidak bentrok dengan kegiatannya.

***

Saat itu Fatimah merasa bebannya mulai bertambah, dia harus meluangkan banyak waktu untuk belajar. Padahal sudah cukup baginya les sepulang sekolah yang dia lakukan dua kali seminggu. Entah mengapa hatinya tak menerima dirinya disibukkan oleh hal seperti itu. Dia lebih baik disibukkan dengan kerjaan organisasi atau disuruh pergi kesana kemari. Beban yang Fatimah rasakan saat ini membuat dirinya menjadi stres, akhirnya Fatimah pun jatuh sakit. Sangat jarang Fatimah sakit dua kali dalam satu bulan. Dia pun bingung, kenapa dirinya sakit lagi? Pada hari Minggu, Fatimah bertemu dengan seseorang yang suka memberinya solusi. Sebut saja orang itu Kakang. Fatimah pun menceritakan semua bebannya pada Kakang. Dengan bijak, Kakang memberikannya solusi.

“Tidaklah satu pun makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah. Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur oleh-Nya. Mungkin saja pandangan kita buruk terhadap suatu hal, tapi ternyata hal itu adalah hal yang baik bagi kita. Allah sudah merencanakan semua hal yang terbaik bagi kita. Janganlah kita selalu suudzan pada-Nya. Sekarang yang Fatimah alami adalah ketidaksukaan Fatimah disibukkan dengan banyaknya tambahan belajar di luar jam pelajaran sekolah. Namun mungkin dibalik ketidaksukaan itu, terdapat suatu hal yang baik bagi Fatimah. Sekarang yang perlu Fatimah lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah, Dialah yang mengatur kehidupan kita, baik atapun buruknya hanya Dia yang tau. Pahamilah diri Fatimah bahwa Fatimah sedang berada ditempat yang mengharuskan Fatimah untuk selalu belajar. Mungkin ini juga salah satu doa Fatimah yaitu semoga selalu diberikan yang terbaik oleh-Nya. Mungkin inilah yang menurut-Nya terbaik untuk Fatimah saat ini. Setelah berbaik sangka, yakinkan pada diri Fatimah bahwa ini adalah kesempatan Fatimah untuk memaksimalkan kemampuan dan usaha yang Fatimah lakukan.

Teruslah berjuang untuk tujuan hidup yang telah Fatimah pilih. Jangan pernah Fatimah mengeluh akan suatu hal, karena itu tak ada gunanya. Tak ada bedanya kok, setelah atau sebelum Fatimah mengeluh akan suatu hal. Nah terus, sakit yang Fatimah alami sekarang bukan karena Fatimah cape melakukan suatu aktivitas. Tapi Fatimah lelah dengan perasaan Fatimah sendiri, Fatimah stress menghadapi ini semua. Itu bisa membuat seseorang atau Fatimah jadi sakit. Oleh karena itu, kendalikan stres itu. Kakang yakin, Fatimah pasti bisa. Semangat!”

Satu, dua, tiga tetes air mata mengalir di pipi Fatimah. Fatimah sadar semua hal yang dikatakan Kakang adalah benar. Kalaulah aku menjadi seorang yang mengeluh, apa gunanya juga?

Solusi yang Kakang berikan pada Fatimah membuat Fatimah menjadi lebih yakin bahwa ini bukanlah suatu beban tapi inilah jalan dan takdir Fatimah. Oleh karena itu, Fatimah harus memaksimalkannya.

***

Sekolah, les, dan les, itulah rutinitas yang Fatimah lakukan tiap harinya. Hari ini, ya, hari ini mungkin Fatimah sampai pada titik jenuh dia untuk belajar. Walau begitu, Fatimah tetap istiqomah untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan memaksimalkan waktu yang ia punya untuk hal yang berguna, salah satunya yaitu untuk belajar.

***

Beberapa bulan kemudian, bulan Desember. Tahap ketiga atau akhir yaitu tes akademik II telah tiba. Fatimah telah duduk menunggu soal yang datang untuk dia isi. Soal pun dibagikan, Fatimah mengerjakan soal-soal itu dengan teliti dan cermat.

Beberapa jam setelah tes, hasil dari tahap ketiga itu dipampang di sebuah mading di Ganesha. Pada tahap ketiga ini hanya 150 orang yang lolos. Fatimah pun berburu dengan siswa lainnya untuk melihat hasil tahap ketiga.

“Fatimah Azzahrah LOLOS”

Rasa syukur dia panjatkan kepada Allah SWT, tak ada kata yang dia ucap selain Alhamdulillah. Hanya Allah yang dapat memberikan semua ini padanya.

***

Bulan Maret.
Tak terasa bulan yang ditunggu oleh para siswa se-Indonesia akhirnya datang juga. Setelah usaha yang telah mereka lakukan, belajar setiap hari agar dapat mengerjakan ujian nasional dengan lancar dan mereka akan merasakan hasilnya pada hari-hari ujian ini. Tetapi ada beberapa oknum yang mengandalakan kunci jawaban yang telah mereka beli sebelum UN dilaksanakan. Oknum tersebut membagikan kunci jawaban pada semua siswa termasuk Fatimah. Tetapi dengan keyakinan yang kuat Fatimah menolaknya.

“Fatimah ingin mengerjakan ujian ini dengan jujur, tanpa kecurangan sedikit pun. Bukan nilai atau kelulusan yang Fatimah diinginkan, tapi yang Fatimah inginkan adalah mental baja seorang pemuda Indonesia di masa mendatang. Bukan para pemuda yang bermental tempe yang tak siap mengahadapi dunia dan malah melakukan korupsi kecil-kecilan seperti ini.

Kalau kalian masih melakukan hal semacam ini, tak salah kok kalau negara kita tidak akan pernah maju. Kenapa? Karena pemuda penerus bangsanya sudah diajarkan sejak dini, bagaimana caranya untuk melakukan kecurangan atau korupsi?” kata Fatimah dengan nada yang tegas.

Semua oknum yang mendengar ucapan Fatimah seketika terdiam membisu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Akhirnya, oknum penyebar kunci jawaban UN pun mengambil semua kertas kunci jawaban yang sudah ditulis oleh siswa dan membuangnya.

“Berlakulah adil pada diri kita sendiri, kita selalu mengeluh kalau ada pejabat yang korupsi, padahal secara tidak sadar kita pun melakukan korupsi kecil. Sudah cukup sampai sini kita menyontek dan melakukan kecurangan. Ayo kita maksimalkan kemampuan yang kita punya untuk mengisi soal-soal ujian ini. Buktikan bahwa kita bisa dengan kemampuan yang kita punya.” Kata salah satu oknum kepada teman-teman di kelas. Ujian Nasional pun dilaksanakan, semua siswa di ruangan Fatimah mengisi soal-soal ujian dengan jujur tanpa melakukan kecurangan sedikit pun seperti menyontek.

Hari-hari Ujian Nasional telah Fatimah lalui. Setelah Ujian Nasional, ada ujian berikutnya yang haru Fatimah lalui, ujian itu adalah PMBP ITB.

***

Beberapa hari setelah UN dilaksanakan. PMBP ITB (Penelusuran Minat Bakat Prestasi Institut Teknologi Bandung) sudah di depan mata.

Fatimah mencari tempat duduknya untuk melaksanakan PMBP ITB. Selama dua hari PMBP ITB dilaksanakan. Fakultas yang Fatimah pilih yaitu 3 diantaranya adalah FTI, FTTM, dan FITB. Tak ada yang bisa membantu Fatimah pada saat PMBP kecuali Allah. Fatimah selalu berdoa setelah solatnya.

“ Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba- Mu ini, berilah aku kelancaran dan kemudahan untuk menjalani perjalanan hidup di dunia. Berilah aku jalan terbaik menurut-Mu. Selamatkanlah aku di dunia maupun akhirat. Amin. ”

PMBP pun sudah Fatimah lewati. Walau semua ujian tulis telah Fatimah lalui, Fatimah tak hentinya belajar. Karena dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah dia diterima di ITB melalui jalur PMBP atau tidak? Yang tahu hanyalah Allah SWT.

***

Pengumuman PMPB pun dibuka, Fatimah membuka web ITB dan mengetikkan nama dan nomor peserta ujian pada halaman web tersebut. Setelah menunggu beberapa detik. Keluarlah hasil dari perjuangan seorang gadis kecil.

FATIMAH AZZAHRAH
Selamat Anda
DITERIMA
FTTM ITB

Sujud syukur, hal yang pertama kali dia lakukan setelah melihat hasil tersebut. Berterima kasih kepada Allah yang memberikan dia hasil yang membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Tidaklah satu makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah, hasil yang Fatimah dapati hari ini bukanlah kesenangan belaka. Tapi itu semua adalah sebuah ujian baru yang Allah berikan untuk Fatimah.

***

Beban, ya beban, sesuatu yang Fatimah anggap beban kali ini mulai berkurang. Tersisa satu pengumuman lagi yang Fatimah nanti. Itu adalah hasil Ujian Nasional. Tak terasa, hari pengumuman pun tiba. Sekolah mengirim hasil Ujian Nasional via pos ke setiap rumah. Surat itu pun sampai di rumah Fatimah. Perlahan Fatimah membuka isi surat itu. tertulis disana sebuah kata LULUS, tersenyumlah Fatimah.

***

“ Ya Allah, ya Rabb. Apakah semua ini adalah takdir yang terbaik yang engkau berikan padaku saat ini? Apakah ini jalan yang telah kau berikan agar aku tetap istiqomah pada tujuan hidupku? Jika iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin dengan detik-detik terakhir yang aku punya agar aku bisa membuat bumi dan isinya menjadi lebih baik. Terima kasih atas segala yang telah Kau berikan kepadaku ya Allah, tanpa-Mu aku bukan apa-apa di dunia ini. SemogaEngkau selalu menuntun setiap langkah yang aku jalani. Amin. ”


Anti Dwi Putri

Cerpen Islami Orang-Orang yang Mengusir Tuhan


Aku masih menyusuri Jalan Jenderal Sudirman di Palembang. Entah, sudah berapa perempatan jalan kutemui. Sejak keberangkatanku dari Kilometer 12, sampai simpang Rumah Sakit Charitas, aku tak sempat lagi menghitung berapa banyak perempatan atau tikungan jalan. Yang pasti, pada setiap perempatan dan tikungan, selalu saja kutemui beragam bentuk kemiskinan. Ada puluhan bahkan ratusan kelaparan di sana.

Aku turun, tepat di depan pusat pembelajaan International Plaza Palembang. Kunaiki jembatan penyeberangan. Oh, ternyata masih banyak lagi kutemui kelaparan lagi. Kemiskinan masih menempel di setiap dinding kota. Di setiap jembatan penyeberangan. Bukan di perempatan dan tikungan ternyata. Di jembatan penyeberangan banyak lagi kepedihan, keterbelakangan, dan ketertindasan. Sekeping uang logam rupiah kukeluarkan dari kantong. Sebuah tangan kurus dari wajah lusuh itu menerima dengan penuh harap. Dari mulutnya, kudengar kemudian tiga kali ucapan hamdalah, diiringi doa buat kesejahteraan bagi setiap pemberi.

Aku terus berjalan. Membeli beberapa keperluan yang mesti kumakan hari ini, nanti malam dan esok hari bersama Pustrini, isteriku. Pada setiap langkah, aku dan isteriku masih merasakan, betapa beruntungnya aku ketimbang mereka yang ada di jembatan penyebarangan. Aku dan isteriku masih merasa beruntung dengan kehidupan kami jalani, sekalipun, kami juga hidup dalam keterbatasan. Betapa tidak? Baru beberapa menit yang lalu, kujumpai potret umat yang hidup dalam ketertindasan. Mereka hidup dalam lingkaran kemiskinan dan kepedihan, yang belum jelas semua itu akan usai. Mungkin aku tidak akan sanggup, jika Tuhan memberiku nasib seperti mereka. Tetapi, kenapa kenikmatan yang sudah kuterima sering kubalas dengan pengingkaran?
Ketika siang menjelang, mulutku berkata tentang kebesaran Tuhan. Ketika sore tiba, aku tidak jarang meninggalkan Tuhan. Aku sering berkata-kata tentang Tuhan. Tetapi kakiku masih berpijak di alam kebesaran Setan. Badanku tertunduk pada kekuasaan Tuhan. Tetapi batinku masih sering meng-agungkan setan. Mestikah aku harus tetap duduk dan bersujud di atas sajadah, sementara sajadah itu pula sudah menjadi tempatku membuang tinja?

kerongonganku mulai mengering. Aku singgah pada sebuah warung. Hanya sebentar. Datang tiba-tiba seorang pengemis buta. Ia dituntun anak laki-lakinya. Telapak tangannya terbuka lebar. Tentu mengharap logaman rupiah. Aku tidak langsung memberinya. Sebab, posisiku jauh dari tempat pengemis itu. Aku pikir, pengemis itu akan berpindah pintu, setelah menerima logaman rupiah dari orang yang paling dekat dengan pintu, tempat munculnya pengemis itu.

“Aaah, sudah sana! Dasar pengemis buta. Tidak ada uang buat kalian. Kalau mau makan ya kerja! Sana..sana pergi!” Seseorang yang aku kira akan memberi uang, justeru sebaliknya. Orang itu mengusir pengemis dengan menimpali dengan kalimat yang tidak bersahabat. Beberapa menit pengemis itu aku tunggu. Kalau-kalau saja, ia muncul dari arah pintu yang dekat dengan tempt aku duduk. Ternyata tidak. Kedua pengemis itu lenyap bersama kekecwaannya, karena tidak memperoleh uang.

Pukul empat sore. Aku berkemas pulang. Dalam bis yang kutumpangi, kembali datang dua orang anak kecil mengalunkan lagu. Not dan ritme musiknya tidak jelas.

Hanya dengan puluhan tutup botol yang dirangkai dengan kayu, lalu menjadi alat musik. Kedua anak itu bernyanyi, untuk mendapat sumbangan uang dari para penumpang. Aneh, potret kepedihan itu sempat menjadi bahan tertawaan bagi beberapa penumpang. Mereka tertawa, sudah tentu karena kedua anak itu bermain musik tanpa nada dasar. Sehingga yang muncul bukan alunan lagu yang enak dinikmati, namun sebaliknya, suara tanpa irama yang kemudian terdengar. Mereka pun tertawa, sembari menahannya dengan menutup mulut dengan telapak tangan mereka. Hampir saja aku ikut tertawa. Tetapi, aku segera mengurungkan niat itu. Sebab, aku kemudian ingat dengan pesan kiai Dalhari, guru ngaji yang dulu selalu wanti-wanti, agar aku jangan sampai mudah-mudah mentertawakan orang yang sebenarnya tidak mesti ditertawakan.

“Kalau kamu tidak mampu memberi sesuatu pada orang lain yang sedang memintamu, jangan kemudian kamu mentertawakan atau mengejeknya. Justeru kalau diam, itu akan lebih baik dari pada kamu mencibirkan mereka.”

Belum sempat aku mengeluarkan logaman rupiah, seorang perempuan yang duduk di sampingku menyela pembicaraan, seolah ia melarangku untuk memberi logaman rupiah pada kedua anak itu.

“Dik, nggak usah dikasih. Nanti malah tambah malas mereka. Lagi pula itu kan sudah nasib mereka harus begitu.”
“Bu, ma’af, kata kiai saya dulu. Berilah sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit nilainya.”
Aku tidak lagi memperhatikan wajah perempuan di sampingku. Sebab, aku harus segera turun di sebuah halte.

**

Aku baru saja memasuki pintu gerbang sebuah komplek. Rumahku ada di belakang kompleks ini. Sehingga, untuk sampai ke rumahku, aku harus lebih dulu melewati beberapa tikungan dan belokan dari gedung-gedung yang mewah. Belum lagi sampai di rumah. Kujumpai lagi dua bocah berkerudung. Salah satu diantaranya mengapit sebuah map. Seperti orang yang meminta sumbangan dari rumah ke rumah.

Tepat dugaanku. Keduanya adalah wakil dari sebuah Yayasan Sosial di Palembang. Mereka datang dari pintu ke pintu untuk mendapat sumbangan. Pada setiap rumah, kedua bocah berkerudung itu menyodorkan formulir dan surat tugas ke setiap pemilik rumah yang berhasil mereka jumpai.

“Waduh, dik, bapak sedang tidak ada di rumah. Jadi lain kali saja, ya dik,” Seseorang penghuni rumah di kompleks itu yang berhasil mereka temui mengelak untuk memberi sumbangan.
“Aduh, gimana ya, saya cuma pembantu. Saya mesti nunggu nyonya dan tuan pulang. Saya tidak punya uang.”
“Bi, bilang sama mereka, kita tidak bisa memberi sumbangan. Kita lagi tak ada uang!”

Harapan kedua bocah itu makin pudar untuk mendapat tambahan biaya bagi Yayasannya. Sebab dari rumah ke rumah, yang mereka temui hanya ucapan ma’af. Sementara, ucapan ma’af, sudah pasti bukan yang mereka harapkan. Lagi pula ucapan ma’af tidak akan bisa dibelanjakan untuk kesejahteraan anak-anak terlantar di Yayasan.

Kejadian serupa, sebenarnya bukan saja baru kujumpai hari ini. Sebab jauh sebelum aku menikah dengan Pustrini, peristiwa serupa hampir sering kutemui.

Bahkan, tiga hari sebelum ini, sudah tak terhitung lagi peristiwa yang sama kusaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri. Mungkin, esok atau lusa, aku akan kembali menjumpai lagi orang-orang yang membuang kesempatan berbuat baik. Aneh, kenapa mereka sanggup mengusir peluang berbuat baik? Mungkinkah mereka sudah merasa banyak kebaikan di mata Tuhan? Atau karena mereka juga tidak mengetahui kalau Tuhan selalu menjelma pada setiap kemiskinan, ketertindasan, kelaparan, keterbelakangan dan berada pada setiap kaum lemah?

Sampai di rumah, Pustrini, isteriku menyambut kedatanganku. Tidak seperti biasa. Hari ini, Pustrini nampak heran dengan guratan wajahku sore itu.

“Bang, kenapa, Abang terllihat murung? Biasanya nggak begitu? Lelah sekali, ya Bang?” Tanya isteriku sembari menyedu segelas teh pahit di meja.
Aku tak langsung menjawab. “Ya, lelah. Capek dan banyak cerita.”
“Cerita? Cerita apa?”
“Yah, cerita tentang hidup.”
“Aah, sudah lah Bang, jangan berpikir yang berat-berat dulu. Nanti kalau sudah hilang lelahnya, baru Abang cerita.”
“Aku ini manusia biasa, Tri. Ada saatnya salah, ada saatnya lupa. Makanya aku ingin cerita sekarang.”
Pustrini hanya diam. Seolah menunggu mulutku terbuka kembali untuk menceritakan yang kujumpai di jalan tadi siang.
“Tri, aku di pasar tadi ketemu banyak orang.”
“Ya wajar to, namanya juga di pasar,” jawab Pustrini enteng.
“Ini bukan orang sembarang orang, Tri.”
Kening Pustrini mengerut. Ada tanda tanya di sana. “Orang aneh yang Mas maksud itu orang yang bagaimana, sih? Apa mereka tidak punya hidung? Atau….”
“Bukan, bukan itu, Tri. Tetapi orang-orang aneh itu orang-orang yang suka mengusir Tuhan.”
“Kok, mengusir Tuhan? Apa bukan sampean yang aneh itu, to Mas? Tuhan kok diusir?”
“Ya enggak lah! Orang-orang yang kujumpai tadi siang itu memang orang-orang yang mengusir Tuhan!”
“Tuhan nggak bisa dilihat, kok malah diusir! Aneh! Sudah lah nggak usah sok jadi filsuf! Pusing aku, Bang…”
Aku tersenyum kecil. Ternyata Pustrini juga kenal dengan istilah filsuf. Gadis desa seperti Pustrini, kenal dari mana istilah filsuf?
“Sudah, kalau mau cerita ya cerita! Aku ini mau masak, Bang!”
“Nah, akhirnya kau juga ingin tahu juga, kan?” kataku meledek Pustrini yang makin penasaran.
“Begini, lho, Tri. Kata Kiai kita dulu, Tuhan itu menjelma ke setiap bentuk ketertindasan, keterbelakangan, kemiskinan dan berpihak pada kaum lemah. Bahkan, kata Kiai kita juga, orang miskin yang datang ke rumah kita lalu meminta sumbangan, itu bentuk kepedulian Tuhan kepada kita, bahwa kita masih diberi peluang berbuat baik oleh Tuhan, Ya kan?’
“Iya, Lalu?”
“Nah, di pasar tadi, banyak kesempatan berbuat baik dibuang. Orang-orang mengusir pengemis, pengamen. Dan di sebelah rumah kita ini, di kompleks depan sana, dua orang bocah yang meminta sumbangan untuk yayasan sosial juga diusir secara halus….”
“Lalu, apa hubunganya dengan mengusir Tuhan tadi, Bang?”
“Ya, jelas, kalau mereka membenci ketertindasan, kemiskinan, dan kehausan dan kelaparan, itu kan sama saja mereka telah mengusir Tuhan. Lalu mereka juga membuang kesempatan berbuat Baik yang diberikan oleh Tuhan ke rumah mereka, kan sama saja mengusir Tuhan juga, betul, nggak?”
“Assalamu’alaikum?” Pembicaraanku terhenti ketika dari arah pintu depan terdengar ucapan salam. Tanpa isyarat, Pustrini langsung menyongsong tamu itu.
“Bang! Bang Im!” Pustrini memanggilku.

Di depan pintu, dua sosok bocah yang kujumpai di lorong kompleks itu ada di hadapanku. Mereka datang untuk meminta sumbangan kepadaku. Tuhan hadir ke rumahku. Terima kasih Tuhan. Sekalipun seribu lagi kau hadirkan orang miskin ke rumah kami, atau kau perlihatkan kepada kami ratusan bentuk ketertindasan dan kelaparan, pasti kebaikanmu tidak mungkin bisa terbalas hanya dengan membantu mereka dari kemelaratan dan kelaparan. Tetapi, sekali lagi, terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi peluang bagi kami untuk berbuat baik!**
Palembang, Agustus – Desember 2000

Imron Supriyadi

Cerpen Islami Bukan Mimpi

Raga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka hatinya. Sebenarnya dia tak pernah ingin meninggalkan Ajeng. Hanya saja keputusannya untuk memutuskan hubungan yang telah dijalin hampir tiga tahun itu tak bisa diganggu gugat. Sholat istikharah yang dia lakukan semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.

Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.

Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namun cincin itu kini tinggallah kenangan kisah cintanya. Ajeng, terasa sekali cinta dia hatinya. Dia tahu secara pasti perasaan Ajeng yang terluka saat dia memutuskan tali pertunangan. Namun entah mengapa kemantapan hatinya telah mengalahkan logika. Logikanya, Ajeng adalah wanita sempurna yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun bisik hatinya harus meninggalkan wanita secantik Ajeng.

“Ga … udah jam tujuh tuh, come on ngantor…” suara Aryo menggelegar di depan pintu kos Raga.
“Yoi” sahut Raga sambil menyambar tas pinggang yang digantung dekat pintu kos.
Aryo menatap Raga dengan tatapan janggal.
“Kenapa Yo?” tanya Raga.
“Ada yang beda dari kamu, Ga”
“Apaan?”
“Makin kurusan dan acak-acakan. Sepertinya dulu kamu sering pakai minyak wangi sekarang pakaianmu penuh minyak dan oli”
Raga tertawa mendengar komentar teman satu kosnya. Aryo tahu pasti kondisi emosi Raga semenjak putus tunangan dengan Ajeng. Lelaki itu makin tidak memperhatikan penampilan dan mudah marah. Aryo bisa merasakan kesepian hati kawannya itu. Tapi anehnya setiap kali dikenalkan dengan wanita, Raga selalu bersikap acuh. Seakan dia tidak memikirkan untuk memliki kekasih pengganti Ajeng.
“Udah abis minyak wanginya. Males beli lagi” sahut Raga.
“Ga … you should open your heart for love”
“Not now”
Raga tak peduli sekian banyak usaha teman-temannya untuk membuat Raga kembali seperti dulu. Aryo menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya itu. Benar-benar berbeda dengan Raga yang dikenalnya dua tahun lalu.

Dua tahun lalu, saat mereka baru saja diterima magang di perusahaan di Jakarta. Saat itu Raga berulang kali mengungkapkan betapa beratnya dia berpisah dengan Ajeng yang bekerja di Madiun, Jawa Timur. Raga bukan tipe lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Cintanya pada Ajeng tumbuh saat mereka sibuk mengerjakan tugas akhir. Kesetiaan dan perhatian Ajeng pada Raga membuat lelaki itu benar-benar jatuh hati pada Ajeng.

“Ga, kalau memang hati kamu sudah mantap untuk meninggalkan semua kenangan tentang Ajeng ya jangan mencoba mengingat-ingat kembali. Itu akan menyakiti kamu”
“Ada hal yang masih jadi satu tanda tanya besar Yo… hanya saja aku nggak tahu harus tanya ke siapa”
“Tentang?”
“Seseorang”
“Hmm… cewek mana Ga?”
“Wanita yang hadir di mimpiku saat istikharah pertamaku”
“Apa cewek itu kukenal”
“Iya Yo… kemarin aku ketemu dia. Rasanya hatiku sedih banget melihat dia menangis”
“Menangis?”
“Iya. Padahal biasanya dia menyapa aku dengan senyum khasnya. Tapi kemarin dia tampak sangat sedih”
“Wah-wah sepertinya seru nih ceritanya”
“Entahlah Yo, tapi nanti saja aku ceritakan di kantor. Yuk berangkat”

Aryo penasaran dengan wanita yang diceritakan Raga. Jika wanita itu dikenal, maka besar kemungkinan adalah orang kantor. Memang Raga sangat ingin memilki hubungan cinta tanpa terbatas jarak. Namun wanita mana yang sanggup memikat lelaki setampan dan sesempurna Raga. Apalagi wanita di kantor yang belum menikah juga bisa dihitung dengan jari.

===
Baru saja Raga memarkir motornya, dia melihat sosok wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Wanita itu sedang berbincang akrab dengan lelaki berperawakan tinggi. Sampai akhirnya wanita itu masuk mushola sementara lelaki berperawakan tinggi segera menuju ke tempatnya berdiri.
“Apakah mungkin mimpi itu adalah petunjuk dari Allah untukku? Mungkinkah wanita itu yang kelak menjadi isteri dan ibu dari anak-anakku?” pikir Raga.
“Ga, Yo… baru dateng?” tegur Indra.
“Iya…” jawab Aryo, “ Sudah selesai dhuha, ustadz?”
“Alhamdulillah.” Indra tersenyum dengan senyuman manis yang mungkin bisa memikat para bidadari surga. Kekhusyukan Indra dalam beribadah membuatnya mendapat julukan ustadz dari teman-teman kantornya.
“Rana sering dhuha di mushola?” tanya Raga.
“Iya…”jawab Indra.
“Ndra, kamu cocok banget tuh sama Rana. Sama-sama khusyuk” sahut Aryo.
Indra tersenyum tersipu, “Bisa saja. Aku gak ada apa-apanya dibandingkan Rana. Shaum senin-kamisnya enggak pernah bolong, dia juga nggak pernah bolos ngaji”
“Ngaji?” Raga menatap Indra, “Ngaji di mana?”
“Pengajian kantor dua kali seminggu setelah pulang kerja” kata Indra, “Lho bukannya dulu, kamu juga ikutan ngaji Ga?”
“Dulu banget” Raga meringis.
“Ya sudah ayo kita ngantin” kata Aryo.
“Aku langsung ke kantor ya Yo” kata Raga.
“Shaum?” Indra menyelidik.
“Insya Allah” jawab Raga.
“Raga ini enggak pernah putus juga shaum senin kamisnya” bela Aryo.

Indra menatap kedua sahabatnya. Memang dari awal dia mengenal Raga dan satu kontrakan dengan lelaki itu, tak pernah dia jumpai Raga meninggalkan puasa senin-kamisnya. Sampai saat ini ternyata Raga masih istiqomah menjaga ibadahnya satu itu. Meskipun pekerjaannya lebih menuntut dia untuk banyak bekerja di lapangan, namun belum sekalipun Raga mengeluhkan diri dan meninggalkan shaum sunah itu.
===

“Semangat pagi Mbak Aisya …” tegur Raga ketika masuk ruangan kantornya.
“Met pagi Raga….” Jawab Aisya.
“Dingin banget nih ruangan. AC-nya baru diservis ya?” Raga melepas wearpack yang dikenakannya.
“Enggak tuh. Mungkin karena lemakmu sudah berkurang makanya dinginnya kerasa”
Raga tersenyum kecut, “Memangnya kelihatan banget ya Mbak kurusnya?”
“Iya Ga…mesti nyari cewek yang bisa ngurus kamu tuh”
“Belum nemu ceweknya Mbak”
“Masa’ kalah sama Rana”
“Kenapa Mbak dengan Rana?”
“Nah gosipnya kan dia dekat sama Pujo. Dan sepertinya memang mereka benar-benar ada hubungan special. Rana selalu tersipu kalau aku menyebut nama Pujo di depannya”
“Rana? Kirana Listya Kusuma?”
“Nah iya, teman seangkatanmu saat magang”
“Rana? Gak mungkin”
“Lah kenapa gak mungkin Ga?”
Raga menatap wanita berparas manis di hadapannya, “Gak mungkin Rana mau pacaran”
“Mereka memang enggak pacaran Ga, ya ditunggu saja undangannya”
Hati Raga mencelos. Baru saja dia merasa ada perasaan aneh saat Indra jauh lebih dekat dengan Rana, tapi kabar mengejutkan justru datang dari Aisya. Rana telah memiliki seseorang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya dulu aku pernah berniat nyomblangin kamu sama Rana. Tapi Rana sangat benci anak tunggal. Dia paling gak suka sama cowok yang manja“
“Mbak Aisya nyomblangin aku sama Rana? Ngawur banget”
“Iya, syukurnya Rana juga menolak untuk kucomblangkan denganmu Ga”
“Ya iyalah Mbak, kami tuh beda banget”
“Sebenarnya kalian tuh cocok banget menurutku. Rana dan kamu tuh sama-sama pinternya. Belum lagi shaum sunahnya gak pernah bolong, sama seperti kamu Ga”
Raga merasakan getaran kecil dihatinya, mengingatkan pada mimpi usai sholat istikharah pertamanya. Justru paras Rana yang muncul ketika dia dilemma meneruskan hubungan dengan Ajeng. Entah apa itu merupakan petunjuk dari Allah. Mengapakah kenyataanya jauh berbeda. Hatinya belum bisa mencintai Rana dan Rana pun telah memiliki seseorang untuk dicintai.
“Mbak Aisya tahu sejauh apa hubungan Rana sama siapa tadi?”
“Sama Pujo?” Aisya menyelidik, “Kok sepertinya kamu penasaran banget”
“Ah enggak juga, mungkin hanya perasaan Mbak Aisya saja”
Aisya menggelengkan kepala menatap Raga, “Kalian memang cocok”
“Kalian?”
“Kamu sama Kirana”

“Seandainya saja Mas Raga belum punya tunangan”
“Memangnya kenapa Dek?” selidik Raga.
“Beruntung banget wanita yang jadi isterinya Mas, sudah ganteng pinter pula”
Raga tertawa lebar. Sikap polos Rana seringkali membuat hati Raga tersentuh.

“Mas Raga, Rana nitip kondangan buat Firman ya…” Rana menghampiri meja Raga
“Nah aku kan gak mudik”
“Pokoknya Rana nitip ke Mas Raga”
“Okelah”
“Wah Firman dah merit yo…kamu kapan Ga?” sindir rekan kerja Raga yang duduk berhadapan dengannya di ruangan.
“Mas Raga nungguin Rana, Mas” sahut Rana
“Wuih ditembak tuh Ga” sahut lelaki yang tampak akrab dengan Raga itu.
Raga tersenyum simpul.

“Ga, melamun lagi deh…” tegur Aisya.
“Eh sorry Mbak” Raga tersipu.
“Ya semoga kamu segera menemukan wanita terbaik untuk menjadi pendampingmu”
“Amin…Mbak Aisya juga ya”
Aisya tersenyum manis, “Tahu enggak Ga…aku selalu membayangkan kamu dan Rana itu bisa jadi sepasang kekasih. Entah mengapa aku selalu merasa kalian sangat serasi”
“Wanita selalu pakai perasaan”
“Haha…”
“Logikanya kan mustahil Mbak. Mau ditaruh dimana tuh cowoknya Rana”
“Ya tetep di situlah. Tapi kamunya yang disamping Rana”
“Hahaha ….”
====

Masih terasa sesak di dada, tangis pun belum reda. Rana menengadahkan tangannya usai melaksanakan dhuha. Entah mengapa hatinya mencelos setiap kali bertemu dengan Raga. Seakan menanti sebuah keajaiban datang.

“Hamba sangat takut untuk mencintai ya Allah. Berikanlah petunjukMu dalam setiap langkah ini. Sejak berakhirnya hubungan hamba dengan Mas Herdyan semua terasa begitu menyesakkan. Meskipun hamba tahu Herdyan bukanlah lelaki yang baik untuk mendampingi kehidupan hamba. Namun yang membuat hamba meragu adalah kehadiran Mas Raga. Hamba sungguh takut mencintai Mas Raga, hamba takut terluka. Hamba tak ingin menangis lagi, hamba tak ingin sendirian. Pilihkanlah jodoh terbaik untuk hamba. Jika memang Mas Raga adalah seseorang yang Kau jadikan jodoh hamba, maka dekatkanlah kami atas rahmat dan ridho-Mu. Hamba serahkan segala urusan ini kepadaMu. Hanya kepadaMu hamba berharap dan meminta pertolongan. Berikanlah petunjukMu yaa Rabb. Amin yaa rabbal alamin”

Tiga bulan semenjak hubungannya dengan Herdyan berakhir membuat emosi Rana tak terkendali. Tak jarang seharian dia menangis. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, dan ketika terbangun semua akan baik-baik saja. Namun kenyataanya setiap kali dia terluka ketika melihat kemesraan status Herdyan dan pacarnya di facebook. Jika memang Herdyan menginginkan sentuhan sungguh Rana tak mampu memberikannya. Wanita seperti Rana lebih memikirkan aturan agama daripada menuruti hawa nafsu. Allah tentunya tak akan suka hambaNya yang selalu mendekati zina. Dan bagi Rana cintanya pada Allah akan mengalahkan segalanya. Janji Allah adalah wanita baik untuk lelaki yang baik (QS An Nuur : 26). Dan Allah sekali-kali tidak menyalahi janjiNya (QS Al Hajj:47).
Rana memang tidak pernah jalan berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya. Rana hanya ingin Allah selalu meridhoi tiap langkahNya. Bahkan saat dia bertemu dengan Herdyan, tak pernah lelaki itu diizinkan berjalan di sampingnya bahkan untuk memegang tangannya. Mungkin akan terlihat sombong dan sok jual mahal, namun Rana hanya ingin menjalankan perintah agamanya.

Kali ini airmata itu kembali jatuh saat Rana membaca ayat Al Qur’an. Surat Al A’raf, surat ketujuh pada juz sembilan adalah jawaban yang diberikan Allah atas istikharahnya. Sebelumnya dia sangat takut untuk menjalankan sholat tersebut. Sungguh, hatinya teriris pedih. Hanya pada Allah dia curahkan segala kebuncahan dan kesendirian hatinya. Namun keyakinan akan janji Allah menutupi kesakitannya.

Perpisahannya denga Herdyan adalah kenyataan. Dan lebih nyata lagi Herdyan telah memiliki cinta yang lain. Kini dia harus tegar berjalan, mencoba menemukan kepingan hidupnya yang hilang. Mencoba menemukan keceriaan yang dulu mengiringi harinya.

Sebenarnya sangat sakit saat Raga pernah mendapatinya menangis. Sebenarnya Rana sangat ingin memeluk lelaki itu dan menumpahkan tangisnya, namun apakah benar lelaki itulah yang disiapkan Allah untuknya. Wallahu a’lam bis shawab.

Jika memang lelaki setangguh Raga yang kelak mendampingi kehidupannya, mengapa Raga hanya terdiam saat menatapnya. Apakah Raga tak pernah ada hati untuknya. Apakah Raga tidak pernah merasakan tatapan hangat matanya. Sungguh suatu dilemma menanti sesuatu yang tak pasti. Menanti sesuatu yang tak dimengerti kapan datangnya. Sungguh menyesakkan menatap lelaki yang kerap dipujanya itu sendirian. Rana tahu pasti Raga belum memiliki kekasih semenjak putus dengan tunangannya. Namun bagaimana cara mendekati Raga. Rana merasakan pusing di kepalanya. Rasa yang tiap kali dialaminya itu membuatnya kerap ketakutan. Rana hanya tak ingin sendiri, Rana hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik yang selalu menemaninya.

Raga memang terlalu sempurna untuk mendampinginya. Masih terbayang paras tampan Raga dan kebiasaanya membaca Al Qur’an usai subuh dan magrib. Bukankah mereka dulu pernah begitu dekat. Bukankah mereka dulu pernah bercanda tawa tanpa beban. Bukankah dulu Rana sering mengatakan seandainya saja Raga belum bertunangan. Namun mengapa dia hanya terdiam saat Raga memutuskan hubungan pertunangan dengan Ajeng. Raga tentunya ingin seorang isteri yang selalu berada di dekatnya. Lalu, apa yang membuat Rana ragu untuk mendekati Raga.

Sungguh Rana tak ingin terluka kembali. Kisah kasihnya yang musnah bersama Herdyan membuat Rana ragu untuk melangkah. Ingin sekali dia membina rumah tangga seperti teman-teman sebayanya. Ingin sekali dia menimang bayi seperti teman-teman sebayanya. Namun siapa yang mau menikahinya. Paras Rana tidaklah secantik mereka. Hanya ketulusan hati yang dia punya. Hanya kesucian jiwa yang dia pertahankan.

Entah apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harusnya dia lakukan untuk menghapus segala kepedihan hatinya. Waktu berjalan begitu lambat dan terus mengoyakkan perasaannya. Airmata menjadi temannnya di siang dan malam. Rana benar-benar merasakan tekanan di hatinya. Rana tak tahu harus berbuat apalagi, serasa segala impiannya menghilang. Rana merasa terluka yang amat dalam. Pengharapan akan pertolongan Allah adalah satu-satunya yang membuatnya bertahan.

Sejenak Rana menghela napas dan mengakhiri bacaan Al Qur’annya. Dia harus kembali ke kantor dan bersikap professional. Hatinya yang terkoyak dan terluka harus kembali tersamarkan. Kesepian hatinya harus tertutupi oleh kepura-puraan. Sebenarnya dia sangat membenci itu, namun apalah yang bisa Rana lakukan. Hanya bersabar dan menunggu yang terbaik.

Rana melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dilihatnya Pujo, lelaki yang kerap dicomblangkan dengannya itu tengah berjalan melewati ruangannya. Tentu saja Rana tahu lelaki itu takkan mampu untuk mencintai Rana. Sekalipun semua orang menganggap antara mereka ada suatu hubungan special, namun sebenarnya tak ada satu hubungan apapun melainkan rekan kerja. Pujo, lelaki berperawakan tinggi yang merupakan anak tunggal itu tampak santai melihat Rana.

“Ya Allah, ini semua seperti mimpi buruk untukku. Terasa begitu berat dan menyesakkan. Sebenarnya hamba tak sanggup untuk menjalaninya. Jika saja bukan karena doa ibu mungkin hamba sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Ya Allah kuatkanlah hamba. Amin” pikir Rana

Sebenarnya telah banyak orang menanyakan kapan Rana akan menikah. Sungguh, Rana ingin sekali membina rumah tangga. Kesendiriannya di Jakarta memang telah membuatnya menjadi wanita mandiri, namun yang dia butuhkan adalah suami yang soleh. Kebanyakan orang berpikir bahwa Rana terlalu memilih-milih lelaki, padahal belum ada seorangpun yang melamarnya. Kalaupun ada, pada akhirnya dia mengundurkan diri. Rana tersenyum sendiri saat mengingat hubungan asmaranya dengan Herdyan, Rana sungguh berpikir pernikahan tinggal selangkah lagi. Namun kenyataannya itu hanya menjadi mimpi bagi Rana. Takkan pernah ada pernikahan antara Rana dan Herdyan.

Sekali lagi airmata itu kerap membanjiri hatinya. Kerapuhan yang hanya mampu dirasakan Rana telah meluluhkan pertahanannya. Cobaan yang dia lalui terasa sangat berat. Seandainya saja ada tempat untuk berbagi. Kenyataannya kesendirian itu semakin tampak jelas. Tiap kali dia bermain dengan dunianya sendiri. Terasa menyesakkan dan membuatnya terjatuh terlalu dalam.

Allah tentu tahu batasan ujian untuk hambaNya. Kesabaran yang harus Rana tempuh memang terlalu terjal. Rana berulang kali merasa berputus asa dengan segala yang ada. Rana berulang kali merasa tidak berarti. Rana berulang kali merasa terpojok dalam kesunyian. Rana, terlihat rapuh dengan segala ketegaran yang dimiliki.

“Ran…” tegur Yudha, rekan kerja yang duduk di sebelahnya.
“Hem, ada yang keasyikan melamun nih” Yudha menggoda wanita yang berbeda usia delapan tahun di bawahnya itu.
“Hehe…” Rana berusaha menepis kesedihan dari raut wajahnya.
“Kalau lagi sedih jelek banget loh”
“Bukannya emang aku engga cantik ya?”
“Yeee…gak boleh seperti itu”
“Jika aku cantik dan gak sombong, mungkin aku tak pernah kehilangan Herdyan”
“Lelaki model Herdyan itu yang gak bener. Sudahlah Ran, jangan suka menyalahkan diri sendiri”
“Aku merasa gak sanggup menjalani ini semua Mas”
“Hem… sama Pujo aja tuh”
“Kalau bercanda ada batasannya Mas”
“Maaf-maaf…wah mudah banget tersulut emosinya nih”
“Iya…lagi sensi tingkat tinggi”
“Hem… sudah kelihatan kok. Makanya aku bercandain biar engga terlalu terbawa emosi”
“Makasih Mas”
“Makasih buat apa? Toh ternyata aku gak bisa merubah mood kamu”
Rana mencoba tersenyum.
“Ya begitu dunk, jangan suka murung begitu. Gak baik”
“Iya Mas”
“Segala permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya”
“I need him. I just need him”
Yudha menggelengkan kepala sejenak. Wanita di sampingnya tampak serius membuka file di laptopnya. Ternyata wanita itu memiliki hati yang begitu rapuh. Setahu Yudha, wanita ini tak bisa mendengar orang berbicara kasar ataupun berbicara keras. Wanita yang menurut orang terlampaui mandiri ini banyak sekali kelemahan. Hanya saja wanita ini selalu hidup di dunianya sendiri, tak ingin menshare masalahnya. Rana selalu bilang, jika kebahagiaan bisa dibagi namun kesedihan tak pantas untuk dibagi.

Untuk orang yang seumuran dengan Rana memang Rana terlalu keras menghadapi kehidupannya. Pernah suatu ketika Rana menceritakan kondisi ekonomi keluargannya. Ternyata saat dia membiayai kuliahnya sendiri, Rana juga menghidupi keluarganya. Dari pekerjaannya yang memberikan bimbingan belajar keluarganya bisa makan dan dia pun bisa meneruskan pendidikan S1 nya. Kehidupannya begitu keras, wajar sekali dia sering terbawa emosi.

Rana memang pernah menceritakan bahwa di tahun ini dia telah mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali. Yudha terkadang merasa heran dengan lelaki yang meninggalkan wanita seperti Rana. Mungkin juga benar kata Rana, lelaki yang meninggalkannya bukanlah lelaki tangguh yang sangggup berada di sampingnya. Lelaki itu mundur karena melihat begitu terjalnya kehidupan Rana.

Rana memiliki hati yang tulus untuk mencintai. Rana sangat berperasaan, wanita ini tak pernah berniat menyakiti orang. Namun dalam kehidupannya seringkali dikecewakan. Sebenarnya tak tega melihatnya berputus asa seperti ini. Namun Yudha hanya mampu memberikan kata-kata pembangkit semangatnya kembali.
===

Malam menyisakan keheningan tak terhenti. Jam dinding menujukkan pukul tiga dini hari. Raga menengadahkan tangannya usai melaksanakan tahajud, “Ya Rabb, tunjukkanlah langkah yang harus hamba tempuh. Kirimkan jodoh terbaik untuk mendampingi hamba. amin”

“Ini loh calon isteriku” kata Raga.
Rana terbangun dari tidurnya dan beristighfar, “Ya Rabb …”
Bayangan Raga di mimpi belum juga terhapus dari ingatan Rana. Namun Rana segera mengambil wudhu untuk melaksanakan istikharah dan tahajud.
“Ya Allah hamba tak tahu apa yang seharusnya terjadi dan apa yang terbaik untuk hamba. Namun hamba percaya Engkau akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba.”
===

Yaa Rabb …
Pemilik segala hati, jangan biarkan diri ini terjatuh
Pemilik jiwa, berikan pendamping terbaik untukku
Pemilik kehidupan, kuserahkan segalanya ini pada-Mu

Yaa Rabb …
Sembuhkanlah segala luka di hati ini
Hapuskanlah kesedihan dan kepedihan yang kerap menghampiri
Berikan rahmat dan ridhoMu dalam setiap langkahku

Yaa Rabb…
Sungguh termasuk dzalim diri ini tanpa ampunanMu
Sungguh termasuk rugi diri ini tanpa kasihMu
Sungguh tak berdaya diri ini tanpa pertolonganMu

Yaa Rabb …
Di dalam sujudku ini kuhaturkan segala kelemahan dan kekhilafanku
Di dalam sujudku ini kumintakan dengan segenap hati
Pertemukanlah jodohku
Kesepian ini, kesedihan ini …..
Sungguh hanya padaMu kubermohon
Hanya dengan cintaMu aku sanggup bertahan

Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah
Wa qinaa adza banner

Amin yaa rabbal alamin ……
===
Eka Sulistiyowati

Cerpen Islami Hujan

Hujan. Pada siang menuju sore hari ini, hujan terus mengguyur tanah pertiwi. Lebih tepatnya kota saya, Jakarta. Karena saya tidak tahu apakah di belahan kota sana, hujan juga turun atau tidak.

Amazing. Itulah hal yang saya selalu rasakan tatkala hujan datang. Ya, semoga saja seperti itu dan memang seharusnya seperti itu. Di luar kejadian yang sering terjadi ketika hujan turun, misalnya angin besar yang menyebabkan pohon-pohon dan baliho tumbang, banjir, kadang longsor, macet dan sebagainya, saya selalu merasa amazing melihat hujan. Menatap tetesan hujan yang turun entah dari ketinggian berapa –karena saya tidak pernah tahu berapa ketinggian langit yang luas itu-. Atau merasakan bau hujan dan menghirupnya dalam-dalam. Mungkin aneh, tapi saya seperti merasakan suatu hawa baru yang sejuk dan jernih.

Pernah suatu kali saya tidur telentang di sebuah lapangan pada suatu malam dan mata saya menatap pada langit luas tanpa sekat. Yang saya lihat adalah betapa langit itu benar-benar tanpa batas. Mungkin dari situlah ada pepatah yang mengatakan “gantungkan cita-cita setinggi langit”. Karena memang langit itu tidak berujung dan bercita-citalah terus tanpa henti. Dan gapailah cita-cita dengan usaha yang maksimal.

Sama seperti yang saya lihat pada malam itu, langit yang luas seperti memberikan suatu atmosfer yang berbeda. Benar-benar memanjakan mata dengan pada dimensi tanpa batas. Yang seketika mengajak kita untuk bermimpi. Karena langit itu luas dan mimpi sebanyak apapun akan tertampung. Seperti kuasa Allah yang luasnya melebihi langit dan Allah akan menampung mimpi-mimpi jika kita berusaha mengejarnya.

Kembali pada hujan. Butirannya yang terus membasahi bumi bagaikan saksi yang tak pernah putus saat penghuni bumi memanjatkan doa-doanya. Ya, karena setahu saya hujan adalah rahmat dan berdoa saat hujan adalah mustajab. Indah betul bukan segala ciptaan Allah ??

Saya jadi lebih merasakan amazing saat hujan ketika saya berada di atas gunung. Tempat yang sebelumnya belum pernah saya datangi tapi saya selalu merasa penasaran untuk hadir di sana. Dan kali pertama saya berkesempatan ke gunung, saya pun di sambut hujan deras. Hujan yang turun pada pendakian pertama saya dan di malam hari pula. Tak ayal, setelah sampai di atas gunung saya pun menangis karena kedinginan setelah beberapa jam tertimpa hujan. Dan parahnya lagi, saya tidak bisa ganti baju kering karena tas saya di bawa oleh teman yang masih ketinggalan di bawah. Kenangan pahit yang terasa manis.

Semenjak itu saya semakin suka dengan hujan. Terlebih hujan-hujan setelahnya yang menemani saya ketika di gunung. Hujan rintik-rintik yang menemani saya bersujud di pendakian saya yang kedua. Sungguh nikmat tiada terkira. Dan tidur berkawan suara hujan yang seakan berlomba-lomba menyentuh saya, tapi toh tidak bisa karena saya berada di dalam tenda. Dan banyak lagi cerita hujan saya yang selalu amazing menurut saya.

Mungkin kesenangan saya akan hujan sama seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena ingin main hujan. Dan ada rona bahagia yang terpancar dari wajah anak-anak kecil ketika berhasil bermain hujan meskipun dengan izin yang di paksakan dari sang ibunda.

Atau kesenangan orang-orang akan hujan yang bisa membuatnya tidur lebih lelap dari biasanya dan efeknya pasti akan menimbulkan rasa malas yang luar biasa untuk bangkit memulai aktifitas di hari yang baru. Saya pun tidak jarang merasakan hal yang sama.

Juga di sebuah film. Hujan menggambarkan suasana yang penuh romatisme. Dalam film India pun, tarian dan nyanyian orang yang sedang bersukaria sering di gambarkan pada saat hujan. Di film lain, hujan di jadikan saat untuk pasangan melakukan adegan romantis yang membuat para penonton seperti terbius ke dalam suasana tersebut.

Kesenangan para petani yang ladang atau sawahnya menjadi subur karena air hujan atau yang mengandalkan pengairan hanya dengan air hujan. Kesenangan tukang bakso yang akan laris manis karena dagangannya bisa menambah nafsu makan siapapun yang membelinya saat hujan. Yang pasti bagi suatu daerah yang telah lama di landa kekeringan maka hujan bagaikan anugerah tak ternilai. Subhanallah. Mungkin masih sangat banyak ke-amazing-an hujan yang luput dari pantauan indera saya.

Hujan adalah rahmat yang mengairi bumi Allah tanpa pilih kasih. Jika hujan saja sudah sebuah rahmat maka setelahnya pun ada bonus Allah, yaitu pelangi. Semua orang tahu jika pelangi itu indah dengan tujuh warna yang melingkupinya. Pelangi merupakan sisa pembiasan dari air hujan dan pelangi itu hanya ada setelah hujan turun. Meskipun pelangi itu tidak selalu hadir di depan mata saya. Tapi pelangi itu selalu ada. Entah di ujung kota saya, di atas gunung tempat saya menuai hikmah, atau di tempat yang saya tidak tahu di mana keberadaannya. Tapi pelangi itu bukanlah suatu fiksi terlebih imajinasi. Karena semua orang pasti pernah melihatnya walaupun tidak selalu melihatnya ketika hujan reda.

Hujan memang selalu amazing. Dan Allah tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu. Jika di ibaratkan hujan adalah suatu permasalahan, maka pelangi adalah penyelesaiannya. Jika hujan di ibaratkan dengan mimpi-mimpi, maka pelangi adalah bukti nyata mimpi-mimpi itu.

Allahua’lam
 

Kiptiah Hasan
 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger