Post View:
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Cerpen Batu Domino yang Beradu

Jumat, 12 Oktober 2012
Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri.
Setelah segalanya seperti menyusut ke dalam gelap, dan menghadirkan bintik-bintik cahaya lampu, serupa ratusan bintang yang terapung di sepanjang pelabuhan, di sinilah surga mereka. Di mana lagi, selain kedai kopi tempat mereka kembali, tempat (seolah) mereka menemukan sebuah keluarga. Surga dapat dibangun di mana saja, dan dihuni oleh siapa saja, pikir mereka.

Keluarga adalah surga. Keduanya ada saat kita membuatnya ada. Dan mereka selalu merasa menemukan keduanya. Tak ada yang benar-benar merasa kehilangan, saat batu-batu domino mulai beradu. Kehilangan adalah cerita lain, yang sengaja diasingkan. Ia tak boleh hadir saat kesulitan-kesulitan hidup bagai mendesak dalam setiap detik waktu yang berjalan setiap hari. Mereka kuli. Kesadaran sebagai kuli harus ditanamkan dalam-dalam, supaya tak berkesempatan perasaan-perasaan busuk singgah dan menggoda mereka untuk melakukan hal-hal yang buruk. Seorang kuli bukan seorang pencuri. Ini harus diyakini. Meski terkadang banyak mata yang memosisikannnya tak terlalu jauh berbeda. Tapi mereka tak ingin mengerti. Sebab tak cukup waktu untuk memahami dan mengerti tentang status, tentang kedudukan. Mereka merasa sebutan kuli sudah cukup memberi kepercayaan diri bagi mereka, dan itu lebih baik daripada seorang gelandangan atau pengangguran.

Lalu apa yang membuat status kuli menjadi tidak baik? Tidak ada. Ini negeri kuli. Di setiap sudut kota, di kampung-kampung, di mana pun, kuli jadi penghuni. Tidak percaya? Ribuan kuli di negeri jiran adalah akibat dari kemelimpahan kuli di negeri ini. Dan mereka, yang malam ini duduk membanting batu-batu domino di atas meja kedai kopi, tidak memilih jadi kuli di negeri orang. "Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri," umpat mereka, saat seorang kawan membawa oleh-oleh berupa bekas sabetan rotan yang menggaris di punggungnya. Mereka seolah tak hirau pada sejumlah kawan lain yang dengan semangat membara bersusah payah untuk bisa ikut menjadi kuli di negeri orang. Mereka hanya mencibir, "kalian tak malu jadi kuli di negeri orang?" Dan mereka pasti akan menutup telinga saat kawan-kawannya menjawab, "tak ada bedanya jadi kuli di negeri sendiri."

Dan malam, selalu jatuh tepat di pundak sungai ini, seperti seorang tua berjubah hitam, menyungkup kedinginan. Dan mereka, satu-satu datang, seperti bersepakat untuk bertemu, berkumpul di kedai kopi. Inilah saat pesta domino digelar. Membanting angka-angka keberuntungan. Teh telor, kopi ginseng, hemaviton, ekstrajoss, bir bintang, topi miring, ciu, kti, dan segala jenis minuman beralkohol adalah hidangan sebagai taruhan ringan. Dan percakapan adalah lintasan-lintasan pikiran yang tak jernih. Tak ada peristiwa yang selesai diperbincangkan dari mulut yang bau tuak. Mereka mengucapkan pukimak, pantek, tai, asu, dan sejenisnya, sebagai patahan-patahan emosi yang tak serius. Omong kosong, kebuntuan, ledakan, cemeeh, semua tak terencanakan. Yang tak terbiasa, dan datang dengan kejernihan yang normal, hanya akan mengotori telinga dan pulang dengan wajah yang memucat, dan segera menyadari bahwa ia asing dan terlihat aneh di lingkungan mereka. Dan percakapan yang tak selesai, acapkali harus diakhiri dengan perkelahian. Inilah egoisme yang sering muncul dalam kehendak untuk menang yang tak terkontrol. Gigi patah, muka lebam, lengan koyak, kepala bocor, hidung meler, adalah hal yang tak terhindarkan. Polisi ada, tapi menganggapnya biasa. Ia menjadi tradisi. Tidak akan pernah ada yang kalah, sebab setiap mereka merasa telah menang. Dan selesai. Malam berikutnya adalah surga, adalah keluarga. Mereka kembali, seperti batu-batu domino yang tak bosan untuk beradu…

Mungkin hidup yang dulu telah membuang mereka. Kini mereka sedang berada dalam pilihan hidup yang harus terlihat wajar sebagai sebuah keputusan yang tak salah. Mereka sengaja membuang jauh ingatan lampau seperti seseorang yang membuang sauh ke dasar laut. Orang tua, kakak, adik, abang, saudara-mara, adalah wajah-wajah yang tak seharusnya hidup dalam ingatan mereka saat ini. Sebab kehadiran wajah-wajah itu hanya akan membuat kebebasan terkekang, dan hanya kembali menegaskan perasaan akan kehilangan dan kekalahan. Ini memuakkan. Sama memuakkannya dengan wajah kampung-kampung tempat kelahiran mereka. Kampung yang membuat penghuninya merasa terbuang, merasa tak diperhitungkan. Dan anak-anak yang terlahir dari sana adalah anak-anak yang menderita ketakutan akan masa depan. Anak-anak yang setiap subuh bertelanjang dada, bermain congkak di bawah asuhan beruk-beruk di hutan karet. Anak-anak yang gemar memanjat batang kelapa, melebihi tupai. Anak-anak yang tahan berendam dalam lumpur gambut di akar-akar bakau berburu ketam atau siput. Anak-anak yang tiba-tiba telah tumbuh menjadi seseorang yang telah siap dipekerjakan untuk menjadi kuli, menjadi anak buah tongkang berlayar gelap ke negeri orang. Dan yang memuakkan inilah, yang kini harus ditanggungkan. Maka tertawalah. Seperti seseorang yang baru saja menemukan dirinya sedang mencapai puncak kebahagiaan. Dan malam, adalah rumah tempat mereka melepas tawa, sebebas-bebasnya. Sebebas batu-batu domino yang beradu…

Dan tak ada satu malam pun yang luput. Hari-hari kehilangan nama-nama. Di tepian sungai, kedai kopi seperti mereguk malam demi malam, dan membiarkannya berlalu. Dan mereka adalah orang-orang yang juga dengan sengaja membiarkan segalanya berlalu. Hidup seorang kuli adalah hidup yang terbatas. Mereka tak terlalu berkeinginan untuk merespons sesuatu yang sedang bergerak di luar mereka. BBM, korupsi, asap hutan, demonstrasi, amuk massa, tawuran antarsuku, penculikan, pembunuhan, kemiskinan, dan segala macamnya sudah terlampau akrab dalam telinga mereka. Dan kini tak ada urusan, selain menghitung keberuntungan dari angka-angka di batu-batu domino. Urusan di luar diri mereka adalah urusan di dunia lain. Mencampurinya hanya akan membuat mereka tak bisa bebas berpikir tentang bagaimana memenangkan taruhan saat bermain domino. Dan tentu, tak bisa membuat mereka bebas tertawa.

Tapi, apakah segala urusan memang benar-benar berada di luar diri mereka?
Seperti halnya yang terjadi pada malam ini. Seorang perempuan muda dengan perut yang membuncit, tiba-tiba datang tergesa-gesa dan memukulkan botol bir di kepala seorang kuli. Tak ada kalimat yang pantas, selain maki-hamun yang keluar berdenging dari mulut perempuan itu. Semua kuli di kedai kopi, tentu terpaksa berhenti tertawa. Sebuah urusan telah datang, dan masuk ke dunia mereka. Salah seorang kuli kini telah bocor kepalanya. Dan apa yang harus dilakukan oleh yang lain untuk urusan pribadi semacam ini? Sementara perempuan itu terus meracau meminta pertanggungjawaban, sambil entah berapa botol air mata pula yang tumpah berserakan di lantai kedai kopi. Seorang kuli yang bocor kepalanya, tentu timbul rasa malu, rasa kesenangannya terganggu, rasa kelelakiannya, egoismenya, yang bercampur dan beradu. Lelaki itu lalu menghayunkan baku tinjunya yang sebesar balok kayu mahang ke wajah perempuan hamil itu. Dan ia pergi, seperti seorang koboi yang baru saja melepaskan sebutir peluru dari pistolnya. Perempuan itu terkapar. Sebuah urusan telah membuat kedai kopi ini mulai menjadi neraka. Keluarga adalah neraka?

Malam berikutnya, seorang lelaki separuh baya, berbadan besar, tidak berkumis, datang membawa setumpuk kertas bon dan membantingnya di tengah salah satu meja di kedai kopi. Ada apa? Pastilah hutang. Ini urusan yang tak seharusnya datang saat malam belum lengkap memberikan kebebasannya. Seorang kuli yang merasa berhutang, seperti tak mampu menyembunyikan wajahnya dari yang lain. Dan tentu saja ini cukup menegangkan. Sementara di meja yang lain, batu masih terus beradu, tapi tanpa suara lengking tawa. Lelaki berbadan besar itu menghardik, melemparkan telunjuk ratusan kali tepat ke wajah seorang kuli. Lelaki mana yang tak naik darah saat dipojokkan di tengah banyak orang. Tapi ia memang telah berhutang. Dan hutang itu memang telah berkeliling pinggang. Dan rasanya butuh kekurangajaran yang lebih untuk bisa membalas hardikan lelaki berbadan besar ini. Tapi mulutnya kian terkunci. Tak ada kalimat yang mampu membentenginya dari semburan lelaki berbadan besar ini, selain sebuah tusukan pisau kecil di perutnya yang buncit itu. Dan darah kembali tumpah. Kuli berhutang itu bergegas pergi, seperti seseorang yang sedang terlambat untuk sebuah janji. Kedai kopi ini mulai ditumpuki sejumlah urusan.

Siapa yang menyangka jika malam berikutnya, seorang lelaki yang juga berbadan besar dan berambut cepak datang bergegas dengan seorang anak lelaki berumur sepuluh tahun. Malam ini kedai kopi kembali ricuh. Lelaki cepak itu langsung berteriak, "Mana kuli yang telah merampas uangmu, mana dia, mana!" Lelaki kecil berumur sepuluh tahun langsung menunjuk seorang kuli yang duduk merokok di sudut kedai. Tidak ada basa-basi, sebuah tendangan telak mengenai dada lelaki kuli itu. Dan karena melihat lawan sudah tampak terkapar, lelaki cepak pergi dengan menggeret tangan lelaki kecil, pergi seperti seorang pahlawan yang baru saja menunjukkan kehebatannya. Tapi siapa yang menyangka, jika keesokan siangnya, telah ditemukan seorang mayat anak lelaki berumur sepuluh tahun tersangkut di tiang pelabuhan. Dan kematian telah mengakibatkan kedai kopi ini berurusan dengan banyak hal. Para kuli kini harus mulai mengatakan bahwa mereka memang tak bisa terlepas dari segala macam urusan.

Sesuatu yang tak terduga pasti terjadi setelahnya. Tengoklah, puluhan orang berbondong-bondong dengan sebilah parang di tangan mereka. Orang-orang ini menjelma sebagai makhluk-makhluk yang beringas, menabuh genderang perang. Dan beruntunglah jika para kuli masih sempat memperpanjang nyawa mereka dengan berlari ke segala arah, melepaskan diri dari serangan segala urusan di luar diri mereka, yang rupanya kini tanpa disadari telah menjarah dan merangsek ke dalam tubuh mereka. Orang-orang merasa tak puas, karena tak seorang kuli pun yang berhasil mereka cincang, dan membawa serpihan dagingnya pada anak-anak mereka di rumah sambil mengatakan, "Ini kan orangnya yang telah mengganggu hidup kalian?" Ketidakpuasan itu harus dituntaskan dengan sesuatu yang lain. "Bakar! Bakar kedai kopi terkutuk ini!"

Siapakah yang paling merasa kehilangan?
Malam di tepian sungai ini, hanya sunyi yang jongkok di atas pepuing kedai kopi. Ia seperti seseorang yang jongkok menekur diri, sambil bergumam, "Tidak lebih baik menjadi kuli di negeri sendiri…"
***

Pekanbaru, 2005

Marhalim Zaini

Cerpen Mimpi Terindah Sebelum Mati

RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. 

***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005

 Maya Wulan

Cerpen, Cincin Bernama

Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.

Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya.

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"

Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.

"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"

Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!

Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Boleh aku ikut?"
"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."
"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"
"Ya. Kenal dia?"
"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."
"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."

Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."
"Hah…?"
"Apakah permintaanku berlebihan?"

Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"

Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.

"Kau selalu di hatiku," gombalnya.
"Ah, terlalu dalam. Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.
Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.
"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.
"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."
"Ya, kirimkan rindumu padaku."
"Tentu!"

Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!

Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.

"Thing, thung, thing…."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"
"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku….!"
"Ya, suamiku…!"
"Chpmshshmmmm…..!"
"Mmmmuach…!"
Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."

***
Temanggung, 2004

Rini T.S.

Cerpen, Sang Primadona

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!

***

A. Mustofa Bisri

Cerpen Di Sini Dingin Sekali

Rabu, 10 Oktober 2012
Ibu semakin jarang berbicara. Suaranya terbenam entah di mana. Tidak ada lagi dongeng, dan tidak ada lagi candanya. Semua lenyap. Hanya kini, suara-suara keluar dari tangannya. Apa saja yang dipegangnya selalu berisik. Kadang aku mengira, gempa susulan terjadi lagi. Terutama ketika ia sedang berada di dapur.

Seperti pagi ini. Aku bangun karena suara berisik dari dapur darurat yang terletak di dekat rumpun pohon pisang. Suara air yang dimuntahkan ke panci. Suara kayu bakar yang sedang dibelah. Suara-suara juga muncul dari tangan ibu ketika memarut kelapa atau memotong sayuran. Dan yang sering sekali membuat tubuhku begitu terasa dingin, ketika air dibiarkan mendidih terlalu lama. Mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Bergemuruh, seperti dulu ketika gempa besar terjadi.

Aku segera keluar dari tenda. Bapak sedang merokok dan menikmati kopi di dekat kamar mandi darurat, di dekat pohon mangga. Ia sedang mengantre mandi. Sebentar lagi, bapak akan pergi untuk kerja bakti. Kemarin ikut membangun masjid, kemarinnya lagi membangun sekolah, hari ini akan membangun balai dusun. Begitu terus, bergiliran. Tiga kali dalam seminggu.

Di dalam kamar mandi darurat, kakak laki-lakiku sedang mandi. Hari ini, ia akan pergi berdemonstrasi. Kemarin ia sudah membayar lima belas ribu untuk ongkos menyewa truk. Semalam ia tidak tidur di rumah. Ia tidur di posko, latihan pidato dan mengecat spanduk.

Sementara kakak perempuanku sedang bersiap-siap akan pergi. Ia sedang becermin di dalam tenda. Pagi ini, ia akan pergi ke kota, ikut pelatihan.

Hanya ibu yang ditinggal sendiri. Ia seperti biasa, pagi memasak, siang memasak, sore memasak. Kadang diselingi dengan membakar sampah di kebun. Kadang juga, harus membawa Maisaroh, adik perempuanku, pergi ke posyandu.

Seperti biasa, hari ini, aku harus pergi ke sekolah. Sudah beberapa bulan ini, aku sebetulnya malas ke sekolah. Aku harus bersekolah di dalam tenda yang panas. Dan debu selalu beterbangan di dalam ruang kelasku karena berlantai tanah. Tapi aku sedikit gembira karena ingat bahwa sore nanti akan ada kegiatan di posko anak. Pasti ada acara menggambar dan menyanyi. Lalu mendapat permen atau roti. Kadang juga mendapat buku atau topi.

Kakak laki-lakiku sudah keluar dari kamar mandi. Ia menyanyi pelan. Suaranya serak. Mungkin karena terlalu banyak demonstrasi dan terlalu sering bernyanyi keras-keras di posko pemuda.

Kakak laki-lakiku dan teman-temannya tidak disukai Pak RT dan Pak Dukuh. Ia dan teman-temannya sering mendatangi Pak RT dan Pak Dukuh untuk protes. Setelah itu sering juga mendatangi Pak Lurah dan Pak Camat. Katanya, sebentar lagi, ia dan teman-temannya akan mendemo Pak Bupati. Setiap kali pergi, ia minta uang ke ibu. Kalau tidak ada demonstrasi, ia hanya minta uang lima ribu untuk beli rokok. Tapi kalau ada demonstrasi, ia minta uang dua puluh ribu, untuk ongkos demonstrasi dan uang untuk rokok.

Bapakku masuk ke kamar mandi setelah membuang rokok di tangannya yang hampir habis. Ia sering menggerutu. Ia belum bisa bekerja karena bisnis bosnya ambruk gara-gara gempa. Ia ingin membangun rumah tetapi tidak ada biaya. Ia ingin bekerja lagi, tapi tidak tahu kerja apa. Akhirnya setiap tiga hari dalam seminggu, ia harus ikut kerja bakti. Karena itulah, ia semakin sering menggerutu. Kata bapak, enak menjadi orang yang sudah bekerja lagi, sebab tidak perlu ikut kerja bakti. Sementara yang belum bisa bekerja lagi seperti bapakku, tetap harus kerja bakti. Kalau tidak kerja bakti, menjadi omongan tetangga.

Tetangga sebelah rumahku datang. Ia istri Pak RT. Beberapa hari yang lalu, ia bercerita sambil menangis kepada ibuku. Ia bilang, tidak enak menjadi ketua RT. Kalau ada apa-apa, warga marah ke suaminya. Padahal menjadi RT tidak ada bayarannya.

Bu RT pernah bercerita, dulu suaminya disuruh mendata jumlah rumah yang roboh bersama beberapa petugas dari kabupaten. Mereka harus bekerja cepat, kalau tidak, atasan mereka akan marah. Setelah data terkumpul, bantuan tidak juga datang. Warga mulai marah. Ketika bantuan turun, ternyata bukan bantuan untuk rumah yang roboh. Melainkan bantuan beras dan uang lauk-pauk. Pak RT kena marah lagi. Kata warga, yang tidak bisa makan bukan hanya orang yang rumahnya roboh saja. Bu RT hanya bisa menangis mendengar suaminya dimarahi warga.

Anak perempuan tertua Pak Dukuh juga sering datang ke rumahku. Ia juga sering menangis di depan ibuku. Menjadi Pak Dukuh tidak enak, katanya. Saat banyak bantuan datang, orang-orang melihat bantuan itu jumlahnya besar sekali. Tapi Pak Dukuh harus membagi rata ke semua warga. Sampai di warga jumlahnya menjadi tidak seberapa. Warga marah dan mengira Pak Dukuh korupsi. Saat sudah tidak ada lagi bantuan yang datang, warga juga marah. Mereka bilang, Pak Dukuh tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan warganya. Saking kesalnya, Pak Dukuh ingin meletakkan jabatannya. Tapi ia dimarahi atasannya.

Mendengar cerita seperti itu, ibu hanya diam. Paling-paling ia hanya bilang ke istri Pak RT dan anak perempuan Pak Dukuh supaya bersabar. Bu RT dan anak perempuan Pak Dukuh juga tahu, kakak laki-lakiku ikut mendemo Pak RT dan Pak Dukuh. Tapi mereka tidak pernah membicarakannya.

Bapak selesai mandi, dan aku masuk ke kamar mandi. Ketika hampir selesai mandi, aku mendengar Maisaroh menangis. Aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Maisaroh menangis sambil tersengal. Wajahnya pucat. Tubuhnya dingin sekali. Hampir setiap pagi, Maisaroh selalu menangis. Biasanya ia menangis kalau ada gempa susulan, atau kalau ada mobil lewat di jalan dekat tenda kami. Kali ini Maisaroh menangis karena baru saja ada sebuah truk besar yang lewat. Maisaroh terbangun dari tidurnya dan menangis. Ia mengira ada gempa susulan.

Ibu menyusul masuk ke dalam tenda. Kemudian membujuk Maisaroh agar diam. Ibu memintaku agar cepat sarapan dan pergi ke sekolah. Aku ingin bilang ke ibu, aku tidak usah saja pergi ke sekolah pagi ini. Aku ingin menjaga dan menemani Maisaroh bermain. Tapi aku tidak berani bilang seperti itu.

Sepulang dari sekolah, aku bertemu dengan bapak di tengah jalan. Ia sedang menurunkan bambu batangan dan gedek bambu dari sebuah truk besar. Mobil itulah yang membuat Maisaroh terbangun dari tidur dan kemudian menangis, pagi tadi. Sambil lewat di sela-sela orang yang sedang menurunkan barang, aku mendengarkan pembicaraan mereka. Orang-orang ribut. Akan ada pembagian gedek dan bambu untuk rumah sementara. Tapi bahan itu tidak cukup untuk seluruh warga.

Di tepi jalan yang lain, Pak Dukuh sedang berbicara dengan orang-orang berpakaian necis. Orang-orang kemudian ikut merubung Pak Dukuh dan orang-orang necis itu. Suara-suara semakin terdengar keras. Aku takut. Aku lari ke rumah. Tubuhku terasa dingin sekali.

Sesampai di rumah aku melihat Maisaroh bermain sendiri. Aku kangen kepadanya. Ia tersenyum kepadaku. Aku menggendongnya. Sambil menggendong Maisaroh aku mencari-cari ibu. Ibu tidak ada di dalam tenda. Ia juga tidak ada di dapur darurat. Ternyata ibu sedang di kebun belakang. Melihat api yang membakar tumpukan sampah dengan diam. Aku tidak berani menyapanya. Aku balik ke dekat tenda, lalu mencari nasi untuk menyuapi Maisaroh.

Siang itu, bapak pulang membawa beberapa batang bambu dan beberapa lembar gedek. Siang itu juga ia mulai memasang tiang-tiang bambu.

Menjelang sore, aku siap berangkat ke posko anak. Aku mengajak Maisaroh ke sana. Siapa tahu ia juga bisa mendapat permen. Sesampai di posko suasana masih sepi. Mbak Dane dan Mas Gandung, dua orang kota yang mengajari kami menyanyi dan menggambar, sedang berbincang-bincang di bawah pohon sawo. Lalu ada beberapa anak, termasuk Anto, ketua kelasku, terlihat sedang berkejar-kejaran. Setiap pelajaran menyanyi, Anto tidak mau menyanyi lagu-lagu yang diajarkan oleh Mbak Dane dan Mas Gandung. Anto selalu menyanyi lagu pilihannya sendiri. Ia selalu menyanyi lagu Radja. Setiap pelajaran menggambar, Anto juga tidak mau menggambar sesuai permintaan Mbak Dane dan Mas Gandung. Anto selalu menggambar kupu-kupu yang membentuk kata: Slank.

Aku paling tidak suka kalau ada acara menyanyi dengan cara maju satu per satu. Anak yang berani maju lebih dulu, pasti kebagian lagu yang bagus-bagus. Aku yang tidak berani maju lebih dulu, hanya kebagian lagu anak-anak. Aku tidak mau nyanyi lagu anak-anak. Aku sudah kelas tiga SD. Seperti kemarin, ketika aku ingin menyanyi lagu Buaya Darat, tiba-tiba Rina maju dan menyanyikan lagu itu. Aku lalu berpikir untuk menyanyikan lagu lain, setelah ketemu, tiba-tiba Yanti maju dan langsung bernyanyi dengan keras lagu yang sudah kupikirkan, “Bang sms siapa ini, Bang….”

Aku lalu berpikir untuk menyanyi lagu Radja. Tapi Anto sudah mulai bernyanyi-nyanyi kecil, bersiap-siap untuk menyanyikan lagu itu. Aku mencari lagu-lagu lain yang kuhafal, lalu aku ingat lagu Peterpan. Baru saja aku merasa lega, Amin sudah maju dan menyanyikan lagu pilihanku. Akhirnya, ketika tiba giliranku, aku hanya punya satu pilihan lagu: Topi Saya Bundar. Dan semua anak menertawaiku.

Akhirnya semua anak telah berkumpul. Acara dimulai. Sore ini, aku memberanikan diri untuk maju lebih dulu. Tapi ketika akhirnya aku maju, Maisaroh menangis. Ia tidak mau kutinggal untuk maju ke depan. Akhirnya, aku hanya melihat teman-temanku menyanyi lagu-lagu kesukaan mereka.

Tangan ibu semakin sering mengeluarkan suara. Sementara, suara mulutnya semakin lenyap. Hanya kadang-kadang saja ia berbicara kepadaku atau kepada Maisaroh. Selebihnya ia hanya diam. Bahkan semakin jarang pula bicara kepada kakak perempuanku. Ia juga masih sering didatangi Bu RT dan anak tertua Pak Dukuh.

Bapak semakin sibuk memasang rumah gedek kami. Sudah berhari-hari tetapi rumah itu tidak juga jadi. Suatu saat, aku mendengar bapak bicara kepada seorang tetangga, kalau cepat selesai membuat rumah nanti disuruh cepat kerja bakti lagi.

Kakak laki-lakiku masih sering tidur dan nongkrong di posko pemuda. Ia tetap rajin mengecat spanduk dan pergi demonstrasi. Kadang-kadang saja ia pulang untuk meminta uang kepada ibu. Tapi terakhir kali ia meminta uang, ibu mencopot kalungnya dan memberikan kepada kakak laki-lakiku. Kakak laki-lakiku diam. Ia tidak menerima kalung itu. Ia pergi. Tapi ketika berada di dekat dapur, ia menendang panci masak keras sekali. Sampai Maisaroh menangis lagi. Dan aku segera mendekap dingin tubuh Maisaroh.

Kakak perempuanku semakin sering pergi pelatihan. Kalau Pak Dukuh datang, atau ketua karang taruna datang, berarti sebentar lagi pasti kakak perempuanku pergi untuk ikut pelatihan. Setiap pulang dari pelatihan, ia selalu bercerita tentang tempat yang bagus dan makanan yang enak. Ia juga sering berkata kalau bertemu dengan banyak orang-orang pintar dan kaya. Kakak perempuanku ingin seperti mereka. Kalau tidak ada pelatihan, kakak perempuanku pergi keliling kampung sambil membawa spidol besar dan kertas-kertas lebar. Anak laki-laki di kampungku memberi nama baru bagi kakak perempuanku. Nama asli kakakku, Siti Hadijah. Kini, pemuda-pemuda kampung memberi julukan: Siti Partisipasi.

Malam ini, aku tidur bertiga di dalam tenda. Tiba-tiba aku mendengar suara sesenggukan. Aku menoleh pelan, mencari sumber tangisan. Ibu menangis.

Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tapi semakin lama, tangisan ibu semakin mengencang. Tubuhnya terguncang hebat mencoba meredam tangis. Aku mendekap Maisaroh. Mencoba menutupi kepalanya dengan selimut agar tidak mendengar suara tangisan ibu. Tapi Maisaroh malah terbangun. Karena takut Maisaroh tahu ibu sedang menangis, aku segera menggendong Maisaroh keluar dari rumah. Beruntung Maisaroh seperti mengerti apa yang sedang kami alami. Ia diam. Ia bahkan terasa ringan di gendonganku.

Di depan rumah, bapak duduk diam sambil kemulan sarung. Ia diam ketika melihat aku menggendong Maisaroh. Ia tetap diam melihat aku melangkah ke jalan kampung. Aku bingung hendak ke mana. Kakak perempuanku seperti biasa sedang tidak ada di rumah. Ia sedang ikut pelatihan.

Aku menuju ke posko kampung. Di sana penuh dengan pemuda kampung yang sedang bernyanyi. Semakin mendekati posko itu, aku langsung mual dengan bau menyengat, seperti bau bensin. Begitu kakak laki-lakiku tahu aku datang bersama Maisaroh, ia segera berteriak menyuruhku pergi. Matanya merah, suaranya serak.

Aku pergi ke posko anak. Di sana sepi sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur di sana. Tetapi baru saja mendekati posko anak itu, aku mendengar suara-suara aneh. Suara dengus napas, rintihan dan kecipak mulut. Pelan aku mengintip ke dalam ruangan. Dalam temaram malam, aku melihat dua orang, sedang bertengkar dan saling menggigit. Aku takut sekali. Mbak Dane dan Mas Gandung sedang bertengkar dan saling menggigit. Aku lalu berlari menjauhi posko anak.

Akhirnya aku berlari ke arah sawah. Maisaroh tetap diam. Sesampai di pinggir sungai kecil, aku berhenti. Meletakkan Maisaroh ke tanah. Maisaroh diam. Dalam temaram cahaya bulan, aku melihat mata Maisaroh berkedip-kedip pelan. Ia memandangku, aku memandangnya. Tiba-tiba aku ingin menangis. Lalu aku memeluk Maisaroh. Tubuhnya dingin. Tubuhku juga terasa dingin. Semua terasa dingin. Ini kali pertama aku menangis tanpa mengeluarkan suara.

Puthut EA

Cerpen Koh Su

Harus kuakui, seluruh gambaranku tentang Koh Su ada pada laki-laki itu. Selama hampir setengah jam aku berada di sini, tidak pernah kudengar suaranya. Tidak juga pernah kulihat ia menoleh ke arah para pemesan dan pengantre. Dingin. Suntuk dengan dunianya sendiri.

Minyak dituang. Diambilnya sebuah benda dari kotak di dekatnya, digedoknya keras. Remuk. Dilemparkannya ke arah penggorengan. Dilakukannya hal itu beberapa kali. Tidak ada saus tomat di dalam botol, tidak ada juga botol kecap. Hanya ada satu botol yang berisi cairan berwarna coklat di dekatnya. Botol itu dibebat kain, yang dugaanku, dulunya berwarna putih namun sekarang mulai berwarna coklat.

Ketika sebulan yang lalu, sebuah kabar merayap di kampung ini, aku termasuk orang yang tidak peduli. Paling-paling hanya desas-desus yang sengaja disebarkan oleh seorang penjual yang sedang akan menggelar dagangannya agar laris. Seingatku, sudah belasan kali sejak aku kecil hal seperti ini terjadi.

Dari kecil aku sudah biasa dengan drama-drama kecil ini. Tiba-tiba ada beberapa mulut yang mengatakan bahwa resep nasi goreng ala Koh Su sudah ditemukan. Lalu orang-orang begitu ramai. Tidak lama kemudian, berdiri sebuah warung makan di kota kecil ini, khusus menyediakan menu nasi goreng. Orang-orang mengantre. Begitu ramai. Lalu hanya seminggu atau dua minggu, warung itu akan sepi kembali. Kukut. Tutup untuk selamanya. Begitu berkali-kali.

Di kota ini, nasi goreng identik dengan sebuah nama: Koh Su. Begitu dekatnya hubungan antara nasi goreng dan Koh Su, sampai nama Koh Su menjadi kata kerja untuk aktivitas membuat nasi goreng. Kalau ada seseorang yang berkata, ”Tadi pagi saya ngohsu,” itu berarti tadi pagi ia membuat nasi goreng. Atau kalau ada orang yang berkata, ”Ngohsu, yuk…” itu artinya ia mengajak membuat nasi goreng.

Di kota kecil ini, hampir semua jenis masakan yang biasa ditemui di kota-kota lain ada. Hanya satu saja yang tidak ada, warung nasi goreng. Kalaupun warung nasi goreng itu muncul, seperti yang aku ceritakan di atas, didahului dengan bumbu-bumbu cerita, tidak berapa lama sebuah warung berdiri, diserbu pembeli, kemudian mati. Hanya menambah deret kekecewaan orang akan penjual nasi goreng, dan semakin mengukuhkan legenda Koh Su.

Aku memperhatikan lagi penjual nasi goreng yang sedang khusuk dengan masakannya itu. Semua yang kubayangkan tentang Koh Su, memang benar-benar ada pada laki-laki itu. Rambut penjual itu lurus, panjang, agak jarang, dan dikucir. Di kepalanya bertengger kopiah hitam. Kumisnya jarang-jarang tapi dibiarkan tetap tumbuh, juga jenggotnya. Matanya sipit, dan di sepasang mata itu dikelilingi daging menggelambir. Tubuhnya tinggi dengan perut yang agak buncit. Di mulutnya selalu terselip sebatang rokok kretek. Kutaksir ia berumur empat puluh tahun lebih.

”Dek! Dek!”

Laki-laki itu selalu mengakhiri prosesi memasaknya dengan cara yang sama, dua gedokan keras di wajan, sebelum menuangkan ke piring. Pembantunya, seorang anak berusia belasan tahun yang biasa dipanggil ’Mbeng’ lalu mengantar sesuai dengan urutan pemesan.

Aku melihat ke sekeliling, masih banyak orang yang belum mendapatkan jatah pesanan mereka. Giliranku masih sangat lama.

Dari hulu sampai hilir, cerita tentang Koh Su serba tidak jelas. Ada yang bilang kalau ia bukan orang Tionghoa, melainkan orang Madura. Nama sebenarnya Sukendar. Tapi karena mirip orang Tionghoa maka ia dipanggil Koh Su. Tapi banyak orang yang tidak sependapat. Bagi sebagian orang, Koh Su adalah orang Tionghoa. Ada juga yang bilang kalau Koh Su orang Jawa, hanya ia belajar memasak dari orang Tionghoa di Tuban, lalu pulang kampung dan mendirikan warung nasi goreng yang kemudian sangat tersohor. Nama sebenarnya Surono. Mana yang benar, aku jelas tidak tahu.

Lenyapnya Koh Su dari kota ini juga tidak jelas. Sebagian orang bilang Koh Su mati. Sebagian orang yang lain bilang Koh Su melarikan diri entah ke mana. Ada juga yang bilang kalau Koh Su moksa karena ia menganut ilmu kebatinan. Bagi mereka yang percaya bahwa Koh Su mati pun punya versi masing-masing. Ada yang meyakini Koh Su mati dibunuh di warung makannya, jasadnya dibuang di Gunung Genuk. Ada yang bilang Koh Su mati dikubur bersama puluhan orang komunis di sebuah sumur tua di belakang sekolah rakyat setelah berkali-kali ia tidak mempan ditembak dan dagingnya tidak tergores ketika disembelih. Mana yang lebih tepat, tentu saja aku tidak tahu.

Konon, tempat berjualan Koh Su terletak di bawah pohon beringin, sebelah barat alun-alun, di dekat masjid. Beringin itu sampai sekarang masih kokoh berdiri. Koh Su dikenal sebagai penjual yang tidak banyak bicara. Ia hanya sibuk memasak. Ia tidak melayani pesanan yang neko-neko. Di resep Koh Su, nasi goreng adalah nasi goreng. Ia tidak pernah meluluskan permintaan nasi goreng pedas, nasi goreng tidak asin, tidak pakai telor atau daging, dan lain-lain. Semua seragam, sama. Anehnya, sekalipun seragam, Koh Su selalu memasak satu per satu masakannya. Sehingga semua yang memesan harus sabar. Selain itu, tidak ada yang boleh membungkus nasi goreng lebih dari dua bungkus.

Semua orang tahu Koh Su tidak menggunakan kecap, tomat atau saus tomat. Semua orang juga tahu kalau Koh Su memakai semacam saus berwarna coklat. Tapi apa ramuan saus itu, tidak ada seorang pun yang tahu.

Dulu, aku pernah bertanya ke kakekku bagaimana rasanya nasi goreng Koh Su. Kakekku hanya menggelengkan kepala sambil berkata, ”Susah mengatakannya.”

Pak Pardiman, penjual kopi yang sangat terkenal di kota ini juga melukiskan hal yang hampir sama, ketika aku dan teman-temanku menanyakan rasa nasi goreng Koh Su saat kami ngopi di warungnya. ”Ini nasi goreng Koh Su. Ini surga. Jaraknya hanya segini…” sambil berkata seperti itu Pak Pardiman mendekatkan jempol tangan kanannya dan telunjuk tangan kanannya. Kedua jari itu hampir menempel, seperti sedang menjimpit sebatang rokok.

Beberapa orang kulihat datang, memesan lalu mengantre. Beberapa yang lain harus pulang karena nasi goreng yang belum dimasak sudah habis dipesan. Giliranku masih lama, tapi tetap merasa beruntung, paling tidak aku masih kebagian.

Aku tidak tahu persis, apakah gara-gara Koh Su, atau karena hal yang lain, tetapi yang jelas nasi goreng adalah menu spesial penduduk kota ini. Begitu spesialnya sehingga tidak gampang diperjual-belikan. Pelajaran memasak pertama yang diajarkan dan dilakukan oleh anak-anak adalah ngosu alias membuat nasi goreng. Kalau ada peringatan hari tertentu, seperti Hari Kemerdekaan sampai Hari Maulud Nabi, pasti ada lomba ngosu.

Begitu tenarnya nasi goreng di kota ini, maka muncullah orang- orang yang memang suka menguji nyali. Pada kali pertama dan kedua, itu cukup menggegerkan. Selebihnya kemudian ditanggapi dengan biasa saja.

Saat itu aku masih duduk di sekolah dasar ketika ramai-ramai ada berita bahwa resep nasi goreng Koh Su telah ditemukan. Sama seperti cerita tentang Koh Su sendiri, cerita perihal ditemukannya resep masakan Koh Su serba tidak jelas. Setelah beberapa minggu, di dekat rumah sakit berdiri sebuah warung nasi goreng yang mengaku memiliki resep Koh Su. Selama berhari-hari nasi goreng itu ramai sekali. Antrean begitu panjang. Anak-anak kecil, termasuk aku, hampir setiap hari prembik-prembik, ngambek kepada masing-masing orangtua kami karena tidak juga dapat giliran mencicipi nasi goreng saking banyaknya antrean. Tapi setelah beberapa minggu kemudian, warung itu sepi. Dan ketika akhirnya aku mencicipi nasi goreng itu, tidak ada bedanya dengan bikinanku sendiri saat aku sering ngosu dengan teman-teman sebayaku.

Kali kedua, lebih heboh lagi karena warung makan itu berdiri di bekas warung makan Koh Su, di bawah pohon beringin dekat alun-alun. Di kain warung makan itu tertulis jelas: Nasi Goreng Koh Su. Tapi tulisan itu hanya berumur beberapa hari karena polisi melarang tulisan ’Koh Su’ yang dianggap berbau komunis. Tulisan dihapus, tapi yang mengantre tetap banyak, juga para polisi. Namun hampir sama dengan yang pertama, umur warung makan itu hanya beberapa minggu. Setelah semua penduduk mencicipi dan ternyata biasa saja, warung itu sepi kemudian tutup.

Kali ketiga dan seterusnya sudah tidak terlalu mengejutkan. Selalu ada desas-desus, lalu muncul warung nasi goreng, disambut dengan harapan dan antrean, dan kemudian kecewa.

Aku memperhatikan sekeliling lagi. Orang-orang menunggu tanpa banyak bicara, seakan mereka sedang menunggu saat-saat yang paling menentukan bagi mereka. Orang-orang yang sudah mendapatkan giliran makan menyantap hidangan mereka dengan tenang. Khidmat. Yang sudah selesai juga membayar dan pergi dengan tenang. Mereka seperti selesai menunaikan sebuah ibadah.

Masih ada beberapa orang lagi, baru kemudian tiba giliranku.

Di kota ini, ngosu atau membuat nasi goreng bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan hanya dengan sekian puluh menit. Semua ini karena bocoran resep-resep yang didapat dari Koh Su. Resep dan tatacara ini beredar dari mulut ke mulut. Mempengaruhi tindakan banyak orang dalam ngosu.

Kabarnya, nasi yang digoreng oleh Koh Su berasal dari padi di Dusun Ngandang, sebuah dusun di lereng Gunung Genuk. Padi itu ditanak sebagaimana biasa. Setelah matang, ditumpahkan di atas daun pisang lalu dikipasi dengan ipit, kipas yang terbuat dari bambu. Nasi itu dikipasi terus-menerus sampai hampir dingin, setelah itu dibungkus dengan daun pisang rapat-rapat. Nasi inilah yang kelak akan menjadi bahan utama membuat nasi goreng Koh Su. Untuk menghasilkan nasi goreng yang enak, buntalan daun pisang itu paling tidak harus berumur lima jam. Jadi, konon Koh Su selalu menyelesaikan beberapa buntalan nasi setelah selesai Duhur. Habis Magrib, nasi ini dibuka satu per satu, untuk dibuat nasi goreng.

Resep lain yang sudah ketahui banyak orang dalam membuat nasi goreng itu adalah dengan memakai kepala udang. Udang ini harus benar-benar udang laut dan harus segar. Kepala udang dipisahkan dari tubuhnya, lalu dikupas kulit luarnya yang keras dan dicuci sampai bersih. Setelah minyak dituang, pertama-tama kepala udang diremuk di atas talenan, kemudian dilempar ke minyak. Kepala udang itu menjadi semacam bumbu dasar. Untuk satu porsi nasi goreng dibutuhkan dua atau tiga kepala udang segar. Tergantung pada besar kecilnya kepala udang. Satu lagi, minyak yang dipakai untuk ngosu selalu minyak goreng dari kelapa.

Tiga orang lagi sampai ke giliranku mendapatkan seporsi nasi goreng yang menggegerkan kota ini.

Ketika warung ini mulai buka, hanya anak-anak kecil yang antusias menyambutnya. Kami yang sudah beranjak dewasa maupun orang-orang tua yang sudah cukup pengalaman dengan berdirinya warung-warung sejenis hanya merasa biasa saja. Paling-paling sama dengan yang dulu-dulu, begitu pikir kami. Tapi setelah berhari-hari, kabar tentang nasi goreng di warung ini semakin santer saja. ”Benar-benar nasi goreng Koh Su!” kata mereka yang sudah mencicipi.

Kemudian kabar tersebut segera meluas. Ditambah dengan hal-hal lain yang memperkuat kabar itu. Penjual baru itu, sampai sekarang kami tidak tahu namanya, sama seperti Koh Su, memasak nasi goreng seporsi demi seporsi. Penjual itu juga tidak melayani membungkus nasi goreng lebih dari dua bungkus. Ia juga hanya menjual kira-kira lima puluh porsi dalam semalam. Dimulai dari sehabis Magrib dan selesai sebelum pukul sebelas malam. Mereka yang mengantre harus menunggu di warung itu, kalau meninggalkan warung sebelum mendapatkan pesanan mereka, dianggap tidak jadi memesan.

Lalu kabar-kabar mulai bersayap, menerbangkan hal-hal lain. Ada orang yang bilang kalau penjual itu adalah anak kandung Koh Su. Konon, Koh Su yang pendiam itu mempunyai seorang istri dan anak di kota lain. Anak inilah yang mewarisi keterampilan Koh Su dalam membuat nasi goreng dan sekaligus mewarisi resep masakannya, terutama di dalam meramu saus berwarna coklat itu.

Sampai saat ini, tidak ada yang tahu namanya. Ia seperti datang tanpa nama, tinggal dan berjualan tanpa mengobral nama. Ia hanya datang bersama Mbeng dan seperangkat alat memasak, lalu mengontrak kios di dekat pasar yang sekaligus menjadi warung makan.

Kini tiba giliran nasi gorengku diracik dan dimasak. Dadaku berdebar.

Ketika kakekku penasaran karena orang-orang mulai membicarakan rasa nasi goreng dari warung yang baru berdiri itu, aku masih belum tertarik. Ketika kemudian kakekku menjajal dan membenarkan kelezatannya, aku tidak punya alasan lain untuk tidak penasaran. ”Bumbu dan caranya memasak sudah benar. Hampir mirip buatan Koh Su,” kata kakekku.

Bagi orang seusiaku, Koh Su jelas misteri besar. Cerita tentangnya mengambang di seluruh udara kota ini. Orang-orang yang mengalami nasi goreng Koh Su masih wasis bercerita saat aku masih kanak-kanak. Seluruh umurku yang berkaitan dengan nasi goreng adalah ngosu dengan bocoran resep dan tatacara yang tidak lengkap. Berasnya jelas tidak mungkin dari Ngandang, kadang minyaknya tidak menggunakan minyak kelapa. Dan yang pasti, kami tidak memakai saus berwarna coklat karena tidak tahu bagaimana cara membuatnya.

Ini sudah kali ketiga aku mencoba mengantre. Dua yang pertama, berakhir dengan lidah kosong. Setiap kali aku datang, antrean selalu penuh, dan Mbeng berkata dengan sopan, ”Maaf Mas, sudah habis.” Kali pertama aku datang jam sembilan malam. Kali kedua jam delapan. Kali ketiga ini, aku datang benar- benar saat Magrib usai. Itupun yang mengantre sudah banyak sekali.

”Dek! Dek!” suara pertanda akhir prosesi memasak terdengar. Piring dilumahkan. Nasi ditumpahkan di atas piring. Mbeng mengantar seporsi nasi goreng ke arahku. Hatiku nratab begitu menerima ulungan sepiring nasi goreng dari tangan Mbeng.

Aku memandang baik-baik nasi di depanku. Sempurna. Warnanya begitu menyentuh. Semua nasi berwarna sama, tercampur bumbu dan matang dengan rata. Baunya juga sempurna. Aku menyendok pelan nasi goreng di depanku. Aku memasukkan nasi ke mulutku…

Aku mampir di warung kopi Pak Pardiman. Kupikir, malam ini bisa semakin disempurnakan dengan ngopi dan ngobrol bersama banyak orang. Sampai di sana, suasana sudah sangat gayeng. Dari sepintas dengar, obrolan yang terjadi berkisar soal kelezatan warung nasi goreng yang baru kujajal itu. Semua orang bersepakat soal kelezatannya.

”Sudah sama dengan punya Koh Su, Pak?” tanya seorang anak muda.

”Hampir…” jawab Pak Pardiman.

”Kira-kira kurang di bagian mana?”

”Nasinya. Tapi bagaimana bisa dapat beras dari Ngandang?”

”Bukannya di Bangunrejo masih banyak sawah?”

Tidak ada jawaban dari mulut Pak Pardiman. Wajahnya tiba-tiba membeku. Dusun Ngandang sudah tidak ada lagi. Menurut cerita orang-orang tua, hampir semua penduduk Ngandang tersangkut peristiwa berdarah yang juga melenyapkan Koh Su. Lalu nama dusun itu diganti dengan nama Bangunrejo.

Setelah beberapa saat terdiam, sambil meracik kopi pesananku, Pak Pardiman mendesah, ”Seandainya saja itu hanya soal ganti nama…”

Puthut EA

Cerpen Ibu Tahu Rahasiaku

Ketika aku turun dari angkutan, orang-orang yang mengantar jenazah Bido baru saja pulang dari kuburan. Sepintas aku melihat, di depan warung kopi Bido, masih ada tenda kecil dan jajaran kursi, juga ceceran bunga. Aku terus saja berjalan menuju rumah.

Sore ini, ibuku tidak banyak bicara. Ia hanya membuatkanku kopi, memasukkan tasku ke kamar, dan membiarkanku sendirian di teras samping. Ia tahu untuk apa aku pulang, tapi tidak bertanya mengapa aku terlambat mengikuti pemakaman. Aku juga tidak sempat bertanya, mengapa di dapur ada banyak orang, tikar tergelar di ruang tamu dan beranda depan. Mungkin akan ada arisan.

Aku bahkan tidak tahu persis apakah aku benar-benar kenal Bido dengan baik atau tidak. Aku jarang berbicara dengannya, semakin jarang ketika aku sudah tidak tinggal di kampung lagi. Tapi tidak bisa kumungkiri, ada beberapa peristiwa di masa laluku yang membuatku merasa mempunyai hubungan khusus dengannya.

Dua puluhan tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku merasa dikhianati teman-teman sepermainanku. Saat itu, aku baru duduk di kelas lima sekolah dasar. Jauh hari, aku dan teman-teman sebayaku merancang untuk menonton wayang kulit di kota lain yang jaraknya 60-an kilometer dari kampungku. Dalangnya, Ki Manteb Sudarsono. Semua rencana sudah matang. Tapi tepat di sore hari saat kami seharusnya berkumpul di pertigaan jalan besar untuk bersama mencegat angkutan, tidak ada seorang pun yang datang. Padahal aku telah membayar mahal rencana itu karena sore sebelumnya, aku merengek meminta izin orangtuaku untuk tidak ikut piknik bareng mereka ke Bali. Sore itu, aku bertekad untuk berangkat sendirian dengan rasa marah.

Tepat di saat aku hampir melambaikan tangan ke sebuah angkutan yang terlihat dari jauh, seseorang menyapaku. Aku menoleh. Orang itu bernama Bido. Umurnya jauh lebih tua dari umurku. Tahu kalau aku akan berangkat sendirian dan tahu kalau aku tidak mungkin membatalkan rencanaku, ia langsung ikut nangkring di atas angkutan. Saat aku tanya ia hendak ke mana, ia menjawab ingin menemaniku. Rasa ragu bepergian jauh dan sendirian, tidak punya famili dan teman di kota tujuan, mendadak rampung jadi pikiran begitu Bido menemaniku.

Malam itu akhirnya aku menonton sampai tuntas pagelaran wayang yang sudah kutunggu- tunggu. Malam itu pula, aku merasa seperti laki-laki yang sudah dewasa. Tidak jauh dari si dalang, aku kelepas-kelepus merokok, bahkan Bido memberiku segelas kopi yang sudah dicampur dengan sedikit arak, supaya aku tidak masuk angin karena pagelaran itu diadakan tepat di bibir pantai. Itulah kali pertama aku minum arak.

Tapi saat itu bukan kali pertama aku merasa ditolong oleh Bido. Beberapa tahun sebelumnya, Bido juga mengulurkan tangannya, memberi jalan kepadaku untuk melakukan sesuatu.

Saat itu ada lomba catur menjelang tujuh belasan di kampung. Malam itu aku masuk babak final. Musuhku bernama Anton, anak seorang mantri suntik yang baru saja pindah ke kampungku. Ia kelas enam dan aku baru kelas tiga kalau tidak kelas dua. Aku yakin aku pasti menang di pertandingan itu. Tapi malam itu, orang-orang berpihak kepada Anton. Mereka itu ada Pak Camat, Pak Lurah, beberapa polisi dan tentara, ada juga guru ngajiku, semua memihak Anton. Aku menduga karena bapak Anton juga menonton. Berkali-kali, Anton mengulang langkah. Kalau aku berpikir lama, mereka menyuruhku cepat-cepat melangkah, kalau Anton berpikir lama, mereka sibuk mengajarinya. Aku kalah. Aku hanya bisa membalas ketika di malam resepsi para pemenang diundang naik ke panggung, aku malah pergi. Ibu yang mengambilkan hadiahku. Begitu sampai di rumah, ketika hadiah itu diulungkan kepadaku, aku membantingnya. Ibuku hanya diam dan mengelus-elus rambutku, lalu membuatkanku mi goreng dan telor gulung kesukaanku.

Kemarahanku kepada Anton mereda ketika suatu saat, sepulang sekolah, Bido mencegatku. Ia membisiki sesuatu. Segera aku berlari ke rumah. Malamnya, aku tidak bisa tidur.

Pagi harinya, kampung kami geger. Di halaman depan rumah yang disewa keluarga Anton terdapat pohon nangka yang sedang berbuah. Dan di pohon itu ada buah nangka besar yang terpotong separuh. Di dekat buah yang terpotong itu, ada kertas tertempel dengan bunyi: Njaluk nangkamu separo, ya!

Bukan pencurian nangka yang membuat geger, tapi pencurian nangka dengan tulisan di pohonlah yang membuat geger. Peristiwa seperti itu baru terjadi pertama kali di kampungku. Aku semestinya merasa aman. Pohon itu terlalu tinggi untuk kunaiki. Buah yang hilang separuh itu juga terlalu besar untuk dibawa oleh anak seumuranku. Lagi pula, malam itu, ibu dan bapakku tahu aku berada di rumah. Tapi yang tidak pernah kupikirkan adalah, tulisan di kertas itu memakai spidol besar. Di kampungku saat itu, spidol besar tidak dijual di toko-toko. Tidak sembarang orang memilikinya. Aku baru sadar kalau aku melakukan kebodohan ketika siang sepulang sekolah, ibu merapikan spidol besar dari laci dan menyimpannya di lemari, lalu dikunci. Saat itu, ibu menatapku tajam sekali.

Aku bahkan lupa nama asli Bido. Ia tinggal dengan emaknya di pinggir kampung, dekat sungai. Rumahnya kecil dan reyot. Mbok Nah, emak Bido, menafkahi diri dengan mencari kayu bakar dan daun jati yang dicari di hutan.

Awalnya, aku tidak begitu tahu kenapa Bido terlihat begitu perhatian kepadaku. Barulah ketika aku beranjak besar, aku mengumpulkan kabar-kabar yang bisa menyusun alasan itu.

Dulu, ibuku adalah wali kelas Bido di sekolah dasar. Tiba-tiba suatu saat, ibuku diberi tahu kalau Bido ditangkap karena dituduh mencuri kayu dari hutan. Ibuku marah sekali. Ia lalu ngeluruk pergi seorang diri ke kantor Perhutani untuk mengeluarkan Bido. Ibuku sangat yakin, Bido tidak bersalah. Bido hanya membantu emaknya mencari rencek, kayu bakar yang dipunguti dari dahan-dahan yang sudah jatuh ke tanah. Konon terjadi pertengkaran hebat di kantor Perhutani. Mungkin karena ibuku menangis, mungkin juga karena ibuku perempuan dan seorang guru sehingga para petugas Perhutani merasa malu, atau mungkin karena saat itu ibuku sedang hamil, hari itu juga Bido dikeluarkan dari tahanan polisi hutan yang terletak di kompleks kantor Perhutani. Aku adalah bayi yang dikandung ibuku saat ia ngeluruk ke kantor Perhutani itu.

Selepas peristiwa itu, Bido tidak lagi mau meneruskan sekolah. Ia keluar. Dan semenjak itu, ia tumbuh nyaris menghabiskan waktu di hutan membantu emaknya. Konon nama Bido diberikan kepadanya karena suatu saat, ia menangis di sepanjang jalan kampung, melempari dua pemburu yang datang dari kota karena menembak seekor bido, sejenis elang kecil, yang kerap bertengger di atas pohon sukun di belakang rumahnya. Bido menangis, melempar kedua pemburu itu dengan batu sambil berteriak, “Bidoku! Bidoku! Bidoku!”

Jauh di dalam hatiku, aku ingin sekali membalas pertolongan Bido. Dan itu terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu, aku harus sekolah di luar kampung, dan setiap akhir pekan aku pulang. Suatu saat, aku membawa pulang beberapa kaset film biru. Aku menontonnya dengan beberapa orang di kampung, termasuk Bido. Setelah itu, Bido sering bertanya kepadaku kapan lagi aku membawa film ohyes, begitu Bido menyebut film biru karena ada banyak kata ’oh yes’ di film itu. Beberapa kali aku menyewa film-film ohyes agar Bido senang.

Tetapi balas budi kepada Bido kurasa impas ketika suatu saat ia tertimpa masalah. Aku mendengar Bido digelandang ke kantor polisi karena dilaporkan oleh Haji Munawir. Bido dituduh mencuri rokok di toko kelontong Haji Munawir. Orang-orang kampung kemudian bisa meyakinkan pihak kepolisian kalau Bido tidak melakukannya sebab di malam kejadian, Bido tengah berjudi di desa sebelah. Tapi pengakuan dari orang-orang itu terlambat, Bido sudah telanjur dimasukkan ke sel berhari-hari, dan ia sudah telanjur malu. Begitu keluar dari sel, Bido mengasah parang, hampir melabrak Haji Munawir, tapi untunglah ada banyak orang yang melarang dan menghentikannya di tengah jalan. Yang membuatku tersentuh dan tiba-tiba merasa ikut terlibat adalah, ketika tengah mabuk arak di warung, Bido mengatakan betapa menderita emaknya yang sudah tua karena tuduhan itu.

Berminggu-minggu aku berpikir keras, sering pulang ke kampung walaupun tidak akhir pekan, mengamati sesuatu, membuat perhitungan di secarik kertas, dan menunggu. Hingga kemudian suatu malam, kupaparkan rencanaku kepada Bido.

Aku bilang, baru saja Haji Munawir menebar benih di kolam ikannya. Jika habis magrib Bido menutup saluran air yang menuju ke kolam, lalu membobol tanggulnya dengan lubang dua kepal tangan, maka tepat di tengah malam, kolam itu akan asat. Dan kalau ia menutup lubang itu lalu membuka lagi saluran air, maka menjelang pagi, kolam itu akan kembali tergenang air seperti sedia kala. Tapi kolam itu sudah kosong, tidak ada benih ikan lagi.

Hanya selang beberapa hari, Bido melakukan aksi itu dengan sukses. Butuh waktu lebih dari sebulan bagi Haji Munawir untuk menyadari bahwa kolamnya sudah tidak berisi ikan lagi. Tiap sore ia masih ke kolam menebarkan pakan ikan. Baru sebulan lebih kemudian, seluruh orang kampung melihat Haji Munawir meraung di sepanjang jalan, menangis, mengumpat dan berdoa.

Setelah kejadian itu, setiap aku bertemu Bido kami saling tersenyum penuh arti. Tetapi lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Saat aku duduk di meja kamarku, ibu melempar kertas yang berisi coretan-coretan strategi menguras kolam itu. Coretan itu kusimpan di saku tas sekolahku, dan kali itu aku melemparkan tas itu di bak pakaian kotor. Seperti biasa, sebelum dicuci, ibu selalu memeriksa ulang adakah sesuatu yang tertinggal di pakaian-pakaian kotor. Kali itu, ibu bukan hanya memandangku tajam sekali, tetapi ada air yang berlinang di kedua pelupuk matanya.

Setelah aku kuliah dan bekerja, hanya sesekali saja aku bertemu Bido, terutama saat pulang kampung menjelang Lebaran. Beginilah kisah yang kudengar dan kuamati sepintas, terutama saat aku pulang.

Ketika emak Bido meninggal dunia, Bido menjual tanah dan rumah warisannya, lalu mendirikan warung kopi di dekat lapangan sepak bola. Ia menyekat warung kopinya menjadi dua, satu ruang untuk jualan kopi, satu ruang untuk berjudi. Segera warung kopi itu menjadi warung paling ramai di kampungku. Semua orang datang ke sana, juga para aparat keamanan. Dan beginilah yang khas dari Bido, ia duduk-duduk di atas lincak yang terletak di depan warungnya, dengan tenang menemui polisi atau tentara yang datang. Sementara itu, dua pekerja meladeni para pengunjung warung kopi dan mereka yang sedang berjudi. Saat itu, Bido selalu mengenakan sarung, berkopiah, dan memakai pakaian Korpri lengan panjang yang sudah mangkak, entah lungsuran dari siapa.

Tidak lama kemudian, di warung Bido tersedia arak. Warung itu semakin ramai saja oleh pembeli dan para penjudi. Bido tetap seperti biasa, menunggu warung dengan duduk-duduk di depan, tapi saat itu ia sudah mengganti ’seragamnya’ dengan kaus kepolisian berlengan panjang. Dan satu lagi, sebuah jam tangan melingkar di pergelangan tangannya. Hanya yang aneh, jam yang dikenakannya tidak jalan lagi alias mati.

Tak lama kemudian, desas-desus berkecamuk. Seusai reformasi, konon Bido ikut terlibat dalam pencurian kayu di hutan. Ketika nama-nama yang sering disebut berada di belakang aksi itu membangun rumah mewah dan membeli mobil, tidak ada yang berubah di diri Bido. Dan saat banyak pencuri tertangkap, para makelar kayu kehilangan rumah dan mobil mereka, para aparat yang terlibat dipecat dan dipindah, Bido masih tetap tenang di warung kopinya.

Bido juga disebut-sebut berada di belakang maraknya bisnis judi togel. Tapi ketika orang-orang penjaga togel berseliweran dengan memakai sepeda motor baru dan memegang telepon genggam, Bido masih anteng saja, tetap menunggu warung dan duduk tenang di atas lincak. Hanya lagi-lagi ’seragamnya’ yang berubah, ia memakai jaket doreng ala tentara. Saat para penjaga togel lari ketakutan karena operasi judi besar-besaran terjadi, Bido hanya cukup menutup bilik judinya.

Selentingan terakhir yang kudengar tentang Bido adalah saat ia diduga terlibat mensponsori seorang calon bupati dalam pemilihan langsung di daerahku. Siapa pun yang tidak mengikuti Bido secara langsung, mungkin akan menepis tudingan itu, termasuk aku. Bagaimana mungkin seorang yang hanya memiliki warung kopi dan arak bisa ikut mensponsori pencalonan seorang bupati? Tapi banyak orang yang bilang, bahwa tandonan uang Bido sejak terlibat pencurian kayu sampai togel menumpuk, dan semua dipakai untuk urusan pencalonan itu.

Jago Bido kalah. Konon karena kekalahan itulah Bido gampang uring-uringan. Warung kopinya mulai sepi, dua orang yang membantunya di warung kopi keluar karena tidak tahan diomeli Bido. Warung kopi Bido semakin sepi ketika bermunculan warung-warung kopi lain yang memadukan antara warung kopi dengan meja biliar dan playstation. Bido kemudian jatuh sakit lalu meninggal dunia.

Menjelang magrib, ibu menghampiriku. Ia menyorongkan handuk dan kain sarung, sambil berpesan singkat, “Cepat mandi. Nanti kamu ya yang mimpin tahlilan untuk Bido….”

Aku terkejut. Tapi kemudian aku teringat sesuatu. Bido tidak punya istri dan kerabat. Aku melupakan rasa terkejutku dan segera bertanya ke ibu, di mana tahlilan akan dilaksanakan?

“Di sini,” jawab ibu singkat. Sepasang mata ibu menatapku, tapi kali ini tidak tajam lagi….

Puthut EA

Cerpen Berburu Beruang

Aku dikagetkan oleh suara batu yang dilempar ke pinggir kolam, di samping tempatku duduk mencangkung mengamati ikan-ikan. Aku menoleh ke belakang, dan melihat Mas Burhan tersenyum lebar. Akhirnya, ia bangun juga dari tidurnya. Tanpa basa-basi, bahkan setelah lama tidak jumpa, dari mulutnya keluar kalimat tantangan, “Kamu mau berburu hiu atau berburu beruang?”

Aku diam sejenak, lalu menjawab, “Kita berburu beruang saja.”

“Ah, kalau gitu, tunggu apa lagi! Bikinlah tombak untuk dua orang, aku mau cuci muka dulu!”

Mas Burhan segera pergi ke belakang gubuk, tempat ia tadi terlelap tidur, menuju pancuran air untuk mencuci muka. Aku segera bangkit dengan agak malas, mengambil parang yang terselip di dinding gubuk, lalu mencari dua batang bambu, membuat dua tombak tajam. Begitu tombak jadi, kulempar satu tombak ke arah Mas Burhan. Segera, kami bergerak memasuki rimbun pohon pisang dan gerumbul bambu, berburu beruang.

Kaki kami pelan berjingkat, mata kami waspada. Daya penciumanku kupertajam, mencoba mengendus beruang. Tiba-tiba tangan Mas Burhan memberi isyarat, laki-laki berumur hampir enam puluh tahun itu menggerak-gerakkan tangan kirinya, memberi tahu kalau seekor beruang besar sedang akan lewat di balik gerumbul pohon pisang tidak jauh dari tempat kami berada.

Kami berdua segera melompat cepat ke arah gerumbul itu. Aku mengintip dari sela-sela batang- batang pisang, dan aku melihat seekor beruang besar sedang asyik makan. Tanganku segera memberi arahan bahwa kami harus berpencar dari arah yang berbeda. Laki-laki dengan rambut sebahu itu melompat dari satu tempat ke tempat lain dengan lincah.

Beruang besar itu membelakangi kami. Aku di sebelah belakang agak ke samping kiri, sedangkan Mas Burhan berada di sebelah belakang agak ke sisi kanan. Dadaku bertalu keras. Tangan Mas Burhan memberi isyarat, hitungan maju. Hatiku semakin deg-degan. Tepat di hitungan ketiga, kami melompat bersama dan menghunjamkan tombak-tombak kami ke tubuh beruang besar itu. Tepat di saat itu, kami berteriak keras-keras. Teriakan Mas Burhan keras, melengking, memekakkan telinga seperti ingin mengeluarkan semua beban yang disangganya.

Tombakku tepat mengenai lambung sebelah kiri beruang, sedangkan tombak Mas Burhan menancap di tengkuk binatang raksasa dan buas itu. Beruang itu melenguh keras. Tetapi beruang itu segera meliuk, Mas Burhan terpelanting sementara tombaknya tertancap kuat. Aku segera mencabut tombakku, bersiap menghadapi serangan balasan si beruang.

Benar, beruang itu segera berbalik dan menghadapiku. Sepasang matanya memerah. Binatang mengerikan itu membuka mulut, mempertontonkan barisan giginya yang tajam, dan sepasang kaki depannya terangkat, menunjukkan tajam deretan cakar. Lalu binatang itu mengeluarkan auman yang menggiriskan. Nyaliku segera ciut.

Tahu kalau aku gentar dan kalah mental menghadapi beruang itu, Mas Burhan melompat ke arahku sambil mencopot kausnya. Ia melambai-lambaikan kaus itu, seperti menggoda si binatang. Aku segera berlari menjauhi pantat Mas Burhan, lalu langkah kakiku kubuat sepelan mungkin, berjingkat, menjauh lewat gerumbul bambu, memutar, kemudian berada di belakang beruang besar yang siap menyerang Mas Burhan. Tepat di detik yang menentukan itu, aku melompat dan berteriak kencang, mendahului gerakan si beruang. Tusukanku tepat berada di lambung sebelah kanan, dan aku segera mencabut lagi tombakku. Tapi sayang, tusukan tombakku terlampau kuat, aku gagal mencabutnya, dan beruang itu kembali menggeliat dengan cepat. Aku terjatuh kena kibasan beruang.

Mampus ini, batinku. Beruang itu segera menghadap ke arahku lagi. Mas Burhan segera melompat di depanku lagi, sambil terus memutar-mutar kausnya. “Goblok! Mampus kita!”

“Terus bagaimana, Mas?!” tanyaku.

“Lari, kamu! Bikin tombak lagi! Beruang itu akan mengejarku, dan aku akan naik ke pohon ketapang. Sebelum ia merobohkan ketapang itu atau berhasil menyusulku naik, kamu tombak lehernya. Tepat di lehernya! Jelas kamu?!”

“Jelas, Mas!” usai mengucapkan kalimat itu, aku langsung melompat, lari menjauh dari tempat pertempuran itu dengan cepat membuat lagi sebuah tombak. Saat aku balik lagi ke tempat pertempuran itu, Mas Burhan sudah berada di atas pohon ketapang. Sementara itu, si beruang sedang berusaha memanjat pohon itu. Tetapi tampaknya binatang itu tidak berhasil. Namun kemudian binatang yang marah dan terluka itu menemukan cara yang jitu, pohon ketapang yang belum begitu besar itu, ditabraknya berkali-kali, sehingga pohon itu terancam rubuh.

“Mati aku!” begitu selalu ucapan yang kudengar, setiap kali tubuh beruang itu menggetarkan pohon ketapang. Mungkin hanya butuh tiga kali benturan lagi, pohon itu pasti tumbang.

Dengan agak ragu, aku mendekati pohon ketapang itu, bersembunyi dari balik pohon pisang yang satu ke pohon pisang yang lain.

Tepat di saat beruang itu mundur, mengambil ancang-ancang, aku segera berlari menuju pohon ketapang sambil mengacungkan tombakku. Tubuhku gemetar. Tombak yang kupasang juga gemetar. Tahu kalau aku grogi dan pucat berhadapan dengan binatang itu, Mas Burhan berteriak, “Kamu jangan sok pahlawan! Kalau kamu gemetar, kamu pasti kalah! Kamu pasti mati!”

“Jadi bagaimana solusinya?” tanyaku semakin panik.

“Kamu ingat dan perhatikan nasihatku,” suara Mas Burhan terdengar berbisik, “taruh tombakmu di tanah. Tatap mata binatang itu! Kuatkan hatimu, kamu bisa mengalahkannya. Begitu jahanam itu marah, saat kedua kaki depannya hendak mengerkahmu, saat itulah kamu hunjamkan tombakmu ke lehernya. Jelas?”

Aku mengangguk. Tetapi hatiku tetap kacau. Lalu aku mengambil napas dalam-dalam, dan segera melakukan segala sesuatu seperti yang dibilang Mas Burhan. Tombak kuletakkan di atas tanah.

Sepasang mata bintang itu menatapku dengan tajam. Sepasang mataku berusaha membalas tajam tatapan beruang itu. Di dalam hati, aku mengatakan kalau aku bisa mengalahkan binatang ini. Beruang itu mengaum. Dengan segera, ia melabrakku.

Aku mencoba tidak grogi ketika binatang itu semakin mendekatiku. Dan tetap berusaha tidak grogi ketika beruang itu mulai mengangkat kedua kaki depannya. Di saat yang kupikir tepat, aku membungkuk, menyahut tombakku, kuhunjamkan keras-keras ke arah lehernya.

Semua serba cepat. Hunjamanku tepat. Aku segera menyandarkan tombakku ke pohon ketapang. Semakin beruang itu berusaha menjamahku, semakin dalam ujung tombakku menghunjam lehernya. Tahu kalau aku berhasil, Mas Burhan turun cepat. Ia lalu mencabut tombak yang berada di punggung binatang itu, lalu menghunjamkan ke arah leher beruang.

Kami menunggu beruang itu sesaat. Ketika sudah tidak ada tenaganya lagi, kami dorong tubuh binatang itu dari arah samping. Rubuhlah tubuh besar beruang itu. Segera tubuh beruang itu kami kuliti, dagingnya kami potong-potong, lalu kami talikan potongan-potongan daging segar itu di tombak kami. Kami keluar dari hutan itu dengan langkah tegap.

Begitu keluar dari gerumbul pohon bambu dan pisang, kami disambut oleh Pak Bari dengan tertawa. “Dikubur saja!” kata Pak Bari.

“Jangan, untuk makan malam,” tukas Mas Burhan.

“Ada cakalang bakar dan ikan asin keropa untuk makan malam,” jawab Pak Bari enteng.

“Kamu yang bawa?” tanya Mas Burhan sambil menoleh ke arahku. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, kita kubur saja binatang ini.” Sambil berkata begitu, Mas Burhan meletakkan pikulannya. Aku mengikuti perkataannya. Lalu ia mengambil cangkul yang berada di dekat gubuk, dan ia mencangkul, kemudian kami berdua menanam potongan- potongan tubuh beruang.

Sesungguhnya, yang kami tanam adalah potongan-potongan pohon pisang. Wajah Mas Burhan tampak puas setelah kami usai bermain-main imajinasi ‘berburu beruang’. Keringat berleleran di wajahnya yang memerah.

Selesai mengubur ‘daging beruang’ itu, kami melangkah pergi. Sepasang mataku melirik ke arah kolam ikan, dan sebuah rakit kecil yang terbuat dari batangan-batangan bambu. Kalau tadi aku memilih ‘berburu hiu’, kami akan berada di kolam itu. Rakit itu akan kami anggap perahu, dan kolam itu kami anggap samudra. Kami berdua pasti akan basah kuyup. Aku sedang enggan berbasah-basah.

Kami langsung menuju gubuk yang lebih besar lagi. Pak Bari segera menata piring. Segera, kami bertiga makan dengan lahap. Aku merasa lega. Misi kedatanganku berhasil dengan memuaskan: Mas Burhan mau makan lagi.

Tiga hari yang lalu, aku masih berada di sebuah pulau yang indah untuk mengikuti sebuah kegiatan. Lalu telepon datang dari Mbak Narni, istri Mas Burhan. Ia mengatakan kalau Mas Burhan sedang kumat lagi. Berhari-hari, ia tidak mau pulang dari ladang, dan menurut laporan Pak Bari, Mas Burhan tidak mau makan. “Kalau selesai tugasmu, jenguklah dia,” singkat pesan Mbak Narni.

Banyak orang yang melihat Mas Burhan hanya dari satu sisi. Begitu selalu yang kudengar setiap kali ada orang membicarakan Mas Burhan. Ia selalu disemati oleh julukan-julukan yang aduhai, mulai dari dicap sebagai ‘pembangkang sepanjang umur’ sampai dijuluki sebagai ‘pendekar subversif’. Memang julukan itu bukan tanpa alasan. Dari mulai menginjakkan kuliah, ia sudah mencicipi ikut ontran-ontran Malari. Dan semenjak itu, kakinya sudah tertanam kuat di lahan yang disebut sebagai dunia pergerakan.

Di belantara dunia aktivis, jarang ada yang tahan uji lebih dari 30 tahun untuk terus melawan. Salah satunya, Mas Burhan. Model perlawanannya pun tidak pernah berubah. Tidak pernah masuk ke dalam sistem, tidak pernah dekat-dekat dengan kekuasaan. Ia berada di banyak tempat, berkeliling, mengajar dan menemani banyak sektor masyarakat. “Aja cedhak kebo gupak…” begitu pesan yang selalu dikatakan kepada orang-orang yang lebih muda, berhubungan dengan kekuasaan. Nyalinya luar biasa, dan staminanya mencengangkan. Ia punya daya hidup yang terus memancar, seperti halnya para pembangkang yang tidak pernah takluk.

Banyak orang yang memujinya, dan cenderung memitoskannya. Semua yang berhubungan dengan Mas Burhan, selalu penuh dengan gula-gula. Ia mengidap malaria karena pernah lama di tanah Papua, banyak orang melihat hal itu sebagai sesuatu yang seksi. Ia selalu kekurangan uang karena jika punya uang selalu dipakai untuk kegiatan sosial, orang-orang selalu menyebut hal itu keren. Ia tidak punya rumah dan keluarganya selalu berpindah-pindah kontrakan, dan orang berdecak mengatakan hebat.

Hingga kira-kira lima tahun yang lalu, ia memanggil beberapa orang termasuk aku, untuk mendengar keluh kesahnya: ia merasa berdosa dengan keluarganya yang sejak lama jarang ditemaninya.

Mendengar keluhan itu, aku hanya punya komentar pendek dan langsung kuutarakan, “Wis wayahe mesanggrah, madeg pandhita, Mas.”

Akhirnya Mas Burhan memutuskan untuk mesanggrah dan madeg pandhita beneran. Dengan dibantu teman-teman dekatnya, ia membeli tanah di sebuah kampung, mengelola pertanian. Tidak jauh dari tanahnya yang cukup luas itu, ia mendirikan rumah sederhana. Semenjak itu, ia tidak pernah bepergian lagi. Ia mendampingi warga kampung untuk melakukan pertanian organik.

Tetapi setiap kali ada peristiwa yang mengganggu pikirannya, ia kumat lagi. Seperti saat terjadi kenaikan BBM pada tahun 2005. Ia tidak mau makan berhari-hari. Juga ketika terjadi kenaikan BBM di tahun ini. Berhari-hari ia berada di ladang, tidak mau makan dan emoh pulang.

Seperti halnya tiga tahun lalu, setelah akhirnya senja ini ia mau makan, sambil duduk-duduk, ia mengeluarkan semua unek- uneknya. Ia nyerocos soal pangan, air, dan BBM. Dan dari dulu, ia selalu menekankan tiga hal: imajinasi, daya hidup, dan daya cipta. “Latihlah terus imajinasimu, perkuat daya hidupmu, dan terus asahlah daya ciptamu. Kamu boleh terdesak, boleh mundur, tapi kalau kamu punya tiga hal itu, kamu tidak akan mudah ditaklukkan!”

Suaranya terus bergema, seakan tidak pernah lelah dan tidak butuh jeda. Begitu terus sampai larut, sampai ia terlihat lega. Aku berharap, seperti beberapa tahun yang lalu, ia kemudian tertidur dan keesokan harinya mengajak pulang ke rumah.

Tetapi kali ini sepertinya tidak. Karena tiba-tiba ia terdiam, menajamkan telinganya, dan berkata, “Kekasih beruang itu marah dan merusak kampung….”

Mampus, batinku. Bakal ada olahraga malam….

“Pak Bari…,” Mas Burhan memanggil nama orang yang menjaga ladangnya.

Tetapi dengan cepat Pak Bari menyahut, “Harus dikejar, Pak! Kalau tidak, kasihan orang-orang kampung. Aku akan menanak nasi lagi supaya nanti saat selesai berburu, makanan sudah siap.”

Pak Bari melirik dan tersenyum kepadaku. Aku tersenyum kecut, orang tua itu sudah segera mencari posisi aman.

“Bagaimana?” tanya Mas Burhan ke arahku.

“Harus kita kejar, Mas!” aku tidak punya dalih.

“Bagus! Kenapa tidak segera bangkit dan menyiapkan dua tombak yang panjang dan tajam?”

Aku segera bangkit, keluar, sambil terus merutuk di dalam hati. Malam itu, seperti dua orang anak kecil, kami menembus malam, mendekati gerumbul bambu dan pisang. Kembali berlarian, berteriak di dalam ladang. Memburu seekor beruang.

Malam itu, setiap kali tombak Mas Burhan menancap kuat di tubuh beruang, maksudku batang pisang, ia berteriak keras. Seperti mengeluarkan dendam. Seperti menancapkan serangan maut ke jantung kekuasaan….



Puthut EA
 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger