Post View:
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerita Cinta Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori Cerita Cinta Remaja. Tampilkan semua postingan
Cerpen Cinta, Kata Cinta Yang Kedua
Jumat, 19 Oktober 2012
Awal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.
Antara Aku, Kamu dan Dia
Sabtu, 13 Oktober 2012
Harapan palsu yang kau berikan kepadaku kita menjadi bumerang diantara kita. Kenapa kau tega melakukan hal itu kepadaku yang baru saja memberanikan diri untuk membuka hatiku untuk memadu kasih. Tapi ternyata itu merupakan sebuah kesalahan, kesalahan kenapa aku bisa membuka hati ini untuk laki-laki seperti kamu yang hanya bisa menyakiti hatiku? Kenapa semua ini harus terjadi? Aku hanya bagaikan sampah yang bisa kau buang semaumu. Kini aku berjanji tidak akan pernah mau mengenalmu lagi meskipun kita berada di sekolahan yang sama tapi akan ku tekatkan hati dan pperasaan ini agar tidak akan melihatmu lagi. Terlalu sakit hati ini!
“Kring..... kring.....kring.....”
Suara hp-ku berbunyi, ternyata dari seorang laki-laki yang aku kenal karena ia merupan teman satu sekolahku. Ia bernama Angga. Berawal dari sms itulah kami menjadi dekat, hampir setiap hari kami saling SMS an. Angga yang baru saja putus Cinta dengan Citra yang juga teman satu sekolahku mencoba untuk melupakan mantan kekasihnya itu.
Aku sebagai teman curhatnya mencoba untuk membantunya untuk melupakan mantan kekasihnya itu, tapi tetap saja ia tidak bisa melupakannya.
“Sulit bagiku untuk melupakan Citra karena hubungan kami yang sudah 2 tahun, tapi aku harus melupakannya karena kini dia sudah bersama orang lain” SMS yang angga kirimkan kepadaku.Aku hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik agar Angga bisa kuat menjalani hidup meskipun Aku bukan Citra yang bisa membuatnya semangat seperti dahulu.
Berjalannya waktu kami semakin dekat, secara berlahan Angga bisa melupakan Citra dan ia pun berusaha untuk menarik hatiku untuk menjadi kekasihnya. Aku yang pernah terpuruk dalam masalah cinta takut untuk membuka hati lagi karena takut terluka lagi. Mengetahui hal itu Angga mencoba untuk meyakiniku dan berusaha membuatku nyaman saat berada bersamanya.
Malam itu, Angga mengajak aku untuk makan keluar. Sungguh sulit untukku tolak karena sudah kesekian kalinya permintaannya selalu ku tolak. Akhirnya Anggapun datang ke kos ku yang tidak terlalu jauh dari kosnya itu, dan kami pun pergi untuk mencari makan.
Ternyata Angga sudah menyiapkan tempat makan yang sangat romantis untuk kami berdua, aku kaget melihat semu kejutan ini.
“kita makan disini?” tanya aku
“tempatnya romantis sekali, dengan lampu remang-remang, dan terletak di taman dengan meja dihiasi oleh lilin..Angga co,,coietzz” ungkapku di dalam hati
“iya kita makan di sini, tempat ini sudah ku siapkan sejak lama tapi baru terwujud hari ini karena baru hari ini kamu mau makan malam bersamaku” jelas angga kepadaku
Makan mallam yang sungguh berkesan dalam hidupku. Semua masalah dan ketakutan-ketakutanku kepada seorang laki-laki pun hilang sejenak. Semua yang tergambar hanyalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara antara aku dan Angga.
Di akhir makan malam hati ku deg..deg..gan!!, badanku gemetar, sikapku salah tingkah, dan wajahku memerah. Ketika Angga menyatakan perasaannya kepadaku..
“Ning(namaku)....maukah kamu menjadi kekasihku” ungkap Angga sambil memegang tanganku.
“aku janji aku tidak akan pernah menyakitimu seperti mantan kekasihmu dulu. Aku juga sudah melupakan mantan kekasihku jadi kamu jangan takut aku akan meninggalkan kamu, please!! Jawab Ning??” Angga terus meyakinkan aku karena aku hanya diam dan binggung mau menjawab apa.
Akhirnya ku putuskan untuk menjawab, karena Angga yang selalu menanti jawabanku.
“ Sebenernya aku juga suka sama kamu, tapi maaf aku belum bisa menjadi pacarmu sekarang karena aku belum yakin kamu sudah benar-benar bisa melupakan Citra. Aku takut kamu setelah menjadi kekasihmu dan sangat mencintaimu, kamu meninggalkan aku”. Jelas Ku dengan memberanikan diri dan berusaha untuk tidak membuat Angga marah karena penolakanku ini.
“Aku berjanji aku tidak akan menyakitimu. Tapi baiklah aku akan membuktikannya kepadamu bahwa aku benar-benar mencintaimu dan aku sudah sungguh-sungguh melupakan Citra dan tidak akan pernah lagi aku mau kembali dengan dia”. Angga meyakini ku.
Setelah pembahasan itu kami langsung pulang. Sampai di kos aku tidak bisa tidur memikirkan Angga dan makan malam yang romantis. Di satu sisi aku ingin sekali menjadi kekasihnya tapi rasa takutku lebih tinggi dari pada rasa ingin jadi kekasihnya.
Sepanjang malam kupikirkan sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 wib. Entah apa saja yang ku pikirkan malam itu, sehingga membuatku tidak bisa tidur. Yang ada di kepala hanya baying-bayang Angga dan Citra mantan kekasihnya. Sekali lagi ku coba untuk menatap kata dan mencoba untuk membandingkan diriku dengan Citra yang lebih cantik dariku.
Citra itu cantik, gaul, modis, sedangkan aku cumalah orang biasa yang hidup pas-pasan dan hanya menggunakan pakayan yang seadanya tidak seperti Citra yang hampir setiap hari belanja dan belanja. Ahhhh . apa yang telah aku pikirkan ini, bawa tidur sajalah nanti bisa-bisa tambah gila kalau memikirkan mereka.
Pagi yang cerah, ku berharap hari ini akan cerah secerah hatiku saat ini. Seperti biasa kebiasaan anak kos pagi-pagi sudah nongkrong di depan kamarku, karena di depan kamarku ada kursi yang bisa untuk ngumpul-ngumpul anak-anak. Mereka menggodaku karena mereka tahu semalam aku jalan keluar dengan Angga dan mereka memintaku untuk bercerita semalam ngapain aja. Dengan mali-malu aku menceritakan semuanya kepada mereka.
“wah.. kenapa kamu tolak dia? Padahal dia kan cowok romantis, kalau aku mah langsung mau sama dia”. Ucap temanku Lili
“ah.. kamu ini gimana si Li? Ning kan masih trauma githu ma mantannya yang dulu makanya dia takut untuk jatuh cinta! Ya gak Ning?hehe” sambung temanku
“hahahah,, Ning.. Ning ,, yang lalu ya biarkan berlalu lah, kan tidak semua cowok itu sama, jadi bagaimana mau maju kalau baying-bayang masa lalu menjadi ketakutan untukmu melangkah..”ungkap Lili, dengan puitis..
“hue,, kalian ini apa an cih!! Aku itu Cuma bellum yakin aja sama dia, nanti kalau dia tiba-tiba hanya menjadikan aku pelariannya saja untuk melupakan Citra di dalam hatinya gimana? Ada yang mau tanggung jawab gak??hehe” jelas ku kepada teman-teman.
“ia juga sih, ya lanjutkanlah kalau begitu,,hhaa” ungkap teman-temanku
Hari berganti hari tidak terasa sudah satu minggu peristiwa makan malam itu ku lewati. Dan aku juga merasa ada yang aneh, sudah tiga hari Angga tidak menghubungiku lagi. Dalam hati aku selalu bertanya-tanya kenapa Angga menghilang begitu saja tanpa pesan seperti ini. Aku coba untuk santai dan tetap tenang meskipun sebenarnya dalam hati ini aku selalu bertanya-tanya dimanakah dia sekarang ini.
Ku coba untuk mencarinya di sekolah tapi tetap dia tidak ada, ingin rasanya ku SMS atau Telphon dia untuk menghilangkan rasa kegundahan hatiku karena kehilangan dia, tapi ku coba untuk bertahan karena aku takut mengganggu dia.
Dua minggu berlalu baru aku tahu apa alasannya ia pergi tanpa pesan seperti ini. Hati ku hancur ketika aku tahu kalau ia akhirnya kembali lagi dengan mantan kekasihnya itu. Aku kembali terpuruk melihat mereka berdua di sekolah. Hati ini terasa sangat sakit, sangat rapuh. Jiwa ini seakan terbang melayang. Tak sanggup rasanya ku melihat mereka lagi.
Di dalam keterpurukanku aku masih bersyukur karena masih ada teman-temanku yang masi setia menemaniku dan memberiku semangat untuk bisa melewati semua ini. Meski dalam hati ini ingin ku sampaikan kemarahanku kepada Angga yang telah menggoreskan luka di hatiku.
“mengapa kamu tega menyakiti hatiku, mana janjimu yang tak akan menyakitiku, kau beri harapan kosong kepadaku, kenapa kamu pergi meningalkan aku begitu saja! Kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku yang terlanjur mencintaimu! Angga sungguh kejam, kau buat ku melayang dan kiti kau patahkan sayapku sehingga aku tidak bisa terbang lagi!! Sungguh kejamnya dirimu!”
Hampir setiap hari ku seselai kusesali hidup ini. Ternya tidak hanya aku semua temanku juga membenci Angga yang telah mempermainkan perasaanku. Ia datang dengan penuh kehangatan dan pergi dengan penuh tanda ?, karena tidak ada satu katapun yang ia ucapkan, ia hanya pergi dengan semau hatinya.
Meskipun dari awal aku menyadari hal ini akan terjadi tetapi tak habis pikirku ia tegaa meninggalkanku tanpa pesan seperti ini. Seandainya saja ia mau berterus terang dan jujur kepadaku bahwa ia ingin kembali kepada Citra mungkin aku bisa terima karena aku tahu dari awal ia tidak pernah bisa untuk melupakan citra..
Darah ku naik dan emosi ku kembali tinggi “ apasih susahnya untuk jujur! Dasar lali-laki hanya bisa menyakiti kaum perempuan.”
Kini aku hanya bisa menyesali mengapa aku pernah hadir di antara mereka berdua dan kenapa aku bisa membuka hati untuk laki-laki yang tidak punya perasaan seperti Angga.
Ayank Iratu
Cerpen Romantis Pelangi Cinta
Pagi yang begitu dingin membuatku enggan membuka mata untuk beranjak dari tempat tidurku dan selimut tebal yang membuatku begitu hangat. Sang Matahari tidak menyapaku pagi ini, sebagai gantinya gumpalan awan gelap menyelimuti langit di pagi yang indah ini. Suatu pertanda kalau hari ini akan datang hujan sepanjang hari. Hal yang paling aku benci karena hujan membuat langit menjadi mendung sehingga aku tidak dapat melihat indahnya sinar mentari di pagi hari. "Santi, ayo cepat bangun sayang!" ujar ibu menyuruhku.
Setelah berlari-larian mengejar bus dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya yang kebanyakan pelajar sepertiku akhirnya sampai juga di sekolah. Sambil terus berdoa dalam hati semoga hujan tidak turun agar aku tidak sial hari ini. Tanpa aku sadari pak Satpam yang sedang berdiri di Gerbang Sekolah menegurku. "Eh, Santi kamu telat lagi ya?" Sapanya sambil setengah menahan tawa melihatku terengah-engah. "Sudah tau nanya", Batinku. "Ya Pak", Jawabku singkat sambil tersenyum simpul. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju ke kelas. Di tengah perjalan tiba-tiba aku bertemu dengan Pak Pri, Guru BK yang super galak di sekolah ini. Banyak murid yang membencinya, murid satu sekolah ini rata-rata membencinya dan tak mau berurusan dengan dia termasuk aku. Rasanya ingin sekali menghilang dari pada mesti berhadapan dengan Pak Pri. Tapi kenyataannya sudah terlambat karena Pak Pri kelihatannya memang sengaja menungguku. "Santi, Kamu cepat ikut ke ruang BK", Kata Pak Pri dengan wajah kaku. Hatiku berdebar begitu kencang, keringat dingin pun mengalir. Apa yang akan aku hadapi nanti di ruang BK. "Baik pak", jawabku pasrah sambil mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kelas aku heran melihat Eni teman sebangkuku duduk dengan Arif. Sedangkan semua bangku telah terisi dan hanya satu bangku yang tersisa di sebelah Andre cowok super pendiam dan cuek. Meskipun dia tampan tapi melihat sikapnya yang begitu pendiam dan cuek membuatku merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya. Sambil terus melotot ke arah Eni yang sedang asyik mengobrol dengan Arif aku berjalan menuju bangku yang kosong itu. Tambah lagi kesialanku hari ini. "San, maaf ya hari ini kamu duduk bareng Andre saja ya. Soalnya aku sudah dari tadi duduk sama Arif aku kira kamu gak masuk hari ini, tidak apa kan?" Tanya Eni setelah melihatku. Sebenarnya aku ingin marah padanya tapi setelah aku pikir mungkin ini emang salahku. "Ya sudah terserah kamu lah,"jawabku kepada Eni. "Terimakasih ya, Santi,” ucapnya seraya mencubit kedua pipiku sehingga aku pun meringis menahan sakit. "Tega banget sih, sakit tau,” kataku kepada Eni. Eni hanya tertawa melihat pipiku yang mulai memerah.
Siang menjelang namun matahari tidak juga menampakan diri, sebaliknya butiran-butiran bening terus berjatuhan dari langit. Hujan memang pertanda buruk bagiku itulah sebabnya aku benci hujan. Aku menerima hukuman harus membersihkan ruang BK setelah pulang sekolah. Dengan terpaksa aku harus membersihkan ruang BK sendirian karena Eni ada les Fisika setelah pulang sekolah. Ruang BK memang tidak begitu luas, tapi karena jarang di bersihkan butuh usaha ekstra untuk membersihkannya. Setelah selesai membersihkan semuanya aku bergegas untuk segera pulang karena hujan sudah lumayan reda hanya tinggal gerimis kecil.
Suasana sekolah setelah pulang sekolah begitu sepi dan sedikit mencekam, sehingga aku menuju ke luar gerbang sekolah dengan berlari. Di gerbang sekolah terlihat ada seseorang yang sedang duduk di atas motor. Setelah aku perhatikan ternyata cowok itu Andre. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Aku menjawab pertanyaanku sendiri.
"Ngapain masih disini Ndre?" Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.
"Ya, Nungguin Kamu lah. Aku udah satu jam lebih nungguin kamu disini,” ujar Andre.
"Emangnya ada perlu apa sama aku?." Tanyaku kaget sekaligus penasaran.
"Kita kan ada tugas Bahasa Indonesia yang dikumpulkan seminggu lagi. Jadi kita mesti cari materinya mulai dari sekarang. Mau tidak? Kalau tidak mau aku bisa cari sendiri." Jelasnya dengan nada ketus.
"Oh ya, Aku lupa. Tapi cepet banget sih mau cari materinya sekarang. Lagian Bu Tini juga baru ngasih tugasnya tadi pagi. Gimana Kalau besok saja? Hari ini kan akan hujan." Jawabku mencari alasan untuk menolak ajakannya.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa cari materinya sendiri," kata Andre yang terlihat sekali kalau dia kesal denganku.
"Ya sudah deh, aku ikut. Tapi hujan nih." Aku terpaksa menyetujui ajakannya.
"Terus?" Jawabnya cuek.
"Ya masak mau ujan-ujanan sih?" Aku mulai kesal dengan sifat cueknya.
"Ini pake jaket aku biar kamu gak kehujanan." Katanya sambil memberikan jaketnya kapadaku.
"Terus kamu gimana?" Tanyaku merasa tidak enak.
"Ach, tidak usah dipikirin" Dia pun menyalakan motornya dan aku pun segera naik. Ternyata dia baik juga. Batinku dalam hati sambil tersenyum sendiri. Hujanpun semakin deras, Andre memutuskan untuk berteduh di sebuah rumah makan. Kebetulan sekali karena perutku sudah begitu keroncongan. Rumah makan itu begitu unik karena di kelilingi oleh hamparan sawah. Suasananya pun begitu nyaman dan tidak terlalu ramai. Heran kenapa Andre bisa menemukan tempat sebagus ini. Kami duduk di lesehan karena dari situ bisa melihat pemandangan yang begitu indah.
“Kamu pasti belum makan siang kan?" Tanya Andre. Aku heran kenapa dia bisa tahu. Apa dia mendengar perutku keroncongan.
“Kita makan dulu sekalian nunggu hujannya reda, habis itu baru kita cari materi buatnya" Jelasnya panjang lebar.
Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan darinya itu. Kemudian dia mulai memesanmakanan dan aku pun idak mau ketinggalan. Tidak berapa lama setelah kami memesan, akhirnya pesanan itu datang. Aku langsung menyantap nasi dan ayam goreng yang tadi aku pesan itu dengan lahap. Tanpa aku sadari Andre melirik ke arahku dan tersenyum sendiri. Aku tidak pernah membayangkan akanmakan berdua bersama dia. Meskipun kita satu kelas tapi kita berdua tidak pernah bicara ataupun menyapa satu sama lain. Aku yang cenderung cerewet dan dia yang hanya berbicara jika itu perlu. Meskipun aku tidak pernah berbicara dengannya diam-diam aku selalu memperhatikannya. Ketika dia menuliskan rumus-rumus di papan tulis untuk setiap jawaban dari pertanyaan Pak Yanto atau ketika dia sedang mengajari seorang teman yang paham dengan pelajaran terentu. Pantas jika dia selalu mendapatkan juara kelas.
"Makannya biasa aja bisa tidak sih. Tidak usah buru-buru gitu." Dia menegurku. Aku begitu kaget sehingga aku pun tersedak dan batuk-batuk. Dia pun segera menyodorkan air minum kepadaku.
"Makanya kalau di bilangin itu jangan ngeyel." Dia menertawakanku. Aku begitu malu untuk menatapnya.
"Siapa suruh kamu ngagetin aku. Aku kan lagi konsentrasi makan." Kataku kesal.
"Habis ini kita kemana?" Tanyaku setelah selesai makan. Tampaknya hujan juga sudah mulai reda.
Andre hanya diam. Aku hampir kesal karena merasa di cuekin lagi olehnya
"Coba kamu lihat kearah kanan kamu!" Dia menyuruhku dan aku pun menoleh dan mencari-cari apa yang di maksudkan Andre itu. Sampai aku melihat pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah pelangi melingkar di padang sawah, menambah keindahan ciptaan sang kuasa itu.
"Ndre bagus banget" Ku ungkapkan kekagumanku tapi Indre lagi-lagi malah sibuk mengambil sesuatu dalam tasnya. Aku pun tak menghiraukannya dan kembali melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ketika aku menoleh ke arah Andre ternyata dia sudah siap mengambil foto dengan kameranya. "Sejak kapan anak itu suka sama fotograf?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Cepetan berdiri!" Suruhnya kepadaku.
Akupun berdiri kemudian dan dengan cepat dia mengambil fotoku. Aku di suruh bergaya semauku dan aku pun mengikutinya. Gak nyangka ternyata ada sisi lain yang aku tidak tau tentangnya. Sisi lain yang begitu menyenangkan dan nyaman. Hal itu membuatku semakin kagum dan menyukainya.
"Selalu ada sesuatu yang indah di balik hujan. Makanya jangan jadikan hujan sebagai pertanda buruk atau kesialan." kata Andre.
Aku kaget kenapaAndre bisa tahu. Tapi, perkataannya menyadarkanku. Setelah melihat semua keindahan hari ini mungkin aku akan mulai menyukai hujan dan akan selalu menantikannya agar aku bisa melihat kembali pelangi setelah hujan reda.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku benci hujan?" Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Terasa getaran-getaran halus dalam hatiku melihat senyumannya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke perpustakan kota untuk mencari materi untuk tugas. Dari semua kejadian yang aku alami, aku mendapat ide membuat materi yang bertema Hujan dan ternyata Andre tidak keberatan dengan usulku.
Setelah berlari-larian mengejar bus dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya yang kebanyakan pelajar sepertiku akhirnya sampai juga di sekolah. Sambil terus berdoa dalam hati semoga hujan tidak turun agar aku tidak sial hari ini. Tanpa aku sadari pak Satpam yang sedang berdiri di Gerbang Sekolah menegurku. "Eh, Santi kamu telat lagi ya?" Sapanya sambil setengah menahan tawa melihatku terengah-engah. "Sudah tau nanya", Batinku. "Ya Pak", Jawabku singkat sambil tersenyum simpul. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju ke kelas. Di tengah perjalan tiba-tiba aku bertemu dengan Pak Pri, Guru BK yang super galak di sekolah ini. Banyak murid yang membencinya, murid satu sekolah ini rata-rata membencinya dan tak mau berurusan dengan dia termasuk aku. Rasanya ingin sekali menghilang dari pada mesti berhadapan dengan Pak Pri. Tapi kenyataannya sudah terlambat karena Pak Pri kelihatannya memang sengaja menungguku. "Santi, Kamu cepat ikut ke ruang BK", Kata Pak Pri dengan wajah kaku. Hatiku berdebar begitu kencang, keringat dingin pun mengalir. Apa yang akan aku hadapi nanti di ruang BK. "Baik pak", jawabku pasrah sambil mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kelas aku heran melihat Eni teman sebangkuku duduk dengan Arif. Sedangkan semua bangku telah terisi dan hanya satu bangku yang tersisa di sebelah Andre cowok super pendiam dan cuek. Meskipun dia tampan tapi melihat sikapnya yang begitu pendiam dan cuek membuatku merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya. Sambil terus melotot ke arah Eni yang sedang asyik mengobrol dengan Arif aku berjalan menuju bangku yang kosong itu. Tambah lagi kesialanku hari ini. "San, maaf ya hari ini kamu duduk bareng Andre saja ya. Soalnya aku sudah dari tadi duduk sama Arif aku kira kamu gak masuk hari ini, tidak apa kan?" Tanya Eni setelah melihatku. Sebenarnya aku ingin marah padanya tapi setelah aku pikir mungkin ini emang salahku. "Ya sudah terserah kamu lah,"jawabku kepada Eni. "Terimakasih ya, Santi,” ucapnya seraya mencubit kedua pipiku sehingga aku pun meringis menahan sakit. "Tega banget sih, sakit tau,” kataku kepada Eni. Eni hanya tertawa melihat pipiku yang mulai memerah.
Siang menjelang namun matahari tidak juga menampakan diri, sebaliknya butiran-butiran bening terus berjatuhan dari langit. Hujan memang pertanda buruk bagiku itulah sebabnya aku benci hujan. Aku menerima hukuman harus membersihkan ruang BK setelah pulang sekolah. Dengan terpaksa aku harus membersihkan ruang BK sendirian karena Eni ada les Fisika setelah pulang sekolah. Ruang BK memang tidak begitu luas, tapi karena jarang di bersihkan butuh usaha ekstra untuk membersihkannya. Setelah selesai membersihkan semuanya aku bergegas untuk segera pulang karena hujan sudah lumayan reda hanya tinggal gerimis kecil.
Suasana sekolah setelah pulang sekolah begitu sepi dan sedikit mencekam, sehingga aku menuju ke luar gerbang sekolah dengan berlari. Di gerbang sekolah terlihat ada seseorang yang sedang duduk di atas motor. Setelah aku perhatikan ternyata cowok itu Andre. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Aku menjawab pertanyaanku sendiri.
"Ngapain masih disini Ndre?" Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.
"Ya, Nungguin Kamu lah. Aku udah satu jam lebih nungguin kamu disini,” ujar Andre.
"Emangnya ada perlu apa sama aku?." Tanyaku kaget sekaligus penasaran.
"Kita kan ada tugas Bahasa Indonesia yang dikumpulkan seminggu lagi. Jadi kita mesti cari materinya mulai dari sekarang. Mau tidak? Kalau tidak mau aku bisa cari sendiri." Jelasnya dengan nada ketus.
"Oh ya, Aku lupa. Tapi cepet banget sih mau cari materinya sekarang. Lagian Bu Tini juga baru ngasih tugasnya tadi pagi. Gimana Kalau besok saja? Hari ini kan akan hujan." Jawabku mencari alasan untuk menolak ajakannya.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa cari materinya sendiri," kata Andre yang terlihat sekali kalau dia kesal denganku.
"Ya sudah deh, aku ikut. Tapi hujan nih." Aku terpaksa menyetujui ajakannya.
"Terus?" Jawabnya cuek.
"Ya masak mau ujan-ujanan sih?" Aku mulai kesal dengan sifat cueknya.
"Ini pake jaket aku biar kamu gak kehujanan." Katanya sambil memberikan jaketnya kapadaku.
"Terus kamu gimana?" Tanyaku merasa tidak enak.
"Ach, tidak usah dipikirin" Dia pun menyalakan motornya dan aku pun segera naik. Ternyata dia baik juga. Batinku dalam hati sambil tersenyum sendiri. Hujanpun semakin deras, Andre memutuskan untuk berteduh di sebuah rumah makan. Kebetulan sekali karena perutku sudah begitu keroncongan. Rumah makan itu begitu unik karena di kelilingi oleh hamparan sawah. Suasananya pun begitu nyaman dan tidak terlalu ramai. Heran kenapa Andre bisa menemukan tempat sebagus ini. Kami duduk di lesehan karena dari situ bisa melihat pemandangan yang begitu indah.
“Kamu pasti belum makan siang kan?" Tanya Andre. Aku heran kenapa dia bisa tahu. Apa dia mendengar perutku keroncongan.
“Kita makan dulu sekalian nunggu hujannya reda, habis itu baru kita cari materi buatnya" Jelasnya panjang lebar.
Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan darinya itu. Kemudian dia mulai memesanmakanan dan aku pun idak mau ketinggalan. Tidak berapa lama setelah kami memesan, akhirnya pesanan itu datang. Aku langsung menyantap nasi dan ayam goreng yang tadi aku pesan itu dengan lahap. Tanpa aku sadari Andre melirik ke arahku dan tersenyum sendiri. Aku tidak pernah membayangkan akanmakan berdua bersama dia. Meskipun kita satu kelas tapi kita berdua tidak pernah bicara ataupun menyapa satu sama lain. Aku yang cenderung cerewet dan dia yang hanya berbicara jika itu perlu. Meskipun aku tidak pernah berbicara dengannya diam-diam aku selalu memperhatikannya. Ketika dia menuliskan rumus-rumus di papan tulis untuk setiap jawaban dari pertanyaan Pak Yanto atau ketika dia sedang mengajari seorang teman yang paham dengan pelajaran terentu. Pantas jika dia selalu mendapatkan juara kelas.
"Makannya biasa aja bisa tidak sih. Tidak usah buru-buru gitu." Dia menegurku. Aku begitu kaget sehingga aku pun tersedak dan batuk-batuk. Dia pun segera menyodorkan air minum kepadaku.
"Makanya kalau di bilangin itu jangan ngeyel." Dia menertawakanku. Aku begitu malu untuk menatapnya.
"Siapa suruh kamu ngagetin aku. Aku kan lagi konsentrasi makan." Kataku kesal.
"Habis ini kita kemana?" Tanyaku setelah selesai makan. Tampaknya hujan juga sudah mulai reda.
Andre hanya diam. Aku hampir kesal karena merasa di cuekin lagi olehnya
"Coba kamu lihat kearah kanan kamu!" Dia menyuruhku dan aku pun menoleh dan mencari-cari apa yang di maksudkan Andre itu. Sampai aku melihat pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah pelangi melingkar di padang sawah, menambah keindahan ciptaan sang kuasa itu.
"Ndre bagus banget" Ku ungkapkan kekagumanku tapi Indre lagi-lagi malah sibuk mengambil sesuatu dalam tasnya. Aku pun tak menghiraukannya dan kembali melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ketika aku menoleh ke arah Andre ternyata dia sudah siap mengambil foto dengan kameranya. "Sejak kapan anak itu suka sama fotograf?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Cepetan berdiri!" Suruhnya kepadaku.
Akupun berdiri kemudian dan dengan cepat dia mengambil fotoku. Aku di suruh bergaya semauku dan aku pun mengikutinya. Gak nyangka ternyata ada sisi lain yang aku tidak tau tentangnya. Sisi lain yang begitu menyenangkan dan nyaman. Hal itu membuatku semakin kagum dan menyukainya.
"Selalu ada sesuatu yang indah di balik hujan. Makanya jangan jadikan hujan sebagai pertanda buruk atau kesialan." kata Andre.
Aku kaget kenapaAndre bisa tahu. Tapi, perkataannya menyadarkanku. Setelah melihat semua keindahan hari ini mungkin aku akan mulai menyukai hujan dan akan selalu menantikannya agar aku bisa melihat kembali pelangi setelah hujan reda.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku benci hujan?" Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Terasa getaran-getaran halus dalam hatiku melihat senyumannya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke perpustakan kota untuk mencari materi untuk tugas. Dari semua kejadian yang aku alami, aku mendapat ide membuat materi yang bertema Hujan dan ternyata Andre tidak keberatan dengan usulku.
Utari Usmawati
Cerpen, Cincin Bernama
Jumat, 12 Oktober 2012
Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.
Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya.
"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"
Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.
"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"
Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!
Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)
Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!
Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.
"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.
"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."
"Boleh aku ikut?"
"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."
"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"
"Ya. Kenal dia?"
"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."
"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."
Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.
"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"
"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."
"Hah…?"
"Apakah permintaanku berlebihan?"
Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"
Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.
"Kau selalu di hatiku," gombalnya.
"Ah, terlalu dalam. Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.
Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.
"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.
"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."
"Ya, kirimkan rindumu padaku."
"Tentu!"
Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!
Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.
"Thing, thung, thing…."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"
"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku….!"
"Ya, suamiku…!"
"Chpmshshmmmm…..!"
"Mmmmuach…!"
Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."
Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya.
"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"
Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.
"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"
Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!
Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)
Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!
Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.
"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.
"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."
"Boleh aku ikut?"
"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."
"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"
"Ya. Kenal dia?"
"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."
"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."
Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.
"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"
"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."
"Hah…?"
"Apakah permintaanku berlebihan?"
Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"
Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.
"Kau selalu di hatiku," gombalnya.
"Ah, terlalu dalam. Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.
Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.
"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.
"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."
"Ya, kirimkan rindumu padaku."
"Tentu!"
Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!
Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.
"Thing, thung, thing…."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"
"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku….!"
"Ya, suamiku…!"
"Chpmshshmmmm…..!"
"Mmmmuach…!"
Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."
***
Temanggung, 2004
Temanggung, 2004
Rini T.S.
Cerpen CINTA 13 HARI
Kamis, 11 Oktober 2012
Icha merebahkan tubuh nya di kursi teras rumah nya , kelihatan sangat lelah sekali , Icha baru pulang sekolah , wajah nya yang merah merona karna terbakar panas matahari tak bisa menyembunyikan rasa lelah dalam dirinya . Tiba- tiba Icha di kejutkan oleh sms dari sahabat nya Renata .
Renata Message :
“cha , ntr mlm jd kan nonton konser nya ?
Harus jadi yach , aku punya 2 tiket nech ?
Icha Message :
“ship dah , :)
Renata Message :
“okey, kita barengan sepupu aku yach dri luar kota ,
Katanya dia mau ikutan nonton “
Icha Message :
“ O.K ,
Icha pun langsung masuk ke kamar nya untuk beristirahat .
Nanti malam adalah acara konser dari group band ternama yaitu BONDAN FEAT FADE 2 BLACK , Kebetulan Icha dan Renata salah satu fans nya Bondan so, wajib nonton tuch .
****
Malam pun ,tiba terlihat Icha sudah siap untuk beranjak pergi bersama Renata .
Setiba nya di rumah Renata , Icha sedikit heran soalnya dirumah Renata sudah di penuhi oleh kumpulan cowok –cowok dan Icha belum mengenal nya sama sekali .
“Eh icha , ngapain bengong di luar , mari masuk, sambut Renata .
“emm, gak kok , sedikit gugup.
“ohw iya cha , kenalin ini Sepupu aku IVAN , yang aku ceritain td siang ,
“Icha , sambil mengulurkan tangan nya ke arah IVAN,
“IVAN , sambil tersenyum ,
Tak lupa juga IVAN juga memperkenalkan teman- teman nya kepada Icha .
Mereka pun berangkat menuju tempat Konser berlangsung .
Terlihat acara sudah di mulai . Icha dan Renata terlihat senang sekali karna bisa menyaksikan langsung konser itu meski agak sedikit jauh dari panggung .
Setengah jam konser telah berlangsung , diam- diam Icha memperhatikan Ivan dari kejauhan ,
Sesekali Ivan senyum ke arah Icha ,
*******
Pagi yang sangat dingin , berhubung cuaca lagi hujan, Icha terasa enggan membuka mata nya , tapi lama kelamaan , Icha pun dengan terpaksa harus bangun dan harus siap- siap untuk berangkat ke sekolah .
Icha pun menuju ke meja makan untuk sarapan , sedang asyik nya Icha menyantap makanan nya itu, tiba – tiba hp Icha bergetar. Dari nomor yang tidak di kenal , dan itu membuat Icha penasaran .
Icha pun membuka pesan itu yang hanya sekedar sapaan selamat pagi .
Tanpa ada inesial pengirim nya .lalu Icha pun menanyakan si pengirim sms itu .
Mereka pun saling balas sms , Ternyata si pengirim sms itu adalah IVAN sepupunya Renata ,tapi sms terhenti saat Icha menyakan dapat Nomor hp nya dari siapa .
Icha sudah menduga kalau Ivan dapat nomor hp nya dari Renata ,secara Renata kan sepupuan sama Ivan . tanpa banyak fikir lagi Icha pun menanyakan hal itu kepada Renata .berhubung Icha dan Renata beda sekolah , Icha hanya bisa menanyakan hal itu kepada Renata lewat sms.
Icha message :
“ta, kmu yach yang ngasi nmr hap aq ke IVAN, sepupu mu itu ?
Renata message :
“ owh , iyac cha, maaf yach aq lupa ngasi tau km sebelum nya,
Piece
Icha message “
“ yach gk p2 sech , cma wkt aq tnya dpt nmr q dr siapa dia nya gk blz lagi ,
Cuek amat !
Renata Message :
“ehehe iyah dia emang rada cuek gt cha , tpi asyik kok anak nya .
Yach lanjutin aja mz an nya , ehheheh
Icha Message :
“ idiiiihhh , cuek gtu ta, gak asyik ta , hemmm
Renata message :
“yach , km blm kenal dia lbh jauh sech , coba aja “
Ehehehe>>>
Icha hanya bisa menarik nafas , melihat sms dari Renata itu , tanpa balik membalas dan berlalu meninggalkan nya .
Icha asyik dengan buku yang di baca nya , tiba- tiba ia teringat pembicaraan Renata tadi pagi ,
Ivan, iyah untuk kali ini Ivan yang jadi sasaran objek di fikiran nya ,
Sikap Ivan yang cuek , membuat Icha penasaran dan ada rasa ingin lebih jauh mengenal nya ,
Lain hal nya dengan Icha yang sudah terkenal rada “bawell “ dan mungkin seluruh dunia juga tau akan kebawelan nya .
*********
Waktu terus berlalu , Icha dan Ivan pun semakin akrab , saling berbagi cerita , Ternyata sifat cuek nya Ivan membuat Icha ingin lebih jauh mengenal nya , ada rasa yang tak biasa yang di rasakan oleh Icha , serasa ada getaran dalam jiwa menggugah seluruh tubuh Icha , inikah cinta ? cinta pada pandangan yang untuk kesekian kalinya .Tak dapat di pungkiri , ternyata Ivan juga merasakan hal yang sama . sifat bawel nya Icha membuat ia merindukan nya , >>
Sungguh perkenalan yang begitu singkat , seiring berjalan nya waktu , Ivan menyatakan perasaan nya kepada Icha , ,,,, dan itu membuat I cha bahagia, ia tidak menyangka ternyata Ivan juga punya rasa yang sama , tapi rasa suka Icha tak membuat Icha begitu saja menerima Ivan, ia pun meminta waktu kepada Ivan untuk memikirkan semuanya . berhubung Icha dan Ivan tinggal berjauhan , hal itu juga lah yang membuat Icha merasa ragu .
******
3 hari berlalu , dan waktu icha memberikan jawaban kepada Ivan , tak dapat di pungkiri , Icha juga tidak dpat membohongi perasaan nya , ia juga suka sama Ivan , dannnnn>>
Icha pun menerima nya . Icha menerima Ivan sebagai pacar nya. Dua hati menyatu dalam satu ikatan cinta , iyach , Ivan dan Icha , dunia seakan menjadi milik berdua, tak ada yang bisa di ungkapkan Icha selain rasa bahagia , yang mengisi relung hati nya .
Tak juga ketinggalan Renata sahabat nya Icha pun ikut senang mengetahui hal itu .
*****
Walaupun Icha dan Ivan terpisah jarak dan waktu , tapi itu tidak menyurutkan niat kedua insan tersebut. Dan mereke punya gelar masing – masing Icha memanggil Ivan dengan sebutan Pangeran Cuek , begitu pula hal nya dengan Ivan memanggil Icha dengan sebutan putri bawel . Itu menambah betapa romantisnya percintaan mereka .
*****
Hari ini Icha merasa perasaan nya tidak enak , keringat dingin bercucuran membasahi tubuh nya , jantung nya berdetag tak menentu . , ia pun hari ini heran akan diri nya , di tambah lagi dari pagi sampai siang begini tidak ada kabar tentang Ivan , tidak seperti biasanya Ivan yang selalu saja sms Icha meski hanya ucapan selamat pagi .
Pelajaran kosong Icha coba untuk sms Ivan , tapi tidak ada balasan .
Icha trus bersabar akan hal ini , “duhh , dsar pangeran cuek , kambuh lagi nech penyakit “gerutu Icha dalam hati . Icha pun meminta tolong kepada sahabat nya Renata untuk coba menghubungi Ivan .
Icha message :
“ta, maaf ganggu , bsa bantu aq gak ? , pliase ???
Renata message :
“gak ganggu kok? Bantu apa, aq usahain .
Icha message :
“gini , Ivan dari td pagi susah d hubungin, yach aku takut aja terjadi sesuatu sama dia , ta ?
Renata message :
Cie- cie , khawatir amat nech putri bawel , oke dech ntr aku coba hubungin dia , “
Icha message :
“huh dasar , yaa udah jangan ngeledek ! mksih sebelum nya , ntr kabarain aq yach , “
******
Icha masih gelisah dengan keadaan ini , dan ia juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal ini ,
Ia juga berharap semoga Ivan si pangeran cuek baik- baik saja .
Icha menarik nafas dan ia pun memutuskan untuk kekantin saja sekedar mengisi perut , berhubung lagi pelajaran kosong . dan ia juga mengajak Dian teman sebangku nya itu , tapi ternyata Dian sedang tidak enak badan , katanya sech kepala nya pusing , badan nya panas. Kemungkinan Dian demam , Icha pun tidak tinggal diam , ia pun membawa Dian ke ruang UKS dengan di bantu oleh beberapa teman sekelas nya .
*******
Setelah dari UKS , Icha pun kembali ke kelas nya dan mengurungkan niat nya untuk ke kantin , tapi ada yang berbeda saat ia kembali ke kelas nya . semua mata tertuju pada nya ada juga yg sedang menertawakan nya .Icha heran , apa ada yang aneh dalam diri nya ? terlihat di pojok kelas si Andre salah satu teman sekelas Icha yang juga rada Jahil sedang memegang hp Icha ,
Oh mai Gat !!!!!! si Andre lagi asyik membacakan sms dari Ivan . Icha pun dengan cepat merebut hp nya kembali .Betapa malu nya Icha saat itu , semua mata tertuju kepada Icha , di tambah lagi isi dari sms itu adalah kata putus dari Ivan.
Hati Icha hancur lebih dari berkeping – keping , .
******
Icha masih duduk di dekat jendela kamar nya , rintikan hujan mewakili hati Icha yang hampir rapuh , Icha masih larut dalam kesedihan nya . dan ia masih tidak bisa percaya bahwa Ivan secepat itu mengakhiri hubungan mereka hanya karna alasan Ivan tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh .Lalu kenapa waktu itu ia ucapkan kata cinta , .
Icha tersenyum sinis , mengingat hubungan nya bersama Ivan hanya sampai 13 hari saja ,
Dan itulah resiko yang harus Icha nikmati sekarang atas keputusan nya .
Icha pun di kejutkan sms dari Ivan yang berisikan kata maaf , dan tidak satupun dari sms Ivan di balas nya .
Malam semakin larut , tpi Icha juga tak bisa memejamkan matanya, Iya pun memutuskan untuk mengambil gitar nya , sekedar menghibur hatinya , mencoba menuliskan tentang perasaan nya , lewat lirik-lirik dan nada –nada jiwanya .
*****
Renata sudah berada di rumah Icha saat itu , tapi Icha masih belum bangun dari tidur nya ,
“cha , banguuuunnnnnnn,Ya ampunn , ,
Icha pun dengan malas nya terpaksa bangun dari tidur nya ,
“cha ni kamar atau apa sech ? berantakan bgt, “ gerutu Renata .
Tiba- tiba Renata melihat selembar kertas yang berisikan liri-lirik lagu, >>
“cha , ini apa? Puisi or lagu ? tanya Renata .
“iseng nulis-nulis lirik semalam, “ jawab Icha.
“wah , keren aku mau kmu nyanyiin ntr , buat aku , sepertinya ne lagu bgs dech ,
Lihat aja lirik nya menyentuh “
“owh ya cha , aku sdah tau apa yag terjadi antara kamu dengan Ivan,
Maafkan sepupu aku yach , maafkan aku juga , “
“ehehe , ya udah gak usah di bahas , biarkan berlalu n gak ada yag perlu d persalahkan, “jawab Icha .
“ yang sabar yach cha, ya dah sekarang siap- siap kan hari ini aku janji mau nemenin kamu ke sekolah buat nyiapin PENSI besok d sekolah kamu , “celoteh Renata .
Owh iya ,sekalian aja cha ni lagu kamu bawain pas PENSI besok , yach … yach ..?”bujuk Renata
“apaa? Gak ! malu di tonton banyak orang , “ jawab Renata .
“ayolah cha , aku kan pengen denger , pliaseeeeee>>>>>>.
“hemmm, kita liat saja besok , “jawab Icha singkat .
***
Hari ini di sekolah Icha ada acara PENSI , yaang biasa di gelar setiap tahun nya , dan hari ini juga Renata datang kesekolah Icha , meski harus bolos dari sekolah nya .
Dan hari ini juga ia akan melihat penampilan Icha , sahabat nya . menyanyikan sebuah lagu yang iya ciptakan semalaman .
Lagu nya tidak sedih , seperti layak nya orang yang sedang patah hati, hanya saja lirik nya sedikit mewakali apa yang di alami Icha “
“|CINTA 13 HARI “
“sungguh bahagia
Dan sungguh tak ku sangka
Saat pertama
Aku kenal dia,
Tak berlangsung lama
Perkenalan antara kita
Dan tiba- tiba saja
Dia katakan cinta
Namun semua hanya sesaat saja
Dan cinta nya hanya sementara
REFF:Terpaksa aku trima semua
Kenyataan yang ada meski sakit yang ku rasa
Cinta nya 13 hari saja
Namun tak mengapa
Ku sedikit bahagia
Mencintai dia ,
Meski hanya 13 hari saja
*******
Semua bertepuk tangan melihat penampilan Icha di atas panggung , cukup menghibur semua yang hadir saat itu, terutama Renata , iya pun langsung memeluk Icha saat icha turun dari panggung .
“chaa kerennn , “
“terima kasih , ta ,jawab Icha .
Ini baru sahabat aku , cukup kuat untuk menghadapi semua nya .
“iya ta, harus , buat apa menyesali yang telah terjadi , aku harus melihat kedepan ta,
Biarkan semua berlalu , n semua menjadi kenangan hidup ku ,”jawab Icha
Icha telah melupakan semua nya, tak akan ada lagi ivan, tak akan ada lagi pangeran cuek di hidUP Icha , trus melangkah kedepan , menyongsong masa depan .
Itu yang sekarang Icha lakukan .
Renata Message :
“cha , ntr mlm jd kan nonton konser nya ?
Harus jadi yach , aku punya 2 tiket nech ?
Icha Message :
“ship dah , :)
Renata Message :
“okey, kita barengan sepupu aku yach dri luar kota ,
Katanya dia mau ikutan nonton “
Icha Message :
“ O.K ,
Icha pun langsung masuk ke kamar nya untuk beristirahat .
Nanti malam adalah acara konser dari group band ternama yaitu BONDAN FEAT FADE 2 BLACK , Kebetulan Icha dan Renata salah satu fans nya Bondan so, wajib nonton tuch .
****
Malam pun ,tiba terlihat Icha sudah siap untuk beranjak pergi bersama Renata .
Setiba nya di rumah Renata , Icha sedikit heran soalnya dirumah Renata sudah di penuhi oleh kumpulan cowok –cowok dan Icha belum mengenal nya sama sekali .
“Eh icha , ngapain bengong di luar , mari masuk, sambut Renata .
“emm, gak kok , sedikit gugup.
“ohw iya cha , kenalin ini Sepupu aku IVAN , yang aku ceritain td siang ,
“Icha , sambil mengulurkan tangan nya ke arah IVAN,
“IVAN , sambil tersenyum ,
Tak lupa juga IVAN juga memperkenalkan teman- teman nya kepada Icha .
Mereka pun berangkat menuju tempat Konser berlangsung .
Terlihat acara sudah di mulai . Icha dan Renata terlihat senang sekali karna bisa menyaksikan langsung konser itu meski agak sedikit jauh dari panggung .
Setengah jam konser telah berlangsung , diam- diam Icha memperhatikan Ivan dari kejauhan ,
Sesekali Ivan senyum ke arah Icha ,
*******
Pagi yang sangat dingin , berhubung cuaca lagi hujan, Icha terasa enggan membuka mata nya , tapi lama kelamaan , Icha pun dengan terpaksa harus bangun dan harus siap- siap untuk berangkat ke sekolah .
Icha pun menuju ke meja makan untuk sarapan , sedang asyik nya Icha menyantap makanan nya itu, tiba – tiba hp Icha bergetar. Dari nomor yang tidak di kenal , dan itu membuat Icha penasaran .
Icha pun membuka pesan itu yang hanya sekedar sapaan selamat pagi .
Tanpa ada inesial pengirim nya .lalu Icha pun menanyakan si pengirim sms itu .
Mereka pun saling balas sms , Ternyata si pengirim sms itu adalah IVAN sepupunya Renata ,tapi sms terhenti saat Icha menyakan dapat Nomor hp nya dari siapa .
Icha sudah menduga kalau Ivan dapat nomor hp nya dari Renata ,secara Renata kan sepupuan sama Ivan . tanpa banyak fikir lagi Icha pun menanyakan hal itu kepada Renata .berhubung Icha dan Renata beda sekolah , Icha hanya bisa menanyakan hal itu kepada Renata lewat sms.
Icha message :
“ta, kmu yach yang ngasi nmr hap aq ke IVAN, sepupu mu itu ?
Renata message :
“ owh , iyac cha, maaf yach aq lupa ngasi tau km sebelum nya,
Piece
Icha message “
“ yach gk p2 sech , cma wkt aq tnya dpt nmr q dr siapa dia nya gk blz lagi ,
Cuek amat !
Renata Message :
“ehehe iyah dia emang rada cuek gt cha , tpi asyik kok anak nya .
Yach lanjutin aja mz an nya , ehheheh
Icha Message :
“ idiiiihhh , cuek gtu ta, gak asyik ta , hemmm
Renata message :
“yach , km blm kenal dia lbh jauh sech , coba aja “
Ehehehe>>>
Icha hanya bisa menarik nafas , melihat sms dari Renata itu , tanpa balik membalas dan berlalu meninggalkan nya .
Icha asyik dengan buku yang di baca nya , tiba- tiba ia teringat pembicaraan Renata tadi pagi ,
Ivan, iyah untuk kali ini Ivan yang jadi sasaran objek di fikiran nya ,
Sikap Ivan yang cuek , membuat Icha penasaran dan ada rasa ingin lebih jauh mengenal nya ,
Lain hal nya dengan Icha yang sudah terkenal rada “bawell “ dan mungkin seluruh dunia juga tau akan kebawelan nya .
*********
Waktu terus berlalu , Icha dan Ivan pun semakin akrab , saling berbagi cerita , Ternyata sifat cuek nya Ivan membuat Icha ingin lebih jauh mengenal nya , ada rasa yang tak biasa yang di rasakan oleh Icha , serasa ada getaran dalam jiwa menggugah seluruh tubuh Icha , inikah cinta ? cinta pada pandangan yang untuk kesekian kalinya .Tak dapat di pungkiri , ternyata Ivan juga merasakan hal yang sama . sifat bawel nya Icha membuat ia merindukan nya , >>
Sungguh perkenalan yang begitu singkat , seiring berjalan nya waktu , Ivan menyatakan perasaan nya kepada Icha , ,,,, dan itu membuat I cha bahagia, ia tidak menyangka ternyata Ivan juga punya rasa yang sama , tapi rasa suka Icha tak membuat Icha begitu saja menerima Ivan, ia pun meminta waktu kepada Ivan untuk memikirkan semuanya . berhubung Icha dan Ivan tinggal berjauhan , hal itu juga lah yang membuat Icha merasa ragu .
******
3 hari berlalu , dan waktu icha memberikan jawaban kepada Ivan , tak dapat di pungkiri , Icha juga tidak dpat membohongi perasaan nya , ia juga suka sama Ivan , dannnnn>>
Icha pun menerima nya . Icha menerima Ivan sebagai pacar nya. Dua hati menyatu dalam satu ikatan cinta , iyach , Ivan dan Icha , dunia seakan menjadi milik berdua, tak ada yang bisa di ungkapkan Icha selain rasa bahagia , yang mengisi relung hati nya .
Tak juga ketinggalan Renata sahabat nya Icha pun ikut senang mengetahui hal itu .
*****
Walaupun Icha dan Ivan terpisah jarak dan waktu , tapi itu tidak menyurutkan niat kedua insan tersebut. Dan mereke punya gelar masing – masing Icha memanggil Ivan dengan sebutan Pangeran Cuek , begitu pula hal nya dengan Ivan memanggil Icha dengan sebutan putri bawel . Itu menambah betapa romantisnya percintaan mereka .
*****
Hari ini Icha merasa perasaan nya tidak enak , keringat dingin bercucuran membasahi tubuh nya , jantung nya berdetag tak menentu . , ia pun hari ini heran akan diri nya , di tambah lagi dari pagi sampai siang begini tidak ada kabar tentang Ivan , tidak seperti biasanya Ivan yang selalu saja sms Icha meski hanya ucapan selamat pagi .
Pelajaran kosong Icha coba untuk sms Ivan , tapi tidak ada balasan .
Icha trus bersabar akan hal ini , “duhh , dsar pangeran cuek , kambuh lagi nech penyakit “gerutu Icha dalam hati . Icha pun meminta tolong kepada sahabat nya Renata untuk coba menghubungi Ivan .
Icha message :
“ta, maaf ganggu , bsa bantu aq gak ? , pliase ???
Renata message :
“gak ganggu kok? Bantu apa, aq usahain .
Icha message :
“gini , Ivan dari td pagi susah d hubungin, yach aku takut aja terjadi sesuatu sama dia , ta ?
Renata message :
Cie- cie , khawatir amat nech putri bawel , oke dech ntr aku coba hubungin dia , “
Icha message :
“huh dasar , yaa udah jangan ngeledek ! mksih sebelum nya , ntr kabarain aq yach , “
******
Icha masih gelisah dengan keadaan ini , dan ia juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal ini ,
Ia juga berharap semoga Ivan si pangeran cuek baik- baik saja .
Icha menarik nafas dan ia pun memutuskan untuk kekantin saja sekedar mengisi perut , berhubung lagi pelajaran kosong . dan ia juga mengajak Dian teman sebangku nya itu , tapi ternyata Dian sedang tidak enak badan , katanya sech kepala nya pusing , badan nya panas. Kemungkinan Dian demam , Icha pun tidak tinggal diam , ia pun membawa Dian ke ruang UKS dengan di bantu oleh beberapa teman sekelas nya .
*******
Setelah dari UKS , Icha pun kembali ke kelas nya dan mengurungkan niat nya untuk ke kantin , tapi ada yang berbeda saat ia kembali ke kelas nya . semua mata tertuju pada nya ada juga yg sedang menertawakan nya .Icha heran , apa ada yang aneh dalam diri nya ? terlihat di pojok kelas si Andre salah satu teman sekelas Icha yang juga rada Jahil sedang memegang hp Icha ,
Oh mai Gat !!!!!! si Andre lagi asyik membacakan sms dari Ivan . Icha pun dengan cepat merebut hp nya kembali .Betapa malu nya Icha saat itu , semua mata tertuju kepada Icha , di tambah lagi isi dari sms itu adalah kata putus dari Ivan.
Hati Icha hancur lebih dari berkeping – keping , .
******
Icha masih duduk di dekat jendela kamar nya , rintikan hujan mewakili hati Icha yang hampir rapuh , Icha masih larut dalam kesedihan nya . dan ia masih tidak bisa percaya bahwa Ivan secepat itu mengakhiri hubungan mereka hanya karna alasan Ivan tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh .Lalu kenapa waktu itu ia ucapkan kata cinta , .
Icha tersenyum sinis , mengingat hubungan nya bersama Ivan hanya sampai 13 hari saja ,
Dan itulah resiko yang harus Icha nikmati sekarang atas keputusan nya .
Icha pun di kejutkan sms dari Ivan yang berisikan kata maaf , dan tidak satupun dari sms Ivan di balas nya .
Malam semakin larut , tpi Icha juga tak bisa memejamkan matanya, Iya pun memutuskan untuk mengambil gitar nya , sekedar menghibur hatinya , mencoba menuliskan tentang perasaan nya , lewat lirik-lirik dan nada –nada jiwanya .
*****
Renata sudah berada di rumah Icha saat itu , tapi Icha masih belum bangun dari tidur nya ,
“cha , banguuuunnnnnnn,Ya ampunn , ,
Icha pun dengan malas nya terpaksa bangun dari tidur nya ,
“cha ni kamar atau apa sech ? berantakan bgt, “ gerutu Renata .
Tiba- tiba Renata melihat selembar kertas yang berisikan liri-lirik lagu, >>
“cha , ini apa? Puisi or lagu ? tanya Renata .
“iseng nulis-nulis lirik semalam, “ jawab Icha.
“wah , keren aku mau kmu nyanyiin ntr , buat aku , sepertinya ne lagu bgs dech ,
Lihat aja lirik nya menyentuh “
“owh ya cha , aku sdah tau apa yag terjadi antara kamu dengan Ivan,
Maafkan sepupu aku yach , maafkan aku juga , “
“ehehe , ya udah gak usah di bahas , biarkan berlalu n gak ada yag perlu d persalahkan, “jawab Icha .
“ yang sabar yach cha, ya dah sekarang siap- siap kan hari ini aku janji mau nemenin kamu ke sekolah buat nyiapin PENSI besok d sekolah kamu , “celoteh Renata .
Owh iya ,sekalian aja cha ni lagu kamu bawain pas PENSI besok , yach … yach ..?”bujuk Renata
“apaa? Gak ! malu di tonton banyak orang , “ jawab Renata .
“ayolah cha , aku kan pengen denger , pliaseeeeee>>>>>>.
“hemmm, kita liat saja besok , “jawab Icha singkat .
***
Hari ini di sekolah Icha ada acara PENSI , yaang biasa di gelar setiap tahun nya , dan hari ini juga Renata datang kesekolah Icha , meski harus bolos dari sekolah nya .
Dan hari ini juga ia akan melihat penampilan Icha , sahabat nya . menyanyikan sebuah lagu yang iya ciptakan semalaman .
Lagu nya tidak sedih , seperti layak nya orang yang sedang patah hati, hanya saja lirik nya sedikit mewakali apa yang di alami Icha “
“|CINTA 13 HARI “
“sungguh bahagia
Dan sungguh tak ku sangka
Saat pertama
Aku kenal dia,
Tak berlangsung lama
Perkenalan antara kita
Dan tiba- tiba saja
Dia katakan cinta
Namun semua hanya sesaat saja
Dan cinta nya hanya sementara
REFF:Terpaksa aku trima semua
Kenyataan yang ada meski sakit yang ku rasa
Cinta nya 13 hari saja
Namun tak mengapa
Ku sedikit bahagia
Mencintai dia ,
Meski hanya 13 hari saja
*******
Semua bertepuk tangan melihat penampilan Icha di atas panggung , cukup menghibur semua yang hadir saat itu, terutama Renata , iya pun langsung memeluk Icha saat icha turun dari panggung .
“chaa kerennn , “
“terima kasih , ta ,jawab Icha .
Ini baru sahabat aku , cukup kuat untuk menghadapi semua nya .
“iya ta, harus , buat apa menyesali yang telah terjadi , aku harus melihat kedepan ta,
Biarkan semua berlalu , n semua menjadi kenangan hidup ku ,”jawab Icha
Icha telah melupakan semua nya, tak akan ada lagi ivan, tak akan ada lagi pangeran cuek di hidUP Icha , trus melangkah kedepan , menyongsong masa depan .
Itu yang sekarang Icha lakukan .
CERITA CINTA
"sayang,kamu serius sama aku?,kamu sayangkan sama aku?,kalau kamu beneran sayank sama aku. Kamu harus bisa buktiin".
"sayang mau bukti apa?pasti aku turuti.aku gak mau kecewain cinta".
Dingin yang menembus ke sum-sum tulang, membuat burung takut terbang keluar dari sangakar, dingin yang menyulap lilin menjadi padam, dingin yang menimbulkan efek embun pada lampu-lampu berwarna kuning berada di pojok-pojok taman, sehingga menambah suasana romantis acara makan malam dua ingsan yang sedang memadu.
"sayang kok diam?sayang pingin bukti apa sih?
Zara tak dapat berkata, bibirnya kelu, batinya merinding, bulu kudunya berdiri. Zara tak dapat berkata, serasa mulutnya terkunci, batinya menciut, ungkapan yang mengurungkan hasrat. Reval tau kekasihnya itu sedang menggigil. Yang dia tahu perempuan di dekatnya itu kedinginan, dia tak tahu pasti apa maksud semua ini, dia tak tahu apa yang terjadi, dia tak tahu isi hati.
"sayang kamu kedinginan?ya sudah kita kedalam yuk!"
Hanya anggukan yang Zara ungkapkan. Ia tak tahu juga apa isi hatinya. Ia hanya pasrah akan keadaan. Yang ia tahu ia sedang berjuang menepis angkara-angkara fikiran negative. Ia hanya menurut pada apa saja yang dikatakan hati. Dengan di gandeng Reval, Zara masuk kedalam rumah bermotifkan paris yang memunculkan efek elegan pada rumah ber dinding warna kalem sehingga menambahkan suasana romantis.
Zara hanya tahu kalau sekarang dia sedang digandeng reval, selebihnya dia tak tahu. Rasanya ditepis keadaan. Dia pun tak tahu kapan dia sampai dikamarnya dan dia tak tahu kapan Reval pulang.
Zara sudah niat untuk ngomong sama Reval hari ini. Dia sudah tekad. Dia harus mengatakanya. Zara pun mengambil ponsel warna pink di meja marmer dekat ranjangnya berwarna pink pula. Tanganya tak mampu mengetik kata. Hanya memandang ponsel nokia black berry itu yang dari tadi Zara lakukan. Zara sendiripun tak mengerti jalan fikiranya. Dia ling-lung akan perasaanya sendiri. Dia tak mengerti.
"Sayang..."
Pesanpun telah terkirim dan telah sampai ke hand phone Reval.
'kau mau apa pasti kan ku beri,kau minta apa akan ku turuti. Walau...'
"aduh,siapa sih malam-malam ganggu orang tidur aja"
Batin Reval dalam hati. Suara dering hand phonenya memaksa tubuh yag letih untuk bangun Reval dengan lunglai dan masih mengantuk mencari sumber suara itu. Dia mencari-cari hand phonenya yang dari tadi masih berada didalam saku celana jeans warn abu-abu yang dipakainya kerumah Zara. Reval langsung melihat dan
'1 message received'
Dan ternyata dari Zara. Reval dengan spontan membuka pesan dari kekasihnya itu karena rasa penasarana apa isi dari pesan itu. Tidak biasanya Zara menghubungi Reval larut malam. Zara yang dikenalnya manja,cantik dan baik hati itu tidak pernah tidur lewat tengah malam.
"Iya sayang, kenapa? Kok tumben belum tidur? Ada apa?"
'message delivered'
Kini waktu menunujuk pukul 1 malam. Angin malam menembus jendela kamar lewat celah-celah kecil diantara ukiran kayu terpahat sangat rapi. Sepoi-sepoi,dingin membuat rasa kantuk Reval semakin menjadi dan nafsu untuk mengukir mimpi ingin dituruti. Tapi di lain ruang ada kekasihnya yang butuh dirinya. Diapun berjuang menepis setan-setan yang merasuki darahnya,mengipas-ngipas kalbunya, membujuk batinya,menarik matanya karena Reval tak mau mengacuhkan pesan kekasihnya.
'kau mau apa pasti kan ku beri,kau minta apa akan ku turuti. Walau harus aku...'
Dering hand phone mengagetkan jantung yang terlelah. Menggerakan tangan untuk meraih sebuah ponsel dan segera membukanya. Berharap rasa penasaran hati akan segera luluh dengan sendirinya. Jari jempol reflek bergerak.
"Aku butuh bukti, kalau kamu beneran sayang sama aku...
Dengan setengah mengantuk Reval membaca pesan rembulan hati yang sangat ia sayang. Reval adalah seorang yang mungkin dikirim tuhan untuk Zara. Reval sangat sayang sama Zara, tak mau mengecewakan Zara, dia selalu berusaha untuk membuat Zara tersenyum dan dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Zara bersedih lebih-lebih sampai air mata rembulan hatinya tak bisa dibendung oleh kelopak mata yang membuat hati Reval damai bila melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang memberi kedamaian ingsan yang memandang, sepasang mata yang mengisyaratkan keteduhan jiwa, sepasang mata yang berwarna coklat muda. Sepasang mata yang saat ini dia miliki dan dia tak akan pernah melepasnya walau yang lain merebutnya. Reval melanjutkan membaca isi pesan Zara...
.....Kamu mau gak aku kasih sebuah tantangan untuk kepastian cintaku?"
Tanpa fikir panjang Revalpun menyetujui tantangan dari kekasihnya.
Dan berharap dia tidak mengecewakan dan bisa memenuhi tantanga Zara dengan baik. Reval pun langsung membalas berharap kekasihnya tak menunggu terlalu lama.
"iya, Reval bener-bener sayang sama Zara. Sayang pingin aku ngelakuin apa?"
"aku pingin kamu hidup tanpa aku selama 1 hari! Tidak ada komunikasi di antara kita selama 1 hari. Aku pingin tau apa yang kamu rasakan. Aku pingin tahu kesungguhan cinta kamu ke aku! Kamu sanggup?"
"kenapa kok gitu sayang?"
"kalau kamu bisa melakukanya aku akan cinta kamu selamanya!"
"iya sayang"
Seharian pun Reval tidak SMS ataupun telefon Zara.
"hmmmmm... Pluto,besok Zara ulang tahun. Aku harus siapin kado spesial buat dia!. Aku pingin dia bahagia!"
Terlihat, Reval sedang berbicara pada sahabat. Sahabat yang mungkin tak pernah dan tak akan menjawab semua keluh Reval. Tapi, dia sahabat yang sangat setia dan mau mendengarkan semua isi hati tuannya. Karena sahabat itu adalah seekor kucing. Kucing yang sangat bersahabat. Dengan di temani cuaca yang tidak bersahabat, langit mendung berwarna abu-abu matang, rintik hujan mulai berjatuhan, matahari menyembunyikan sinar terangnya, Seharian Reval menyiapkan kado untuk hari indah kekasihnya. Dengan hati, Reval menyiapkan semuanya. Dinner romantis dengan ditemani lilin-lilin berbentuk hati, makanan yang Zara suka, biola dengan lagu klasik yang selalu Zara mau tidak mugkin terlupakan dan sebuah cincin cantik berwarna silver dengan dua liontin. Itulah cincin pertunangan yang akan Reval sematkan pada jari manis kekasihnya sebagai tanda ikatan cinta dan kasihnya yang tulus. Tanpa Reval ketahui Zara hanya punya waktu 20 jam untuk hidup karena Zara punya penyakit kangker. Reval tak pernah mengetahui penyakit kekasihnya itu, karena memang Zara tak pernah bercerita. Karena hanya satu alasan, Zara tidak mau kekasihnya sedih.
Dengan hati yang bangga karena yakin akan usahanya, dengan rasa gemetar tapi Reval sadar bahwa ia mempunyai satu rasa yang tak terartikan oleh nya, rasa yang aneh. Reval sudah siap menjemput Zara.
Honda Jazz merah menembus jalan yang sepi, menghamburkan daun yang terjatuh rapi, membelah ruang yang sunyi. Akhirnya honda jazz pun terparkir dipelataran degan suasana yang tidak biasa terjadi.
Reval masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, langkah demi langkah yang berat memaksa kaki untuk berjalan. Hatinya meleleh, seperti Ice Cream yang di telan hawa panas ketika melihat sesosok yang sangat di kenal, pujaan hatinya. Tiba-tiba air mengalir dari kedua matanya, entah siapa yang mengundang. Ketika ia mengetahui ternyata Tuhan telah memanggil Zara. Menjerit sampai tenggorokan kering serak ingin ia ungkapkan ketika sesosok jelita hatinya telah terbaring dengan surat ditanganya.
"kamu berhasil sayang. Bisakah kamu melakukanya setiap hari?
I LOVE U. Aku selalu berdoa, semoga tuhan akan mempertemukan kita di syurga-NYA".
Semoga Cerita Pendek Cinta Romantis bermanfaat bagi anda dan bisa menjadi Motivasi untuk membuat Cerpen yang lebih baik.
"sayang mau bukti apa?pasti aku turuti.aku gak mau kecewain cinta".
Dingin yang menembus ke sum-sum tulang, membuat burung takut terbang keluar dari sangakar, dingin yang menyulap lilin menjadi padam, dingin yang menimbulkan efek embun pada lampu-lampu berwarna kuning berada di pojok-pojok taman, sehingga menambah suasana romantis acara makan malam dua ingsan yang sedang memadu.
"sayang kok diam?sayang pingin bukti apa sih?
Zara tak dapat berkata, bibirnya kelu, batinya merinding, bulu kudunya berdiri. Zara tak dapat berkata, serasa mulutnya terkunci, batinya menciut, ungkapan yang mengurungkan hasrat. Reval tau kekasihnya itu sedang menggigil. Yang dia tahu perempuan di dekatnya itu kedinginan, dia tak tahu pasti apa maksud semua ini, dia tak tahu apa yang terjadi, dia tak tahu isi hati.
"sayang kamu kedinginan?ya sudah kita kedalam yuk!"
Hanya anggukan yang Zara ungkapkan. Ia tak tahu juga apa isi hatinya. Ia hanya pasrah akan keadaan. Yang ia tahu ia sedang berjuang menepis angkara-angkara fikiran negative. Ia hanya menurut pada apa saja yang dikatakan hati. Dengan di gandeng Reval, Zara masuk kedalam rumah bermotifkan paris yang memunculkan efek elegan pada rumah ber dinding warna kalem sehingga menambahkan suasana romantis.
Zara hanya tahu kalau sekarang dia sedang digandeng reval, selebihnya dia tak tahu. Rasanya ditepis keadaan. Dia pun tak tahu kapan dia sampai dikamarnya dan dia tak tahu kapan Reval pulang.
Zara sudah niat untuk ngomong sama Reval hari ini. Dia sudah tekad. Dia harus mengatakanya. Zara pun mengambil ponsel warna pink di meja marmer dekat ranjangnya berwarna pink pula. Tanganya tak mampu mengetik kata. Hanya memandang ponsel nokia black berry itu yang dari tadi Zara lakukan. Zara sendiripun tak mengerti jalan fikiranya. Dia ling-lung akan perasaanya sendiri. Dia tak mengerti.
"Sayang..."
Pesanpun telah terkirim dan telah sampai ke hand phone Reval.
'kau mau apa pasti kan ku beri,kau minta apa akan ku turuti. Walau...'
"aduh,siapa sih malam-malam ganggu orang tidur aja"
Batin Reval dalam hati. Suara dering hand phonenya memaksa tubuh yag letih untuk bangun Reval dengan lunglai dan masih mengantuk mencari sumber suara itu. Dia mencari-cari hand phonenya yang dari tadi masih berada didalam saku celana jeans warn abu-abu yang dipakainya kerumah Zara. Reval langsung melihat dan
'1 message received'
Dan ternyata dari Zara. Reval dengan spontan membuka pesan dari kekasihnya itu karena rasa penasarana apa isi dari pesan itu. Tidak biasanya Zara menghubungi Reval larut malam. Zara yang dikenalnya manja,cantik dan baik hati itu tidak pernah tidur lewat tengah malam.
"Iya sayang, kenapa? Kok tumben belum tidur? Ada apa?"
'message delivered'
Kini waktu menunujuk pukul 1 malam. Angin malam menembus jendela kamar lewat celah-celah kecil diantara ukiran kayu terpahat sangat rapi. Sepoi-sepoi,dingin membuat rasa kantuk Reval semakin menjadi dan nafsu untuk mengukir mimpi ingin dituruti. Tapi di lain ruang ada kekasihnya yang butuh dirinya. Diapun berjuang menepis setan-setan yang merasuki darahnya,mengipas-ngipas kalbunya, membujuk batinya,menarik matanya karena Reval tak mau mengacuhkan pesan kekasihnya.
'kau mau apa pasti kan ku beri,kau minta apa akan ku turuti. Walau harus aku...'
Dering hand phone mengagetkan jantung yang terlelah. Menggerakan tangan untuk meraih sebuah ponsel dan segera membukanya. Berharap rasa penasaran hati akan segera luluh dengan sendirinya. Jari jempol reflek bergerak.
"Aku butuh bukti, kalau kamu beneran sayang sama aku...
Dengan setengah mengantuk Reval membaca pesan rembulan hati yang sangat ia sayang. Reval adalah seorang yang mungkin dikirim tuhan untuk Zara. Reval sangat sayang sama Zara, tak mau mengecewakan Zara, dia selalu berusaha untuk membuat Zara tersenyum dan dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Zara bersedih lebih-lebih sampai air mata rembulan hatinya tak bisa dibendung oleh kelopak mata yang membuat hati Reval damai bila melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang memberi kedamaian ingsan yang memandang, sepasang mata yang mengisyaratkan keteduhan jiwa, sepasang mata yang berwarna coklat muda. Sepasang mata yang saat ini dia miliki dan dia tak akan pernah melepasnya walau yang lain merebutnya. Reval melanjutkan membaca isi pesan Zara...
.....Kamu mau gak aku kasih sebuah tantangan untuk kepastian cintaku?"
Tanpa fikir panjang Revalpun menyetujui tantangan dari kekasihnya.
Dan berharap dia tidak mengecewakan dan bisa memenuhi tantanga Zara dengan baik. Reval pun langsung membalas berharap kekasihnya tak menunggu terlalu lama.
"iya, Reval bener-bener sayang sama Zara. Sayang pingin aku ngelakuin apa?"
"aku pingin kamu hidup tanpa aku selama 1 hari! Tidak ada komunikasi di antara kita selama 1 hari. Aku pingin tau apa yang kamu rasakan. Aku pingin tahu kesungguhan cinta kamu ke aku! Kamu sanggup?"
"kenapa kok gitu sayang?"
"kalau kamu bisa melakukanya aku akan cinta kamu selamanya!"
"iya sayang"
Seharian pun Reval tidak SMS ataupun telefon Zara.
"hmmmmm... Pluto,besok Zara ulang tahun. Aku harus siapin kado spesial buat dia!. Aku pingin dia bahagia!"
Terlihat, Reval sedang berbicara pada sahabat. Sahabat yang mungkin tak pernah dan tak akan menjawab semua keluh Reval. Tapi, dia sahabat yang sangat setia dan mau mendengarkan semua isi hati tuannya. Karena sahabat itu adalah seekor kucing. Kucing yang sangat bersahabat. Dengan di temani cuaca yang tidak bersahabat, langit mendung berwarna abu-abu matang, rintik hujan mulai berjatuhan, matahari menyembunyikan sinar terangnya, Seharian Reval menyiapkan kado untuk hari indah kekasihnya. Dengan hati, Reval menyiapkan semuanya. Dinner romantis dengan ditemani lilin-lilin berbentuk hati, makanan yang Zara suka, biola dengan lagu klasik yang selalu Zara mau tidak mugkin terlupakan dan sebuah cincin cantik berwarna silver dengan dua liontin. Itulah cincin pertunangan yang akan Reval sematkan pada jari manis kekasihnya sebagai tanda ikatan cinta dan kasihnya yang tulus. Tanpa Reval ketahui Zara hanya punya waktu 20 jam untuk hidup karena Zara punya penyakit kangker. Reval tak pernah mengetahui penyakit kekasihnya itu, karena memang Zara tak pernah bercerita. Karena hanya satu alasan, Zara tidak mau kekasihnya sedih.
Dengan hati yang bangga karena yakin akan usahanya, dengan rasa gemetar tapi Reval sadar bahwa ia mempunyai satu rasa yang tak terartikan oleh nya, rasa yang aneh. Reval sudah siap menjemput Zara.
Honda Jazz merah menembus jalan yang sepi, menghamburkan daun yang terjatuh rapi, membelah ruang yang sunyi. Akhirnya honda jazz pun terparkir dipelataran degan suasana yang tidak biasa terjadi.
Reval masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, langkah demi langkah yang berat memaksa kaki untuk berjalan. Hatinya meleleh, seperti Ice Cream yang di telan hawa panas ketika melihat sesosok yang sangat di kenal, pujaan hatinya. Tiba-tiba air mengalir dari kedua matanya, entah siapa yang mengundang. Ketika ia mengetahui ternyata Tuhan telah memanggil Zara. Menjerit sampai tenggorokan kering serak ingin ia ungkapkan ketika sesosok jelita hatinya telah terbaring dengan surat ditanganya.
"kamu berhasil sayang. Bisakah kamu melakukanya setiap hari?
I LOVE U. Aku selalu berdoa, semoga tuhan akan mempertemukan kita di syurga-NYA".
Semoga Cerita Pendek Cinta Romantis bermanfaat bagi anda dan bisa menjadi Motivasi untuk membuat Cerpen yang lebih baik.
Iva Yansikha
Cerpen Romantis, Ku Temukan Pelangi di Tepi danau
“ Angi....maafin Riko. Riko janji....Riko akan kesini lagi didanau ini. Tapi....”
“ Tapi apa Riko??” potong Pelangi.
“ Tapi sekarang Riko harus pergi...” jawab Riko dengan berat hati.
“ Pergi...kemana??” tanya Pelangi tertegun dengan kata-kata Riko.
“ Ke London….” Jawab Riko pendek.
Pelangi menundukkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya itu. Riko sungguh tidak tega meninggalkan sahabat yang disayanginya itu. Sesungguhnya dalam hati Riko menganggap Pelangi lebih dari seorang sahabat. Sayangnya keadaanlah yang membuat Riko enggan mengungkapkan perasaan itu, ketakutannya akan hubungan persahabatan dengan Pelangi akan renggang setelah dia mengungkapkan perasaan itu.
“ Tapi Riko janji…. Riko akan kesini lagi, di danau persahabatan kita ini.” tegas Riko.
Ada sedikit harapan di hati Pelangi untuk bertemu kembali dengan Riko. Tetapi keragu-raguan tetap menyelimuti hati Pelangi. Jarak yang jauh akankah membuat Riko tetap mengingatnya.
“ Ini Riko titip gelang.” ujar Riko sedari melingkarkan gelang berinisial R di tangan kiri Pelangi.
“ Kamu harus jaga gelang ini, kamu nggak boleh ngilangin gelang ini. Gelang ini sebagai tanda janji Riko untuk Pelangi, janji harus Riko tepati nantinya.” Tambah Riko.
Gelang perak berinisial R kini melekat di tangan pelangi. Tak kuasa buliran bening membasahi pipi pelangi. Sebagai gantinya Pelangi memberikan kalung yang terukir nama PELANGI kepada Riko.
“ Buat Riko…. Supaya Riko nggak lupa sama Angi.” Kata pelangi memakaikan kalungnya pada Riko. Riko memegang kalung itu dan memandangi ukiran nama yang menggatung dikalugnya. Kabutpun mulaidatang menyelimuti kalung itu, tidak berapa lama wanita berparas anggun datang menjemput Riko.
“ Rikoo… ayo sayang nanti kita terlambat.” Teriakan mama Riko memecahkan kesunyian.
“ Iya mah…” sahut Riko.
Pelangi semakin sedih saat detik-detik keberangkatan Riko. Rasanya dia ingin ikut bersama-sama Riko. Tapi tidak mungkin Pelangi melakukannya.
“ Riko pergi…. Sampai jumpa lagi saat kita berumur 17 tahun nanti.” Ujar Riko untuk terakhir kalinya kepada Pelangi. Kabut di Danau semakin bertambah tebal mengiringi kepergian Riko. Pelangi hanya bisa menangis mengantar kepergian Riko ke London. Dan sejak saat itu adalah awal semua perubahan kehidupan Pelangi.
******
Hari demi hari dijalani Pelangi tanpa kehadiran Riko. Tak ada canda ataupun kejailan Riko. Pelangi selalu datang ke danau awal persahabatannya dengan Riko. Di danau itu Pelangi memutar kembali memorinya saat-saat bersama Riko. Semua kenangan diputarnya secara perlahan-lahan agar tidak hilang dari ingatannya. Ingin sekali Pelangi cepat-cepat berusia 17 tahun, tak sabar untuk menanti kedatangan Riko yang mengalami banyak perubahan.
Tapi sayang, itu masih 5 tahun lagi dan waktu 5 tahun itu adalah waktu yang sangat lama. Dalam benak Pelangi dia bertanya-tanya mungkinkah Riko masih mengingatnya??
******
Lima tahun genap Riko meninggalkannya. Belum ada kabar sama sekali tentang Riko. Sampaia suatu hari, dimana hari itu adalah hari ulang tahun Pelangi yang ke-17. Pelangi sangat sedih, disaat hari istimewanya itu Riko tidak berada di sini.
“Lima tahun sudah Rik.. kamu pergi,dan hari ini adalah hari ulang tahun ku. Kapan kamu pulang??”ujar Pelangi memandangi foto dirinya bersama Riko saat masih kecil dulu.
Buliran air mata turun dari pelupuk matanya. Pelangi masih setia menunggu sahabatnya itu.Sahabat yang sangat dicintainya,dalam hatinya dia berharap Riko bukan sekedar sahabatnya melainkan orang yang memiliki hatinya.
“Angiiiii….”seruan mamanya memecahkan kegundahan hati Pelangi.
“Iya Mahh…” sahut Pelangi.
“Cepat kesini….., ada surat untukmu” ujar mama.
Pelangi segera menghapus air matanya dan berlari menghampiri mamanya. Dalam hati dia berkata “ Semoga surat dari London, semoga surat dari London.” Pelangi memengang surat itu
Dilihatnya alamat surat itu tertera tulisan dari London. Cepat-cepat pelangi membuka surat itu.
London ,14 Febuary 2010
Untuk
Pelangi tersayang
Salam sayang,
“hai.. Angi”, mungkin kata-kata itu yang tepat ku ucapkan untuk ku ucapkan pertama kali setelah sekian lama aku tak menyapamu.Aku tau kamu pasti marah kepadaku setelah sekian lama aku pergi dan ini surat pertama yang kau terima.Oh..ya sebelumnya , apa kabar Pelangi ??? akuharap kamu disana sehat dan semakin cantik saja.Apa ada laki-laki yang mengisi hatimu?? Semoga saja belum da seseorang mengisi hatimu.(seulas senyum terlukis diwajah Pelangi)
Aku minta maaf baru bisa memberimu kabar sekarang.Sebenarnya sudah lama aku ingin membagi kabar pertama ku saat di London.Tapi apa daya, aku ingin memberimu kabar lewat e-mail tapi aku tak tahu alamat e-mail mu.
Aku tau hari ini kamu genap berusia 17th.Mungkin jika kamu disini kamu sudah berulang tahunkemarin.Aku ingin sekali bercerita bnyak tentang London .Disini cuacanya sangat bertolak belakang dengan di Indonesia, makanannya juga aneh-aneh namanya. Apalagi rasanya,lebih enak masakan si mbok. Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu. Aku harap kamu masih seceria dulu saat-saat kamu masih bersamaku. Sekian dulu surat dariku, aku akan menemuimu di tempat awal kita bertemu dulu. Sebelumnya aku ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pelangiku sayang. Semoga kau sehat selalu. Tolong tunggu aku sebentar saja, aku akan kembali padamu.
Orang yang merindukanmu,
( Riko )
NB: masihkah kau jaga gelang dariku???
Aku harap kau masih memakainya…
Jangan hilangkan gelang itu !!!
Pelangi tak kuasa meneteskan air matanya. Meskipun berulang kali Pelangi menyekanya, air mata itu tetap saja tidak mau berhenti keluar dari matanya. Entah air ,mata kebahagiaanya atau kesedihannya. Pelangi bahagia ternyata Riko tidak pernah melupakan dirinya. Tapi satu hal yang mengganjal hatinya kapankah Riko akan pulang?
******
Hari itu Pelangi berangkat ke sekolah, kebetulan jarak sekolahan cukup jauh. Tapi Pelangi tak mengurungkan niatnya untuk naiksepeda ke sekolahannya. Hari itu bertepatan dengan kepulangan Riko dari London. Riko memang sengaja tidak memberi tahu Pelangi bahwa hari ini dia akan pulang. Dia ingin memberikan kejutan untuk Pelangi. Riko tiba di bandara tepat pukul 08.30 WIB. Senyumannya mengembang saat ia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Indonesia setelah sekian lama dia pergi.
“ Aku pulang Pelangi….” Ujarnya sendiri sambil menatap birunya langit pagi itu.
Riko akan pulang ke rumah lamanya yang telah sekian lama ia tinggalkan dengan mamanya. Selama Riko di London rumah itu dihuni oleh neneknya dan 2 pembantu serta seorang satpam. Semenjak Riko pergi memang jarang pergi berkunjung ke rumah Riko.
Sebuah mobil kijang merah marun menjemput Riko. Pak Karjon menenteng koper Riko dan langsung meluncur.
“ Pak Karjon mampir ke toko boneka dulu ya…” pinta Riko.
“ Iya Den, mau beli boneka buat Non Pelangi ya?” Tanya Pak Karjon.
“ Iya pak…, Pelangi tambah cantik nggak Pak?”
“ Cantik Den, Non Pelangi sering lewat naik sepeda ke sekolah.” jawab Pak Karjon.
Sampai di toko Riko segera membeli sebuah boneka berbentuk kelinci berwarna merah muda, yang rencananya akan diberikan kepada Pelangi malam nanti.
******
“ Pelangiiiiii……… kamu sudah mendapat kabar dari Riko?” Tanya Mama.
“Sudah mah, tapi Angi nggak tahu kapan Riko akan pulang.” Jawab Pelangi. Mamanya mengerutkan dahi karena bingung dengan jawaban Pelangi.
“ Kok gitu??”
“ Ya Angi nggak tahu mah, ya udah deh Angi istirahat dulu ya mah..”
“ Iya udah sana.”
Sore menjelang malam Riko telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Pelangi. Mulai pakaian, diperhatikannya dari ujung rambut sampai kaki tidak dilewati Riko. Neneknya hanya tertawa melihat cucunya yang mendadak fashionable. Akhirnya setelah berjam-jam berdandan, Riko berangkat menuju ke rumah Pelangi.
Riko memacu mobilnya kecepatan yang stabil. Senyumnya tak berhenti mengembang saat melihat boneka kelinci yang akan dberikan pada Pelangi. Sangking senangnya Riko tidak melihat adanya truck dari arah yang berlawanan.
Mobil yang dikendarai Riko keluar dari jalur dan menabrak pohon. Selang kejadiaan itu terdengarlah suara serene yang terdengar parau di telinga Riko.
******
Dirumah, Pelangi memandangi fotonya bersama Riko sewaktu kecil dulu. Senyum tipis muncul di wajah Pelangi mengingat kejadiaan saat kecil dulu. Saat akan diletakkannya foto itu kembali, tiba-tiba saja foto terjatuh. Pelangi kaget bukan main, pikirannya mendadak teringat tentang Riko.
Sementara itu Riko tersadar telah berada di ruang yang aromanya penuh dengan obat. Didapatinya nenek berada di sampingnya, menangis mencemaskan keadaannya.
“ Riko kenapa?” Tanya Riko dengan lemah.
“ Kamu kecelakaaan saat menuju rumah Pelangi.” Jelas nenek.
“ Tapi Riko harus ke rumah Angi sekarang juga.” Ujar Riko bersih keras ingin ke rumah Pelangi.
“ Kamu belum sembuh betul, Nak.”
“ Tapi….”
“ Sudah kamu istirahat saja dulu.” Ucap nenek memotong perkataan Riko.
******
Pagi telah datang, Minggu ini adalah saat yang tenang untuk Pelangi. Entah kenapa mendadak Pelangi ingin pergi ke danau. Di keluarkanya sepeda yang kemudian dikayuhnya menuju danau.
Sementara itu Riko masih terbaring lemah di ranjang. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden jendela tempat Riko dirawat.
“ Danau… Aku ingin kesana.” Ujar Riko ketika terbangun dari tidurnya.
Dengan langkah tertatih Riko keluar dari kamar inapnya. Riko memanggil taxi untuk mengantarnya ke danau. Jika neneknya tahu Riko akan pergi ke Danau, neneknya tidak akan mengizinkannya.
Dalam hitungan jam Riko sampai di danau. Taxi itu meninggalkan Riko yang tertatih menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kabut. Riko melihat sekeliling danau, sedikit ada perubahan pada jembatan danau itu. Senyumnya kembali terlukis di wajahnya melihat tempat kenangan masa kecilnya bersama Pelangi. melihat tempat kenangan masa kecilnya bersama Pelangi. Tak jauh dari jembatan Riko mendapati seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman tepi danau. Dalam hati Riko menebak-nebak “apakah wanita disana itu Pelangi?”. Perlahan-lahan Riko mendekati wanita itu. Rambut berwarna hitam kecoklatan kontras dngan kulit wajah putihnya. Wanita itu memakai switer hijau. Pandangannya menerawang jauh kearah cakrawala.
“Angii…” panggil Riko dengan rasa yang berkecamuk dihatinya.
Wanita itu menoleh kea rah suara yang memanggil namanya. Pelangi menengadakkan kepalanya ke sosok laki-laki bertubuh atletis yang berdiri di depannya. Wajah laki-laki itu terlihat pucat, matanya melihat Pelangi lekat-lekat. Riko melihat gelang yang melingkar di pergelangan wanita itu. Hal itu membuat Riko semakin yakin bahwa wanita itu adalah Pelangi. Pelangi terkejut dengan tingkah laki-laki yang berdiri dihadapannya.
“ Angi…, kamu benar Pelangi?” ujar Riko dengan derai air mata.
Pelangi semakin hera darimana laki-laki itu tahu namanya. Akhirnya Riko menunjukkan kalung yang terukir nama Pelangi untuk meyakinkannya. Pelangi berdiri dari duduknya. Buliran air mata tak terbendung lagi di matanya. Ternyata laki-laki di hadapannya adalah Riko.
“ Ini aku Riko, Pelangi.” Kata Riko dengan suara bergetar.
Pelangi hanya diam menagis sejadi-jadinya.Sungguh idak disangka kalau Riko benar-benar menepati janjinya. Riko menarik tubuh Pelangi kedalam pelukannya. Di danau ini, di tempat ini pertama awal pertemuan dan persahabatan Riko dan Pelangi. Dan di danau ini pula, sekarang Riko dan Pelangi dipertemukan kembali setelah 5 tahun berpisah.
“ Jangan tinggalin aku lagi…..please.” ujar Pelangi sesenggukan di pelukan Riko.
“ Nggak akan… I’ll stay here for you…. Forever.” Jawab Riko.
Sesuatu yang terlihat jauh tak selamanya menjadi jauh. Begitupun dengan orang yang kita sayangi, walau waktu dan jarak yang jauh tidak akan selamanya terpisah. Yakinlah bahwa waktu juga yang akan menyatukan kita kembali.
“ Tapi apa Riko??” potong Pelangi.
“ Tapi sekarang Riko harus pergi...” jawab Riko dengan berat hati.
“ Pergi...kemana??” tanya Pelangi tertegun dengan kata-kata Riko.
“ Ke London….” Jawab Riko pendek.
Pelangi menundukkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya itu. Riko sungguh tidak tega meninggalkan sahabat yang disayanginya itu. Sesungguhnya dalam hati Riko menganggap Pelangi lebih dari seorang sahabat. Sayangnya keadaanlah yang membuat Riko enggan mengungkapkan perasaan itu, ketakutannya akan hubungan persahabatan dengan Pelangi akan renggang setelah dia mengungkapkan perasaan itu.
“ Tapi Riko janji…. Riko akan kesini lagi, di danau persahabatan kita ini.” tegas Riko.
Ada sedikit harapan di hati Pelangi untuk bertemu kembali dengan Riko. Tetapi keragu-raguan tetap menyelimuti hati Pelangi. Jarak yang jauh akankah membuat Riko tetap mengingatnya.
“ Ini Riko titip gelang.” ujar Riko sedari melingkarkan gelang berinisial R di tangan kiri Pelangi.
“ Kamu harus jaga gelang ini, kamu nggak boleh ngilangin gelang ini. Gelang ini sebagai tanda janji Riko untuk Pelangi, janji harus Riko tepati nantinya.” Tambah Riko.
Gelang perak berinisial R kini melekat di tangan pelangi. Tak kuasa buliran bening membasahi pipi pelangi. Sebagai gantinya Pelangi memberikan kalung yang terukir nama PELANGI kepada Riko.
“ Buat Riko…. Supaya Riko nggak lupa sama Angi.” Kata pelangi memakaikan kalungnya pada Riko. Riko memegang kalung itu dan memandangi ukiran nama yang menggatung dikalugnya. Kabutpun mulaidatang menyelimuti kalung itu, tidak berapa lama wanita berparas anggun datang menjemput Riko.
“ Rikoo… ayo sayang nanti kita terlambat.” Teriakan mama Riko memecahkan kesunyian.
“ Iya mah…” sahut Riko.
Pelangi semakin sedih saat detik-detik keberangkatan Riko. Rasanya dia ingin ikut bersama-sama Riko. Tapi tidak mungkin Pelangi melakukannya.
“ Riko pergi…. Sampai jumpa lagi saat kita berumur 17 tahun nanti.” Ujar Riko untuk terakhir kalinya kepada Pelangi. Kabut di Danau semakin bertambah tebal mengiringi kepergian Riko. Pelangi hanya bisa menangis mengantar kepergian Riko ke London. Dan sejak saat itu adalah awal semua perubahan kehidupan Pelangi.
******
Hari demi hari dijalani Pelangi tanpa kehadiran Riko. Tak ada canda ataupun kejailan Riko. Pelangi selalu datang ke danau awal persahabatannya dengan Riko. Di danau itu Pelangi memutar kembali memorinya saat-saat bersama Riko. Semua kenangan diputarnya secara perlahan-lahan agar tidak hilang dari ingatannya. Ingin sekali Pelangi cepat-cepat berusia 17 tahun, tak sabar untuk menanti kedatangan Riko yang mengalami banyak perubahan.
Tapi sayang, itu masih 5 tahun lagi dan waktu 5 tahun itu adalah waktu yang sangat lama. Dalam benak Pelangi dia bertanya-tanya mungkinkah Riko masih mengingatnya??
******
Lima tahun genap Riko meninggalkannya. Belum ada kabar sama sekali tentang Riko. Sampaia suatu hari, dimana hari itu adalah hari ulang tahun Pelangi yang ke-17. Pelangi sangat sedih, disaat hari istimewanya itu Riko tidak berada di sini.
“Lima tahun sudah Rik.. kamu pergi,dan hari ini adalah hari ulang tahun ku. Kapan kamu pulang??”ujar Pelangi memandangi foto dirinya bersama Riko saat masih kecil dulu.
Buliran air mata turun dari pelupuk matanya. Pelangi masih setia menunggu sahabatnya itu.Sahabat yang sangat dicintainya,dalam hatinya dia berharap Riko bukan sekedar sahabatnya melainkan orang yang memiliki hatinya.
“Angiiiii….”seruan mamanya memecahkan kegundahan hati Pelangi.
“Iya Mahh…” sahut Pelangi.
“Cepat kesini….., ada surat untukmu” ujar mama.
Pelangi segera menghapus air matanya dan berlari menghampiri mamanya. Dalam hati dia berkata “ Semoga surat dari London, semoga surat dari London.” Pelangi memengang surat itu
Dilihatnya alamat surat itu tertera tulisan dari London. Cepat-cepat pelangi membuka surat itu.
London ,14 Febuary 2010
Untuk
Pelangi tersayang
Salam sayang,
“hai.. Angi”, mungkin kata-kata itu yang tepat ku ucapkan untuk ku ucapkan pertama kali setelah sekian lama aku tak menyapamu.Aku tau kamu pasti marah kepadaku setelah sekian lama aku pergi dan ini surat pertama yang kau terima.Oh..ya sebelumnya , apa kabar Pelangi ??? akuharap kamu disana sehat dan semakin cantik saja.Apa ada laki-laki yang mengisi hatimu?? Semoga saja belum da seseorang mengisi hatimu.(seulas senyum terlukis diwajah Pelangi)
Aku minta maaf baru bisa memberimu kabar sekarang.Sebenarnya sudah lama aku ingin membagi kabar pertama ku saat di London.Tapi apa daya, aku ingin memberimu kabar lewat e-mail tapi aku tak tahu alamat e-mail mu.
Aku tau hari ini kamu genap berusia 17th.Mungkin jika kamu disini kamu sudah berulang tahunkemarin.Aku ingin sekali bercerita bnyak tentang London .Disini cuacanya sangat bertolak belakang dengan di Indonesia, makanannya juga aneh-aneh namanya. Apalagi rasanya,lebih enak masakan si mbok. Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu. Aku harap kamu masih seceria dulu saat-saat kamu masih bersamaku. Sekian dulu surat dariku, aku akan menemuimu di tempat awal kita bertemu dulu. Sebelumnya aku ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pelangiku sayang. Semoga kau sehat selalu. Tolong tunggu aku sebentar saja, aku akan kembali padamu.
Orang yang merindukanmu,
( Riko )
NB: masihkah kau jaga gelang dariku???
Aku harap kau masih memakainya…
Jangan hilangkan gelang itu !!!
Pelangi tak kuasa meneteskan air matanya. Meskipun berulang kali Pelangi menyekanya, air mata itu tetap saja tidak mau berhenti keluar dari matanya. Entah air ,mata kebahagiaanya atau kesedihannya. Pelangi bahagia ternyata Riko tidak pernah melupakan dirinya. Tapi satu hal yang mengganjal hatinya kapankah Riko akan pulang?
******
Hari itu Pelangi berangkat ke sekolah, kebetulan jarak sekolahan cukup jauh. Tapi Pelangi tak mengurungkan niatnya untuk naiksepeda ke sekolahannya. Hari itu bertepatan dengan kepulangan Riko dari London. Riko memang sengaja tidak memberi tahu Pelangi bahwa hari ini dia akan pulang. Dia ingin memberikan kejutan untuk Pelangi. Riko tiba di bandara tepat pukul 08.30 WIB. Senyumannya mengembang saat ia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Indonesia setelah sekian lama dia pergi.
“ Aku pulang Pelangi….” Ujarnya sendiri sambil menatap birunya langit pagi itu.
Riko akan pulang ke rumah lamanya yang telah sekian lama ia tinggalkan dengan mamanya. Selama Riko di London rumah itu dihuni oleh neneknya dan 2 pembantu serta seorang satpam. Semenjak Riko pergi memang jarang pergi berkunjung ke rumah Riko.
Sebuah mobil kijang merah marun menjemput Riko. Pak Karjon menenteng koper Riko dan langsung meluncur.
“ Pak Karjon mampir ke toko boneka dulu ya…” pinta Riko.
“ Iya Den, mau beli boneka buat Non Pelangi ya?” Tanya Pak Karjon.
“ Iya pak…, Pelangi tambah cantik nggak Pak?”
“ Cantik Den, Non Pelangi sering lewat naik sepeda ke sekolah.” jawab Pak Karjon.
Sampai di toko Riko segera membeli sebuah boneka berbentuk kelinci berwarna merah muda, yang rencananya akan diberikan kepada Pelangi malam nanti.
******
“ Pelangiiiiii……… kamu sudah mendapat kabar dari Riko?” Tanya Mama.
“Sudah mah, tapi Angi nggak tahu kapan Riko akan pulang.” Jawab Pelangi. Mamanya mengerutkan dahi karena bingung dengan jawaban Pelangi.
“ Kok gitu??”
“ Ya Angi nggak tahu mah, ya udah deh Angi istirahat dulu ya mah..”
“ Iya udah sana.”
Sore menjelang malam Riko telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Pelangi. Mulai pakaian, diperhatikannya dari ujung rambut sampai kaki tidak dilewati Riko. Neneknya hanya tertawa melihat cucunya yang mendadak fashionable. Akhirnya setelah berjam-jam berdandan, Riko berangkat menuju ke rumah Pelangi.
Riko memacu mobilnya kecepatan yang stabil. Senyumnya tak berhenti mengembang saat melihat boneka kelinci yang akan dberikan pada Pelangi. Sangking senangnya Riko tidak melihat adanya truck dari arah yang berlawanan.
Mobil yang dikendarai Riko keluar dari jalur dan menabrak pohon. Selang kejadiaan itu terdengarlah suara serene yang terdengar parau di telinga Riko.
******
Dirumah, Pelangi memandangi fotonya bersama Riko sewaktu kecil dulu. Senyum tipis muncul di wajah Pelangi mengingat kejadiaan saat kecil dulu. Saat akan diletakkannya foto itu kembali, tiba-tiba saja foto terjatuh. Pelangi kaget bukan main, pikirannya mendadak teringat tentang Riko.
Sementara itu Riko tersadar telah berada di ruang yang aromanya penuh dengan obat. Didapatinya nenek berada di sampingnya, menangis mencemaskan keadaannya.
“ Riko kenapa?” Tanya Riko dengan lemah.
“ Kamu kecelakaaan saat menuju rumah Pelangi.” Jelas nenek.
“ Tapi Riko harus ke rumah Angi sekarang juga.” Ujar Riko bersih keras ingin ke rumah Pelangi.
“ Kamu belum sembuh betul, Nak.”
“ Tapi….”
“ Sudah kamu istirahat saja dulu.” Ucap nenek memotong perkataan Riko.
******
Pagi telah datang, Minggu ini adalah saat yang tenang untuk Pelangi. Entah kenapa mendadak Pelangi ingin pergi ke danau. Di keluarkanya sepeda yang kemudian dikayuhnya menuju danau.
Sementara itu Riko masih terbaring lemah di ranjang. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden jendela tempat Riko dirawat.
“ Danau… Aku ingin kesana.” Ujar Riko ketika terbangun dari tidurnya.
Dengan langkah tertatih Riko keluar dari kamar inapnya. Riko memanggil taxi untuk mengantarnya ke danau. Jika neneknya tahu Riko akan pergi ke Danau, neneknya tidak akan mengizinkannya.
Dalam hitungan jam Riko sampai di danau. Taxi itu meninggalkan Riko yang tertatih menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kabut. Riko melihat sekeliling danau, sedikit ada perubahan pada jembatan danau itu. Senyumnya kembali terlukis di wajahnya melihat tempat kenangan masa kecilnya bersama Pelangi. melihat tempat kenangan masa kecilnya bersama Pelangi. Tak jauh dari jembatan Riko mendapati seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman tepi danau. Dalam hati Riko menebak-nebak “apakah wanita disana itu Pelangi?”. Perlahan-lahan Riko mendekati wanita itu. Rambut berwarna hitam kecoklatan kontras dngan kulit wajah putihnya. Wanita itu memakai switer hijau. Pandangannya menerawang jauh kearah cakrawala.
“Angii…” panggil Riko dengan rasa yang berkecamuk dihatinya.
Wanita itu menoleh kea rah suara yang memanggil namanya. Pelangi menengadakkan kepalanya ke sosok laki-laki bertubuh atletis yang berdiri di depannya. Wajah laki-laki itu terlihat pucat, matanya melihat Pelangi lekat-lekat. Riko melihat gelang yang melingkar di pergelangan wanita itu. Hal itu membuat Riko semakin yakin bahwa wanita itu adalah Pelangi. Pelangi terkejut dengan tingkah laki-laki yang berdiri dihadapannya.
“ Angi…, kamu benar Pelangi?” ujar Riko dengan derai air mata.
Pelangi semakin hera darimana laki-laki itu tahu namanya. Akhirnya Riko menunjukkan kalung yang terukir nama Pelangi untuk meyakinkannya. Pelangi berdiri dari duduknya. Buliran air mata tak terbendung lagi di matanya. Ternyata laki-laki di hadapannya adalah Riko.
“ Ini aku Riko, Pelangi.” Kata Riko dengan suara bergetar.
Pelangi hanya diam menagis sejadi-jadinya.Sungguh idak disangka kalau Riko benar-benar menepati janjinya. Riko menarik tubuh Pelangi kedalam pelukannya. Di danau ini, di tempat ini pertama awal pertemuan dan persahabatan Riko dan Pelangi. Dan di danau ini pula, sekarang Riko dan Pelangi dipertemukan kembali setelah 5 tahun berpisah.
“ Jangan tinggalin aku lagi…..please.” ujar Pelangi sesenggukan di pelukan Riko.
“ Nggak akan… I’ll stay here for you…. Forever.” Jawab Riko.
Sesuatu yang terlihat jauh tak selamanya menjadi jauh. Begitupun dengan orang yang kita sayangi, walau waktu dan jarak yang jauh tidak akan selamanya terpisah. Yakinlah bahwa waktu juga yang akan menyatukan kita kembali.
Nurul Fajarwati
Cerpen Cinta, Matematika Cinta
“bagaimana anak-anak untuk tugasnya kemarin, apa ada yang sudah selesai?”
Suasana kelas sunyi layaknya di kuburan yang ada hanya malaikat yang mencatat pelajaran eh salah maksudnya mencatat amal baik dan amal buruk, tapi beneran loh sepi banget rasanya ini kelas soalnya setauku ngak ada tu yang selesai tugas dari ms.killer kali ini. Jadi, kalian tau donk rasanya kalau di tatap oleh seseorang dan keringat dingin membanjiri tubuh, tapi yang natap bukan pacar ya! kalau doi yang lihatin gue setahun juga ngak apa-apa deh. Sumpah gue paling ngak tahan di buat malu nah ms.killier ini kalau seandainya jikalau andaikata apabila gue ngak bisa ngerjain itu tugas mau di tarok dimana muka gue yang udah kayak bidadari ini.
Klop banget nih tamingnya, udah semalam gue begadang karena nyoba jawab ini soal yang pada akhirnya masih ngak bisa gue jawab di tambah ini kelas sepi banget sukses bikin gue tidur.
“tok tok tok.” Suara pintu kelas di ketuk *ya iyalah ya pintu kelas masak iya atap kelas*
“assalamualaikum, permisi buk saya murid pindahan ini surat penganyar dari bapak kepsek.”
“oh baiklah, kamu langsung duduk di sebelah puspa perkenalanya nanti saja saya tidak mau jam pelajaran habis untuk hal yang tidak penting.”
“baik bu!”
“tapi sebelumnya kamu pinjam buku di puspa dan kerjakan semua soal itu, ibu ingin buktin kemampuanmu”
What ini guru emang killer banget orang baru pindah sekolah kayak gitu langsung di suruh ngerjain soal tapi untung deh setidaknya gue lepas dari masalah.
“hey permisi saya di suruh ms. Killer pinjem buku matematika kamu.”
“ehm ya nih bukunya, tau darimana loh kalau dia itu ms. Killer?” kami bicara berbisik, soalnya kalau ketauan bisa gaswat.
“dari mukanya kelihatan kok tapi tenang aja loe selamat kok gue bisa ngerjaiinya.”
Cowok itu mengerlingkan sebelah matanya dan gue hanya bisa senyum ngak jelas tapi bodoh amat pokoknya thank you so much.
“ehm puspa, mau aku traktir ngak?”
“loh kamu tau nama aku?” pertanyaan terbodoh yang pernah gue tanyain, tadikan jelas-jelas dia tau dari ms. Killer
“ha?” cowok itu hanya tersenyum “kenapa kamu ngak Tanya nama aku aja. Kamukan belum tau namaku.”
“ha iya benar. Nama…”
“udah telat nanyanya. Langsung aku jawab aja nama aku somad.”
“he?”
“udah ngak usah sok kaget gitu, nama aku emang kampungan tapi baguslah buat melestarikan bahasa betawi, oh ya kalau masalah tampang aku yang indo ini kerena ibu aku orang betawi dan ayah orang aku itu orang betawi juga.”
“loh kok bisa?”
“tuhkan mulai deh ngak connectnya, orang aku udah ketawa dari tadi itu tandannya aku becanda.”
“ooo, hehehe.”
“telat lagi ketawanya. Ke kantin aja deh laper.”
Somad langsung menarik tanganku dan menyeretku ke kantin. Aku hanya bengong, somad langsung melepaskan tanganku saat dia sadar mengenggam tanganku.
“maaf gue ngak maksudnya aku ngak maksud. Ah kok jadi ribet gini kalimatnya.”
“udah ngak usah salting gitu donk mad. Aku tau kok kalau aku itu emang cantik tapi ngak usah segitunya kali.” Aku tersenyum penuh kemenangan akhirnya aku bisa membalas ejekkanya cowok berwajah indo ini.
“hemm dasar.”
“yah kau benar nak, silahkan duduk.”
“makasih buk.”
Sudah beberapa minggu ini aku sukses menyelesaikan tugas matematika dan menjadi salah satu murid kesayangan ms.Killer ehtapi sekarang aku ngak pakai sebutan itu lagi soalnya kata somad kalau mau bisa matematika pertama kita harus berdamai dengan gurunya dan menyayangi pelajaran tersebut. Eh, tau ngak sejak pertama bertemu somad aku dan somad emang udah akrab ngak tau kenapa tapi sepertinya aku punya something dengan somad tapi entahlah, soalnyakan somad itu keren banget seandainya aja ngak ada yang ngefans sama somad tapikan itu tadi ngak mungkin somadkan cakep banget.
“puspa hari ini aku ngak bisa temenin kamu ke toko buku soalnya kau ada acara sama seseorang.”
“siapa?”
“mau tau aja. Ah, atau kamu cemburu ya?”
“kata siapa?”
“kata aku”
“buktinya?’
“itu muka kamu merah. Cielah ayo ngaku.”
“ngak kok beneran.”
“ayo ngaku.”
“beneran soamd, udah pergi sana entar telat lagi.”
“ya udah aku pulang duluan ya, jangan jelous ya.”
“ngak bakalan. Ngak bakalan ngak nangis lihat kamu jalan sama cewek lain.” Aku berkata lirih.
“apa? ngak kedengaran?”
“aku bilang, cepet pergi atau aku lempar pakai sepatu nih.”
Aku hanya mondar-mandir di toko buku, ngak tau kenapa kok bisa gini. Rencananya sih sampai di toko buku aku langsung beli buku terus pulang tapi kok sekarang jadi ngak jelas gini, parahnya lagi aku ingat somad itu cowok lagi apa ya sekarang? Ehm kok kayaknya aku dengar lagunya one time deh tapi kok di toko buku di puter lagu sih? Atau eh iya lupa itukan nada dering hp aku. Somad? Telpon aku? Katanya lagi ngedate?
“halo kenapa?”aku mengangkat telpon dengan suara yang sedikit ketus.
“aduh jangan sok ketus gitu donk suaranya. Masih jelous ya?”
“hallo, kenapa somad? Apa ada yang bisa saya Bantu?”
“bisakah anda menyuruh orang yang bernama puspa untuk membaca sms dari aku sekarang?”
Kapan somad kirim sms ya, kok ngak ada tandanya sih? Iya sih ada sms dari somad
“eh iya ada kok.”
“cepat ya jangan lama-lama.”
Telpon langsung di matikan. Sms teka-teki? Tantangan nih kayaknya, lumayan buat main-main daripada mondar-mandir ngak jelas di sini.
“perpustakan cinta?” aku bengong saat berhasil memecahkan teka-teki yang di berikan somad tadi, aku kira apaan gitu yang surprise ternyata hanya sebuah perpustakaan yah walaupun namanya perpustakaan cinta tapi tetap aja perpustakaan..
“selamat datang di perpustakaan cinta. Karena kamu pengunjung pertama aku punya hadiah.”
“buku matematika?” aku semakin benggong saat di beri hadiah buku ini sangat jauh dari yang aku harapkan.
“makanya jangan lihat hanya pada satu arah.”
“maksudnya?”
“mulai deh ngak connectnya, ya bukunya di baca.”
“sekarang?”
“oh ngak besok aja, ya sekarang baca yang keras.”
“beneran bacayang keras yah? Okey judul Buku Matematika Cin.. ta” aduh kenapa semua yang ada di sini judulnya cinta-cinta semua sih? “standard kompetensi 2011, kata pengantar buku ini di buat untuk memenuhi standard isi hatiku?” aku semakin bingung.
“kenapa ngak di lanjutin?”
“dan dengan segala ke ikhlasan hati maukah kau jadi pacarku?” nah loh apa tadi yang aku baca, ngak salahkan?
“tentu dengan senang hati my princess akhirnya kamu nembak aku juga.”
“ha? Apa tadi kamu bilang? Kapan aku nembak kamu?”
“yeee tulalit banget sih tadikan kamu baca buku.”
“he ngak adil pokoknya ngak adil.”
“ya udah aku yang nembak deh, kamu mau ngak …”
“aku mau kok whit my pleasure.”
“eh emang aku mau bilang apa tadi? Ke gr-an”
“ya udah, aku pulang deh udah sore nih.”
“eh tunggu okey aku serius, kamu mau ngak jadi my princess?”
“apa ngak kedengaran?”
“KAMU MAU NGAK JADI PACAR AKU?”
Kau tau rasanya di tembak seseorang? Seneng banget kata iklan di tv sih serasa melewatin atmosfer cinta dan menuju rasi bintang paling manis.
“iya somad aku mau…”
“mau apa puspa? He? Kamu tidur lagi ya? Keluar dari kelas SE KA RANG”
“ha? Apa buk? Kok saya di kelas buk? Somadnya mana buk?”
“somad-somad kamu keluar SEKARANG”
Yeee jadi tadi Cuma mimpi? Tapi kok mimpi aku panjang banget rasanya dan anehnya kayak nyata aja. Mimpi yang manis. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan mata yang masih setengah terbuka teriakkan ms.killer tadi ternyata ngak cukup buat aku sadar 100% dan walhasil aku menabrak seseorang dan buku-buku yang dia bawa jatuh berserakkan.
“eh kalau jalan pakai mata donk.” Cowok itu memaki ku.
“eh iya maaf ngak sengaja,” aku mencoba membuka mata sepenuhnya dan melihat ke arah orang yang ku tabrak “somad?”
Suasana kelas sunyi layaknya di kuburan yang ada hanya malaikat yang mencatat pelajaran eh salah maksudnya mencatat amal baik dan amal buruk, tapi beneran loh sepi banget rasanya ini kelas soalnya setauku ngak ada tu yang selesai tugas dari ms.killer kali ini. Jadi, kalian tau donk rasanya kalau di tatap oleh seseorang dan keringat dingin membanjiri tubuh, tapi yang natap bukan pacar ya! kalau doi yang lihatin gue setahun juga ngak apa-apa deh. Sumpah gue paling ngak tahan di buat malu nah ms.killier ini kalau seandainya jikalau andaikata apabila gue ngak bisa ngerjain itu tugas mau di tarok dimana muka gue yang udah kayak bidadari ini.
Klop banget nih tamingnya, udah semalam gue begadang karena nyoba jawab ini soal yang pada akhirnya masih ngak bisa gue jawab di tambah ini kelas sepi banget sukses bikin gue tidur.
“tok tok tok.” Suara pintu kelas di ketuk *ya iyalah ya pintu kelas masak iya atap kelas*
“assalamualaikum, permisi buk saya murid pindahan ini surat penganyar dari bapak kepsek.”
“oh baiklah, kamu langsung duduk di sebelah puspa perkenalanya nanti saja saya tidak mau jam pelajaran habis untuk hal yang tidak penting.”
“baik bu!”
“tapi sebelumnya kamu pinjam buku di puspa dan kerjakan semua soal itu, ibu ingin buktin kemampuanmu”
What ini guru emang killer banget orang baru pindah sekolah kayak gitu langsung di suruh ngerjain soal tapi untung deh setidaknya gue lepas dari masalah.
“hey permisi saya di suruh ms. Killer pinjem buku matematika kamu.”
“ehm ya nih bukunya, tau darimana loh kalau dia itu ms. Killer?” kami bicara berbisik, soalnya kalau ketauan bisa gaswat.
“dari mukanya kelihatan kok tapi tenang aja loe selamat kok gue bisa ngerjaiinya.”
Cowok itu mengerlingkan sebelah matanya dan gue hanya bisa senyum ngak jelas tapi bodoh amat pokoknya thank you so much.
“ehm puspa, mau aku traktir ngak?”
“loh kamu tau nama aku?” pertanyaan terbodoh yang pernah gue tanyain, tadikan jelas-jelas dia tau dari ms. Killer
“ha?” cowok itu hanya tersenyum “kenapa kamu ngak Tanya nama aku aja. Kamukan belum tau namaku.”
“ha iya benar. Nama…”
“udah telat nanyanya. Langsung aku jawab aja nama aku somad.”
“he?”
“udah ngak usah sok kaget gitu, nama aku emang kampungan tapi baguslah buat melestarikan bahasa betawi, oh ya kalau masalah tampang aku yang indo ini kerena ibu aku orang betawi dan ayah orang aku itu orang betawi juga.”
“loh kok bisa?”
“tuhkan mulai deh ngak connectnya, orang aku udah ketawa dari tadi itu tandannya aku becanda.”
“ooo, hehehe.”
“telat lagi ketawanya. Ke kantin aja deh laper.”
Somad langsung menarik tanganku dan menyeretku ke kantin. Aku hanya bengong, somad langsung melepaskan tanganku saat dia sadar mengenggam tanganku.
“maaf gue ngak maksudnya aku ngak maksud. Ah kok jadi ribet gini kalimatnya.”
“udah ngak usah salting gitu donk mad. Aku tau kok kalau aku itu emang cantik tapi ngak usah segitunya kali.” Aku tersenyum penuh kemenangan akhirnya aku bisa membalas ejekkanya cowok berwajah indo ini.
“hemm dasar.”
“yah kau benar nak, silahkan duduk.”
“makasih buk.”
Sudah beberapa minggu ini aku sukses menyelesaikan tugas matematika dan menjadi salah satu murid kesayangan ms.Killer ehtapi sekarang aku ngak pakai sebutan itu lagi soalnya kata somad kalau mau bisa matematika pertama kita harus berdamai dengan gurunya dan menyayangi pelajaran tersebut. Eh, tau ngak sejak pertama bertemu somad aku dan somad emang udah akrab ngak tau kenapa tapi sepertinya aku punya something dengan somad tapi entahlah, soalnyakan somad itu keren banget seandainya aja ngak ada yang ngefans sama somad tapikan itu tadi ngak mungkin somadkan cakep banget.
“puspa hari ini aku ngak bisa temenin kamu ke toko buku soalnya kau ada acara sama seseorang.”
“siapa?”
“mau tau aja. Ah, atau kamu cemburu ya?”
“kata siapa?”
“kata aku”
“buktinya?’
“itu muka kamu merah. Cielah ayo ngaku.”
“ngak kok beneran.”
“ayo ngaku.”
“beneran soamd, udah pergi sana entar telat lagi.”
“ya udah aku pulang duluan ya, jangan jelous ya.”
“ngak bakalan. Ngak bakalan ngak nangis lihat kamu jalan sama cewek lain.” Aku berkata lirih.
“apa? ngak kedengaran?”
“aku bilang, cepet pergi atau aku lempar pakai sepatu nih.”
Aku hanya mondar-mandir di toko buku, ngak tau kenapa kok bisa gini. Rencananya sih sampai di toko buku aku langsung beli buku terus pulang tapi kok sekarang jadi ngak jelas gini, parahnya lagi aku ingat somad itu cowok lagi apa ya sekarang? Ehm kok kayaknya aku dengar lagunya one time deh tapi kok di toko buku di puter lagu sih? Atau eh iya lupa itukan nada dering hp aku. Somad? Telpon aku? Katanya lagi ngedate?
“halo kenapa?”aku mengangkat telpon dengan suara yang sedikit ketus.
“aduh jangan sok ketus gitu donk suaranya. Masih jelous ya?”
“hallo, kenapa somad? Apa ada yang bisa saya Bantu?”
“bisakah anda menyuruh orang yang bernama puspa untuk membaca sms dari aku sekarang?”
Kapan somad kirim sms ya, kok ngak ada tandanya sih? Iya sih ada sms dari somad
“eh iya ada kok.”
“cepat ya jangan lama-lama.”
Telpon langsung di matikan. Sms teka-teki? Tantangan nih kayaknya, lumayan buat main-main daripada mondar-mandir ngak jelas di sini.
“perpustakan cinta?” aku bengong saat berhasil memecahkan teka-teki yang di berikan somad tadi, aku kira apaan gitu yang surprise ternyata hanya sebuah perpustakaan yah walaupun namanya perpustakaan cinta tapi tetap aja perpustakaan..
“selamat datang di perpustakaan cinta. Karena kamu pengunjung pertama aku punya hadiah.”
“buku matematika?” aku semakin benggong saat di beri hadiah buku ini sangat jauh dari yang aku harapkan.
“makanya jangan lihat hanya pada satu arah.”
“maksudnya?”
“mulai deh ngak connectnya, ya bukunya di baca.”
“sekarang?”
“oh ngak besok aja, ya sekarang baca yang keras.”
“beneran bacayang keras yah? Okey judul Buku Matematika Cin.. ta” aduh kenapa semua yang ada di sini judulnya cinta-cinta semua sih? “standard kompetensi 2011, kata pengantar buku ini di buat untuk memenuhi standard isi hatiku?” aku semakin bingung.
“kenapa ngak di lanjutin?”
“dan dengan segala ke ikhlasan hati maukah kau jadi pacarku?” nah loh apa tadi yang aku baca, ngak salahkan?
“tentu dengan senang hati my princess akhirnya kamu nembak aku juga.”
“ha? Apa tadi kamu bilang? Kapan aku nembak kamu?”
“yeee tulalit banget sih tadikan kamu baca buku.”
“he ngak adil pokoknya ngak adil.”
“ya udah aku yang nembak deh, kamu mau ngak …”
“aku mau kok whit my pleasure.”
“eh emang aku mau bilang apa tadi? Ke gr-an”
“ya udah, aku pulang deh udah sore nih.”
“eh tunggu okey aku serius, kamu mau ngak jadi my princess?”
“apa ngak kedengaran?”
“KAMU MAU NGAK JADI PACAR AKU?”
Kau tau rasanya di tembak seseorang? Seneng banget kata iklan di tv sih serasa melewatin atmosfer cinta dan menuju rasi bintang paling manis.
“iya somad aku mau…”
“mau apa puspa? He? Kamu tidur lagi ya? Keluar dari kelas SE KA RANG”
“ha? Apa buk? Kok saya di kelas buk? Somadnya mana buk?”
“somad-somad kamu keluar SEKARANG”
Yeee jadi tadi Cuma mimpi? Tapi kok mimpi aku panjang banget rasanya dan anehnya kayak nyata aja. Mimpi yang manis. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan mata yang masih setengah terbuka teriakkan ms.killer tadi ternyata ngak cukup buat aku sadar 100% dan walhasil aku menabrak seseorang dan buku-buku yang dia bawa jatuh berserakkan.
“eh kalau jalan pakai mata donk.” Cowok itu memaki ku.
“eh iya maaf ngak sengaja,” aku mencoba membuka mata sepenuhnya dan melihat ke arah orang yang ku tabrak “somad?”
Septi Minarni
Cerpen Cinta, Antara 3 Cinta
Di suatu sore disebuah rumah makan yang terletak dipusat kota Jakarta, terlihat Riska sedang duduk menyantap makanannya. Tanpa disadarinya terlihat juga sepasang mata memperhatikannya dari sebuah kursi yang tak jauh dari tempat duduknya.
’’eh Reza,disini juga.’’ Sapa Riska saat tersadar ada Reza didekatnya.
‘’iya, boleh aku duduk disitu?’’ jawab Reza.
‘’kenapa tidak…’’ sahut Riska.
Mereka pun mengobrol dan terciptalah keakraban diantara mereka,padahal selama 2 tahun ini mereka satu sekolahan,tapi mereka jarang sekali bertegur sapa, dan entah kenapa hari itu Reza dan Riska terlihat akrab.
‘’besok weekend ya.. kamu ada planing kemana?” Tanya Reza.
“gak ada rencana sih mau kemana. Ya paling jalan sama teman-teman” jawab Riska
Obrolan itu terhenti saat reza menerima telepon, dan dia pamit untuk pulang lebih dulu karena mendapat panggilan untuk menjemput adiknya. Selepas Reza pergi tinggallah Riska duduk sendiri lagi.
“ bosen ah, mendingan aku online dech.”gumam Riska sambil membuka akun facebooknya.
Riska meng-update status yang bertuliskan lirik sebuah lagu yang baru saja didengarnya.
“bodohnya diriku selalu menunggumu yang tak pernah untuk bisa mencintai aku.”
Beberapa saat setelah menulis status itu,mampir sebuah pemberitahuan bahwa Sisil, sahabat dekat Riska mengomentari statusnya.
“siapa sih ka? Kayaknya lagi mendam rasa ‘ma seseorang ya,, cerita dong..”
Rischa memang tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahwa selama ini dia sedang menyimpan rasa pada seseorang. Hanya diari mungilnya yang menjadi saksi bisu gundah gulana hatinya. Dia berusaha mengelak dari pertanyaan Sisil.
“gak kok,itu cuma lirik lagu aja…” jawab Riska.
Memang sudah lama Riska memperhatikan Vino,teman satu sekolahannya, namun tak ada keberanian untuk mengatakannya. Mereka hanya bisa mengobrol seperti teman biasa, dan Riska risih jika harus berhadapan dengan Vino,karena dia harus menutupi rasa gugupnya.
***
“hai Vin,,ujan-ujan gini mau pulang?” Tanya Riska saat bertemu Vino di parkiran sekolah.
“nunggu ujan sih lama, ujan kayak gini biasanya awet loh..” sahut Vino ramah.
“oh,ya udah..hati-hati ya,,,” pesan Riska.
Senyum mengembang di bibirnya karena baru saja berpapasan dengan pujaan hati tercinta. Sesampainya dirumah,Riska masih saja teringat wajah Vino tadi,tiba-tiba dering handphone membuyarkan lamunannya. Satu pesan dari Rian, teman satu sekolahannya.
“hai Ka..lag ngapain? udah makan belum?” begitulah isi sms tersebut.
“ngapain lagi Rian nhi sms,,gak kapok-kapok juga apa.” Batin Riska kesal.
Begitulah Rian, selalu membuat Riska risih dengan sikapnya. Selalu sms gak jelas,gak penting pula. Kalau mereka ketemu, pati selalu saja ada kejahilan yang dibuat Rian kepada Riska. Riska sering dibuat kesal dengan sikap Rian terhadapnya yang dia sendiri tidak tahu apa maksud dan tujuan dari Rian bersikap seperti itu.
“mending aku mikirin Vino. Andai saja Vino yang sms. Aminnnnn,,”gumam riska.
Lagi-lagi Riska meng-update status facebok-nya yang bernada sedih.
“oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu….” Begitulah lirik lagu yang menjadi status facebooknya.
“aduh..ngapain sih mikirin Vino lagi,gak bisa berhenti bentar aja kenapa. Kalau bisa jangan berharap lebih deh sama dia,,lupain aja perasaan ini. Lagian dia juga gak bakalan tau perassan aku kalau aku gak ngasih tau ke dia,kalau aku cuma diem aja. Lagian ternyata susah juga nyimpan rasa ini sendirian.” Batin Riska berbicara sendiri.
Besoknya dia memutuskan untuk menceritakan tentang perasaan gundah gulananya selama ini dengan Deva, sahabatnya.
“udahlah Ka,ngapain sih ngarepin yang gak pasti. Toh, dia kan juga gak tau. Angggap aja kamu itu cuma mengagumi.” Saran Deva.
“ya niatnya sih emang mau ngelupain dia, tapi kan kita satu sekolah. Tiap hari ketemu, gimana caranya ngelupain? Mana tiap ketemu dia,aku jadi lupa sama niatku buat ngelupain dia.”
“waduh,,kenapa jadi aku yang bingung ya? Gini aja, kamu jangan maksain buat ngelupain dia, jalanin aja dulu..siapa tahu lama-lama dia bakalan nangkap sinyal-sinyal kamu dan bakalan tahu perasaan kamu ke dia. Kamu berdo’a aja.”
“eh tapi Va, gue juga ngerasa sinyal-sinyal dari dia. Kadang nih ya,aku sering ngeliatin dia.. eh kadang aku sering ketemu mata sama dia.’
“jangan-jangan tanpa kamu tahu,dia juga sering ngeliatin kamu.”
“hmm…..semoga aja, jadi aku gak galau lagi, ya gak?”
‘amiinn..aku do’ain aja deh.”
***
Pagi yang cerah membuka semangat baru bagi Riska untuk memulai aktivitasnya di sekolah. Lagi-lagi Riska bertemu Rian di koridor sekolah dan Rian lagi-lagi mencoba menggodanya. Dengan sengaja dia menarik tangan Riska hingga Riska tersungkur ke tubuh Rian.
“ih.kamu gak bisa diem apa. Sehari aja gak jahil bisa gak?’ serang Riska garang.
Rian pun hanya membalas dengan senyuman. Dan itu membuat Riska bertambah kesal.
“aduh Va, Rian tuh gak bisa berheti gangguin orang. Tiap malem aja pasti ada sms dari dia,yang isinya tuh gak penting banget.” Cerita Riska kepada Deva.
“wah jangan-jangan dia naksir kamu ka” goda Deva.
“ waduh..aku mohon dengan sangat,,jangan sampai itu terjadi. Aku kan pengennya deketin Vino.kenapa jadi temennya yang kecantol.”
Deva hanya tertawa melihat wajah sahabatnya itu yang sedang gusar.
***
Malam ini Riska merenung sambil mendengarkan lagu favoritnya. Sementara matanya tak beralih dari langit yang berhiaskan bintang berkilauan. Sesekali matanya memandang foto Vino yang kemarin dia curi dari handphone temannya.
“Vin,kapan kamu bisa ngerti perasaan aku,kapan kamu bisa tau? Aku capek mendam rasa ini sendirian Vin.kapan kamu tahu,aku disini nunggu kamu Vin.” Gumam riska.
Untuk menghibur dirinya,dia membuka akun facebook-nya dan ada satu pesan yang ternyata dari Reza dan isinya cukup mengagetkan Riska.
“ ka..i love you.” Riska membaca pesan itu berulang kali.
Besoknya Riska langsung menceritakan itu kepada Deva.
“waduh ka,jangan-jangan Reza……” Deva menggantungkan kalimatnya.
“jangan-jangan apa Va..” Tanya Riska.
“ Ya…jangan dong Va, kemarin Rian,sekarang Reza, coba aja Vino,pasti aku tanggapin dengan senang hati.” Riska mengerti maksud kalimat Deva setelah sesaat berfikir.
“ ya udah deh..aku tahu cintanya Cuma buat Vino seorang, yang lain bisanya ngarep aja deh.” Kata Deva sambil tersenyum.
***
Rasa suka yang dialami Riska terus hadir walaupun dia telah mencoba untuk mengabaikan rasa itu. Tiba-tiba datang Deva mengusik ketenangannya yang sedang merenung.
“ hey, Riska Vino.” Kaget Deva.
“ apaan sih, Riska aja, bukan Riska Vino.”
“bentar lagi juga bakalan jadi Riska Vino” goda Deva.
“Amiinn Ya Allah…..” harap riska.
“eh, kamu tahu gak,aku denger kemarin Vino jalan sama adek kelas kita, si Yessi itu lho.”adu Deva.
“ya terserah dia lah. Aku juga gak akan terlalu berharap banyak sama dia.” Sahut Riska sedikit kecewa.
“loh,tadi baru bilang aminn, sekarang udah gitu lagi.” Goda Deva lagi.
***
Entah kenapa rasa itu perlahan hilang, namun tetap saja sisa-sisa cinta itu masih tertinggal dihati Riska. Suatu saat ketika dia sedang duduk bersama temannya, terlihat Vino dan Rico,teman sekelas Riska sedang ngobrol dan kelihatannya percakapannya serius. Rico pun meninggalkan Vino dan duduk di bangku dekat Riska sambil menggerutu.
“tuh anak bikin kesel aja. Apa sih maunya.” Geram rico.
Riska hanya bisa heran melihat sikap Rico. Tiba-tiba datang lagi Vino menuju kearah Rico. Riska mulai melihat sinyal-sinyal negatif dari wajah Vino.
“wah,dari tampangnya,kayaknya bakal ada perang nih. Gawat, aku harus cegah.” Gumam Riska.
Saat Vino lewat didepannya.
“Vino..jangan,kalian apa-apaan sih.” Cegat Riska.
“aku juga gak tau ka,kayaknya aku gak ngerasa punya salah sama dia,tapi dia ngajak ribut kayaknya.” Jelas Vino berhenti sebentar,lalu meneruskan jalannya ke arah Rico.
Riska hanya bisa melihat mereka dari tempat duduknya.
“loe gak ngehargain cewek Vin,loe gak ngerti perasaan mereka.” Sergah Rico tiba-tiba.
“maksud loe apa?kok ngebahas cewek?”Tanya Vino tak mengerti.
“loe tahu,selama ini diam-diam ada seseorang yang ngarepin loe,nunggu loe. Loe gak tau kan?”
“siapa?”
“loe pikirin aja sendiri.kira-kira siapa orang itu.”
Vino hanya bisa heran dan tampak bingung mendengar perkataan Rico. Dia bertanya-tanya dalam hati,siapa yang dimaksud Rico tadi.
***
Riska tiduran dikamarnya sambil mendengar mp3 di handphonenya.
“ Tuhan,kenapa sat aku mencintai seseorang. Dia tidak bisa membaca apa yang kurasakan. Namun disaat ada seseorang yang membuka hatinya untukku,aku malah tidak bisa merasakan cintanya. Kenapa aku gak bisa dicintai oleh orang yang juga aku cintai.” Gumam Riska.
Dering handphone membuyarkan lamunannya.
“apa mungkin aku hanya bisa berharap tanpa bisa memilikinya.” Riska membaca sms yang ternyata datang dari Rico.
“maksudnya?” Riska bertanya-tanya sendiri.
Otak Riska mulai berimajinasi. Selama ini sikap Rico memang baik dengannya dan mereka cukup akrab.
“ah,tapi gak mungkin. Sikap dia kan cuma sebatas teman aja,gak lebih kok.” Riska menepis pikiran itu.
***
Sementara itu, Vino masih kepikiran dengan ucapan Rico. Dia masih mencari-cari siapa yang diam-diam menunggunya selama ini.
“udah tahu orangnya?” Tanya Rico saat mereka berpapasan di kantin sekolah.
“belum.siapa sih” Tanya Vino.
“yakin mau tahu” Tanya Rico lagi.
“cepetan lah Co,gue penasaran nih.”
“Adelia Priska.alias Riska.”
“gak mungkin Co. loe tau darimana?” Tanya Vino,tidak yakin dengan ucapan Rico.
“gue denger dari mulut dia sendiri saat dia sedang curhat dengan Deva dikelas. Gue gak sengaja denger.sekarang loe tahu kan,dan gue harap loe bisa dewasa nentuin sikap.jangan biarkan dia nunggu loe terus dengan harapan-harapan kosong yang bakal nyakitin dia.” Jelas rico.
“maksudnya?” Vino bertambah bingung.
Pertanyaan itu diabaikan Rico,dan dia berlalu pergi meninggalkan Vino. Akhirnya Vino memutuskan untuk menanyakan sendiri dengan Riska.
“ ka, bener apa yang dibilang Rico kalau selama ini loe diam-diam merhatiin gue?”
Riska pun kaget membaca isi sms yang datang dari Vino tersebut. Dia pun bingung harus menjawab apa, lalu diabaikannya sms Vino.
Besoknya di sekolah, kebetulan Riska berpapasan dengan Vino dan Vino langsung memanfaatkan kesempatan itu.
“ Ka, kenapa semalem kamu gak jawab pertanyaan aku? Bener apa yang dibilang Rico?” sergah Vino.
Tak sengaja Rico lewat dan Vino langsung mencegat Rico.
“ co, jelasin apa yang loe bilang sama gue kemaren?”
“loe tahu darimna Co?” Tanya Riska.
“gue gak sengaja denger curhat loe sama Deva waktu itu.”
“trus kenapa loe bilang semuanya sama Vino.” Tanya Riska lagi,dan Rico pun terdiam.
“ jawab co, kenapa?”
“sampai kapan loe mampu mendam rasa ini sendirian ka. Gue gak mau liat loe sedih karena cinta loe gak pernah dibalas. Bahkan Vino mungkin gak akan tahu kalau gue gak bilang langsung sama dia...” Jelas Rico
“tapi Rico…”
“ gue Cuma mau liat loe seneng Ka.” Potong Rico.
Riska terdiam dan dia menatap Rico.
“maksud loe?” Tanya Riska lagi sambil menatap Rico.
“loe ingat sms gue dulu ke loe. Itu isi hati gue Ka.” Riska teringat sms Rico waktu itu, dan dia menarik nafas perlahan sambil menundukkan kepala.
”karena gue ingin loe bahagia,jadi gue bilang semuanya sama Vino Ka.’ Lanjut Rico lagi.
“Rico…terus gimana…”
“gue gak apa-apa Ka. Asal loe bahagia.” Rico memotong kalimat Riska.
Riska diam dan mengalihkan pandangannya ke arah Vino.
“ Vin.itu semua benar. Tapi itu dulu,dan sekarang gue udah gak ngarepin balasan dari loe lagi. Lagian gue juga gak mau maksa loe buat nerima gue. Karena gue tahu, loe gak akan bisa mencintai gue seperti gue dulu ke loe.” Jelas Riska.
“maksud loe Ka?” Tanya Rico dan Vino serempak.
“ya,gue udah ngubur perasaan itu dalam-dalam. Dan sekarang gue gak lagi ngarepin Vino kok, loe tenang aja Vin. Gue gak akan maksa loe buat suka sama gue lagi.”lanjut Riska.
“sekarang ada orang yang benar-benar sayang sama loe. Apa harapan itu ada untuk dia?” Tanya Vino sambil menunjuk rico.
“jujur gue juga sayang loe Co.sikap loe,kebaikan loe. Itu yang bikin gue juga sayang loe. Tapi gue gak bisa nerusin rasa itu karena gue gak mau persahabatan kita rusak gara-gara itu. Karena loe udah jadi teman aja loe udah bikin gue bahagia kok punya teman kayak loe.” Jelas Riska.
“loe bener ka.persahabatan kita lebih penting.” Jawab Rico.
“lagian,loe masih bisa kok sayang sama Riska sebagai adik.’ Sambung Vino.
“iya dong, gue kan juga sayang sama Rico. Tapi Cuma sebagai sahabat. Loe gak perlu berubah kok sama gue,sikap loe,kebaikan loe. Contohnya sekarag aja.mumpung masih dikantin nih,boleh dong ya mesen satu mangkok aja.laper ni habis klarifikasi tadi.”canda Riska.
“yeee ujungnya gak enak tuh.” Balas Vino.
Dan akhirnya semuanya berkahir bahagia. 3 hati itu tetap bisa saling menyayangi sebagai sahabat.
’’eh Reza,disini juga.’’ Sapa Riska saat tersadar ada Reza didekatnya.
‘’iya, boleh aku duduk disitu?’’ jawab Reza.
‘’kenapa tidak…’’ sahut Riska.
Mereka pun mengobrol dan terciptalah keakraban diantara mereka,padahal selama 2 tahun ini mereka satu sekolahan,tapi mereka jarang sekali bertegur sapa, dan entah kenapa hari itu Reza dan Riska terlihat akrab.
‘’besok weekend ya.. kamu ada planing kemana?” Tanya Reza.
“gak ada rencana sih mau kemana. Ya paling jalan sama teman-teman” jawab Riska
Obrolan itu terhenti saat reza menerima telepon, dan dia pamit untuk pulang lebih dulu karena mendapat panggilan untuk menjemput adiknya. Selepas Reza pergi tinggallah Riska duduk sendiri lagi.
“ bosen ah, mendingan aku online dech.”gumam Riska sambil membuka akun facebooknya.
Riska meng-update status yang bertuliskan lirik sebuah lagu yang baru saja didengarnya.
“bodohnya diriku selalu menunggumu yang tak pernah untuk bisa mencintai aku.”
Beberapa saat setelah menulis status itu,mampir sebuah pemberitahuan bahwa Sisil, sahabat dekat Riska mengomentari statusnya.
“siapa sih ka? Kayaknya lagi mendam rasa ‘ma seseorang ya,, cerita dong..”
Rischa memang tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahwa selama ini dia sedang menyimpan rasa pada seseorang. Hanya diari mungilnya yang menjadi saksi bisu gundah gulana hatinya. Dia berusaha mengelak dari pertanyaan Sisil.
“gak kok,itu cuma lirik lagu aja…” jawab Riska.
Memang sudah lama Riska memperhatikan Vino,teman satu sekolahannya, namun tak ada keberanian untuk mengatakannya. Mereka hanya bisa mengobrol seperti teman biasa, dan Riska risih jika harus berhadapan dengan Vino,karena dia harus menutupi rasa gugupnya.
***
“hai Vin,,ujan-ujan gini mau pulang?” Tanya Riska saat bertemu Vino di parkiran sekolah.
“nunggu ujan sih lama, ujan kayak gini biasanya awet loh..” sahut Vino ramah.
“oh,ya udah..hati-hati ya,,,” pesan Riska.
Senyum mengembang di bibirnya karena baru saja berpapasan dengan pujaan hati tercinta. Sesampainya dirumah,Riska masih saja teringat wajah Vino tadi,tiba-tiba dering handphone membuyarkan lamunannya. Satu pesan dari Rian, teman satu sekolahannya.
“hai Ka..lag ngapain? udah makan belum?” begitulah isi sms tersebut.
“ngapain lagi Rian nhi sms,,gak kapok-kapok juga apa.” Batin Riska kesal.
Begitulah Rian, selalu membuat Riska risih dengan sikapnya. Selalu sms gak jelas,gak penting pula. Kalau mereka ketemu, pati selalu saja ada kejahilan yang dibuat Rian kepada Riska. Riska sering dibuat kesal dengan sikap Rian terhadapnya yang dia sendiri tidak tahu apa maksud dan tujuan dari Rian bersikap seperti itu.
“mending aku mikirin Vino. Andai saja Vino yang sms. Aminnnnn,,”gumam riska.
Lagi-lagi Riska meng-update status facebok-nya yang bernada sedih.
“oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu….” Begitulah lirik lagu yang menjadi status facebooknya.
“aduh..ngapain sih mikirin Vino lagi,gak bisa berhenti bentar aja kenapa. Kalau bisa jangan berharap lebih deh sama dia,,lupain aja perasaan ini. Lagian dia juga gak bakalan tau perassan aku kalau aku gak ngasih tau ke dia,kalau aku cuma diem aja. Lagian ternyata susah juga nyimpan rasa ini sendirian.” Batin Riska berbicara sendiri.
Besoknya dia memutuskan untuk menceritakan tentang perasaan gundah gulananya selama ini dengan Deva, sahabatnya.
“udahlah Ka,ngapain sih ngarepin yang gak pasti. Toh, dia kan juga gak tau. Angggap aja kamu itu cuma mengagumi.” Saran Deva.
“ya niatnya sih emang mau ngelupain dia, tapi kan kita satu sekolah. Tiap hari ketemu, gimana caranya ngelupain? Mana tiap ketemu dia,aku jadi lupa sama niatku buat ngelupain dia.”
“waduh,,kenapa jadi aku yang bingung ya? Gini aja, kamu jangan maksain buat ngelupain dia, jalanin aja dulu..siapa tahu lama-lama dia bakalan nangkap sinyal-sinyal kamu dan bakalan tahu perasaan kamu ke dia. Kamu berdo’a aja.”
“eh tapi Va, gue juga ngerasa sinyal-sinyal dari dia. Kadang nih ya,aku sering ngeliatin dia.. eh kadang aku sering ketemu mata sama dia.’
“jangan-jangan tanpa kamu tahu,dia juga sering ngeliatin kamu.”
“hmm…..semoga aja, jadi aku gak galau lagi, ya gak?”
‘amiinn..aku do’ain aja deh.”
***
Pagi yang cerah membuka semangat baru bagi Riska untuk memulai aktivitasnya di sekolah. Lagi-lagi Riska bertemu Rian di koridor sekolah dan Rian lagi-lagi mencoba menggodanya. Dengan sengaja dia menarik tangan Riska hingga Riska tersungkur ke tubuh Rian.
“ih.kamu gak bisa diem apa. Sehari aja gak jahil bisa gak?’ serang Riska garang.
Rian pun hanya membalas dengan senyuman. Dan itu membuat Riska bertambah kesal.
“aduh Va, Rian tuh gak bisa berheti gangguin orang. Tiap malem aja pasti ada sms dari dia,yang isinya tuh gak penting banget.” Cerita Riska kepada Deva.
“wah jangan-jangan dia naksir kamu ka” goda Deva.
“ waduh..aku mohon dengan sangat,,jangan sampai itu terjadi. Aku kan pengennya deketin Vino.kenapa jadi temennya yang kecantol.”
Deva hanya tertawa melihat wajah sahabatnya itu yang sedang gusar.
***
Malam ini Riska merenung sambil mendengarkan lagu favoritnya. Sementara matanya tak beralih dari langit yang berhiaskan bintang berkilauan. Sesekali matanya memandang foto Vino yang kemarin dia curi dari handphone temannya.
“Vin,kapan kamu bisa ngerti perasaan aku,kapan kamu bisa tau? Aku capek mendam rasa ini sendirian Vin.kapan kamu tahu,aku disini nunggu kamu Vin.” Gumam riska.
Untuk menghibur dirinya,dia membuka akun facebook-nya dan ada satu pesan yang ternyata dari Reza dan isinya cukup mengagetkan Riska.
“ ka..i love you.” Riska membaca pesan itu berulang kali.
Besoknya Riska langsung menceritakan itu kepada Deva.
“waduh ka,jangan-jangan Reza……” Deva menggantungkan kalimatnya.
“jangan-jangan apa Va..” Tanya Riska.
“ Ya…jangan dong Va, kemarin Rian,sekarang Reza, coba aja Vino,pasti aku tanggapin dengan senang hati.” Riska mengerti maksud kalimat Deva setelah sesaat berfikir.
“ ya udah deh..aku tahu cintanya Cuma buat Vino seorang, yang lain bisanya ngarep aja deh.” Kata Deva sambil tersenyum.
***
Rasa suka yang dialami Riska terus hadir walaupun dia telah mencoba untuk mengabaikan rasa itu. Tiba-tiba datang Deva mengusik ketenangannya yang sedang merenung.
“ hey, Riska Vino.” Kaget Deva.
“ apaan sih, Riska aja, bukan Riska Vino.”
“bentar lagi juga bakalan jadi Riska Vino” goda Deva.
“Amiinn Ya Allah…..” harap riska.
“eh, kamu tahu gak,aku denger kemarin Vino jalan sama adek kelas kita, si Yessi itu lho.”adu Deva.
“ya terserah dia lah. Aku juga gak akan terlalu berharap banyak sama dia.” Sahut Riska sedikit kecewa.
“loh,tadi baru bilang aminn, sekarang udah gitu lagi.” Goda Deva lagi.
***
Entah kenapa rasa itu perlahan hilang, namun tetap saja sisa-sisa cinta itu masih tertinggal dihati Riska. Suatu saat ketika dia sedang duduk bersama temannya, terlihat Vino dan Rico,teman sekelas Riska sedang ngobrol dan kelihatannya percakapannya serius. Rico pun meninggalkan Vino dan duduk di bangku dekat Riska sambil menggerutu.
“tuh anak bikin kesel aja. Apa sih maunya.” Geram rico.
Riska hanya bisa heran melihat sikap Rico. Tiba-tiba datang lagi Vino menuju kearah Rico. Riska mulai melihat sinyal-sinyal negatif dari wajah Vino.
“wah,dari tampangnya,kayaknya bakal ada perang nih. Gawat, aku harus cegah.” Gumam Riska.
Saat Vino lewat didepannya.
“Vino..jangan,kalian apa-apaan sih.” Cegat Riska.
“aku juga gak tau ka,kayaknya aku gak ngerasa punya salah sama dia,tapi dia ngajak ribut kayaknya.” Jelas Vino berhenti sebentar,lalu meneruskan jalannya ke arah Rico.
Riska hanya bisa melihat mereka dari tempat duduknya.
“loe gak ngehargain cewek Vin,loe gak ngerti perasaan mereka.” Sergah Rico tiba-tiba.
“maksud loe apa?kok ngebahas cewek?”Tanya Vino tak mengerti.
“loe tahu,selama ini diam-diam ada seseorang yang ngarepin loe,nunggu loe. Loe gak tau kan?”
“siapa?”
“loe pikirin aja sendiri.kira-kira siapa orang itu.”
Vino hanya bisa heran dan tampak bingung mendengar perkataan Rico. Dia bertanya-tanya dalam hati,siapa yang dimaksud Rico tadi.
***
Riska tiduran dikamarnya sambil mendengar mp3 di handphonenya.
“ Tuhan,kenapa sat aku mencintai seseorang. Dia tidak bisa membaca apa yang kurasakan. Namun disaat ada seseorang yang membuka hatinya untukku,aku malah tidak bisa merasakan cintanya. Kenapa aku gak bisa dicintai oleh orang yang juga aku cintai.” Gumam Riska.
Dering handphone membuyarkan lamunannya.
“apa mungkin aku hanya bisa berharap tanpa bisa memilikinya.” Riska membaca sms yang ternyata datang dari Rico.
“maksudnya?” Riska bertanya-tanya sendiri.
Otak Riska mulai berimajinasi. Selama ini sikap Rico memang baik dengannya dan mereka cukup akrab.
“ah,tapi gak mungkin. Sikap dia kan cuma sebatas teman aja,gak lebih kok.” Riska menepis pikiran itu.
***
Sementara itu, Vino masih kepikiran dengan ucapan Rico. Dia masih mencari-cari siapa yang diam-diam menunggunya selama ini.
“udah tahu orangnya?” Tanya Rico saat mereka berpapasan di kantin sekolah.
“belum.siapa sih” Tanya Vino.
“yakin mau tahu” Tanya Rico lagi.
“cepetan lah Co,gue penasaran nih.”
“Adelia Priska.alias Riska.”
“gak mungkin Co. loe tau darimana?” Tanya Vino,tidak yakin dengan ucapan Rico.
“gue denger dari mulut dia sendiri saat dia sedang curhat dengan Deva dikelas. Gue gak sengaja denger.sekarang loe tahu kan,dan gue harap loe bisa dewasa nentuin sikap.jangan biarkan dia nunggu loe terus dengan harapan-harapan kosong yang bakal nyakitin dia.” Jelas rico.
“maksudnya?” Vino bertambah bingung.
Pertanyaan itu diabaikan Rico,dan dia berlalu pergi meninggalkan Vino. Akhirnya Vino memutuskan untuk menanyakan sendiri dengan Riska.
“ ka, bener apa yang dibilang Rico kalau selama ini loe diam-diam merhatiin gue?”
Riska pun kaget membaca isi sms yang datang dari Vino tersebut. Dia pun bingung harus menjawab apa, lalu diabaikannya sms Vino.
Besoknya di sekolah, kebetulan Riska berpapasan dengan Vino dan Vino langsung memanfaatkan kesempatan itu.
“ Ka, kenapa semalem kamu gak jawab pertanyaan aku? Bener apa yang dibilang Rico?” sergah Vino.
Tak sengaja Rico lewat dan Vino langsung mencegat Rico.
“ co, jelasin apa yang loe bilang sama gue kemaren?”
“loe tahu darimna Co?” Tanya Riska.
“gue gak sengaja denger curhat loe sama Deva waktu itu.”
“trus kenapa loe bilang semuanya sama Vino.” Tanya Riska lagi,dan Rico pun terdiam.
“ jawab co, kenapa?”
“sampai kapan loe mampu mendam rasa ini sendirian ka. Gue gak mau liat loe sedih karena cinta loe gak pernah dibalas. Bahkan Vino mungkin gak akan tahu kalau gue gak bilang langsung sama dia...” Jelas Rico
“tapi Rico…”
“ gue Cuma mau liat loe seneng Ka.” Potong Rico.
Riska terdiam dan dia menatap Rico.
“maksud loe?” Tanya Riska lagi sambil menatap Rico.
“loe ingat sms gue dulu ke loe. Itu isi hati gue Ka.” Riska teringat sms Rico waktu itu, dan dia menarik nafas perlahan sambil menundukkan kepala.
”karena gue ingin loe bahagia,jadi gue bilang semuanya sama Vino Ka.’ Lanjut Rico lagi.
“Rico…terus gimana…”
“gue gak apa-apa Ka. Asal loe bahagia.” Rico memotong kalimat Riska.
Riska diam dan mengalihkan pandangannya ke arah Vino.
“ Vin.itu semua benar. Tapi itu dulu,dan sekarang gue udah gak ngarepin balasan dari loe lagi. Lagian gue juga gak mau maksa loe buat nerima gue. Karena gue tahu, loe gak akan bisa mencintai gue seperti gue dulu ke loe.” Jelas Riska.
“maksud loe Ka?” Tanya Rico dan Vino serempak.
“ya,gue udah ngubur perasaan itu dalam-dalam. Dan sekarang gue gak lagi ngarepin Vino kok, loe tenang aja Vin. Gue gak akan maksa loe buat suka sama gue lagi.”lanjut Riska.
“sekarang ada orang yang benar-benar sayang sama loe. Apa harapan itu ada untuk dia?” Tanya Vino sambil menunjuk rico.
“jujur gue juga sayang loe Co.sikap loe,kebaikan loe. Itu yang bikin gue juga sayang loe. Tapi gue gak bisa nerusin rasa itu karena gue gak mau persahabatan kita rusak gara-gara itu. Karena loe udah jadi teman aja loe udah bikin gue bahagia kok punya teman kayak loe.” Jelas Riska.
“loe bener ka.persahabatan kita lebih penting.” Jawab Rico.
“lagian,loe masih bisa kok sayang sama Riska sebagai adik.’ Sambung Vino.
“iya dong, gue kan juga sayang sama Rico. Tapi Cuma sebagai sahabat. Loe gak perlu berubah kok sama gue,sikap loe,kebaikan loe. Contohnya sekarag aja.mumpung masih dikantin nih,boleh dong ya mesen satu mangkok aja.laper ni habis klarifikasi tadi.”canda Riska.
“yeee ujungnya gak enak tuh.” Balas Vino.
Dan akhirnya semuanya berkahir bahagia. 3 hati itu tetap bisa saling menyayangi sebagai sahabat.
Mellytha Afriani
Langganan:
Postingan (Atom)