Post View:
Tampilkan postingan dengan label cerita remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita remaja. Tampilkan semua postingan

Nestapa Cinta

Minggu, 29 Juli 2012


Sal, ipagi ini aku bangun kesiangan lagi, padahal hari ini ada presentasi makalah yang harus aku paparkan di hadapan teman-teman di kampus. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 07.45 WIB, seharusnya hari ini aku masuk lebih awal dari hari-hari biasanya. Aku langsung bergegas mandi, ya namanya sudah telat aku tidak mungkin buang-buang waktu berlamaan di kamar mandi sambil nyaniy-nyanyi, tapi hari ini tanpa itu semua. Selesai mandi aku segera berpakaian dan bersiap-siap menuju kampus. Dalam hatiku sempat merasa jengkel kenapa aku telat bangun padahal aku telah mengaktifkan jam wekker yang ada di kamarku. Lalu aku siap menuju kampus, akupun tak sempat sarapan bersama keluargaku, padahal adat sarapan pagi sangat selalu kami jalani, kalau begini biasanya Mama selalu membekali sarapan untuk kubawa ke kampus karena memang aku jarang sarapan pagi. Padahal dalam keluarga kami ada sebuah adat yang aku tidak tahu sejak aku lahir dari mana datangnya dimana aku harus sarapan bersama keluarga sebelum aku dan yang lainnya meninggalkan rumah setiap pagi. Kemudian sebelum berangkat ke kantor Papaku selalu saja menyampaikan nasehat kepada kami agar kami giat belajar dan bekerja keras seperti dirinya. Sudah sering nasehat itu-itu saja yang kudengar di telingaku sampai-sampai aku merasa bosan dengan perkataan itu. Tapi namanya anak kampus yang mulai tumbuh dewasa, aku tidak terlalu peduli semua itu, aku merasa mampu membimbing diriku sendiri. Sedangkan orang tua memang sudah menjadi tugas mereka membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga menjadi anak yang dapat dibanggakan kelak.

Tanpa pamit pada mereka aku pun langsung meninggalkan rumah dan mengambil motor usang ku di garasi yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi. Ya motor usang itu aku beri nama Joko, nama itu yang kurasa pantas untuk motor kesayanganku. Papaku pernah berkata bahwa motor ini dulu ia pakai saat kami masih dalam keadaan yang sangat susah. Baginya motor ini bernilai sejarah tersendiri, dan aku menyukainya, tapi aku tidak memperdulikan hal itu, yang jelas aku sangat tertarik dengan si joko. Papaku sempat menawari mobil mewah seperti kakak-kakak ku, karena mereka diberi satu-satu oleh papa. Tapi aku tidak begitu peduli dengan semua itu, aku merasa mengendarai si joko lebih asyik untuk menikmati udara pagi dengan bebas, udara segar yang dapat memberi semangat yang besar padaku. Di kampus tidak sedikit teman-teman yang selalu mengatakan padaku kenapa aku tidak terima tawaran papaku itu, agar mereka bisa jalan bareng denganku. Teman gua Dodi pernah bilang, "wah kalau gua jadi anak seorang pengusaha ternama seperti lo Al, gua minta ama bokap mobil keluaran terbaru merk Ferrari gitu loh, cewek-cewek pasti pada nempel". Tapi kata-kata itu tidak sedikitpun membuatku terpengaruh. Aku tetap suka si Joko motor usang kesayanganku. Tetap juga cewek-cewek bisa ku ajak jalan dengan si Joko.

Pagi itu tampak jalan raya sangat padat sekali, aku tidak tahu pasti apa penyebabnya, padahal di hari-hari sebelumnya jalan raya tampak lengang dan aku bersama Joko bebas berlalu lalang dengan leluasa. Banyak kendaraan yang terperangkap oleh macet. Sempat aku berfikir apakah mereka juga telat bangun sepertiku.ha...ha...ha...tapi aku mulai menepis apa yang ada difikiranku saat itu, yang seharusnya aku ingat adalah presentase yang akan aku paparkan pagi ini. Sial ! dalam hati aku kembali bergumam bahwa hari ini aku memulai sandiwara lagi. Karena hari-hariku penuh dengan sandiwara, mulai aku bangun hingga aku tidur kembali. Aku terus mengamati sekeliling jalan raya yang macet, aku melihat ada seorang bapak tengah baya sedang mengendarai motor yang sedang mengantar anaknya bersekolah serta istrinya ke pasar ramai, aku tidak tahu apakah ia merasa ikhlas mengantar anak dan istrinya sama seperti yang aku lakukan, ya seperti sandiwara. Bisa saja ia takut dengan istrinya. ”Ah dasar fikiran ngaco!”, sergahku. Di sisi lain aku juga melihat ada seorang petugas polisi yang tampak tergesa-gesa, dalam benakku mungkin ia ada apel pagi hari ini atau ia malah cepat-cepat menuju lampu merah terdekat untuk menilang para pelanggar pengguna jalan raya sekalian mencari uang masuk baginya. Sebagian polisi yang berada di kota tempat kutinggal acapkali bersikap seperti itu. Aku berfikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah tugas mereka sebagai aparat keamanan atau tugas tambahan yang mereka buat sendiri demi meraih keuntungan pribadi. Terkadang hal ini membuatku tertawa sendiri saat melihat mereka di jalan raya. Tanpa sengaja aku melihat seorang bapak yang hendak mengantar anaknya ke sekolah serta mengantar sang isteri ke pasar. Saat mereka ditilang oleh petugas polisi yang sedang mengatur lalu lintas tepat di pinggir lampu merah, memang isteri dan anaknya tidak mengenakan helm kecuali si Bapak karena ia sebagai pengendara motornya, mungkin setelah mengantar keduanya ia akan langsung berangkat bekerja. Dengan wajah yang tampak tegas polisi tersebut memberi hormat.

" Selamat pagi Pak!"

" Pagi”. Jawab sang Bapak

"Bapak telah melanggar peraturan, jadi terpaksa Bapak saya tilang"

"Dengan terpaksa si Bapak pun meminggir"

Aku melihat dari kejauhan terjadi negosiasi diantara keduanya, aku pun tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, yang aku lihat sangat jelas sang Bapak merogoh koceknya dengan mengeluarkan uang pecahan Rp.20.000,-, kemudian ia diizinkan berlalu bersama anak dan isterinya. Ha..ha..ha..lagi-lagi sandiwara itu mulai dimainkan oleh polisi tadi. Tapi aku yakin tidak semua aparat kepolisian memiliki mental seperti itu, ada juga petugas yang ramah atau ia tidak mengambil atau meminta yang bukan menjadi haknya. Inilah mental polisi yang pantas kita acungi jempol dan berhak mendapatkan penghargaan dari Negara atas baktinya pada masyarakat.

Akhirnya aku sampai juga di kampusku tercinta, sebuah kampus dimana aku akan mempresentasikan makalahku pagi ini. Aku memang telat beberapa waktu, agaknya aku harus kelihatan benar-benar sibuk agar teman-temanku mengira bahwa aku benar-benar telah menguasai makalah itu. Padahal ini adalah sandiwara yang telah aku rancang sebelumnya setiap kali ada presentasi makalah. Aku pun bergegas masuk kedalam kelas dan duduk tepat di samping Dodi, anak laki-laki yang lebih tinggi dariku dan anak seorang pengusaha batik ternama di Solo. Aku tidak tahu mengapa ia bisa sampai ke tempat ini dan menjadi teman sekampusku, yang jelas dalam pergaulan ia anak yang baik. Lalu ia pun menyapaku menyentak.

"Gimana Al makalah lo, udah ready kan?"

Dengan berpura-pura kelihatan sibuk aku pun membuka tas dan mencari dimana makalahku.

”Oh sudah Dod, emang kenapa?”, tanyaku kembali

”Gua kira lo belum selesai, Al”

"Ya sudah lah, secara Aldie gitu loh…..!

Tak lama dosen yang kami tunggupun datang dan menuju kelas, untungnya ia sedikit terlambat hari ini, sehingga aku tak perlu mendengar ceramah-ceramahnya yang sangat membosankan sama seperti ceramah yang selalu di sampaikan orang tuaku setiap pagi. Ia masuk lalu duduk dan memanggil namaku untuk mempresentasikan makalah. Dengan wajah yang sangat serius aku pun maju ke depan dan memaparkan semua yang ada dalam makalah itu dengan singkat dan tepat. Setelah itu sebelum di ambil alih oleh dosen, langsung saja aku persilahkan teman-temanku untuk mengajukan pertanyaan seputar pemaparanku tadi. Kali ini ada tiga orang yang akan bertanya yaitu Selvi, Andi dan Dodi. Syukurnya ketiga pertanyaan itu dapat aku jawab dengan mulus serta aku sebutkan beberapa pengarang buku terkenal agar mereka yakin kalau aku banyak mengetahui tentang apa yang mereka tanyakan. Akhirnya teman-teman dalam sekelas memberiku applause yang sangat meriah karena mereka puas dengan apa yang telah aku sampaikan. Dari hatiku yang paling dalam aku sembari tersenyum, ternyata aku mampu memainkan sandiwara ini dengan baik. Pelajaran pun selesai, Dosen segera meninggalkan kelas kami sambil berkata, "Aldie kamu akan saya beri nilai A karena makalah kamu sangat bagus dan menarik".

Keadaan ini sering aku dapatkan dari setiap apa yang aku lakukan hingga membuat teman-temanku yang lainnya merasa iri padaku, apalagi beberapa dosen sering mengatakan seperti itu di depan kelas. Kebiasaan dalam kehidupan anak kampus kami seringkali nongkrong bareng teman-teman di kantin yang berada di belakang kampus, sekalian mengamati cewek-cewek yang berlalu lalang keluar masuk kantin. Saat itu Dodi, teman sekelasku itu selalu memanggil beberapa cewek yang ia kenal dan kemudian mengenalkannya padaku. Sungguh aku tak mampu menolak atas perkenalan pada cewek-cewek yang dikenalkan Dodi, ya mumpung rezeki kenapa mesti kutolak, kali-kali aja diantara mereka ada yang dapat aku ajak jalan, walau hati kecil terkadang menolak untuk menerima perkenalan itu. Ini semua dikarenakan Dodi selalu saja mengatakan padaku, "Buat apa wajah tampan, anak seorang pengusaha terkenal kalau tidak bisa menaklukkan yang namanya wanita, ha..ha...”. ”Ya Dod tapi sekali-sekali lo kenalkan juga tuh si Rizal dengan cewek-cewek teman lo itu, biar ia tidak ngerasa minder sama teman yang lain, ayahnya juga kan seorang pengusaha sepatu terkenal di Surabaya”. Liburan kampus ke Bali tahun lalu kami sekelas sempat singgah di rumahnya Rizal. Rizal sudah lama ku anggap sebagai sahabat dekatku. Dalam hidup percintaannya ia tidak pernah gonta-ganti pacar apalagi selingkuh alias setia. Tidak seperti aku dan Dodi yang sibuk ngapalin nama cewek-cewek setiap malam minggu untuk diapelin. Rizal memang benar-benar setia pada Selvi, nama pacarnya itu, seorang gadis asli Bojonegoro yang cantik dan berkulit putih, sungguh menawan laksana seperti putri seorang Raja. Bahkan sekarang Rizal telah bertunangan dengan Selvi, anak seorang Direktur sebuah Bank Swasta di Surabaya. Dalam waktu dekat setelah habis masa persidangan kuliah, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.

Biginilah hari-hariku di kampus yang penuh dengan sandiwara, bahkan dalam percintaan pun aku juga harus bersandiwara. Karena bukan hanya satu wanita yang aku ajak kencan, dalam satu minggu saja aku bisa ngecengin enam bahkan tujuh cewek. Wanita laksana baju yang selalu aku ganti dalam mengenakannya. Bila aku bosan dengan mereka dengan mudah aku mendapatkan penggantinya. Inilah aku yang telah dicap sebagai seorang Playboy oleh teman-temanku. Sebenarnya aku benci dibilang Playboy, tapi aku hanya bungkam atas apa yang mereka katakan, karena sesungguhnya aku memang Playboy. Kalau saja aku bisa memilih, dalam hidupku. sebagai seorang lelaki aku juga mempunyai kriteria wanita yang aku idam-idamkan dalam hidupku, yaitu wanita yang punya karakter kuat dan tidak memandangku bahwa aku anak seorang konglomerat. Hari-hari pun terus berganti, hari-hari bersama cewek-cewek yang telah aku pacari, bahkan sama sekali tidak seorangpun yang kucinta, yang ada hanya untuk kesenangan semu belaka. Aku bosan dengan keadaan ini dan sandiwara cinta yang ku lakoni selama ini dan permainan yang kubuat sendiri. ”Aku bosan Tuhan, tunjukilah jalan-Mu padaku, jalan yang terbaik dari-Mu”, rintihku dalam hati.

Suatu ketika tanpa sepengetahuan ku, Papaku membelikan aku sebuah mobil mewah bermerk Porsche, yang ia hadiahkan di saat ulang tahunku tepatnya ketika aku berumur 24 tahun, padahal selama ini ia tidak pernah memberiku hadiah semahal itu setiap aku berulang tahun. Hanya saja Papaku sering mengajakku bersama Mama dan kakakku berkeliling Eropa saat musim semi di sana. Sebagai anak bungsu aku merasa bahagia karena memiliki orang tua yang sebaik Mama dan Papaku serta kakak-kakakku yang menyayangiku. Dan itulah yang membuat aku makin mencintai mereka. Mobil yang ia belikan untukku adalah mobil yang sudah lama aku idam-idamkan selama ini. Hal ini pastilah sangat membahagiakan diriku. Mobil itu langsung saja aku coba dan mengendarainya untuk yang pertama kali, karena kali ini aku tidak mau Papaku merasa kecewa. Dengan berat hati terpaksa aku tinggalkan si Joko, motor kesayanganku yang selama ini selalu setia menemaniku ke mana saja di garasi rumahku. Ia terlihat seperti barang rongsokan di tengah mesin-mesin modern yang super cepat lajunya. Tapi aku tidak membuangnya bahkan menjualnya. Aku menyimpannya sebagai kenangan. Namun apa yang terjadi selanjutnya, dengan mobil itu pula makin banyak cewek-cewek yang naksir berat malah sampai mereka sendiri yang datang kepadaku untuk diajak jalan bersama. Mereka layaknya seperti perangko yang selalu menempel pada suratnya yaitu aku. Tak dapat aku pungkiri derajatku semakin tinggi dalam pandangan mereka. Wajah ok, penampilan ok, anak orang kaya dan bermobil mewah, rasanya sudah lengkap hidupku ini. Aku terus saja menghamburkan uang bersama cewek-cewek yang tak jelas ujung dan pangkal kemauannya. Dalam hidup ini sebenarnya aku memiliki ambisi yang sangat besar serta cita-cita yang sangat tinggi. Sebuah ambisi dimana kebahagiaan akan kuraih dalam hidupku dan cita-cita yang telah aku tanam dalam sanubariku ketika aku mulai duduk di bangku perkuliahan. Saat ini aku benar-benar merasa bosan dengan kehidupanku yang penuh warna kebohongan dan panggung sandiwara. Betapa aku sangat menginginkan ada sesuatu yang dapat merubah kembali kehidupanku menjadi lebih baik dan benar di masa yang akan datang. “Ya nanti pasti waktu itu akan tiba“, bathinku berkata.

Selasa itu, aku masih mengingatnya, hari yang benar-benar merubah hidupku. Waktu itu Porsche yang aku kendarai tiba-tiba menabrak seorang wanita di jalan raya. Saat itu aku lagi sendirian di mobil. Aku tidak menggunakan jasa sopir, padahal Papaku telah menyiapkan seorang sopir yang akan menemaniku. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku mendengar wanita itu menjerit, aku lihat ia terjatuh hingga terhempas lalu terbaring tepat di depan roda mobilku. Aku sempat memandang disekelilingku, sepi. Aku pun segera melaju meninggalkan wanita itu sendirian. Saat aku lewati tubuhnya yang terkapar sampai tak sadarkan diri, aku sempat melihat wajahnya sekilas, ada sesuatu yang mengusik benakku, aku terlonjak kaget. Tiba-tiba saja kakiku menginjak keras pedal rem mobilku, hingga mobilku mendadak berhenti. Aku memutar haluan mobilku kembali, segera aku keluar dan mengangkat tubuhnya dan meletakkan di kursi belakang mobilku dan langsung aku larikan ke rumah sakit terdekat. Jantungku berdebar kencang, aku berharap tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kala itu aku duduk di koridor rumah sakit. Aku termenung sesaat ketika melihat ia terbaring belum sadarkan diri. ”Oh...Tuhan selamatkan dia”.., Do’aku mengiba. ”Apa yang telah aku lakukan!!”, bentak batinku. ”Aku merasa kasihan padanya”, jeritku dalam hati. Ku pandangi gadis berjilbab motif mozaik turki yang ia kenakan. Jilbab itu masih menutup rambutnya. Aku melarang perawat untuk membukanya. ”Biarkan saja suster, biarkan jilbab itu terus melekat”. Dalam hatiku aku sadar ia pastilah seorang yang taat agamanya dan sangat menghargai jilbab dan auratnya. Tadi Dokter sempat memberitahukan padaku bahwa ia tidak mengalami luka yang serius, ia hanya mengalami kejutan pada jantungnya.

Dua hari aku berada di rumah sakit, berarti dua hari aku absent di kampus dan dua hari aku tak pulang ke rumah. Ini pasti tidak masuk akal. Sudah dua hari ini aku bersama-sama keluarga gadis itu, ya gadis itu bernama Ainy. Dua hari ini juga ia belum siuman. Kulihat wajah ibunya yang sangat terpukul dan sedih, aku tahu kemarin malam ia tidak tidur menunggu anaknya yang terbaring, ia sempat melaksanakan shalat tahajjud memohon kesembuhan anaknya. Oh, hatiku menjerit, tak mampu aku menahan air mataku yang mulai tumpah. Kini aku hanya dapat melihat. Aku juga ingin bertahajjud bersama ibunya, tapi aku merasa malu, karena aku tak pernah melakukannya. Siang itu aku diajak sholat dzuhur berjamaah oleh adiknya yang laki-laki., Bahrum namanya, ia baru berusia 7 tahun, adiknya sempat bercerita mengenai kehidupan mereka, ternyata Ainy dan Adiknya sudah lama ditinggal ayahnya kira-kira 6 tahun yang lalu. ”Sholat!”, aku kaget. Sudah lama sekali aku tidak pernah melakukan sholat, tapi hati kecilku terhenyak bagai hipnotis yang mempengaruhiku, ku ikuti langkah kecilnya menuju musholla rumah sakit. Tiba-tiba ia berbelok ke kanan menuju kamar mandi. ”Mau kemana?”, tanyaku pelan, “mau berwudhu mas”, jawabnya ringan. “Oh iya”, balasku lirih. Aku baru ingat jika sholat itu wajib berwudhu’. Hari itu aku sholat dzhuhur berjamaah bersama adiknya Ainy, sudah sekian lama aku tidak pernah menunaikan sholat, aku merasa hari ini seperti pertama kali kalinya aku sholat. Selesai sholat kami pun bergegas keluar dari Musholla. ”Mas, sudah berdo’a untuk kakak?”, tanya Bahrum. ”Su...Sudah....”, jawabku berbohong. Ia tersenyum di hadapanku. Tak kusadari hatiku berkata, ”Ya Allah, Siapa pun Engkau, Yang bisa menjawab do’a, kabulkan do’aku, sadarkanlah Ainy ya Tuhan dari tidurnya, aku mohon pada-Mu”.

Hanya berselang 5 menit dari saat berdo’a, Bahrum tiba-tiba memanggilku, “Mas, Kak Ainy sudah siuman”. ”Oh iya, Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan do’aku”, jawabnya bahagia. Aku langsung bergegas masuk ke ruangan inap Ainy. Sungguh aneh perasaan ini, betapa aku merasakan kebahagiaan yang tak dapat aku lukiskan dalam hatiku. Sesaat ibunya berkata, ”Nak Aldie inilah orang yang telah membawamu ke rumah sakit, dia yang telah menyelamatkanmu Ainy dan menanggung semua perawatan dan pengobatanmu”. Terima kasih mas Aldie”, ucap Ainy pelan. ”Iya, mudah-mudahan kamu segera sembuh”, jawabku tunduk. Aku tertunduk merasa bersalah pada Ainy dan keluarganya, karena aku telah berbohong pada mereka. Bibirku kelu hingga aku tak dapat berkata bahwa akulah orang yang telah menabraknya hari itu. Aku terpaksa mengaku sebagai penolongnya, ”dasar biadab”, teriakku dalam hati. Sungguh aku benar-benar seorang yang nista, tak berani jujur pada kenyataan yang sebenarnya.

Empat hari sudah waktu berlalu, selama itu aku terus saja menemani Ainy dan keluarganya hingga membuatku lupa akan segalanya, rumah, kampus, bahkan kehidupan playboyku. Aku merasa bahagia bila berada di samping Ainy, sungguh aku tidak ingin melihatnya bersedih. Rasanya aku tak tega melihatnya terbujur sakit bahkan terluka. ”Perasaan apa ini ya Allah?”, tanyaku dalam hati. Rumahku sekarang adalah rumah sakit tempat dimana Ainy dirawat. Belum juga aku pulang ke rumah mewahku. Ya pastilah kedua orang tuaku mengkhawatirkan aku, karena sejak empat hari yang lalu HP-ku ketinggalan di rumah. Tadi malam aku ketiduran di Musholla. Aku bermimpi, aku melihat wajah ayunya sangat lama. Ainy gadis muslimah berjilbab emas, meskipun aku melihatnya dari kejauhan. Wajahnya tampak berseri dan memberiku kedamaian. Mungkinkah aku mencintainya? tapi aku sangat merasakannya, ya rasa itu kini hadir dihatiku. Inikah yang disebut perasaan yang dapat dielakkan. Terbesit kata dalam hatiku bahwa aku akan lakukan apa saja untuk membuatnya bahagia. Kini aku harus jujur kepada Ainy bahwa akulah yang telah menabraknya.

Hari kelima, Ainy memanggilku. Hanya ada aku dan dia dalam ruangan inap itu. Bahrum dan ibunya belum datang. Sesaat ia tersenyum dihadapanku, aku tertunduk beku, kesombonganku terasa hancur berkeping saat melihat keteduhan wajahnya, aku sempat gugup dan hanya berkata terbata, tak kusangka ada selaput air yang bercokol di pelupuk mataku. Ya seorang playboy seperti aku ini berdiri kaku tak berdaya seperti anak kehilangan induknya di depan Ainy. “Duduklah Mas“, pinta Ainy tiba-tiba. Aku langsung duduk tak jauh darinya. Kakiku merasa keram seperti lumpuh dan badan sedikit bergetar, dan dia mulai bicara, “Ainy ingin berterima kasih sama mas Aldie karena telah menyelamatkan nyawa Ainy“. Sejurus aku terdiam atas penuturan Ainy. Aku makin membisu, kini aku pasrah dan takluk di hadapannya. “Sekarang ini Ainy ingin pulang Mas, Ainy sudah tidak tahan bertarung melawan penyakit ini, sampaikan salam Ainy pada Ibu dan Bahrum“. Aku tersentak atas ucapan Ainy. Kemudian ia mengucapkan kalimat tauhid di hadapanku, lalu memejamkan mata. Aku membangunkannya, namun ia tidak juga bangun, berkali-kali aku terus memanggilnya, tak juga ia menjawab. Suasana pun lengang seperti alam syahdu, jernih tapi sangat membingungkan. Aku diam, wajahku pucat pasi, perasaanku sedih, marah, tak rela, panik dan aku ingin sekali menjerit dan menangis sekuat-kuatnya. Segera aku memanggil Dokter jaga saat itu. “Tolong Dokter, tolong selamatkan ia Dok, aku mohon!“, pintaku mengiba. “sabar....sabar mas, akan saya usahakan dan saya minta Anda keluar sebentar“, jawab Dokter singkat. Tak lama Dokter keluar dari ruangan dan lalu berkata, “Maaf, jiwanya tidak tertolong, ia sudah tiada“. Aku menjerit di ruangan itu sendiri, ku lihat Ibu dan Bahrum belum juga datang. Aku sempat meminta pada petugas rumah sakit untuk menelepon keluarga Ainy. Aku menangis histeris, hingga air mataku menetes di kain selimut Ainy. Padahal aku belum pernah menangis seperti ini. “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, tapi kini ia telah Kau ambil kembali“, jerit bathinku. Sementara Ibu dan Bahrum baru saja tiba dan tangisan pun memecah kesunyian ruangan dimana jasad Ainy terbujur kaku. Tapi ia terlihat senyum dengan damai.

“Ya Allah.........Ya Tuhan, Siapa pun Engkau, Yang bisa menjawab do’aku, kali ini aku bermohon untuk yang kedua kalinya, hidupkanlah Ainy kembali, jangan pisahkan aku dengannya”, pintaku memelas. Rasanya aku ingin saja menyusul bersamanya. Air mataku terus saja mengalir. Ku selesaikan semua urusan administrasi rumah sakit, aku berpamit pada Ibu dan Bahrum yang masih dalam keadaan duka. Aku tahu saat itu badanku terasa amat letih. Ku laju mobilku tanpa arah dan tujuan seakan-akan haluan hidupku telah patah. Kini cinta yang sesungguhnya telah pergi untuk selama-lamanya. Kemudian aku berhenti di sebuah warung di pinggir jalan, badanku terasa remuk redam, mataku perih karena kebanyakan menangis. Pikiranku galau, kini aku pasrah pada hidupku selanjutnya. Rasanya ingin sekali Ainy hidup kembali dan aku berkata kepadanya bahwa aku mencintainya. Hatiku perih tak terkira. Dan tiba-tiba dunia terasa gelap gulita...aku pingsan seketika.

Setelah beberapa bulan sejak peristiwa itu, aku menjadi semakin dekat dengan Allah Azzawajalla, Tuhan yang telah menghidupkan dan mematikan manusia. Di tangan-Nya lah kekuasaan hidup dan mati setiap makhluk. Aku pun selalu melaksanakan sholat lima waktu bahkan tahajjud di malam harinya. Aku berharap Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini. Dalam setiap do’aku, aku selalu berdo’a buat Ainy dan keluarga. Kini aku yakin dan berharap suatu hari nanti akan ada Ainy-Ainy yang lain yang dapat aku petik sebagai bunga hidupku dan aku dapat menjadi pria yang lebih baik di depan semua orang. Sejak kejadian itu, aku pun mulai menyadari yang dahulu adalah salah dan aku sangat menghargai yang namanya wanita...

Zaini Yazid

Alumnus PPMDH TPI Medan

Jln.Pelajar No.44

Cerita Cinta, Belahan Hati

Selasa, 29 Mei 2012

Yahya Rifandaru

Itulah yang selalu ada dalam pikiranku akhir-akhir ini. Semenjak aku tidak berhubungan lagi dengannya, aku merasakan rindu yang mendalam. Aku seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini.
Teman-teman memanggilku dengan julukan "marmud". Entah apa maksudnya. Tapi nggak masalah, yang penting keakraban.
Musim panen telah tiba. Ujian yang diselenggarakan oleh setiap kampus menelurkan bibit mahasiswa baru. Seperti biasa, calon mahasiswa harus meminta izin pada para penghuni lama. Mereka harus kenal dengan seniornya.
Mereka berusaha mendapatkan tanda tangan. Itulah tradisi yang biasa kami jalankan setiap tahun.
Wow, pandanganku terpaku pada seseorang yang berdiri di tengah kerumunan calon mahasiswa.
"Yud, kamu tahu cewek rambut panjang yang pakai kacamata itu? Kayaknya aku pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana ya?" Yudi menjawab, "Ah, itu mah dejavu! Aku juga sering mengalami hal seperti itu," katanya.
"Iya, tapi yang ini lain!" timpalku. "Hei Mud, udah deh, nggak usah ngayal melulu. Entar juga kan dia nyamperin kita buat minta tanda tangan. Kalau kamu memang udah kenal dia, kita lihat aja nanti," kata Yudi.
Hingga masa perkenalan selesai, aku belum kenal sama dia. Nggak terasa satu semester aku lalui dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester genap sudah berjalan dua minggu, tugas-tugas kuliah menumpuk.
"Permisi Mas, selamat malam." Di saat aku lagi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, seseorang berdiri di balik pintu dan tersenyum.
"Lagi ngapain? Serius amat sih?" Aku nggak tahu harus ngomong apa.
"Kok nggak dipersilakan masuk?" Setengah sadar setengah nggak, aku mempersilakan tamuku masuk. Aku sungguh nggak menyangka. Saat itu, aku hampir melupakannya. Eh, malah dia muncul di depan pintu kamarku.
"Tahu alamatku dari mana?" "Dari teman-teman," jawabnya.
Lalu kami berkenalan. Dia biasa dipanggil Nyaa oleh teman-temannya. Kami ngobrol panjang lebar. Dia seperti sudah kukenal sebelumnya, obrolan kami nyambung.
Ternyata, tujuan utamanya datang ke tempat kosku adalah untuk pinjam gunting. Katanya untuk mengerjakan tugasnya. Yang aku nggak habis pikir, kenapa nggak pinjam ke teman lain. Ah, tapi itu nggak penting. Yang penting aku bisa kenalan dengannya. Sungguh, bergulirnya roda nasib memang nggak bisa diprediksi.
Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Satu semesterpun berlalu. Ujian akhir semester juga sudah selesai. Hasilnya cukup memuaskan meski agak berat. Ini semua tak lepas dari bantuannya. Kami saling membantu dalam hal apa pun. Hubungan kami sudah seperti kakak adik saja.

***

Sudah setengah tahun. Sekarang dia tinggal di luar kota. Kami masih berhubungan via telepon atau SMS.
Suatu hari ketika aku meneleponnya. "Mas, main ke rumah dong!" Nada bicaranya penuh harapan.
Aku menjawab, "Aduuh, Nyaa. Sekarang aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri kan, liburan ini aku kerja."
"Sudah kuduga, pasti nggak mau main ke rumah," balasnya lalu menutup telepon. Aduh, gawat. Akhirnya tekadku bulat. Akhir bulan aku gajian dan berangkatlah aku naik kereta api.
Aku sampai di rumahnya meski harus mencari-cari dulu alamatnya. Benarbenar nggak aku duga. Keluarganya baik, ramah, aku merasa seperti keluargaku sendiri. Sayang aku hanya menginap dua hari di rumahnya. Setelah aku pulang, aku tetap menelepon dia. Bahkan bisa beberapa kali sehari.

***

Hubunganku dengan Nyaa sudah berlangsung satu tahun. Aku benar-benar merasa yakin bahwa dialah pasanganku.
Malam Valentine, aku membuatkan film animasi yang bercerita mengenai kisahku dan dia selama ini. Kukemas film itu dalam sebuah CD yang imut. Kami sudah janjian untuk bertemu di tempat kosnya jam sembilan malam.
Waktu itu turun hujan gerimis. Dengan pakaian agak basah kutekan bel. Ting tong!
Di dekat tempat kos Nyaa, sebuah mobil terparkir. Aku nyaris pingsan, dua orang keluar dari mobil sambil mengenakan jaket. Nyaa dan seorang cowok yang pernah aku lihat di kampus tetangga.
Melihatku, Nyaa berlari menghampiri. Dengan agak gugup dia berkata, "Maaf." Aku nggak banyak berkata-kata. Kuberikan bingkisan kecilku. Aku nggak jadi mengungkapkan isi hatiku.
Malam itu begitu dingin. Hujan pun semakin deras. Aku pamit pulang.
Tengah malamnya, dia meneleponku sambil mengucapkan terima kasih. Dia memberitahuku bahwa cowok yang tadi bersamanya adalah pacarnya.

***

Hari demi hari kulalui dengan biasa-biasa saja. Aku sudah jarang berhubungan dengan Nyaa. Paling-paling SMS. Tapi kadang-kadang aku masih percaya kalau dia itu pasangan jiwaku. Entah benar atau nggak. Karena, dia sulit untuk dilupakan meski kini sudah dua tahun berlalu.

Be My Valentine

Sabtu, 19 Mei 2012
Penulis : El-Syifa


“Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?”
Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.
Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.
Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.
“Nah, lho, ketangkap sekarang!”
Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.
“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.
”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.
”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.
”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.
”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.
”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.
”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.
”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”
”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”
”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.
”Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”
Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.
Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….

Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?
Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….
”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!
Gedubrak!
Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.
”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.
”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.
”Nggak sakit?”
Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”
Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.
***
”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.
”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.
”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.
Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.
”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.
”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.
Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.
Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.
Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.
***
”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.
Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”
Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.
Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.
”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.
Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.
”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.
”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.
”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.
Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!
”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.
”Kapan?”
”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”
Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.
”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.
Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”
Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!
***
Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.
Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.
Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.
Singkat. Pendek saja isinya.
Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?
Ronnie
Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?
***
Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.
”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”
”Oke, deh!” sahut Meti mantap.
Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.
”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.
Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.
Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.
”Apa?!” dia nyaris tak percaya.
Wajahnya berubah.
“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.
Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.
Meti melangkah gontai ke kamarnya.
”Ada apa, Met?” kejar Mamah.
”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.
”Lho?!”
”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”
”Kok gitu?”
”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.
Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.
Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.
”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.
Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.
”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.
”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”
Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.
Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.
Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.
***

Diambil dari buku kumpulan cerita berjudul ”Kidung Kupu-Kupu Putih”.
karya El-Syifa.etakan I, Shafar 1422 / Mei 2001.

Cerpen Lagu Untuk Viola

Rabu, 16 Mei 2012
"Vio!"

Gadis berkepang dua itu berhenit. Diangkatnya alis tinggi-tinggi ketika Lukas menghampirinya tergesa-gesa.

“Apa?”

“Aku antar kau, ya?”

Viola tercenung. Lewat ekor matanya, dia dapat melihat Calvin dan Rosa bergandengan masuk ke dalam mobil Calvin. Nyeri lambung Viola tiba-tiba melihat pemandangan itu.

“Ayolah, kau sudah janji kemarin,” desak Lukas.

“Aku mesti ketoko buku dulu. Maaf Luk, aku tidak dapat.”

“Kebetulan. Aku punya rencana mau ke took buku. Ayo, kuantar kau ya,” kata Lukas pula, tanpa putus asa.

Viola menarik nafas panjang. Mobil Calvin sudah melaju melewati mereka. Hati Viola sedih sekali melihat Calvin tidak melirik sedikit pun kearahnya. Seluruh perhatiannya sudah terpaut pada Rosa, anak yang baru pindah itu, pikirya.

Viola mendadak ingat siapa Lukas. Lukas juga murid baru di kelasnya. Cowok itu sudah banyak menarik perhatian cewek-cewek kelasnya sejak ia pertama masuk, persis seperti adik sepupunya itu. Ya, Rosa memang adik sepupu Lukas.

“Tidak. Aku bisa pergi sendiri,” kata Viola. Kemudian dia melangkah tergesagesa, meninggalkan Lukas yang tertegun menelan kekecewaan. Dia merasa tidak sakit hati dengan penolakan Viola, karena mengerti mengapa cewek itu berbuat demikian.

Di toko buku, hati Viola jadi sakit lagi. dia tak menyangka sedikit pun akan menjumpai Calvin dan Rosa di sana.

“Hei! Vio. Mau beli buku juga? Wah, aku kira koleksimu sudah ratusan. Eh Rosa, kenalkan nih Si Kutu Buku sekolah kita. Viola.”

Rosa segera mengulurkan tangannya. Viola mencoba tersenyum. Dia agak kaget juga dengan ketenangan Calvin. Dia benar-benar berpengalaman, bisiknya, di hati. Dan aku benar-benar cewek yang teramat bodoh.

Rosa dan Calvin pergi lebih dulu. Viola jadi ingat, ketika Calvin masuk suka jalan bersamanya. Ah, begitu banyak kenangan manis yang mereka ciptakan bersama. Itulah sebabnya mengapa aku begitu sulit melupakannya, keluh Viola sambil membayar bukubuku yang dibelinya di kasir.

***

“Lukas selalu memperhatikanmu, selalu menyanyangimu, tapi mengapa kamu tak pernah berlaku ramah di depannya?” kata Nunik, teman dekatnya.

“Karena itulah aku tak mau menggubrisnya. Aku tak menyukai perhatiannya itu. Aku tak menyukai pamrihnya,” kata Viola.

Nunik menepuk pipi Viola sambil tersenyum halus.

“Vio antara kau dan Calvin sudah selesai. Kisah lama itu harus kau tutup. Tidak mungkin kau mesti menutup diri selamanya. Calvin tidak amat berharga untuk pengorbanan semacam itu.”

Viola berhenti menyusun bukunya sambil menoleh kepada Nunik. Matanya memancarkan sinar yang amat tajam.

“Barangkali begitu. Tapi aku merasa, antara aku dan Calvin masih ada sisa perhitungan.”

Nunik bergidik melihat sinar mata Viola. Begitu menakutkan. Karena itu segera digenggamnya lengan Viola.

“Jangan berbuat nekad, Vio. Dendam tidak akan menyelesaikan persoalan.”

Viola mengangkat bahu. Dan Nunik tahu, rayuannya sia-sia saja. Viola amat keras dalam pendirian.

Sepeninggal Nunik, Viola membuka laci mejanya. Dikeluarkannya selembar fotho dari dalamnya. Fhoto Calvin.

“Aku menyukaimu, Cal. Amat menyayangimu, tapi kenapa … ,” keluhnya sambil menitikkan air mata. Sudah empat bulan mereka berpisah, tapi tetap saja Viola merasa baru kemarin sore Calvin datang ke hadapannya sambil membawa bunga mawar yang segar itu.

“Maaf, Vio. Tapi seperti engkau tahu, aku suka berterus-terang. Tidak ada lagi diantara kita yang pantas kita pertahankan. Aku menyukaimu tapi tak dapat mencintaimu. Engkau bukan gadis tipe idealku dan …”

Viola sudah tidak ingat apa lagi kata Calvin selanjutnya. Yang dia ingat cuma, Calvin menyerahkan kembang itu, mengecup keningnya kemudian melarikan mobilnya membelah kegelapan malam.

Ketika mereka berhubungan, banyak teman Viola yang mengingatkan untuk berhati-hati sebab semua orang tahu siapa Calvin. Vio pun tahu siapa cowok itu, sebetulnya. Itulah sebabnya dia tidak begitu tertarik ketika Calvin mendekatinya pertama kali. Dia menduga, pendekatan Calvin hanyalah karena ingin membuktikan pada temantemannya, bahwa ia papa bravo nomor wahid karena bisa menundukkan Viola, si Kutu Buku, debu perpustakaan yang sering digelari patung es. Cukup lama Vio menguji Calvin. Tapi dasar Calvin berjiwa ulet, dia tak pernah putus asa. Dan kini … oh, bisik Vio perih. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

***

Viola bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dia belajar piano. Ada keengganan menyergap hatinya, karena dia tahu ada Lukas di sana.

“Ini lagu-lagu yang akan kalian bawakan. Luk, coba engkau yang pertama,” kata guru mereka, Bu Marta, memberi kode perintah.

Lukas melirik Viola sebelum mulai bermain. Viola menunduk. Lukas lantas memulai dengan Turkish March. Ibu Marta mengetuk-ngetuk meja memberi kode waktu.

Dua jam lebih mereka habiskan untuk berlatij. Viola menarik nafas ketika dia sudah kembali berada di luar sekolah.

“Vio.”

Viola melirik. Lukas seperti gelisah di depannya.

“Apa?”

“Kau akan menolak juga kalau kuajak ke kantin sana?”

Entah apa yang lucu, Vio jadi tersenyum geli mendengar pertanyaan Lukas yang polo situ.

“Tidak. Kebetulan aku memang haus,” kata Viola kemudian.

Lukas tersenyum cerah. Tadi dia tak berani lagi berharap, karena sudah sering ditolak Viola.

“Sori, Luk. Aku kelihatannya kasar ya? Bukan maksudku begitu,” kata Vio lembut, waktu mereka sudah duduk di kantin. Lukas menggelengkan kepala.

“Tidak usah kau terangkan, Vio. Aku sudah mengerti.”

“Trims deh kalau begitu.”

Keheningan yang tadi mencekam mulai mencair dengan sikap ramah yang ditunjukkan Viola. Kelihatannya dia ingin menghapus image jelek Lukas atas dirinya.

Viola sadar, sikap dingin yang ditunjukkannya pada Lukas selama ini Cuma didasari rasa dendam yang tak tentu arah. Dia marah pada Rosa, saudara Lukas, tapi tak dapat mencurahkannya langsung kepada gadis itu.

Tetapi Lukas merasa amat bahagia dan hampir tak yakin dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Viola ternyata sungguh manis dan pintar sekali membangun percakapan.

“Teman-teman pasti kaget melihat kita akrab besok di kelas,” kata Lukas ketika mengantar Viola pulang.

Viola mengangguk geli. Selama ini, seperti sudah ada undang-undang tak tertulis, cuma Lukas Cowok yang tak pernah ditegurnya dengan ramah, sehingga temantemannya menganggap mereka bermusuhan.

“Ya, apalagi Nunik. Dia selalu kesal melihatku tak pernah bersikap manis terhadapmu.”

“Aku senang, kita bisa berteman,” ujar Lukas. Viola menyetujuinya dalam hati. Kelas mereka memang jadi geger ketika Viola dan Lukas bersama-sama masuk kelas keesokan harinya. Nunik sampai terbelalak. Vila mengedipkan mata, tapi tak urung dia melirik juga ke meja Calvin. Cowok itu sedang membaca bukunya dan kelihatan asik betul.

“Apa yang merasuki tubuhmu sampai rukun betul dengan Lukas?” kata Nunik.

“Oh, tak ada apa-apa. Cuma, aku saja yang keliru selama ini. Lukas ternyata cukup menyenangkan.

Nunik tersenyum lega.

“Nah, apa kubilang? Lukas memang pantas untukmu.”

“He jangan berpikir yang lain. Lukas cuma seorang teman.”

Nunik mengangkat tangan tinggi-tinggi, tapi sudut bibirnya memancarkan senyum yang penuh godaan.

“Ya, ya, dia cuma seorang teman … istimewa!”

Viola terbelalak lebar-lebar, sementara Nunik tertawa-tawa gembira.

Istimewa atau tidak, Lukas ternyata memang seorang teman di kala suka dan duka bagi Viola.

“Ada film bagus. Kita nonton ya?” ajak Viola suatu ketika.

Lukas tersenyum manis. “Film apa?”

Film Drama Romantis.

“Oh, actor ganteng itu toh yang main? Aku sudah lihat aktingnya dalam Film lain. Bagus! Pertunjukan pukul berapa?”

Viola tertawa senang. Itulah Lukas, yang selalu bersedia diajak ke mana saja. Selain pintar, dia juga tahu menyenangkan hati.

“Pukul tujuh. Oke?”

“Tunggu saja. Aku jemput!”

Viola kemarin masuk kedalam mobil Lukas, ketika pelajaran usai hari itu. Mereka masih tertawa membicarakan guru yang konyol di depan kelas tadi, ketika Viola melihat Calvin jalan sendiri menuju mobilnya tanpa Rosa di sisinya. Wajah Calvin tampak murung. Aneh sekali.

Viola jadi tak dapat lagi mendengar cerita Lukas karena benaknya penuh dengan bayangan Calvin. Kenapa bisa begitu, pikirnya. Calvin yang kukenal adalah Calvin yang tak pernah sedih, tak pernah mengenal duka dan selalu menganggap ringan semua masalah. Tapi sekarang ….

“Vio, kau … melamun?” tegur Lukas.

“Eh, oh, aku …”

“Kau kelihatan pucat. Ada apa?” sinar mata Lukas memancarkan rasa cemas. Diam-diam Viola mengeluh. Dia sudah lama tahu, ada perhatian khusus dari Lukas untuknya. Dan dia senang itu, sebab dia juga menyukai Lukas. Tapi bagaimanapun, dia tak dapat melupakan Calvin. Yang diimpikannya setiap saat berjalan di sisinya Lukas yang baik, melainkan Calvin yang memilih Rosa dua bulan yang lalu.

“Tidak apa-apa. Trims, Luk. Sampai nanti ya.”

“Ya, langsung istirahat saja, Vio. Aku sayang kau,” bisik Lukas. Kemudian melarikan mobilnya.

Viola tercenung, kaget dan akhirnya menyesal. Dia sedih karena tak dapat juga menukar tempat Calvin di hatinya dengan Lukas, cowok yang baik itu.

“Rosa sudah punya pacar yang lain. Hendrikus, temannya di club. Calvin tentu saja merasa ditinggalkan begitu,” lapor Nunik esok harinya di kelas, ketika Viola bertanya mengapa Calvin tak pernah kelihatan ceria lagi.

“Tahu rasa dia sekarang. Dia pikir, semua cewek bakal bertekuk lutut di depannya,” sambung Nunik puas.

“Kasihan dia …”

“Eh, kok malah dibela? Dia kan yang membuatmu tak pernah tersenyum lagi beberapa bulan yang lalu? Dan, untung ada Lukas kan?”

“Tidak ada hubungannya dengan Lukas, Nik.”

Nunik meloto gemas.

“Kau ini, Vio, selalu saja menurutkan emosi. Masak untuk Calvin yang sok itu, kau mau melepas Lukas?”

“Ah, kau. Aku menyukai Lukas, tapi tidak mencintainya, Nik.”

“Oh ya? Dan sekarang, kau ingi jadi dewi penghibur si kunyuk Calvin ya?”

Viola tak pernah mendengar suara Nunik semarah itu. Nunik pun segera melangkah meninggalkannya setelah berkata begitu. Viola menarik nafas. Nunik marah sekali, desisnya di hati.

***

Lukas mengerling kea rah Viola. Gadis itu sedang menunduk menekuri bukunya. Ada ulangan bahasa Indonesia besok dan mereka diharuskan mengingat semua definisi gaya bahasa serta gejalanya. Tapi perhatian Lukas sudah tak pada bukunya lagi sekarang.

“Hei, ada apa di wajahku?” tegur Viola memukul lengannya. Lukas tersentak dan tersenyum manis.

“Aku suka melihatmu. Kau cantik sekali.”

“Setan gombal. Aku tidak ada uang receh nih!”

Lukas tergelak. Ditutupnya buku.

“Vio.”

“Hm.”

“Kemarin, kau pergi ke mana?”

“Renang.”

Lukas menekan dadanya menahan rasa perih yang semakin hebat. Dia tahu, kenangan manis bersama Calvin di masa dulu, masih begitu kuat melekat dihati Viola.

“Sendiri?” pancingnya, seperti tidak sadar akan bahayanya.

“Tidak. Bersama Calvin,” sahut Viola tenang, sembari membalik bukunya.

Padahal jauh di ujung hatinya ada semacam getaran halus.

“Aku tidak tahu kau akan kembali pada Calvin,” Lukas berkata dengan hambar.

Viola mengangkat mata. Dia tersenyum lebar. Dan Lukas menatapnya dengan mata sedih.

“Dia mengajakku, Luk. Karena kebetulan aku tak punya teman kemarin, ya, kuturuti saja.”

“Kau kan bisa mengajakku.”

“Lho, kemarin kau latihan bola kan?”

Lukas menarik nafas jengkel. Viola seolah-olah menganggap remeh perasaannya.

“Kau pintar cari alas an sekarang. Enak ya punya serep? Kalau yang satu tak ada di tempat, silahkan ajak yang lain,” sindir Lukas.

Viola mencekal lengan Lukas. Tapi cowok itu membuang muka. Dia benar-benar tersinggung.

“Kau marah ya, Luk? Maaf, aku tidak tahu kalau kepergiaanku dengan Calvin membuatmu marah. Tapi, Calvin toh masih temanku juga, dan dia ….”

“Dan dia kembali mengincarmu setelah putus dengan Rosa. Tidakkah kau rasakan, Vio, bahwa Calvin cuma ingin mempermainkanmu? Dia tak pernah sungguhsungguh terhadapmu.”

Sejuta jarum halus menusuk jantung Viola mendengar itu. Hatinya sakit sekali.

“Ya, ya, aku tahu, aku ini bagai pungguk. Aku mengharapkan Calvin akan setia selamanya padaku, tapi ternyata tidak. Menurutmu, dia cuma ingin main-main. Aku tahu, aku ini cukup barharga, aku ini ….”

Lukas merengkuh bahu Viola.

“Vio, bagiku, tak ada yang lebih berharga selain dirimu. Tak dapatkah engkau melupakan Calvin dan belajar menyukaiku?”

“Pulanglah, Luk. Tinggalkan aku sendiri. Ya, tinggalkan aku sendiri.”

Lukas terpana. Ditatapnya Viola, tapi yang ditemukannya hanya seraut wajah datar tanpa senyum, dingin sekali. Diam-diam Lukas beringsut pergi, membawa luka dihatinya.

Hari-hari selanjutnya justru menjadi kosong. Viola juga merasa bahwa Nunik tak mau lagi menghiburnya. Temannya itu amat marah ketika dia ceritakan pertengkarannya dengan Lukas.

“Terlalu kau! Kau kecewakan Lukas yang begitu baik padamu! Kaumengharapkan orang lain setia padamu, tapi kau sendiri? Huh, begitu ada gelagat Calvin akan kembali padamu, kau mulai menyingkirkan Lukas!”

“Aku … aku tak bermaksud begitu, Nik. Aku cuma ingin Lukas mengerti, bahwa hanya Calvin yang kurindukan, dan juga yang selalu kuimpikan.”

“Selamanya kau akan bermimpi, Vio! Tak cukupkah pengalaman mengajarimu bahwa cowok semacam Calvin bagai kincir angina dan tak pernah sungguh-sungguh? Jangan keras kepala, Vio!”

Dan Viola memang keras kepala. Meskipun akhirnya dia harus mengakui, semua sikap manis Calvin akhir-akhir ini cuma kedok cowok itu saja guna menggaet Maria, adik sepupu Viola yang dikenalnya pada sebuah pesta.

Viola mengawasi burung-burung gereja yang terbang ke atas bumbungan rumah sebelah. Dihelanya nafas. Aku seperti seekor keledai, bisiknya. Jatuh untuk kedua kalinya, dengan sebab yang sama dan juga karena ketololanku yang sama ….

***

Viola mempertajam pendengarannya ketika dia semakin mendekati ruang piano.

Dia kenal betul dengan denting-denting yang khas itu. Lukas, hanya Lukas yang bisa bermain piano seperti itu.

“Hai, masuklah.” Lukas berhenti bermain ketika Viola membuka pintu.

“Aku tidak tahu kalau engkau ada di sini. Bukankah giliranmu besok?”

“Ingatanmu kuat juga, Vio. Ya, mestinya aku datang besok. Tapi ada perubahan jadwal. Kau malah yang di minta datang besok,” kata Lukas tenang, seolah-olah sebelum ini mereka pernah tak bicara untuk beberapa waktu.

“Oh, aku tidak tahu. Kalau begitu, biar aku pulang saja,” seru Viola sambil menelan kekecewaannya. Tadinya dia menyangka Lukas datang karena ingin bertemu dengannya. Ternyata …

“Kau mau mendengar laguku? Aku baru saja selesai menulisnya tadi malam.”

Alis Viola terangkat. Dia tidak tahu kalau Lukas bisa menulis lagu.

“Masih acak-acakan. Tolong bantu ya.”

Viola mengangguk. Dan lagu itu begitu sendu, sehingga Viola hanya dapat berdiri tegak tanpa memberi komentar apa pun. Lagu itu bagus walau pun di sana-sini masih ada nada yang fals. Itu biasa, untuk permulaan.

“Apa pendapatmu, Vio?”

Viola tergagap. Dia tak tahu hendak mengatakan apa. Tapi secara keseluruhan lagu itu cukup bagus.

“Bagus.”

“Itu saja?” tatap Lukas dengan sinar seperti biasa, lembut dan penuh kasih.

Kemudian ditepuknya pipi gadis itu.

“Kau tidak ingin tahu, untuk siapa lagu itu?”

Viola menggeleng.

“Untuk gadisku,” kata Lukas.

“Oh,” Viola berputar, tak ingin melihat Lukas dengan matanya yang mulai basah.

Dia patut menerima akibat atas kekerasannya selama ini.

“Vio,” panggil Lukas saat Viola membuka pintu. Vio menoleh. Dia melihat geraham Lukas mengetat.

“Kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?” seru Lukas jengkel.

Viola tersenyum pahit.

“Untuk apa?”

“Persetan untuk apa! Kenapa kau keras kepala betul, Vio? Kenapa kau kunci seluruh pintu hatimu untukku? Tidakkah kau punya perasaan? Hampir gila aku berpisah darimu dulu. Hampir aku mencekik leherku sendirimelihat kau kembali pada Calvin.

Sekarang saat kulihat kau kembali luka oleh bangsat itu, kau tak juga mau mengerti perasaanku!”

“Aku tahu aku salah, Luk. Tapi tidak usah kau bangkitkan lagi kenangan buruk itu. Kalau kau ingin marah, silahkan.”

Lukas menyambar tasnya sambil memandang Viola tajam. Sia-sia semua kerja keras ini dilakukannya.

“Oke, selamat tinggal, Vio. Selamat bermimpi seribu tahun lagi!”

Lantas, Lukas membanting pintu. Viola mengangkat bahu. Dia duduk di depan piano. Aku memang akan bermimpi terus, Luk, gumamnya sendiri. Tapi sekarang bukan Calvin yang kuimpikan, karena dia adalah masa lalu. Yang kuimpikan adalah masa depan bersamamu, Luk …

Vio terbeliak melihat huruf-huruf kecil dibawah kertas lyang tertinggal itu. Di situ Lukas menulis, lagu itu untuk gadisnya yang tercinta, terkasih dan yang keras kepala: Viola..

Viola segera menerjang pintu, melompati dua anak tangga sekaligus.

“Lukas!” teriaknya sekuat tenaga. Lukas baru saja akan membuka pintu mobilnya waktu mendengar teriakan itu. Viola berlari sambil melambai-lambaikan kertas lagu itu.

Lukas tercengang.

“Ada apa?” desis Lukas dingin.

Viola terengah-engah mencari nafas. “Kau tadi bertanya padaku kan?”

Lukas mengangguk. Viola tersenyum tipis sambil berjingkat mencium pipi Lukas.

Cowok itu terbelalak.

“Ada pertanyaan lain?”

Mula-mula Lukas terpana, tapi akhirnya dia tertawa tergelak-gelak sambil merangkul Viola erat-erat.

“Tidak. Tidak ada pertanyaan lagi. semuanya sudah terjawab.”

Viola lega. Ya, semuanya sudah terjawab. Masa lalu telah ditepiskannya sekarang dan dia bersiap menjalani masa depan bersama Lukas yang setia.
 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger