Post View:
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan

Cerita Cinta, Mantan

Senin, 18 Juni 2012
Melody Muchransyah

Ical langsung melotot, “Lebih baik gue dibantai dosen daripada ngerelain cewek gue dibantai sama lo!”

Pernah nggak kamu cemburu tanpa alasan yang jelas sama mantannya cowok kamu? Bukannya parno, cuma... kok rasanya aneh aja ya, Ical mau jadian sama gue setelah putus dari Ratih? Padahal, Ratih itu perfect abis! Putih, mulus, tinggi, langsing... Wah, pokoknya tanpa cacat, deh! Duh, perasaan gue jadi gak enak. Jangan-jangan gue cuma dijadiin pelariannya Ical? Jangan-jangan Ical sebenernya masih sayang sama Ratih? Jangan-jangan...

***

”Kamu gila, Manda!” Faisal berteriak geram,”Aku sama Ratih tuh udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah putus! End of story!”

Manda memasang tampang cemberut. Tapi, ia tak berani berkata-kata. Ia tau, perbuatannya memang agak melewati batas. Tapi, cemburu kan bukan dosa besar? Malahan, Ical harusnya senang, donk, karena Manda punya rasa cemburu. Berarti, Manda kan bener-bener sayang sama Ical!?

”Manda, aku kan udah bilang berkali-kali sama kamu, kamu tuh nggak perlu

cemburu sama Ratih. Ratih is my history, Sayang...” Faisal meneruskan katakatanya,

seakan dapat membaca pikiran Manda.

Manda masih cemberut. Huh, menyebalkan, pikirnya. Kalau memang Ical gak

ada apa-apa lagi dengan Ratih, seharusnya dia fine-fine aja, dong kalau Manda

ngecek e-mail-e-mail yang Ratih kirim ke Ical? Atau, jangan-jangan memang

masih ada sesuatu di antara mereka berdua? Ah, Manda harus cari tau.

Pokoknya, Manda ngak rela kalau Ical masih sayang sama Ratih!.

Minggu siang, di kamarnya, Manda berkutat di depan komputer. Ia nampak

sibuk meneliti satu per satu e-mail yang ada di inbox Ical. Hah! Ada dua email

baru dari Ratih. Duh, dasar ganjen, udah putus tetep aja cari perhatian!,

Manda menggerutu di dalam hati.

E-mail pertama. Nggak istimewa. Sebuah undangan reuni SMP. Manda

teringat, Ical dan Ratih memang teman satu SMP. Tapi mereka baru jadian

setelah lulus SMA. Itu pun karena mereka sama-sama satu kampus di Depok

dan harus pulang balik Depok-Bogor setiap hari naik kereta. Karena itu,

mereka dekat dan akhirnya jadian. Basi, cibir Manda. Gak elit. Jadian kok

gara-gara kereta!

E-mail kedua. Sebuah surat berantai. Isinya membuat Manda naik pitam.

Judulnya sederhana: Juz wanna remind u that I luv u! Manda benar-benar

ngamuk. Ia pun segera menelepon Ical.

***

”Manda, honey, kamu masih di sana, kan? Halo...” suara Faisal di telepon

membuyarkan lamunan Manda.

”Iya!” Manda menjawab, masih sambil merengut.

”Kamu coba baca isinya dulu deh, Sayang... Paling-paling itu cuma surat

berantai mengenai friendship. Kamu gak usah cemburu, oke?”

***

Manda menatap bayangannya di cermin sambil tersenyum. Sempurna. Kemeja

pink yang manis dipadu dengan rok kotak-kotak berwarna ungu betul-betul

membuat penampilan Manda terlihat cute.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan mama menengok ke dalam kamar. ”Man,

Ical udah dateng, tuh!”.

Manda cepat-cepat memakai selop pink yang baru saja dibelinya minggu lalu,

menyambar tas selempangnya dan mencium tangan mama. “Aku pergi dulu ya,

Ma!”

“Ati-ati, ya, sayang.”

Manda melangkah ke arah teras. Dia melihat Volvo hitam Ical sudah

menunggunya di sana. Manda pun masuk dan duduk di samping Ical yang sudah

siap di belakang kemudi.

“Kami pergi dulu, Tante,” Ical melambai ke arah mama Manda. Setelah itu, ia

melirik Manda. “Tuan putri cantik banget hari ini.”

Manda tersenyum ditahan. Sambil pura-pura cemberut, ia berkata, “Jadi,

cantiknya cuma hari ini? Kemarin-kemarin gak cantik, gitu?”

Ical tertawa. Setelah memindahkan perseneling, ia memandang Manda, “Kamu

tuh yang paling cantik, sayang.”

“Gombal!” maki Manda. Namun dalam hatinya, ia senang sekali mendapat

pujian seperti itu.

Mobil Ical melaju di jalan tol yang mulus, menuju Depok. Hari ini Ical

sebenarnya tak ada kuliah, namun ia harus mengumpulkan tugas. Kebetulan

Manda, yang sedang libur karena guru-gurunya sedang rapat, mau menemani

Ical ke kampus. Sekalian jalan-jalan.

Satu jam kemudian, Ical memarkir mobilnya di parkiran Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia.

“Ikut turun?” ia bertanya pada Manda yang mengangguk penuh semangat.

Ical pun berjalan ke arah Taman Akademos sambil membawa map berisi tugas

di tangan sebelah kiri, sementara tangan kanannya digenggam mesra oleh

Manda.

“Kampus kamu besar, ya?” Manda memperhatikan sekeliling.

Ical hanya tersenyum sambil terus menggandeng tangan Manda.

Mereka pun tiba di Taman Akademos, taman kebanggaan Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia. Tempat itu, selain sebagai meeting-point, juga

merupakan tempat nongkrong para mahasiswa.

“Suit... suit...” seorang mahasiswa menggoda Ical dan Manda saat mereka

lewat, “Ical gandeng-gandengan sama siapa nih?”

Ical menepuk pelan punggung mahasiswa tadi dengan map di tangan kirinya

sambil tersenyum, “Di, lo udah ngumpulin tugas?”

Mahasiswa bernama Adi tadi mengangguk bangga, “Oh, udah, donk!”

Kemudian, dengan tampang jahil, ia melirik Manda, “Siapa tuh?”

“Ini Manda, cewek gue,” jawab Ical, “Manda, kenalin nih temenku, Adi.”

Adi dan Manda berkenalan sambil menyebutkan nama masing-masing.

“Udah ya, gue mau ke ruangan dosen dulu,” Ical berpamitan sambil menarik

Manda yang masih digandengnya.

“Eh, entar dulu,” cegah Adi. “Lo mau ke tempat dosen bawa-bawa cewek? Bisa

dibantai lo! Mendingan cewek lo tinggal di sini aja, sama gue.”

“Enak aja!” Ical langsung melotot, “Lebih baik gue dibantai dosen daripada

ngerelain cewek gue dibantai sama lo!”

Ical segera mengajak Manda pergi secepatnya, meninggalkan Adi yang

cemberut.

Manda hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.

***

“Mau pesen apa, sayang?”

Saat itu Ical mengajak Manda makan siang di Takor alias Taman Korea, areal

kantin FISIP yang tersohor yang letaknya dekat dengan Fakultas Psikologi.

“Hmm... Nasi alo tuh apa sih, say?” tanya Manda sambil membaca menu yang

tertempel di salah satu stand makanan.

“Seperti nasi goreng tapi nggak pakai kecap,” jawab Ical, “Di atasnya

dicampur ayak telor dan baso, plus sambel ulek yang enak banget! Coba, deh!”

Setelah memesan menu dan membayar di kasir, mereka membawa makanan

mereka ke lantai atas untuk mencari tempat duduk, sebab lantai bawah sudah

penuh sesak oleh lautan mahasiswa.

Namun, saat Manda sedang mencari tempat duduk di lantai atas, matanya

menangkap sosok itu. Dengan kemeja putih polos, celana jeans, kalung manik

yang oriental, dan tatanan rambut yang diikat tinggi dengan poni menyamping,

ia duduk dengan begitu sempurnanya.

Ratih.

***

“Pokoknya, aku minta putus!”

Manda mengamuk. Apalagi setelah ia melihat Ratih berdiri dan menghampiri

Ical di Takor tadi. Lengkap dengan bonus cupika-cupiki tanpa memperdulikan

Manda sama sekali.

“Aku sayang kamu,” Ical bersikeras, “Aku nggak akan lepaskan kamu!”

“Kamu harus putusin aku!” kata Manda ngotot.

“Kenapa?” Ical tak mengerti.

“Biar fair. Kamu punya mantan, sedangkan aku nggak. Kalau kamu putusin aku,

aku bakal cari cowok lain dan mutusin dia dalam waktu singkat. Setelah itu,

kedudukan kita fair! Kamu bisa ngerasain cemburu yang aku rasain ke Ratih!”

“Kamu gila, Manda!” Ical terdengar frustasi, sebelum akhirnya berkata, “Oke,

fine. Kita putus!”

***.

Seminggu kemudian...

Ical memasang muka memelas, “Aku mau kamu balik lagi sama aku, Manda. Aku

nggak bisa terus-terusan menderita karena rasa rindu yang gak terobati ini.”

“Kamu tuh bodoh banget, sih, Cal?” Manda terlihat tak percaya, “Ratih, si

wanita sempurna itu, masih sayang banget sama kamu! Kamu tau nggak?”

“Nggak!” Ical menjawab cepat, “Aku nggak tau dan aku nggak mau tau apa-apa

mengenai Ratih.” Ical menatap mata Manda dalam-dalam dan berbisik lembut,

“Aku cuma tau bahwa aku sayang kamu!”

Seketika, Manda terdiam. Ia melihat kesungguhan di mata Ical.

“Oke, aku mau balik sama kamu” jawab Manda sambil tersenyum. Sambil

mengedipkan sebelah matanya ia berkata, “Setidaknya aku udah pernah

ngerasain rasanya punya mantan!”

“Hah?” Ical langsung membelalak cemburu, “Jadi selama seminggu kamu putus

sama aku, kamu udah bisa punya mantan lagi?”

Manda tergelak, “Iya.”

“Siapa?”

Manda terdiam dan memandang mata Ical sambil tersenyum simpul, “Kamu...”

Tamat

Cerita Cinta, Belahan Hati

Selasa, 29 Mei 2012

Yahya Rifandaru

Itulah yang selalu ada dalam pikiranku akhir-akhir ini. Semenjak aku tidak berhubungan lagi dengannya, aku merasakan rindu yang mendalam. Aku seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini.
Teman-teman memanggilku dengan julukan "marmud". Entah apa maksudnya. Tapi nggak masalah, yang penting keakraban.
Musim panen telah tiba. Ujian yang diselenggarakan oleh setiap kampus menelurkan bibit mahasiswa baru. Seperti biasa, calon mahasiswa harus meminta izin pada para penghuni lama. Mereka harus kenal dengan seniornya.
Mereka berusaha mendapatkan tanda tangan. Itulah tradisi yang biasa kami jalankan setiap tahun.
Wow, pandanganku terpaku pada seseorang yang berdiri di tengah kerumunan calon mahasiswa.
"Yud, kamu tahu cewek rambut panjang yang pakai kacamata itu? Kayaknya aku pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana ya?" Yudi menjawab, "Ah, itu mah dejavu! Aku juga sering mengalami hal seperti itu," katanya.
"Iya, tapi yang ini lain!" timpalku. "Hei Mud, udah deh, nggak usah ngayal melulu. Entar juga kan dia nyamperin kita buat minta tanda tangan. Kalau kamu memang udah kenal dia, kita lihat aja nanti," kata Yudi.
Hingga masa perkenalan selesai, aku belum kenal sama dia. Nggak terasa satu semester aku lalui dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester genap sudah berjalan dua minggu, tugas-tugas kuliah menumpuk.
"Permisi Mas, selamat malam." Di saat aku lagi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, seseorang berdiri di balik pintu dan tersenyum.
"Lagi ngapain? Serius amat sih?" Aku nggak tahu harus ngomong apa.
"Kok nggak dipersilakan masuk?" Setengah sadar setengah nggak, aku mempersilakan tamuku masuk. Aku sungguh nggak menyangka. Saat itu, aku hampir melupakannya. Eh, malah dia muncul di depan pintu kamarku.
"Tahu alamatku dari mana?" "Dari teman-teman," jawabnya.
Lalu kami berkenalan. Dia biasa dipanggil Nyaa oleh teman-temannya. Kami ngobrol panjang lebar. Dia seperti sudah kukenal sebelumnya, obrolan kami nyambung.
Ternyata, tujuan utamanya datang ke tempat kosku adalah untuk pinjam gunting. Katanya untuk mengerjakan tugasnya. Yang aku nggak habis pikir, kenapa nggak pinjam ke teman lain. Ah, tapi itu nggak penting. Yang penting aku bisa kenalan dengannya. Sungguh, bergulirnya roda nasib memang nggak bisa diprediksi.
Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Satu semesterpun berlalu. Ujian akhir semester juga sudah selesai. Hasilnya cukup memuaskan meski agak berat. Ini semua tak lepas dari bantuannya. Kami saling membantu dalam hal apa pun. Hubungan kami sudah seperti kakak adik saja.

***

Sudah setengah tahun. Sekarang dia tinggal di luar kota. Kami masih berhubungan via telepon atau SMS.
Suatu hari ketika aku meneleponnya. "Mas, main ke rumah dong!" Nada bicaranya penuh harapan.
Aku menjawab, "Aduuh, Nyaa. Sekarang aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri kan, liburan ini aku kerja."
"Sudah kuduga, pasti nggak mau main ke rumah," balasnya lalu menutup telepon. Aduh, gawat. Akhirnya tekadku bulat. Akhir bulan aku gajian dan berangkatlah aku naik kereta api.
Aku sampai di rumahnya meski harus mencari-cari dulu alamatnya. Benarbenar nggak aku duga. Keluarganya baik, ramah, aku merasa seperti keluargaku sendiri. Sayang aku hanya menginap dua hari di rumahnya. Setelah aku pulang, aku tetap menelepon dia. Bahkan bisa beberapa kali sehari.

***

Hubunganku dengan Nyaa sudah berlangsung satu tahun. Aku benar-benar merasa yakin bahwa dialah pasanganku.
Malam Valentine, aku membuatkan film animasi yang bercerita mengenai kisahku dan dia selama ini. Kukemas film itu dalam sebuah CD yang imut. Kami sudah janjian untuk bertemu di tempat kosnya jam sembilan malam.
Waktu itu turun hujan gerimis. Dengan pakaian agak basah kutekan bel. Ting tong!
Di dekat tempat kos Nyaa, sebuah mobil terparkir. Aku nyaris pingsan, dua orang keluar dari mobil sambil mengenakan jaket. Nyaa dan seorang cowok yang pernah aku lihat di kampus tetangga.
Melihatku, Nyaa berlari menghampiri. Dengan agak gugup dia berkata, "Maaf." Aku nggak banyak berkata-kata. Kuberikan bingkisan kecilku. Aku nggak jadi mengungkapkan isi hatiku.
Malam itu begitu dingin. Hujan pun semakin deras. Aku pamit pulang.
Tengah malamnya, dia meneleponku sambil mengucapkan terima kasih. Dia memberitahuku bahwa cowok yang tadi bersamanya adalah pacarnya.

***

Hari demi hari kulalui dengan biasa-biasa saja. Aku sudah jarang berhubungan dengan Nyaa. Paling-paling SMS. Tapi kadang-kadang aku masih percaya kalau dia itu pasangan jiwaku. Entah benar atau nggak. Karena, dia sulit untuk dilupakan meski kini sudah dua tahun berlalu.

Lantunan Cinta Sang Pencinta

Jumat, 25 Mei 2012
Lewat ekor mata, aku tau matanya yang sipit kecoklatan memandangku lagi. Tetap tajam namun lembut, seperti biasanya. Bibirnya terbuka hendak berkata-kata, namun mungkin rasa segan membuatnya terkatup lagi. Dengan handuk putih bertengger di bahu, ia membalikkan badan membelakangiku. Pergi. Aku diam sejenak lalu mengoleskan metal polish pada baritone kesayanganku, menggosoknya sampai berwarna hitam dan melapnya sampai bersih. Pantulan sinar dari tutsnya menandakan baritone ini selalu terawat dengan rapi. Irio dan Laode tersenyum iri padaku. Baritone mereka tidak pernah semengkilap milikku, padahal kami membersihkannya bersama-sama dua kali seminggu. “Ngiri ya? Hehehe… Nggosoknya yang bener dong , kan udah aku ajarin”, ujarku. Mereka hanya bisa memajukan bibirnya 2 cm.

“Murid lesnya masih banyak mbak Wina?”, si pemilik mata sipit sudah berdiri di depanku saat kudongakkan kepala. Senyumnya mengembang, memamerkan deretan gigi yang kecoklatan karena nikotin.

“Masih, Kak. Sekarang malah ada murid yang baru. Alhamdulillah…” Kumasukkan baritone ke dalam plastik pembungkus lalu meletakkannya dengan hati-hati ke dalam peti. Aku berlalu dari hadapannya tanpa kata-kata. Aku tau mulutnya terbuka lagi, namun aku segera berlari menyusul teman-temanku menuju gerbang kampus. Kugapai bahu Asma lalu tawa kami berderai seperti biasanya. Dari kejauhan kulihat ia melindungi wajahnya dari sorotan mentari senja. Pandangannya tertuju padaku.

***

Aku sangaaaaat mencintai marchingband. Karena kecintaan itulah tiga hari kemudian aku tetap melangkahkan kaki ke kampus AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA. Padahal pakaian yang kukenakan bukan lagi training dan kaos olahraga kampus seperti biasanya. Hari itu adalah hari perdanaku memakai jilbab. Ya, baju kurung yang mengulur dari bahu sampai mata kakilah yang kukenakan. Kulihat puluhan pasang mata menatapku terpana saat aku memasuki ruang latihan. Apel pembukaan baru dimulai. Dengan rasa percaya diri yang kukumpulkan, kulewati puluhan tatapan sinis, merendahkan, dan mengucilkan itu. Teman-temanku seakan tak lepas melucutiku dari ujung kerudung sampai kaki. Mata sipit itu memandangku dengan tatapan tidak seperti biasanya, tapi aku tetap berjalan ke arahnya.

“Kak Wirawan, mulai hari ini boleh nggak saya latihan pake gamis?”, agak sedikit gemetar aku meminta izinnya.

“Ngapain pake gituan? mbak mau pindah kuliah ke Mekkah? ”, matanya membulat tanda tak setuju. “Mbak Wina aneh banget!”

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Suara lembut dengan tatapan menyejukkan itu sudah tiada. “Ya sekarang pakaian saya di luar jam kuliah kayak gini Kak. Boleh gak saya tetap menjadi anggota Korps Marching Band AMG dengan pakaian seperti ini ??”. Kutinggikan nada suaraku pada pelatih alat tiup itu, aku mulai kesal dengan responnya. Apalagi teman-temanku mulai mengejekku dengan kata-kata yang membuat gatal telinga.

“Nggak boleh!! Kalo mau tetep latihan, tolong pake pakaian seperti biasa!!”, keputusan Kak Wirawan sudah terucap.

Kuhela nafas dalam-dalam,”Ya sudah Kak. Tolong cari peniup baritone untuk menggantikan posisi saya. Saya keluar!”

Gontai tapi pasti aku keluar dari ruangan itu. Kepalaku tertunduk. Hatiku tertohok oleh perasaan yang tak menentu. Air mataku mengalir, tapi sungguh, aku tak ingin mereka melihatnya.

“Win, Wina!!! Sebentar !” Teriakan Zakiy menahanku di pintu rektorat, “Kak Wirawan mau ngomong sebentar.” Kuikuti langkah komandan marchingband itu ke ruang tamu. Dari ruang latihan teman-teman antusias mencari tau apa yang terjadi. Mereka bergonta-ganti melongokkan wajah ke arah kami.

“Ada apa Kak?”, tanyaku singkat.

“Kenapa mbak Wina harus pake pakaian kaya gitu? Jangan ikut kaum ekstrem kanan, yang biasa ajalah ngejalanin hidup”, lelaki paruh baya itu menghisap tembakaunya dalam-dalam. Dia tampak bingung. Keringat tak berhenti mengalir dari dahinya. “Ini kan memang pakaian buat muslimah Kak. Saya tidak mau Allah enggan melirik saya karena saya tidak bersegera menjalankan perintahNya, padahal saya sudah tau itu. Saya lebih senang jika manusia yang membenci saya. Jadi tidak masalah kalau saya keluar dan dihujat, yang penting Allah ridha pada saya.”

Mata sipit itu bergerak kesana-kemari, mencari kata yang bijak untuk diucapkan, “Ya sudah, silahkan latihan lagi. Sulit untuk menemukan peniup baritone seperti mbak.” Ia menggilas puntung rokoknya dengan paksa. Aku tau ia menatapku sejenak sambil menelan kekecewaannya, lalu pergi tanpa berucap.

***

Siang itu, di bawah panggangan matahari kami berlatih display untuk acara 17 agustus. Seminggu lagi kami akan tampil di BMG pusat. Semua atasan menunggu hari itu, karena kami akan tampil perdana. Sudah 4 jam wajah-wajah kami terbakar panasnya matahari Jakarta. Suara Mega sebagai field commander terdengar makin parau. Bibirnya pucat, wajahnya bias. Aku juga merasakan mulutku baal, mati rasa. Tapi senyum tetap merekah menghiasi bibir-bibir barisan horn line, percussion line dan colour guard. Kami bangga. Kamilah angkatan pertama Korps Marching Band AMG. Namun jauh di lubuk hati, rasa yang tak karuan itu makin terasa. Dan aku ingin segera menumpahkannya.

“Kak saya mau keluar marchingband”, ucapku pada para pelatih seusai latihan, termasuk Kak Wirawan. Bola mata mereka membesar. Lagi-lagi aku harus menjelaskan. Dan lagi-lagi aku harus menerima cacian dan hujatan. Namun niatan untuk tunduk pada hukum syara’ membuatku sangat berani menjawab dan melewati makian itu. Seluruh pelatih dan teman-teman menghujatku. Tidak ada yang bisa menerima bahwa alasanku keluar adalah karena aku tidak mau lagi berikhtilat, tasyabbuh, dan meninggalkan kewajiban berjilbab saat tampil. Aku keluar dari ruang latihan dengan iringan koor “Huuu..” dari teman-temanku. Bisa dibayangkan?? Teman yang sudah hampir tiga tahun bersama, dengan mudah membenciku hanya karena aku keluar marching band. Padahal aku melakukan itu karena aku mencintai Rabbku!

Mata sipit Kak Wirawan memandangku sayu. Dadaku sesak. Gerimis di hatiku makin deras. Sungguh aku sangat mencintai marchingband, alat tiupku, dan teman-temanku. Aku ingin tetap berlatih dengan bangga sebagai angkatan pertama Korps Marching Band AMG. Aku ingin sebuah lambang kehormatan tersemat pada seragamku. Dan terlebih karena aku ingin melihatnya. Melihat lelaki paruh baya itu dengan tatapan lembutnya. Melihatnya menantiku merapikan alat di ujung ruang. Menikmati tawa dan senyumnya yang selalu terkembang untukku.

***

Di sinilah aku sekarang, empat hari setelah hari itu. Berdiri melihat kawan-kawanku berlatih drumband dari luar pagar kampus. Mereka semua tetap mendiamkan dan menghujatku. Tak ada yang sadar aku memperhatikan mereka, karena bagi mereka aku tak lagi berguna. Di tanganku ada lembaran buletin yang siap kuedarkan. Aku akan mengopinikannya pada adik-adik kajianku, yang tengah bersemangat menyongsong kemuliaan islam di depan mata. Dari kejauhan kulihat Kak Wirawan tengah menatapku, aku tersenyum simpul. Bagaimanapun, lelaki dengan dua putra itu sempat menjadi bunga tidurku sampai sekian waktu. Langkah kaki membawaku menjauh dari sana, dari marching band, Kak Wirawan, dan hiruk pikuk dunia.

Kulabuhkan lantunan cinta ini hanya padaMu Ya Rabb, karena aku mencintaiMu lebih dari apapun…

***


Hanun Al-Qisthi

Be My Valentine

Sabtu, 19 Mei 2012
Penulis : El-Syifa


“Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?”
Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.
Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.
Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.
“Nah, lho, ketangkap sekarang!”
Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.
“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.
”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.
”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.
”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.
”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.
”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.
”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.
”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”
”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”
”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.
”Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”
Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.
Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….

Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?
Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….
”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!
Gedubrak!
Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.
”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.
”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.
”Nggak sakit?”
Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”
Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.
***
”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.
”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.
”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.
Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.
”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.
”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.
Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.
Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.
Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.
***
”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.
Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”
Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.
Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.
”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.
Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.
”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.
”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.
”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.
Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!
”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.
”Kapan?”
”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”
Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.
”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.
Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”
Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!
***
Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.
Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.
Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.
Singkat. Pendek saja isinya.
Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?
Ronnie
Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?
***
Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.
”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”
”Oke, deh!” sahut Meti mantap.
Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.
”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.
Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.
Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.
”Apa?!” dia nyaris tak percaya.
Wajahnya berubah.
“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.
Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.
Meti melangkah gontai ke kamarnya.
”Ada apa, Met?” kejar Mamah.
”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.
”Lho?!”
”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”
”Kok gitu?”
”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.
Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.
Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.
”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.
Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.
”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.
”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”
Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.
Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.
Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.
***

Diambil dari buku kumpulan cerita berjudul ”Kidung Kupu-Kupu Putih”.
karya El-Syifa.etakan I, Shafar 1422 / Mei 2001.

Cerpen Lagu Untuk Viola

Rabu, 16 Mei 2012
"Vio!"

Gadis berkepang dua itu berhenit. Diangkatnya alis tinggi-tinggi ketika Lukas menghampirinya tergesa-gesa.

“Apa?”

“Aku antar kau, ya?”

Viola tercenung. Lewat ekor matanya, dia dapat melihat Calvin dan Rosa bergandengan masuk ke dalam mobil Calvin. Nyeri lambung Viola tiba-tiba melihat pemandangan itu.

“Ayolah, kau sudah janji kemarin,” desak Lukas.

“Aku mesti ketoko buku dulu. Maaf Luk, aku tidak dapat.”

“Kebetulan. Aku punya rencana mau ke took buku. Ayo, kuantar kau ya,” kata Lukas pula, tanpa putus asa.

Viola menarik nafas panjang. Mobil Calvin sudah melaju melewati mereka. Hati Viola sedih sekali melihat Calvin tidak melirik sedikit pun kearahnya. Seluruh perhatiannya sudah terpaut pada Rosa, anak yang baru pindah itu, pikirya.

Viola mendadak ingat siapa Lukas. Lukas juga murid baru di kelasnya. Cowok itu sudah banyak menarik perhatian cewek-cewek kelasnya sejak ia pertama masuk, persis seperti adik sepupunya itu. Ya, Rosa memang adik sepupu Lukas.

“Tidak. Aku bisa pergi sendiri,” kata Viola. Kemudian dia melangkah tergesagesa, meninggalkan Lukas yang tertegun menelan kekecewaan. Dia merasa tidak sakit hati dengan penolakan Viola, karena mengerti mengapa cewek itu berbuat demikian.

Di toko buku, hati Viola jadi sakit lagi. dia tak menyangka sedikit pun akan menjumpai Calvin dan Rosa di sana.

“Hei! Vio. Mau beli buku juga? Wah, aku kira koleksimu sudah ratusan. Eh Rosa, kenalkan nih Si Kutu Buku sekolah kita. Viola.”

Rosa segera mengulurkan tangannya. Viola mencoba tersenyum. Dia agak kaget juga dengan ketenangan Calvin. Dia benar-benar berpengalaman, bisiknya, di hati. Dan aku benar-benar cewek yang teramat bodoh.

Rosa dan Calvin pergi lebih dulu. Viola jadi ingat, ketika Calvin masuk suka jalan bersamanya. Ah, begitu banyak kenangan manis yang mereka ciptakan bersama. Itulah sebabnya mengapa aku begitu sulit melupakannya, keluh Viola sambil membayar bukubuku yang dibelinya di kasir.

***

“Lukas selalu memperhatikanmu, selalu menyanyangimu, tapi mengapa kamu tak pernah berlaku ramah di depannya?” kata Nunik, teman dekatnya.

“Karena itulah aku tak mau menggubrisnya. Aku tak menyukai perhatiannya itu. Aku tak menyukai pamrihnya,” kata Viola.

Nunik menepuk pipi Viola sambil tersenyum halus.

“Vio antara kau dan Calvin sudah selesai. Kisah lama itu harus kau tutup. Tidak mungkin kau mesti menutup diri selamanya. Calvin tidak amat berharga untuk pengorbanan semacam itu.”

Viola berhenti menyusun bukunya sambil menoleh kepada Nunik. Matanya memancarkan sinar yang amat tajam.

“Barangkali begitu. Tapi aku merasa, antara aku dan Calvin masih ada sisa perhitungan.”

Nunik bergidik melihat sinar mata Viola. Begitu menakutkan. Karena itu segera digenggamnya lengan Viola.

“Jangan berbuat nekad, Vio. Dendam tidak akan menyelesaikan persoalan.”

Viola mengangkat bahu. Dan Nunik tahu, rayuannya sia-sia saja. Viola amat keras dalam pendirian.

Sepeninggal Nunik, Viola membuka laci mejanya. Dikeluarkannya selembar fotho dari dalamnya. Fhoto Calvin.

“Aku menyukaimu, Cal. Amat menyayangimu, tapi kenapa … ,” keluhnya sambil menitikkan air mata. Sudah empat bulan mereka berpisah, tapi tetap saja Viola merasa baru kemarin sore Calvin datang ke hadapannya sambil membawa bunga mawar yang segar itu.

“Maaf, Vio. Tapi seperti engkau tahu, aku suka berterus-terang. Tidak ada lagi diantara kita yang pantas kita pertahankan. Aku menyukaimu tapi tak dapat mencintaimu. Engkau bukan gadis tipe idealku dan …”

Viola sudah tidak ingat apa lagi kata Calvin selanjutnya. Yang dia ingat cuma, Calvin menyerahkan kembang itu, mengecup keningnya kemudian melarikan mobilnya membelah kegelapan malam.

Ketika mereka berhubungan, banyak teman Viola yang mengingatkan untuk berhati-hati sebab semua orang tahu siapa Calvin. Vio pun tahu siapa cowok itu, sebetulnya. Itulah sebabnya dia tidak begitu tertarik ketika Calvin mendekatinya pertama kali. Dia menduga, pendekatan Calvin hanyalah karena ingin membuktikan pada temantemannya, bahwa ia papa bravo nomor wahid karena bisa menundukkan Viola, si Kutu Buku, debu perpustakaan yang sering digelari patung es. Cukup lama Vio menguji Calvin. Tapi dasar Calvin berjiwa ulet, dia tak pernah putus asa. Dan kini … oh, bisik Vio perih. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

***

Viola bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dia belajar piano. Ada keengganan menyergap hatinya, karena dia tahu ada Lukas di sana.

“Ini lagu-lagu yang akan kalian bawakan. Luk, coba engkau yang pertama,” kata guru mereka, Bu Marta, memberi kode perintah.

Lukas melirik Viola sebelum mulai bermain. Viola menunduk. Lukas lantas memulai dengan Turkish March. Ibu Marta mengetuk-ngetuk meja memberi kode waktu.

Dua jam lebih mereka habiskan untuk berlatij. Viola menarik nafas ketika dia sudah kembali berada di luar sekolah.

“Vio.”

Viola melirik. Lukas seperti gelisah di depannya.

“Apa?”

“Kau akan menolak juga kalau kuajak ke kantin sana?”

Entah apa yang lucu, Vio jadi tersenyum geli mendengar pertanyaan Lukas yang polo situ.

“Tidak. Kebetulan aku memang haus,” kata Viola kemudian.

Lukas tersenyum cerah. Tadi dia tak berani lagi berharap, karena sudah sering ditolak Viola.

“Sori, Luk. Aku kelihatannya kasar ya? Bukan maksudku begitu,” kata Vio lembut, waktu mereka sudah duduk di kantin. Lukas menggelengkan kepala.

“Tidak usah kau terangkan, Vio. Aku sudah mengerti.”

“Trims deh kalau begitu.”

Keheningan yang tadi mencekam mulai mencair dengan sikap ramah yang ditunjukkan Viola. Kelihatannya dia ingin menghapus image jelek Lukas atas dirinya.

Viola sadar, sikap dingin yang ditunjukkannya pada Lukas selama ini Cuma didasari rasa dendam yang tak tentu arah. Dia marah pada Rosa, saudara Lukas, tapi tak dapat mencurahkannya langsung kepada gadis itu.

Tetapi Lukas merasa amat bahagia dan hampir tak yakin dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Viola ternyata sungguh manis dan pintar sekali membangun percakapan.

“Teman-teman pasti kaget melihat kita akrab besok di kelas,” kata Lukas ketika mengantar Viola pulang.

Viola mengangguk geli. Selama ini, seperti sudah ada undang-undang tak tertulis, cuma Lukas Cowok yang tak pernah ditegurnya dengan ramah, sehingga temantemannya menganggap mereka bermusuhan.

“Ya, apalagi Nunik. Dia selalu kesal melihatku tak pernah bersikap manis terhadapmu.”

“Aku senang, kita bisa berteman,” ujar Lukas. Viola menyetujuinya dalam hati. Kelas mereka memang jadi geger ketika Viola dan Lukas bersama-sama masuk kelas keesokan harinya. Nunik sampai terbelalak. Vila mengedipkan mata, tapi tak urung dia melirik juga ke meja Calvin. Cowok itu sedang membaca bukunya dan kelihatan asik betul.

“Apa yang merasuki tubuhmu sampai rukun betul dengan Lukas?” kata Nunik.

“Oh, tak ada apa-apa. Cuma, aku saja yang keliru selama ini. Lukas ternyata cukup menyenangkan.

Nunik tersenyum lega.

“Nah, apa kubilang? Lukas memang pantas untukmu.”

“He jangan berpikir yang lain. Lukas cuma seorang teman.”

Nunik mengangkat tangan tinggi-tinggi, tapi sudut bibirnya memancarkan senyum yang penuh godaan.

“Ya, ya, dia cuma seorang teman … istimewa!”

Viola terbelalak lebar-lebar, sementara Nunik tertawa-tawa gembira.

Istimewa atau tidak, Lukas ternyata memang seorang teman di kala suka dan duka bagi Viola.

“Ada film bagus. Kita nonton ya?” ajak Viola suatu ketika.

Lukas tersenyum manis. “Film apa?”

Film Drama Romantis.

“Oh, actor ganteng itu toh yang main? Aku sudah lihat aktingnya dalam Film lain. Bagus! Pertunjukan pukul berapa?”

Viola tertawa senang. Itulah Lukas, yang selalu bersedia diajak ke mana saja. Selain pintar, dia juga tahu menyenangkan hati.

“Pukul tujuh. Oke?”

“Tunggu saja. Aku jemput!”

Viola kemarin masuk kedalam mobil Lukas, ketika pelajaran usai hari itu. Mereka masih tertawa membicarakan guru yang konyol di depan kelas tadi, ketika Viola melihat Calvin jalan sendiri menuju mobilnya tanpa Rosa di sisinya. Wajah Calvin tampak murung. Aneh sekali.

Viola jadi tak dapat lagi mendengar cerita Lukas karena benaknya penuh dengan bayangan Calvin. Kenapa bisa begitu, pikirnya. Calvin yang kukenal adalah Calvin yang tak pernah sedih, tak pernah mengenal duka dan selalu menganggap ringan semua masalah. Tapi sekarang ….

“Vio, kau … melamun?” tegur Lukas.

“Eh, oh, aku …”

“Kau kelihatan pucat. Ada apa?” sinar mata Lukas memancarkan rasa cemas. Diam-diam Viola mengeluh. Dia sudah lama tahu, ada perhatian khusus dari Lukas untuknya. Dan dia senang itu, sebab dia juga menyukai Lukas. Tapi bagaimanapun, dia tak dapat melupakan Calvin. Yang diimpikannya setiap saat berjalan di sisinya Lukas yang baik, melainkan Calvin yang memilih Rosa dua bulan yang lalu.

“Tidak apa-apa. Trims, Luk. Sampai nanti ya.”

“Ya, langsung istirahat saja, Vio. Aku sayang kau,” bisik Lukas. Kemudian melarikan mobilnya.

Viola tercenung, kaget dan akhirnya menyesal. Dia sedih karena tak dapat juga menukar tempat Calvin di hatinya dengan Lukas, cowok yang baik itu.

“Rosa sudah punya pacar yang lain. Hendrikus, temannya di club. Calvin tentu saja merasa ditinggalkan begitu,” lapor Nunik esok harinya di kelas, ketika Viola bertanya mengapa Calvin tak pernah kelihatan ceria lagi.

“Tahu rasa dia sekarang. Dia pikir, semua cewek bakal bertekuk lutut di depannya,” sambung Nunik puas.

“Kasihan dia …”

“Eh, kok malah dibela? Dia kan yang membuatmu tak pernah tersenyum lagi beberapa bulan yang lalu? Dan, untung ada Lukas kan?”

“Tidak ada hubungannya dengan Lukas, Nik.”

Nunik meloto gemas.

“Kau ini, Vio, selalu saja menurutkan emosi. Masak untuk Calvin yang sok itu, kau mau melepas Lukas?”

“Ah, kau. Aku menyukai Lukas, tapi tidak mencintainya, Nik.”

“Oh ya? Dan sekarang, kau ingi jadi dewi penghibur si kunyuk Calvin ya?”

Viola tak pernah mendengar suara Nunik semarah itu. Nunik pun segera melangkah meninggalkannya setelah berkata begitu. Viola menarik nafas. Nunik marah sekali, desisnya di hati.

***

Lukas mengerling kea rah Viola. Gadis itu sedang menunduk menekuri bukunya. Ada ulangan bahasa Indonesia besok dan mereka diharuskan mengingat semua definisi gaya bahasa serta gejalanya. Tapi perhatian Lukas sudah tak pada bukunya lagi sekarang.

“Hei, ada apa di wajahku?” tegur Viola memukul lengannya. Lukas tersentak dan tersenyum manis.

“Aku suka melihatmu. Kau cantik sekali.”

“Setan gombal. Aku tidak ada uang receh nih!”

Lukas tergelak. Ditutupnya buku.

“Vio.”

“Hm.”

“Kemarin, kau pergi ke mana?”

“Renang.”

Lukas menekan dadanya menahan rasa perih yang semakin hebat. Dia tahu, kenangan manis bersama Calvin di masa dulu, masih begitu kuat melekat dihati Viola.

“Sendiri?” pancingnya, seperti tidak sadar akan bahayanya.

“Tidak. Bersama Calvin,” sahut Viola tenang, sembari membalik bukunya.

Padahal jauh di ujung hatinya ada semacam getaran halus.

“Aku tidak tahu kau akan kembali pada Calvin,” Lukas berkata dengan hambar.

Viola mengangkat mata. Dia tersenyum lebar. Dan Lukas menatapnya dengan mata sedih.

“Dia mengajakku, Luk. Karena kebetulan aku tak punya teman kemarin, ya, kuturuti saja.”

“Kau kan bisa mengajakku.”

“Lho, kemarin kau latihan bola kan?”

Lukas menarik nafas jengkel. Viola seolah-olah menganggap remeh perasaannya.

“Kau pintar cari alas an sekarang. Enak ya punya serep? Kalau yang satu tak ada di tempat, silahkan ajak yang lain,” sindir Lukas.

Viola mencekal lengan Lukas. Tapi cowok itu membuang muka. Dia benar-benar tersinggung.

“Kau marah ya, Luk? Maaf, aku tidak tahu kalau kepergiaanku dengan Calvin membuatmu marah. Tapi, Calvin toh masih temanku juga, dan dia ….”

“Dan dia kembali mengincarmu setelah putus dengan Rosa. Tidakkah kau rasakan, Vio, bahwa Calvin cuma ingin mempermainkanmu? Dia tak pernah sungguhsungguh terhadapmu.”

Sejuta jarum halus menusuk jantung Viola mendengar itu. Hatinya sakit sekali.

“Ya, ya, aku tahu, aku ini bagai pungguk. Aku mengharapkan Calvin akan setia selamanya padaku, tapi ternyata tidak. Menurutmu, dia cuma ingin main-main. Aku tahu, aku ini cukup barharga, aku ini ….”

Lukas merengkuh bahu Viola.

“Vio, bagiku, tak ada yang lebih berharga selain dirimu. Tak dapatkah engkau melupakan Calvin dan belajar menyukaiku?”

“Pulanglah, Luk. Tinggalkan aku sendiri. Ya, tinggalkan aku sendiri.”

Lukas terpana. Ditatapnya Viola, tapi yang ditemukannya hanya seraut wajah datar tanpa senyum, dingin sekali. Diam-diam Lukas beringsut pergi, membawa luka dihatinya.

Hari-hari selanjutnya justru menjadi kosong. Viola juga merasa bahwa Nunik tak mau lagi menghiburnya. Temannya itu amat marah ketika dia ceritakan pertengkarannya dengan Lukas.

“Terlalu kau! Kau kecewakan Lukas yang begitu baik padamu! Kaumengharapkan orang lain setia padamu, tapi kau sendiri? Huh, begitu ada gelagat Calvin akan kembali padamu, kau mulai menyingkirkan Lukas!”

“Aku … aku tak bermaksud begitu, Nik. Aku cuma ingin Lukas mengerti, bahwa hanya Calvin yang kurindukan, dan juga yang selalu kuimpikan.”

“Selamanya kau akan bermimpi, Vio! Tak cukupkah pengalaman mengajarimu bahwa cowok semacam Calvin bagai kincir angina dan tak pernah sungguh-sungguh? Jangan keras kepala, Vio!”

Dan Viola memang keras kepala. Meskipun akhirnya dia harus mengakui, semua sikap manis Calvin akhir-akhir ini cuma kedok cowok itu saja guna menggaet Maria, adik sepupu Viola yang dikenalnya pada sebuah pesta.

Viola mengawasi burung-burung gereja yang terbang ke atas bumbungan rumah sebelah. Dihelanya nafas. Aku seperti seekor keledai, bisiknya. Jatuh untuk kedua kalinya, dengan sebab yang sama dan juga karena ketololanku yang sama ….

***

Viola mempertajam pendengarannya ketika dia semakin mendekati ruang piano.

Dia kenal betul dengan denting-denting yang khas itu. Lukas, hanya Lukas yang bisa bermain piano seperti itu.

“Hai, masuklah.” Lukas berhenti bermain ketika Viola membuka pintu.

“Aku tidak tahu kalau engkau ada di sini. Bukankah giliranmu besok?”

“Ingatanmu kuat juga, Vio. Ya, mestinya aku datang besok. Tapi ada perubahan jadwal. Kau malah yang di minta datang besok,” kata Lukas tenang, seolah-olah sebelum ini mereka pernah tak bicara untuk beberapa waktu.

“Oh, aku tidak tahu. Kalau begitu, biar aku pulang saja,” seru Viola sambil menelan kekecewaannya. Tadinya dia menyangka Lukas datang karena ingin bertemu dengannya. Ternyata …

“Kau mau mendengar laguku? Aku baru saja selesai menulisnya tadi malam.”

Alis Viola terangkat. Dia tidak tahu kalau Lukas bisa menulis lagu.

“Masih acak-acakan. Tolong bantu ya.”

Viola mengangguk. Dan lagu itu begitu sendu, sehingga Viola hanya dapat berdiri tegak tanpa memberi komentar apa pun. Lagu itu bagus walau pun di sana-sini masih ada nada yang fals. Itu biasa, untuk permulaan.

“Apa pendapatmu, Vio?”

Viola tergagap. Dia tak tahu hendak mengatakan apa. Tapi secara keseluruhan lagu itu cukup bagus.

“Bagus.”

“Itu saja?” tatap Lukas dengan sinar seperti biasa, lembut dan penuh kasih.

Kemudian ditepuknya pipi gadis itu.

“Kau tidak ingin tahu, untuk siapa lagu itu?”

Viola menggeleng.

“Untuk gadisku,” kata Lukas.

“Oh,” Viola berputar, tak ingin melihat Lukas dengan matanya yang mulai basah.

Dia patut menerima akibat atas kekerasannya selama ini.

“Vio,” panggil Lukas saat Viola membuka pintu. Vio menoleh. Dia melihat geraham Lukas mengetat.

“Kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?” seru Lukas jengkel.

Viola tersenyum pahit.

“Untuk apa?”

“Persetan untuk apa! Kenapa kau keras kepala betul, Vio? Kenapa kau kunci seluruh pintu hatimu untukku? Tidakkah kau punya perasaan? Hampir gila aku berpisah darimu dulu. Hampir aku mencekik leherku sendirimelihat kau kembali pada Calvin.

Sekarang saat kulihat kau kembali luka oleh bangsat itu, kau tak juga mau mengerti perasaanku!”

“Aku tahu aku salah, Luk. Tapi tidak usah kau bangkitkan lagi kenangan buruk itu. Kalau kau ingin marah, silahkan.”

Lukas menyambar tasnya sambil memandang Viola tajam. Sia-sia semua kerja keras ini dilakukannya.

“Oke, selamat tinggal, Vio. Selamat bermimpi seribu tahun lagi!”

Lantas, Lukas membanting pintu. Viola mengangkat bahu. Dia duduk di depan piano. Aku memang akan bermimpi terus, Luk, gumamnya sendiri. Tapi sekarang bukan Calvin yang kuimpikan, karena dia adalah masa lalu. Yang kuimpikan adalah masa depan bersamamu, Luk …

Vio terbeliak melihat huruf-huruf kecil dibawah kertas lyang tertinggal itu. Di situ Lukas menulis, lagu itu untuk gadisnya yang tercinta, terkasih dan yang keras kepala: Viola..

Viola segera menerjang pintu, melompati dua anak tangga sekaligus.

“Lukas!” teriaknya sekuat tenaga. Lukas baru saja akan membuka pintu mobilnya waktu mendengar teriakan itu. Viola berlari sambil melambai-lambaikan kertas lagu itu.

Lukas tercengang.

“Ada apa?” desis Lukas dingin.

Viola terengah-engah mencari nafas. “Kau tadi bertanya padaku kan?”

Lukas mengangguk. Viola tersenyum tipis sambil berjingkat mencium pipi Lukas.

Cowok itu terbelalak.

“Ada pertanyaan lain?”

Mula-mula Lukas terpana, tapi akhirnya dia tertawa tergelak-gelak sambil merangkul Viola erat-erat.

“Tidak. Tidak ada pertanyaan lagi. semuanya sudah terjawab.”

Viola lega. Ya, semuanya sudah terjawab. Masa lalu telah ditepiskannya sekarang dan dia bersiap menjalani masa depan bersama Lukas yang setia.
 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger