Post View:
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Cerita-Cerita: 1.000 Kutu di Kepala Anakku

Kamis, 31 Mei 2012
SOAL gizi buruk ataupun polio bagiku sudah tidak lagi menarik sebagai berita. Karena itu, tak perlu diceritakan maupun dikabarkan. Bahkan flu burung yang sempat merebak di seluruh kota di negeri ini, kini tak lagi membuat bulu tengkukku berdiri. Aku tak takut lagi terkena flu burung. Apalagi sudah ada jaminan pemerintah kalau hewan-hewan sejenis itu sudah bebas dari rabies flu burung. Jadi, tak ada keraguan aku mengonsumsi daging ayam. Kalau kini aku cemas, sebabnya kutu yang menyerbu rambut di kepala anakku.

Tidak tanggung-tanggung. Kalau mampu kuhitung, mungkin ada 1.000 (seribu) kutu atau boleh jadi lebih. Jujur kukatakan, aku belum sempat memastikannya. Setidaknya, apakah aku mampu menghitung seribuan kutu yang bersemayam di kepala anakku? Ditambah lagi anakku tak bisa diam kalau aku sedang memunguti kutu di kepalanya. Sebab itu, aku hanya sanggup mengumpulkan 30 ekor-terkadang bisa lebih-kutu setiap harinya. Itu pun diselingi dengan ogah-ogahan dan merajuknya.

Entah mengapa ia sangat enggan kalau aku mau menangkapi kutu di kepalanya. Padahal kerap kulihat ia menggaruk-garuk rambutnya saat tidur. Mungkin karena kutukutu yang menghisap darah di kepalanya saat ia tidur, sering membuatnya terjaga.

Jemari kedua tangannya bergerak kian ke mari, bagai penari yang selangkah majumundur dan bergerak ke kiri-kanan. Kubayangkan seorang penari cantik yang lincah bergerak, begitulah jari-jari kedua tangan anakku di kepalanya. Rambutnya pun kemudian acak-acakan. Pelan-pelan sekali agar ia tak terbangtun kurapikan kembali rambutnya.

Pernah rambutnya kubasuh minyak tanah. Konon, kata para orang tua dulu, minyak tanah dapat membuat kutu mabuk lalu mati. Sebelumnya, aku juga pernah membilasnya dengan shampo anti-ketombe dan kutu. Cuma tidak lama berselang, telurtelur kutu yang berwarna putih muncul lagi. Telur-telur kutu itu sulit dibuang karena sangat lengket di helai-helai rambut. Kecuali dicukur gundul. Dan, itu juga pernah kulakukan meski anakku yang masih duduk di kelas satu SD itu awalnya menolak dicukur gundul.

"Gak mau botak. Obi malu, Pa" rajuknya. Aku tetap membujuknya kalau tak lama rambutnya akan tumbuh kembali. Jika rambutnya digunduli, maka kutu-kutu itu tak akan datang lagi.

Tetapi, itu hanya sementara. Sebab, tatkala rambutnya kembali tumbuh justru makin banyak kutu bersemayam. Sungguh, aku dibuat pusing. Tak habis pikir, bagaimana bisa dan dari mana telur kutu itu menghiasi rambut anakku, lalu menetas kutu yang amat banyak. Mungkin sekitar seribu, atau jangan-jangan lebih?

Karena kutu-kutu itu, aku dapat pekerjaan tambahan. Setiap hari aku mendekati anakku dengan sebuah sisir penjaring kutu (orang menyebutnya sisir serit). Sehabis pulang dari kantor aku mengambil sisir serit kemudian mendekati anakku yang tengah menonton teve. Sambil menikmati tayangan televisi, aku menyerit rambut anakku. Terjaringlah kutu-kutu itu di diselipan serit. Satu, dua, hingga 10 atau kadang-kadang mencapai 48 kutu terjaring. Kemudian kumatikan dengan ujung kuku jempolku. Tentu saja dengan gemas.

Mematikan kutu lama-lama menjadi pekerjaan menyenangkan. Jadi keriangan. Setiap ada waktu kosong dan anakku mau, maka kutangkapi kutu-kutu di kepalanya untuk kutindas di ujung kuku jempolku. Karena kebanyakan acap kuku jempolku penuh cairan berwarna merah. Darah. Darah dari kepala anakku.

"Kalau tak mau, lama-lama darah Obi habis dihisap kutu," kataku. Maksudku ingin menakut-nakuti anakku. Biasanya setelah itu ia akan menurut, mendekati kepalanya. Aku pun dengan leluasa menyerpihi kutu-kutu itu.

Meski sering kutakut-takuti, tidak selalu ampuh. Misalnya kalau sedang asyik bermain, ia akan menolak. Obi akan lari keluar rumah bersama teman-temannya, dan akan pulang tiga jam atau lebih. Kalau sudah begitu aku tak bisa marah. Aku akan mencari waktu atau hari yang lain.

* * *

SERIBU kutu di kepala anakku seperti tak mau pergi. Meskipun sudah setiap hari kutuai, telurnya tak henti menetas. Sepertinya percaya benar dengan pribahasa yang bermakna satu dimatikan maka seribu lagi akan lahir. Sehingga kerjaku mematikan kutu-kutu itu layaknya sang Syshipus yang memangul batu ke puncak bukit lalu setelah sampai digelindingkan lagi oleh Dewa. Barangkali demikianlah pekerjaanku: kumatikan satu, esok lahir seribu kutu lagi.

Aku bingung. Entah dengan cara apa lagi aku membasmi kutu di kepala anakku. Entah dengan siasat yang mana lagi agar kutu-kutu itu tak lagi mau datang. Sudah banyak jurus dan taktik kulakukan, tetap saja kutu itu ada di kepala anakku. Kalaupun kurasa habis karena kumatikan ternyata tak lama: anakku kembali menggaruk-garukkepalanya. Dan, ketika kuserit, aku dapatkan lebih dari 20 kutu! Cukuplah itu sebagai bukti bahwa di rambut kepala anakku banyak dihuni kutu.

Dari mana kutu itu datang? Mungkinkah terbang dari kepala anak tetangga? Atau karena tertular dari teman sekolahnya? Soalnya, baik istriku dan anak-anakku yang lain tidak berkutuan. Karena itu, beda sekali dengan anak bungsuku ini. Rambutnya seperti sebuah ladang yang ditumbuhi ilalang: ditebang dan tumbuh lagi. Kutu-kutu itu seperti pergi lalu datang lagi. Walaupun habis, namun beberapa hari kemudian kutu-kutu itu muncul lagi. Kutu itu benar-benar hilang kalau rambut anakku gundul, tapi begitu rambutnya tumbuh bersamaan itu pula kutu datang. Seperti sebelumnya, banyak sekali. Mungkin sekitar 1.000 kutu di sana.

Sungguh aku dibuat pusing oleh kutu di kepala anakku. Pekerjaan kini bertambah lagi setiba di rumah: menyerit rambut anakku. Menilik baris-baris serit, mencongkel jika kuyakini ada kutu yang terjaring. Setelah itu, di atas kertas putih atau di lantai marmer rumahku yang berwarna putih itu, kutu itu pun kutindas dengan ujung kuku jempolku. Aku puas kalau dari kutu itu muncrat darah. Aku tersenyum.

Dan, sialnya aku menjadi ketagihan. Seperti orang yang ketagihan pada narkoba. Jika aku sedang sakau-istilah para pemadat itu-aku akan marah sekiranya anakku enggan mendekatkan kepalanya padaku. Pernah sisir serit kulempar ke kakinya, ia terkaing-kaing. Lari makin menjauhiku. Terdampar di pangkuan ibunya.

Kalau sudah begitu aku tak bisa berbuat apa-apa. Diam. Tentu saja dengan menahan gemas tak alang. Anak bungsuku itu memang keterlaluan. Tidak tahu diuntung. Padahal, hanya sedikit seorang ayah-dan aku di antara yang sedikit itu-yang mau mengurusi hal-hal yang temeh seperti itu: menangkapi kutu untuk selanjutnya dimatikan. Tak banyak seorang ayah yang masih mau peduli pada urusan kutu di kepala anaknya. Biasanya itu pekerjaan para ibu, para perempuan, urusan istri. Aku pernah melihat sebuah karya foto entah di media massa mana, tentang para perempuan Jawa berbaris duduk di depan rumah sedang mencari kutu. Kalau tak salah ada tujuh perempuan saling mencari kutu, sementara seekor kera mencari kutu di kepala perempuan paling belakang. Pikirku, foto itu tak hanya artistik, melainkan juga
memiliki sense of social.

Seribu kutu di kepala anakku sungguh membuatku pusing. Menjadi pekerjaan tambahan seusai aku pulang kantor. Akhirnya aku sudah terbiasa tidur siang. Aku memandangi kutu-kutu yang ada di rambut anakku. Kutu-kutu itu merayap dan berkeliaran di antara helai-helai rambut anakku. "Lihat Obi, kutu di kepalamu itu banyak sekali. Dekatkan kepalamu, papa mau ambil," teriakku.

Obi menggeleng. Menutup kepalanya dengan bantal. Tetapi, matanya tetap ke layar televisi. Aku jadi gemas. Lalu, hanya kupandangi bagaimana kutu-kutu itu merayap dengan sangat lincah di helai-helai rambutnya. Ataupun terdiam di kulit kepalanya. Aku membayangkan kutu-kutu layaknya percikan api, dan helai-helai rambut anakku bagaikan belantara di Kalimantan, Riau, Sumatera, dan entah mana lagi.

Percikan api yang kemudian membakar hutan-hutan di Indonesia. Tak ada yang dapat memastikan muasal api, penyebab apa, dan sesiapa yang melempar percikan api tersebut. Kiranya yang kami ketahui cumalah hutan-hutan terbakar. Asapnya membumbung hingga menyelimuti daerah sekitar. Jalan-jalan tak bebas pandang. Udara pengap. Dan, orang-orang pun diwajibkan mengenakan masker. Di mana-mana dijajakan penutup hidung dan mulut itu, banyak yang membelinya. Demi menjaga kesehatan, kata pejabat dari Dinas Kesehatan.
Anakku menggeliat. Ke sepuluh jari tangannya layaknya penari yang melenggak-lenggok di lantai nan lincih. Rambutnya pun acak-acakan. Aku memelas melihatnya. Namun, ia tak jugaberkenan menyerahkan kepalanya padaku.
"Obi, lama-lama darahmu habis dihisap kutu. Tahu?!" aku berang. Hendak menjambak rambutnya. Istriku melerai. Ia bilang, jangan kasar menghadapi anak-anak. Tak baik pada perkembangan jiwanya. Bagaimana kalau ia sudah besar nanti kalau perkembangan jiwanya terganggu.

Aku urung. Cuma, sayangnya, Obi tak mau mengerti. Ia tetap menjauh. Rambutnya tak mau kuserit. Padahal, kulihat barusan, kutu-kutu yang hidup di rambutnya merayap ke sana ke mari. Seperti pesakitan yang baru saja bebas dari penjara. Bayangkanlah suatu saat kita melihat seorang penjahat yang baru saja menghirup uadara bebas, memandang semesta tak terbatas. Ia akan menengadahkan kedua tangannya ke langit, dengan kepala yang mendongak ke atas pula. Lalu, terdengarlah teriakan yang sangat keras: "Aku beeebbbaaassss,"

Demikian, kutu-kutu di kepala anakku itu bagai pesakitan-sang penjahat-yang melihat kebebasan sesuatu yang amat mahal. Seribu kutu yang merayap itu selayaknya percikan api yang membakar berhektar-hektar hutan di Indonesia. Ah, tidak. Aku teringat puluhan kuda berlari kencang di padang Sumba, sebagaimana dikatakan Taufiq Ismail dalam sebuah puisinya. Seribuan kutu itu berlari dan melompat dari satu helai rambut ke helai rambut lainnya. Ia amat lincah. Aku kesulitan menangkapnya dengan jemariku. Itu sebabnya, di rumahku selalu siap sisir serit. Kini sudah ada tiga sisir yang kubeli di Pasar Rajawali, kiriman dari saudaraku di Jawa, dan oleh-oleh kakakku sewaktu ke Malaysia .

Kalau saja anakku tak selalu menolak kucarikan kutu di kepalanya, aku sudah lama ikhlas menyerit walaupun harus berlama-lama. Sebab, aku sangat suka membunuh binatang kecil penghuni kepala itu. Aku semakin gemas tatkala memandangi muncratan darah dari tubuhnya; darah yang dihisap dari kepala anakku.

Darah. Warnanya seperti mengingatkan aku pada warna api. Membara. Menghanguskan hutan-hutan di Tanah Air. Tetapi, tak satu pun orang yang dapat memastikan siapa yang membakarnya atau penyebabnya apa. Hutan-hutan Indonesia yang tak hanya kekayannya diringkus dan dijarah. Juga dibakar. Belantara pun menjadi gundul mengelam. Tanah mengoreng. Pohon-pohon roboh sebagai arang. Hitam. "Obi, sini dong, papa tak mau, darahmu habis bagai hutan. Papa mau ambil kutu-kutu di kepalamu. Sini dong," bujukku. Hatiku kesal.

Obi tetap saja menjauh. Kutu-kutu itu-seribuan barangkali-yang merayap berjatuhan. Terbang ke mana-mana. Ada yang hinggap di rambutku. Lalu berbiak di kepalaku. Rambutku penuh oleh kutu. Dari kepala anakku. Aku makin gemas. Kecewa. Ingin kusambit kaki anakku dengan sisir serit yang paling keras di antara sisir yang lain. Tersebeb tak mau kutu di kepalanya kutangkapi, kini malah kutu-kutu itu pindah ke rambutku. Segera kupanggil istriku, dengan sekali teriakan: "Anti, sini kau, bawa gunting dan gunduli kepalaku!"
Istriku ternganga. Ia belum mengerti maksudku.
"Cepat kepalaku gunduli saja!" perintahku lagi. "Kutu-kutu itu kini sudah berpindah ke rambutku. Kepalaku gatal."
"Ah, itu perasaanmu saja, Pa. Rambutmu kan sudah lama tidak disampo!"
"Tidak! Ini pasti ulah kutu yang pindah dari rambut Obi!" kataku memastikan.
"Gunduli kepalaku. Nanti kau bisa lihat kutu-kutu yang menempel di rambutku."
"Tapi."
"Nggak usah pakai tapi. Cepat gunting rambutku. Kau akan lihat kutu-kutu itu berjatuhan. Aku sudah kesal."

Dengan amat terpaksa sekaligus kecewa, lalu gunting di tangan istriku membabat rambutku hingga habis. Seperti penebang pohon di belantara terlarang. Rambutku pun berjatuhan, layaknya hutan yang tumbang setelah digergaji mesin. Kusakisikan tumpukan rambutku berserakan di lantai. Kulihat pula ratusan ekor kutu dari kepalaku, kini merayap-rayap di lantai. Secepatnya kutindas dengan kedua ujung kuku jempolku. Aku tak ingin seekor kutu pun dapat selamat.

Kini kepalaku benar-benar gundul. Tak sehelai rambutmu masih tersisa. Habis hingga ke kulit rambutku. Seperti lahan kosong tanpa pepohonan. Bagaimana jadinya, beberapa jenak nanti, ketika memandangi kepalaku di cermin. Pastilah amat buruk. Soalnya, seumur hidup aku tak pernah berkepala plontos. Bentuk kepalaku memang tak indah tanpa rambut. Karena itulah, aku selalu berpenampilan gondrong walau usiaku tak lagi muda.

Entahlah, apa jawabanku esok saat teman-teman di kantorku bertanya soal kepalaku yang botak ini. Soal tak bersisa lagi rambuku. Tentang kepalaku yang sangat sangat licin, tetapi makin tak indah dinikmati. Sungguh aku pusing. Seperti aku mengingat nasib hutan-hutan di Indonesia. Gundul

***
Isbedy Stiawan ZS
Lampung, 13-21 Maret 2006

Lantunan Cinta Sang Pencinta

Jumat, 25 Mei 2012
Lewat ekor mata, aku tau matanya yang sipit kecoklatan memandangku lagi. Tetap tajam namun lembut, seperti biasanya. Bibirnya terbuka hendak berkata-kata, namun mungkin rasa segan membuatnya terkatup lagi. Dengan handuk putih bertengger di bahu, ia membalikkan badan membelakangiku. Pergi. Aku diam sejenak lalu mengoleskan metal polish pada baritone kesayanganku, menggosoknya sampai berwarna hitam dan melapnya sampai bersih. Pantulan sinar dari tutsnya menandakan baritone ini selalu terawat dengan rapi. Irio dan Laode tersenyum iri padaku. Baritone mereka tidak pernah semengkilap milikku, padahal kami membersihkannya bersama-sama dua kali seminggu. “Ngiri ya? Hehehe… Nggosoknya yang bener dong , kan udah aku ajarin”, ujarku. Mereka hanya bisa memajukan bibirnya 2 cm.

“Murid lesnya masih banyak mbak Wina?”, si pemilik mata sipit sudah berdiri di depanku saat kudongakkan kepala. Senyumnya mengembang, memamerkan deretan gigi yang kecoklatan karena nikotin.

“Masih, Kak. Sekarang malah ada murid yang baru. Alhamdulillah…” Kumasukkan baritone ke dalam plastik pembungkus lalu meletakkannya dengan hati-hati ke dalam peti. Aku berlalu dari hadapannya tanpa kata-kata. Aku tau mulutnya terbuka lagi, namun aku segera berlari menyusul teman-temanku menuju gerbang kampus. Kugapai bahu Asma lalu tawa kami berderai seperti biasanya. Dari kejauhan kulihat ia melindungi wajahnya dari sorotan mentari senja. Pandangannya tertuju padaku.

***

Aku sangaaaaat mencintai marchingband. Karena kecintaan itulah tiga hari kemudian aku tetap melangkahkan kaki ke kampus AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA. Padahal pakaian yang kukenakan bukan lagi training dan kaos olahraga kampus seperti biasanya. Hari itu adalah hari perdanaku memakai jilbab. Ya, baju kurung yang mengulur dari bahu sampai mata kakilah yang kukenakan. Kulihat puluhan pasang mata menatapku terpana saat aku memasuki ruang latihan. Apel pembukaan baru dimulai. Dengan rasa percaya diri yang kukumpulkan, kulewati puluhan tatapan sinis, merendahkan, dan mengucilkan itu. Teman-temanku seakan tak lepas melucutiku dari ujung kerudung sampai kaki. Mata sipit itu memandangku dengan tatapan tidak seperti biasanya, tapi aku tetap berjalan ke arahnya.

“Kak Wirawan, mulai hari ini boleh nggak saya latihan pake gamis?”, agak sedikit gemetar aku meminta izinnya.

“Ngapain pake gituan? mbak mau pindah kuliah ke Mekkah? ”, matanya membulat tanda tak setuju. “Mbak Wina aneh banget!”

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Suara lembut dengan tatapan menyejukkan itu sudah tiada. “Ya sekarang pakaian saya di luar jam kuliah kayak gini Kak. Boleh gak saya tetap menjadi anggota Korps Marching Band AMG dengan pakaian seperti ini ??”. Kutinggikan nada suaraku pada pelatih alat tiup itu, aku mulai kesal dengan responnya. Apalagi teman-temanku mulai mengejekku dengan kata-kata yang membuat gatal telinga.

“Nggak boleh!! Kalo mau tetep latihan, tolong pake pakaian seperti biasa!!”, keputusan Kak Wirawan sudah terucap.

Kuhela nafas dalam-dalam,”Ya sudah Kak. Tolong cari peniup baritone untuk menggantikan posisi saya. Saya keluar!”

Gontai tapi pasti aku keluar dari ruangan itu. Kepalaku tertunduk. Hatiku tertohok oleh perasaan yang tak menentu. Air mataku mengalir, tapi sungguh, aku tak ingin mereka melihatnya.

“Win, Wina!!! Sebentar !” Teriakan Zakiy menahanku di pintu rektorat, “Kak Wirawan mau ngomong sebentar.” Kuikuti langkah komandan marchingband itu ke ruang tamu. Dari ruang latihan teman-teman antusias mencari tau apa yang terjadi. Mereka bergonta-ganti melongokkan wajah ke arah kami.

“Ada apa Kak?”, tanyaku singkat.

“Kenapa mbak Wina harus pake pakaian kaya gitu? Jangan ikut kaum ekstrem kanan, yang biasa ajalah ngejalanin hidup”, lelaki paruh baya itu menghisap tembakaunya dalam-dalam. Dia tampak bingung. Keringat tak berhenti mengalir dari dahinya. “Ini kan memang pakaian buat muslimah Kak. Saya tidak mau Allah enggan melirik saya karena saya tidak bersegera menjalankan perintahNya, padahal saya sudah tau itu. Saya lebih senang jika manusia yang membenci saya. Jadi tidak masalah kalau saya keluar dan dihujat, yang penting Allah ridha pada saya.”

Mata sipit itu bergerak kesana-kemari, mencari kata yang bijak untuk diucapkan, “Ya sudah, silahkan latihan lagi. Sulit untuk menemukan peniup baritone seperti mbak.” Ia menggilas puntung rokoknya dengan paksa. Aku tau ia menatapku sejenak sambil menelan kekecewaannya, lalu pergi tanpa berucap.

***

Siang itu, di bawah panggangan matahari kami berlatih display untuk acara 17 agustus. Seminggu lagi kami akan tampil di BMG pusat. Semua atasan menunggu hari itu, karena kami akan tampil perdana. Sudah 4 jam wajah-wajah kami terbakar panasnya matahari Jakarta. Suara Mega sebagai field commander terdengar makin parau. Bibirnya pucat, wajahnya bias. Aku juga merasakan mulutku baal, mati rasa. Tapi senyum tetap merekah menghiasi bibir-bibir barisan horn line, percussion line dan colour guard. Kami bangga. Kamilah angkatan pertama Korps Marching Band AMG. Namun jauh di lubuk hati, rasa yang tak karuan itu makin terasa. Dan aku ingin segera menumpahkannya.

“Kak saya mau keluar marchingband”, ucapku pada para pelatih seusai latihan, termasuk Kak Wirawan. Bola mata mereka membesar. Lagi-lagi aku harus menjelaskan. Dan lagi-lagi aku harus menerima cacian dan hujatan. Namun niatan untuk tunduk pada hukum syara’ membuatku sangat berani menjawab dan melewati makian itu. Seluruh pelatih dan teman-teman menghujatku. Tidak ada yang bisa menerima bahwa alasanku keluar adalah karena aku tidak mau lagi berikhtilat, tasyabbuh, dan meninggalkan kewajiban berjilbab saat tampil. Aku keluar dari ruang latihan dengan iringan koor “Huuu..” dari teman-temanku. Bisa dibayangkan?? Teman yang sudah hampir tiga tahun bersama, dengan mudah membenciku hanya karena aku keluar marching band. Padahal aku melakukan itu karena aku mencintai Rabbku!

Mata sipit Kak Wirawan memandangku sayu. Dadaku sesak. Gerimis di hatiku makin deras. Sungguh aku sangat mencintai marchingband, alat tiupku, dan teman-temanku. Aku ingin tetap berlatih dengan bangga sebagai angkatan pertama Korps Marching Band AMG. Aku ingin sebuah lambang kehormatan tersemat pada seragamku. Dan terlebih karena aku ingin melihatnya. Melihat lelaki paruh baya itu dengan tatapan lembutnya. Melihatnya menantiku merapikan alat di ujung ruang. Menikmati tawa dan senyumnya yang selalu terkembang untukku.

***

Di sinilah aku sekarang, empat hari setelah hari itu. Berdiri melihat kawan-kawanku berlatih drumband dari luar pagar kampus. Mereka semua tetap mendiamkan dan menghujatku. Tak ada yang sadar aku memperhatikan mereka, karena bagi mereka aku tak lagi berguna. Di tanganku ada lembaran buletin yang siap kuedarkan. Aku akan mengopinikannya pada adik-adik kajianku, yang tengah bersemangat menyongsong kemuliaan islam di depan mata. Dari kejauhan kulihat Kak Wirawan tengah menatapku, aku tersenyum simpul. Bagaimanapun, lelaki dengan dua putra itu sempat menjadi bunga tidurku sampai sekian waktu. Langkah kaki membawaku menjauh dari sana, dari marching band, Kak Wirawan, dan hiruk pikuk dunia.

Kulabuhkan lantunan cinta ini hanya padaMu Ya Rabb, karena aku mencintaiMu lebih dari apapun…

***


Hanun Al-Qisthi

Be My Valentine

Sabtu, 19 Mei 2012
Penulis : El-Syifa


“Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?”
Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.
Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.
Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.
“Nah, lho, ketangkap sekarang!”
Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.
“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.
”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.
”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.
”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.
”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.
”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.
”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.
”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”
”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”
”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.
”Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”
Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.
Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….

Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?
Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….
”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!
Gedubrak!
Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.
”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.
”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.
”Nggak sakit?”
Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”
Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.
***
”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.
”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.
”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.
Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.
”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.
”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.
Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.
Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.
Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.
***
”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.
Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”
Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.
Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.
”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.
Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.
”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.
”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.
”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.
Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!
”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.
”Kapan?”
”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”
Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.
”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.
Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”
Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!
***
Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.
Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.
Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.
Singkat. Pendek saja isinya.
Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?
Ronnie
Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?
***
Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.
”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”
”Oke, deh!” sahut Meti mantap.
Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.
”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.
Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.
Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.
”Apa?!” dia nyaris tak percaya.
Wajahnya berubah.
“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.
Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.
Meti melangkah gontai ke kamarnya.
”Ada apa, Met?” kejar Mamah.
”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.
”Lho?!”
”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”
”Kok gitu?”
”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.
Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.
Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.
”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.
Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.
”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.
”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”
Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.
Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.
Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.
***

Diambil dari buku kumpulan cerita berjudul ”Kidung Kupu-Kupu Putih”.
karya El-Syifa.etakan I, Shafar 1422 / Mei 2001.

Cerpen Lagu Untuk Viola

Rabu, 16 Mei 2012
"Vio!"

Gadis berkepang dua itu berhenit. Diangkatnya alis tinggi-tinggi ketika Lukas menghampirinya tergesa-gesa.

“Apa?”

“Aku antar kau, ya?”

Viola tercenung. Lewat ekor matanya, dia dapat melihat Calvin dan Rosa bergandengan masuk ke dalam mobil Calvin. Nyeri lambung Viola tiba-tiba melihat pemandangan itu.

“Ayolah, kau sudah janji kemarin,” desak Lukas.

“Aku mesti ketoko buku dulu. Maaf Luk, aku tidak dapat.”

“Kebetulan. Aku punya rencana mau ke took buku. Ayo, kuantar kau ya,” kata Lukas pula, tanpa putus asa.

Viola menarik nafas panjang. Mobil Calvin sudah melaju melewati mereka. Hati Viola sedih sekali melihat Calvin tidak melirik sedikit pun kearahnya. Seluruh perhatiannya sudah terpaut pada Rosa, anak yang baru pindah itu, pikirya.

Viola mendadak ingat siapa Lukas. Lukas juga murid baru di kelasnya. Cowok itu sudah banyak menarik perhatian cewek-cewek kelasnya sejak ia pertama masuk, persis seperti adik sepupunya itu. Ya, Rosa memang adik sepupu Lukas.

“Tidak. Aku bisa pergi sendiri,” kata Viola. Kemudian dia melangkah tergesagesa, meninggalkan Lukas yang tertegun menelan kekecewaan. Dia merasa tidak sakit hati dengan penolakan Viola, karena mengerti mengapa cewek itu berbuat demikian.

Di toko buku, hati Viola jadi sakit lagi. dia tak menyangka sedikit pun akan menjumpai Calvin dan Rosa di sana.

“Hei! Vio. Mau beli buku juga? Wah, aku kira koleksimu sudah ratusan. Eh Rosa, kenalkan nih Si Kutu Buku sekolah kita. Viola.”

Rosa segera mengulurkan tangannya. Viola mencoba tersenyum. Dia agak kaget juga dengan ketenangan Calvin. Dia benar-benar berpengalaman, bisiknya, di hati. Dan aku benar-benar cewek yang teramat bodoh.

Rosa dan Calvin pergi lebih dulu. Viola jadi ingat, ketika Calvin masuk suka jalan bersamanya. Ah, begitu banyak kenangan manis yang mereka ciptakan bersama. Itulah sebabnya mengapa aku begitu sulit melupakannya, keluh Viola sambil membayar bukubuku yang dibelinya di kasir.

***

“Lukas selalu memperhatikanmu, selalu menyanyangimu, tapi mengapa kamu tak pernah berlaku ramah di depannya?” kata Nunik, teman dekatnya.

“Karena itulah aku tak mau menggubrisnya. Aku tak menyukai perhatiannya itu. Aku tak menyukai pamrihnya,” kata Viola.

Nunik menepuk pipi Viola sambil tersenyum halus.

“Vio antara kau dan Calvin sudah selesai. Kisah lama itu harus kau tutup. Tidak mungkin kau mesti menutup diri selamanya. Calvin tidak amat berharga untuk pengorbanan semacam itu.”

Viola berhenti menyusun bukunya sambil menoleh kepada Nunik. Matanya memancarkan sinar yang amat tajam.

“Barangkali begitu. Tapi aku merasa, antara aku dan Calvin masih ada sisa perhitungan.”

Nunik bergidik melihat sinar mata Viola. Begitu menakutkan. Karena itu segera digenggamnya lengan Viola.

“Jangan berbuat nekad, Vio. Dendam tidak akan menyelesaikan persoalan.”

Viola mengangkat bahu. Dan Nunik tahu, rayuannya sia-sia saja. Viola amat keras dalam pendirian.

Sepeninggal Nunik, Viola membuka laci mejanya. Dikeluarkannya selembar fotho dari dalamnya. Fhoto Calvin.

“Aku menyukaimu, Cal. Amat menyayangimu, tapi kenapa … ,” keluhnya sambil menitikkan air mata. Sudah empat bulan mereka berpisah, tapi tetap saja Viola merasa baru kemarin sore Calvin datang ke hadapannya sambil membawa bunga mawar yang segar itu.

“Maaf, Vio. Tapi seperti engkau tahu, aku suka berterus-terang. Tidak ada lagi diantara kita yang pantas kita pertahankan. Aku menyukaimu tapi tak dapat mencintaimu. Engkau bukan gadis tipe idealku dan …”

Viola sudah tidak ingat apa lagi kata Calvin selanjutnya. Yang dia ingat cuma, Calvin menyerahkan kembang itu, mengecup keningnya kemudian melarikan mobilnya membelah kegelapan malam.

Ketika mereka berhubungan, banyak teman Viola yang mengingatkan untuk berhati-hati sebab semua orang tahu siapa Calvin. Vio pun tahu siapa cowok itu, sebetulnya. Itulah sebabnya dia tidak begitu tertarik ketika Calvin mendekatinya pertama kali. Dia menduga, pendekatan Calvin hanyalah karena ingin membuktikan pada temantemannya, bahwa ia papa bravo nomor wahid karena bisa menundukkan Viola, si Kutu Buku, debu perpustakaan yang sering digelari patung es. Cukup lama Vio menguji Calvin. Tapi dasar Calvin berjiwa ulet, dia tak pernah putus asa. Dan kini … oh, bisik Vio perih. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

***

Viola bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dia belajar piano. Ada keengganan menyergap hatinya, karena dia tahu ada Lukas di sana.

“Ini lagu-lagu yang akan kalian bawakan. Luk, coba engkau yang pertama,” kata guru mereka, Bu Marta, memberi kode perintah.

Lukas melirik Viola sebelum mulai bermain. Viola menunduk. Lukas lantas memulai dengan Turkish March. Ibu Marta mengetuk-ngetuk meja memberi kode waktu.

Dua jam lebih mereka habiskan untuk berlatij. Viola menarik nafas ketika dia sudah kembali berada di luar sekolah.

“Vio.”

Viola melirik. Lukas seperti gelisah di depannya.

“Apa?”

“Kau akan menolak juga kalau kuajak ke kantin sana?”

Entah apa yang lucu, Vio jadi tersenyum geli mendengar pertanyaan Lukas yang polo situ.

“Tidak. Kebetulan aku memang haus,” kata Viola kemudian.

Lukas tersenyum cerah. Tadi dia tak berani lagi berharap, karena sudah sering ditolak Viola.

“Sori, Luk. Aku kelihatannya kasar ya? Bukan maksudku begitu,” kata Vio lembut, waktu mereka sudah duduk di kantin. Lukas menggelengkan kepala.

“Tidak usah kau terangkan, Vio. Aku sudah mengerti.”

“Trims deh kalau begitu.”

Keheningan yang tadi mencekam mulai mencair dengan sikap ramah yang ditunjukkan Viola. Kelihatannya dia ingin menghapus image jelek Lukas atas dirinya.

Viola sadar, sikap dingin yang ditunjukkannya pada Lukas selama ini Cuma didasari rasa dendam yang tak tentu arah. Dia marah pada Rosa, saudara Lukas, tapi tak dapat mencurahkannya langsung kepada gadis itu.

Tetapi Lukas merasa amat bahagia dan hampir tak yakin dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Viola ternyata sungguh manis dan pintar sekali membangun percakapan.

“Teman-teman pasti kaget melihat kita akrab besok di kelas,” kata Lukas ketika mengantar Viola pulang.

Viola mengangguk geli. Selama ini, seperti sudah ada undang-undang tak tertulis, cuma Lukas Cowok yang tak pernah ditegurnya dengan ramah, sehingga temantemannya menganggap mereka bermusuhan.

“Ya, apalagi Nunik. Dia selalu kesal melihatku tak pernah bersikap manis terhadapmu.”

“Aku senang, kita bisa berteman,” ujar Lukas. Viola menyetujuinya dalam hati. Kelas mereka memang jadi geger ketika Viola dan Lukas bersama-sama masuk kelas keesokan harinya. Nunik sampai terbelalak. Vila mengedipkan mata, tapi tak urung dia melirik juga ke meja Calvin. Cowok itu sedang membaca bukunya dan kelihatan asik betul.

“Apa yang merasuki tubuhmu sampai rukun betul dengan Lukas?” kata Nunik.

“Oh, tak ada apa-apa. Cuma, aku saja yang keliru selama ini. Lukas ternyata cukup menyenangkan.

Nunik tersenyum lega.

“Nah, apa kubilang? Lukas memang pantas untukmu.”

“He jangan berpikir yang lain. Lukas cuma seorang teman.”

Nunik mengangkat tangan tinggi-tinggi, tapi sudut bibirnya memancarkan senyum yang penuh godaan.

“Ya, ya, dia cuma seorang teman … istimewa!”

Viola terbelalak lebar-lebar, sementara Nunik tertawa-tawa gembira.

Istimewa atau tidak, Lukas ternyata memang seorang teman di kala suka dan duka bagi Viola.

“Ada film bagus. Kita nonton ya?” ajak Viola suatu ketika.

Lukas tersenyum manis. “Film apa?”

Film Drama Romantis.

“Oh, actor ganteng itu toh yang main? Aku sudah lihat aktingnya dalam Film lain. Bagus! Pertunjukan pukul berapa?”

Viola tertawa senang. Itulah Lukas, yang selalu bersedia diajak ke mana saja. Selain pintar, dia juga tahu menyenangkan hati.

“Pukul tujuh. Oke?”

“Tunggu saja. Aku jemput!”

Viola kemarin masuk kedalam mobil Lukas, ketika pelajaran usai hari itu. Mereka masih tertawa membicarakan guru yang konyol di depan kelas tadi, ketika Viola melihat Calvin jalan sendiri menuju mobilnya tanpa Rosa di sisinya. Wajah Calvin tampak murung. Aneh sekali.

Viola jadi tak dapat lagi mendengar cerita Lukas karena benaknya penuh dengan bayangan Calvin. Kenapa bisa begitu, pikirnya. Calvin yang kukenal adalah Calvin yang tak pernah sedih, tak pernah mengenal duka dan selalu menganggap ringan semua masalah. Tapi sekarang ….

“Vio, kau … melamun?” tegur Lukas.

“Eh, oh, aku …”

“Kau kelihatan pucat. Ada apa?” sinar mata Lukas memancarkan rasa cemas. Diam-diam Viola mengeluh. Dia sudah lama tahu, ada perhatian khusus dari Lukas untuknya. Dan dia senang itu, sebab dia juga menyukai Lukas. Tapi bagaimanapun, dia tak dapat melupakan Calvin. Yang diimpikannya setiap saat berjalan di sisinya Lukas yang baik, melainkan Calvin yang memilih Rosa dua bulan yang lalu.

“Tidak apa-apa. Trims, Luk. Sampai nanti ya.”

“Ya, langsung istirahat saja, Vio. Aku sayang kau,” bisik Lukas. Kemudian melarikan mobilnya.

Viola tercenung, kaget dan akhirnya menyesal. Dia sedih karena tak dapat juga menukar tempat Calvin di hatinya dengan Lukas, cowok yang baik itu.

“Rosa sudah punya pacar yang lain. Hendrikus, temannya di club. Calvin tentu saja merasa ditinggalkan begitu,” lapor Nunik esok harinya di kelas, ketika Viola bertanya mengapa Calvin tak pernah kelihatan ceria lagi.

“Tahu rasa dia sekarang. Dia pikir, semua cewek bakal bertekuk lutut di depannya,” sambung Nunik puas.

“Kasihan dia …”

“Eh, kok malah dibela? Dia kan yang membuatmu tak pernah tersenyum lagi beberapa bulan yang lalu? Dan, untung ada Lukas kan?”

“Tidak ada hubungannya dengan Lukas, Nik.”

Nunik meloto gemas.

“Kau ini, Vio, selalu saja menurutkan emosi. Masak untuk Calvin yang sok itu, kau mau melepas Lukas?”

“Ah, kau. Aku menyukai Lukas, tapi tidak mencintainya, Nik.”

“Oh ya? Dan sekarang, kau ingi jadi dewi penghibur si kunyuk Calvin ya?”

Viola tak pernah mendengar suara Nunik semarah itu. Nunik pun segera melangkah meninggalkannya setelah berkata begitu. Viola menarik nafas. Nunik marah sekali, desisnya di hati.

***

Lukas mengerling kea rah Viola. Gadis itu sedang menunduk menekuri bukunya. Ada ulangan bahasa Indonesia besok dan mereka diharuskan mengingat semua definisi gaya bahasa serta gejalanya. Tapi perhatian Lukas sudah tak pada bukunya lagi sekarang.

“Hei, ada apa di wajahku?” tegur Viola memukul lengannya. Lukas tersentak dan tersenyum manis.

“Aku suka melihatmu. Kau cantik sekali.”

“Setan gombal. Aku tidak ada uang receh nih!”

Lukas tergelak. Ditutupnya buku.

“Vio.”

“Hm.”

“Kemarin, kau pergi ke mana?”

“Renang.”

Lukas menekan dadanya menahan rasa perih yang semakin hebat. Dia tahu, kenangan manis bersama Calvin di masa dulu, masih begitu kuat melekat dihati Viola.

“Sendiri?” pancingnya, seperti tidak sadar akan bahayanya.

“Tidak. Bersama Calvin,” sahut Viola tenang, sembari membalik bukunya.

Padahal jauh di ujung hatinya ada semacam getaran halus.

“Aku tidak tahu kau akan kembali pada Calvin,” Lukas berkata dengan hambar.

Viola mengangkat mata. Dia tersenyum lebar. Dan Lukas menatapnya dengan mata sedih.

“Dia mengajakku, Luk. Karena kebetulan aku tak punya teman kemarin, ya, kuturuti saja.”

“Kau kan bisa mengajakku.”

“Lho, kemarin kau latihan bola kan?”

Lukas menarik nafas jengkel. Viola seolah-olah menganggap remeh perasaannya.

“Kau pintar cari alas an sekarang. Enak ya punya serep? Kalau yang satu tak ada di tempat, silahkan ajak yang lain,” sindir Lukas.

Viola mencekal lengan Lukas. Tapi cowok itu membuang muka. Dia benar-benar tersinggung.

“Kau marah ya, Luk? Maaf, aku tidak tahu kalau kepergiaanku dengan Calvin membuatmu marah. Tapi, Calvin toh masih temanku juga, dan dia ….”

“Dan dia kembali mengincarmu setelah putus dengan Rosa. Tidakkah kau rasakan, Vio, bahwa Calvin cuma ingin mempermainkanmu? Dia tak pernah sungguhsungguh terhadapmu.”

Sejuta jarum halus menusuk jantung Viola mendengar itu. Hatinya sakit sekali.

“Ya, ya, aku tahu, aku ini bagai pungguk. Aku mengharapkan Calvin akan setia selamanya padaku, tapi ternyata tidak. Menurutmu, dia cuma ingin main-main. Aku tahu, aku ini cukup barharga, aku ini ….”

Lukas merengkuh bahu Viola.

“Vio, bagiku, tak ada yang lebih berharga selain dirimu. Tak dapatkah engkau melupakan Calvin dan belajar menyukaiku?”

“Pulanglah, Luk. Tinggalkan aku sendiri. Ya, tinggalkan aku sendiri.”

Lukas terpana. Ditatapnya Viola, tapi yang ditemukannya hanya seraut wajah datar tanpa senyum, dingin sekali. Diam-diam Lukas beringsut pergi, membawa luka dihatinya.

Hari-hari selanjutnya justru menjadi kosong. Viola juga merasa bahwa Nunik tak mau lagi menghiburnya. Temannya itu amat marah ketika dia ceritakan pertengkarannya dengan Lukas.

“Terlalu kau! Kau kecewakan Lukas yang begitu baik padamu! Kaumengharapkan orang lain setia padamu, tapi kau sendiri? Huh, begitu ada gelagat Calvin akan kembali padamu, kau mulai menyingkirkan Lukas!”

“Aku … aku tak bermaksud begitu, Nik. Aku cuma ingin Lukas mengerti, bahwa hanya Calvin yang kurindukan, dan juga yang selalu kuimpikan.”

“Selamanya kau akan bermimpi, Vio! Tak cukupkah pengalaman mengajarimu bahwa cowok semacam Calvin bagai kincir angina dan tak pernah sungguh-sungguh? Jangan keras kepala, Vio!”

Dan Viola memang keras kepala. Meskipun akhirnya dia harus mengakui, semua sikap manis Calvin akhir-akhir ini cuma kedok cowok itu saja guna menggaet Maria, adik sepupu Viola yang dikenalnya pada sebuah pesta.

Viola mengawasi burung-burung gereja yang terbang ke atas bumbungan rumah sebelah. Dihelanya nafas. Aku seperti seekor keledai, bisiknya. Jatuh untuk kedua kalinya, dengan sebab yang sama dan juga karena ketololanku yang sama ….

***

Viola mempertajam pendengarannya ketika dia semakin mendekati ruang piano.

Dia kenal betul dengan denting-denting yang khas itu. Lukas, hanya Lukas yang bisa bermain piano seperti itu.

“Hai, masuklah.” Lukas berhenti bermain ketika Viola membuka pintu.

“Aku tidak tahu kalau engkau ada di sini. Bukankah giliranmu besok?”

“Ingatanmu kuat juga, Vio. Ya, mestinya aku datang besok. Tapi ada perubahan jadwal. Kau malah yang di minta datang besok,” kata Lukas tenang, seolah-olah sebelum ini mereka pernah tak bicara untuk beberapa waktu.

“Oh, aku tidak tahu. Kalau begitu, biar aku pulang saja,” seru Viola sambil menelan kekecewaannya. Tadinya dia menyangka Lukas datang karena ingin bertemu dengannya. Ternyata …

“Kau mau mendengar laguku? Aku baru saja selesai menulisnya tadi malam.”

Alis Viola terangkat. Dia tidak tahu kalau Lukas bisa menulis lagu.

“Masih acak-acakan. Tolong bantu ya.”

Viola mengangguk. Dan lagu itu begitu sendu, sehingga Viola hanya dapat berdiri tegak tanpa memberi komentar apa pun. Lagu itu bagus walau pun di sana-sini masih ada nada yang fals. Itu biasa, untuk permulaan.

“Apa pendapatmu, Vio?”

Viola tergagap. Dia tak tahu hendak mengatakan apa. Tapi secara keseluruhan lagu itu cukup bagus.

“Bagus.”

“Itu saja?” tatap Lukas dengan sinar seperti biasa, lembut dan penuh kasih.

Kemudian ditepuknya pipi gadis itu.

“Kau tidak ingin tahu, untuk siapa lagu itu?”

Viola menggeleng.

“Untuk gadisku,” kata Lukas.

“Oh,” Viola berputar, tak ingin melihat Lukas dengan matanya yang mulai basah.

Dia patut menerima akibat atas kekerasannya selama ini.

“Vio,” panggil Lukas saat Viola membuka pintu. Vio menoleh. Dia melihat geraham Lukas mengetat.

“Kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?” seru Lukas jengkel.

Viola tersenyum pahit.

“Untuk apa?”

“Persetan untuk apa! Kenapa kau keras kepala betul, Vio? Kenapa kau kunci seluruh pintu hatimu untukku? Tidakkah kau punya perasaan? Hampir gila aku berpisah darimu dulu. Hampir aku mencekik leherku sendirimelihat kau kembali pada Calvin.

Sekarang saat kulihat kau kembali luka oleh bangsat itu, kau tak juga mau mengerti perasaanku!”

“Aku tahu aku salah, Luk. Tapi tidak usah kau bangkitkan lagi kenangan buruk itu. Kalau kau ingin marah, silahkan.”

Lukas menyambar tasnya sambil memandang Viola tajam. Sia-sia semua kerja keras ini dilakukannya.

“Oke, selamat tinggal, Vio. Selamat bermimpi seribu tahun lagi!”

Lantas, Lukas membanting pintu. Viola mengangkat bahu. Dia duduk di depan piano. Aku memang akan bermimpi terus, Luk, gumamnya sendiri. Tapi sekarang bukan Calvin yang kuimpikan, karena dia adalah masa lalu. Yang kuimpikan adalah masa depan bersamamu, Luk …

Vio terbeliak melihat huruf-huruf kecil dibawah kertas lyang tertinggal itu. Di situ Lukas menulis, lagu itu untuk gadisnya yang tercinta, terkasih dan yang keras kepala: Viola..

Viola segera menerjang pintu, melompati dua anak tangga sekaligus.

“Lukas!” teriaknya sekuat tenaga. Lukas baru saja akan membuka pintu mobilnya waktu mendengar teriakan itu. Viola berlari sambil melambai-lambaikan kertas lagu itu.

Lukas tercengang.

“Ada apa?” desis Lukas dingin.

Viola terengah-engah mencari nafas. “Kau tadi bertanya padaku kan?”

Lukas mengangguk. Viola tersenyum tipis sambil berjingkat mencium pipi Lukas.

Cowok itu terbelalak.

“Ada pertanyaan lain?”

Mula-mula Lukas terpana, tapi akhirnya dia tertawa tergelak-gelak sambil merangkul Viola erat-erat.

“Tidak. Tidak ada pertanyaan lagi. semuanya sudah terjawab.”

Viola lega. Ya, semuanya sudah terjawab. Masa lalu telah ditepiskannya sekarang dan dia bersiap menjalani masa depan bersama Lukas yang setia.

Malam Terakhir

Sabtu, 12 Mei 2012


Donny Anggoro

Sinar matahari memanggang di atas aspal. Dua lelaki di seberang jalan depan stasiun. Si Kurus mendesis. Temannya, Si Pendek tertawa. Sebelumnya Si Pendek menolak perintah Si Kurus agar ia berjalan agak lambat. Perintah baru dituruti setelah Si Kurus memberikannya sebatang rokok kretek sisa semalam.

Panas matahari semakin garang. Sinarnya menembus batok kepala Si Kurus. Berkali-kali ditelannya ludah. Ditahannya rasa pening menusuk ubun-ubun.

“Panas, Mas?”

“Sekarang mau nggak kamu belikan es ?”

Si Pendek mengerti Si Kurus sudah tak tahan lagi berdiri lebih lama di bawah terik matahari. Berhentilah mereka di sebuah halte bis. Si Pendek membantu Si Kurus duduk. Si Pendek kemudian menyeberang. Dia berhenti dekat tukang minuman. Si Kurus duduk menunggu temannya sembari menghabiskan sebatang rokok. Di depannya beterbangan debu-debu jalanan, asap kendaraan hitam pekat bergumpal-gumpal. Perlahan angan Si Kurus mengalir.

“Posternya memang dilihat orang. Tapi apakah nanti orang-orang akan menonton masih tanda tanya,” sahut Jawinul lesu.

Dia baru saja memasang poster pertunjukan ketoprak di alun-alun. Alun-alun adalah pusat segalanya di kabupaten itu. Lelaki bertubuh pendek dan gempal itu segera menuju ke gedung pertunjukan tempatnya menginap. Sukri, laki-laki pemimpin ketoprak yang sudah puluhan tahun menggauli dunia panggung itu diam saja, melamun. Melamunkan Surti.

“Sudahlah Mas. Jaman sekarang orang-orang sudah tidak suka lagi nonton ketoprak! Mereka sekarang senangnya ndangdutan, nonton pilem atau nonton tipi saja sambil keleleran di rumah!” kata Surti.

“O, o, o jadi kamu kecewa?”

Surti tidak menjawab.

“Lantas maumu apa? Apa mau bikin grup dangdut saja?”

“Kita sudah habis, Mas. Orang sekarang sudah tidak butuh apa-apa. Semuanya sudah datang sendiri. Ada tipi, ada kaset buat didenger sendiri di rumah. Kita sudah tidak diperlukan lagi! Semuanya sudah berakhir, Mas!”

“Kamu nyesel, Ti?”

“Bukannya nyesel. Kenyataannya memang begini ya mau ngomong apa to Mas?”

“Sudahlah jangan dipikir. Kalau Gusti Allah nanti memberi jalan ya pasti jalannya terang....”

Sukri terdiam. Sekarang Surti sudah pergi. Pergi tanpa pamit. Kata orang kepincut sama Ngatiman, makelar tanah. Mungkin jenuh dengan dunia panggung. Dunia yang serba tak pasti. Mungkin jenuh dengan ketoprak. Bosan dengan kemurungan. Mungkin juga kemiskinan. Sukri terpaksa menerima. Apalagi Ngatiman bukan orang sembarangan. Mobilnya saja dua biji. Tinggal istri saja yang belum. Begitu kenal Surti jadi tambah satu. Ya, Surti. Surti bekas istri Sukri, bos ketoprak.

Bagi Sukri dunia panggung bukan lagi dunia pura-pura. Sukri lahir dan besar di panggung. Bapaknya pemilik kelompok Wayang Orang Bedoyo Utomo. Semula dia jadi anak panggung. Semua peran pernah dimainkannya. Dari Buta Cakil sampai Gatutkaca. Dari Petruk sampai Dursasana. Sukri bahkan pernah mempunyai penggemar. Salah satunya ya Surti, sinden ayu kesayangan dalang Ki Marto. Hmh...

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Meskipun ia sekarang sudah mempunyai kelompok hiburan sendiri kini segalanya telah pergi. Ya, penonton, ya, teman-teman, juga Surti. Surti? Ya, Surti. Teman-teman lain pun punya hak pergi. Ikut wayang orang, ketoprak, grup lawak atau ndangdutan. Hidup dengan sisa keemasan masa lalu memang terasa pahit. Oalah, susah sekali menarik garis pemisah antara dunia panggung dengan kehidupan nyata. Biar di atas panggung jadi raja atawa ksatria toh dalam kehidupan sehari-hari tak lebih jadi wong cilik. Seperti bumi dan langit. Seperti sorga dan neraka. Seperti air dan api. Seperti air tuak dan comberan.

Dalam setiap pementasan Sukri selalu mencari bentuk baru. Dengan ketoprak Sukri bisa mengembangkan cerita bikinannya sendiri tak terbatas. Tentu saja masih berpijak dengan cara-cara yang dia tahu. Sukri paling puas jika mementaskan lakon karangannya.

“Minum, Mas!”

Lamunan Si Kurus terhenti. Heh, secepat itukah aku berkelana? Es teh manis segera diminumnya. Bergantian dengan Si Pendek.

“Hari ini dapat berapa?” tanya Si Kurus. Agak lumayan rasa peningnya hilang seiring dengan segarnya kembali kerongkongannya.

“Lima ribu.”

“Cuma lima ribu? Tolol! Sudah berapa lama jadi penuntunku?” bentak Si Kurus.

Si Pendek menunduk, diam. Perasaannya langsung ciut. Habis gimana memang dapatnya cuma segini, bisiknya dalam hati. Si Kurus, jika sudah membentak begitu pertanda dia murka.

“Goblok! Tolol! Kamu kan yang punya mata? Seharusnya kamu dong yang bisa lihat orang kasih recehan! Masak cuma segini? Sontoloyo! Dasar telo!”

“Sabar, to Mas. Lha, dapetnya cuma segitu?”

“He, kamu yang masih punya mata, masih bisa lihat, lari-lari dan jalan-jalan dengan gesit harusnya bisa lebih banyak!”

“Jadi kita jalan lagi?”

Si Kurus terdiam. Dia baru sadar mereka baru saja istirahat.

“Jadi kita jalan lagi, Mas?”

Tapi kaki Si Kurus pegal-pegal. Napasnya megap-megap. Tak sanggup lagi dia berjalan. Tidak ada gunanya marah-marah. Tiba-tiba dia merasa bersalah setelah membentak Si Pendek, satu-satunya temannya yang tersisa. Yang paling setia. Dari dulu sampai sekarang. Sampai jadi kere dan picek....Oalah, maafkan aku yang baru saja terbang. Pikiran ngelambrang ke sana ke mari. Lari-lari tidak keruan. Perlahan air mata Si Kurus mengalir.

***

Sukri bersiap-siap. Malam ini adalah malam terakhir grup ketopraknya manggung. Besok gamelan-gamelan itu harus segera diangkut. Sukri terpaksa menjualnya. Bukankah seluruh anak buahnya harus makan? Gedung pertunjukannya harus dirobohkan. Sebab sebentar lagi akan diadakan acara perayaan pembangunan. Lengkap dengan pasar malam dan acara dangdutan segala. Mereka harus segera menyingkir. Menyingkir? Ya, menyingkir. Ke mana? He-eh, kemana ya? Entahlah....

Waktu mengalir seperti mimpi. Ingin rasanya Sukri jadi tokoh wayang saja. Sakti mandraguna. Bagaimanapun hebatnya pasti bisa melawan. Melawan keadaan. Berontak! Ya, berontak! Menyumpal mulut-mulut pegawai negeri bidang kebudayaan itu dan kemudian membakarnya seperti Hanoman membumi hanguskan Alengka.

“Mas,”

Suara Gito, petugas penarik layar panggung mengejutkannya.

“Kita tetap main?”

Sukri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lesu. Sebentar lagi maghrib. Pertunjukan malam terakhir akan segera dimulai. Apa boleh buat, the show must go on. Tidak ada kata “tidak jadi manggung”. Bukankah sudah ratusan kali mereka memainkan lakon ini? Sepi tidak ada penonton bukan halangan. Meski besok mereka harus segera menyingkir. Tersingkir, menyingkir dan disingkir. Tersingkir dari peradaban. Peradaban yang telah melupakan manusia-manusianya.

Tepat jam tujuh malam. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Petugas karcis sudah mulai menyiapkan dagangannya. Yang lain, para pemain sudah mulai memoles wajah-wajah mereka dengan warna-warni. Sukri bangkit berdiri menuju layar bergambar candi yang merupakan layar utama.

Tapi betapa terkejutnya Sukri. Matanya tak percaya apa yang dilihatnya. Ketika dia melirik di balik ruangan gelap gulita dilihatnya tempat penonton di depan nyaris penuh. Sukri terbelalak tidak percaya. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Astagafirullah, bukankah sekarang masih pukul tujuh? Bukankah pertunjukan baru akan dimulai satu jam lagi?

Dilihatnya deretan penonton yang duduk paling depan. Mereka tengah bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Sukri heran dari mana datangnya penonton sebanyak ini. Memang inilah malam yang selalu diharapkannya. Tidak, tidak mungkin. Dari mana datangnya penonton sebanyak ini? Bukankah mereka akan segera menyingkir? Bukankah seperti kata Surti orang-orang sekarang sudah malas nonton ketoprak? Bukankah sekarang orang lebih suka ndangdutan saja sambil kepalanya gela-gelo?

“Mas...”

Suara Gito lagi. Mengejutkannya. Wajahnya tampak senang.

“Ramai juga ya. Kayak dulu lagi,” katanya lirih.

Sekilas dilihatnya kedua mata Gito berair. Terharu. Memang inilah yang diharapkannya. Penonton datang, duduk dan menonton. Tapi dari mana datangnya? Apakah ini yang namanya keajaiban? Akh, ini pasti mimpi, batin Sukri. Dicubitnya lengannya. Sakit. Benar. Penonton-penonton memang datang. Sulit dipercaya.

Tepat jam delapan. Layar diangkat. Suara gamelan menyentak. Pertunjukan dimulai. Tepuk tangan dan sorak sorai sepanjang pertunjukan terdengar. Di balik panggung Sukri merasakan benar simpati penonton. Apalagi setiap ucapan dan gerakan pemainnya yang bagus selalu mendapat tepukan.

Malam itu benar-benar malamnya Sukri. Mungkin dia memang sudah ditadirkan tidak mengerti apa yang baru saja disaksikannya. Malam ini dia dan anak-anak buahnya bisa tersenyum lebar. Meski keesokan harinya mereka harus segera menyingkir.

“Gusti Allah, tundalah terbitnya mentari esok pagi.” bisik Sukri. Ia ingin malam terus berlanjut seperti sekarang ini. Seperti sekarang ini. Ya, seperti sekarang ini.

***

Bunyi kruyuk-kruyuk. Si Pendek menelan ludah. Rasa lapar dengan sigap menyerangnya. Mereka berhenti dan duduk di bangku stasiun.

“Dapat berapa?”

“Lumayan, Mas.”

“Ya, berapa?”

“Anu....”

“Anu, anu apa? Ngomong yang jelas!”

Diserahkannya hasil hari itu. Mata Si Kurus memang sudah tidak bisa melihat lagi. Bukan berarti Si Kurus tak bisa menghitung. Begitu jelinya dia sampai dengan hanya mendengar bunyi-bunyi gemerincing duit logam saja pun ia tahu berapa nilainya. Kondisi seperti ini telah membuatnya terbiasa. Kadang ia bangga tak bisa melihat. Baginya melihat dunia adalah melihat kemurungan dan kekecewaan. Mending buta saja daripada melihat.

“Wuah, hari ini kita bisa makan enak, Nul. Makan besar! Hahahahaha!”

Si Pendek tersenyum. Sudah lama tak dilihatnya Si Kurus tertawa.

“Sana! Beli nasi!”

Si Pendek meninggalkan Si Kurus. Si Kurus menyalakan rokoknya. Asap rokok bergumpal-gumpal menyesakkan dadanya. Si Kurus terbatuk-batuk. Tapi ia tak peduli. Ia tetap merokok. Pikirannya kembali mengembara.

Hari ini mereka harus segera menyingkir. Gamelan sudah dijual. Gedung pertunjukan ditinggalkan. Anak buah Sukri satu dua pamit. Ya, mereka berhak pergi. Hidup dari ketoprak mau jadi apa? Ya, ya, ya biarkan mereka pergi. Beberapa sisa anak buahnya masih kelihatan. Bercanda ria, main catur, gaple...

“Penonton pertunjukan semalam kau tahu dari mana?” tanya Sukri kepada Jawinul. Yang ditanya mengangkat bahu.

“Tak tahulah, Mas. Pokoknya teman-teman main bagus, penonton ramai, karcis ludes. Ah, coba kayak begini terus ya Mas?”

Sukri termenung. Kreteknya diisap, kemretek suaranya. Di sampingnya suara cempreng radio transistor butut pemilik warung sibuk berdangdut. Berkaok-kaok tak peduli seolah-olah dari dunia yang lain. Trak-trak-trak-duk-duk-duk-dut-dut! Cintaku terbagi dua...

“Mas Sukri! Mas Sukri!”

Tergopoh-gopoh Gito menghampiri juragannya.

“Gedung kita! Ged.....ged....gedung kita!” katanya terengah-engah.

“Kenapa?”

“Kebakaran!”

Sukri berlari. Jadi inilah akhirnya, batinnya sambil menghela nafas. Anak-anak buahnya tergopoh-gopoh mengambil air, mencoba memadamkan. Yang lain lari kocar kacir tak keruan. Api semakin ganas. Jerit dan tangis campur aduk bersama raungan. Layar-layar bergambar kraton, gunung dan hutan menghitam dalam sekejab.

“Tolonnggg!”

Jeritan Yati, anaknya semata wayang. Sukri langsung menyelip lincah di tengah kekacauan. Seseorang menabraknya.

“Mas, tunggu! Kamu akan terkurung api di sana!”

“Lepaskan!”

Sukri memasuki sela-sela keruntuhan. Suara gemeretak bambu dan dinding roboh satu per satu. Yati, Yati di mana kamu? Brakkk!!! Balok kayu roboh menghantam kepalanya. Sukri terjatuh tak sadarkan diri. Terkurung di tengah-tengah bara api.

***

Sukri terbangun. Dibukanya kedua matanya. Tapi kenapa semuanya gelap? Sayup-sayup terdengar suara disampingnya. Jawinul!

“Nul....”

“Semua sudah habis, Mas...habis....”

“Apakah kamu mematikan lampu?”

“Tidak, Mas. Mas...”

“He, Nul! Nyalakan lampunya!”

Semuanya tetap saja gelap. Seperti teringat sesuatu Sukri menjerit, lirih. Yati, Yati dimana kamu? Dicoba sisa-sisa tenaganya untuk bangkit. Sia-sia. Kepala dan lehernya terasa berat. Berat sekali. Malam semakin merambat. Si Pendek telah kembali. Dengan dua bungkus nasi, dua kantong plastik es teh manis dan sebungkus Gudang Garam. Dihampirinya Si Kurus. Dia tertidur. Mungkin terlalu lama menunggu.

“Mas, bangun...”

Digoncang-goncangkan tubuhnya. Si Kurus tetap tak bergeming.

“Mas, ayo bangun. Kita makan besar Mas....”

Dipandangnya Si Kurus. Bibirnya tersungging senyum. Dia coba lagi membangunkannya. Sia-sia. Si Kurus sudah tidak membutuhkannya lagi. Selamanya.
 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger