Post View:

Nestapa Cinta

Minggu, 29 Juli 2012


Sal, ipagi ini aku bangun kesiangan lagi, padahal hari ini ada presentasi makalah yang harus aku paparkan di hadapan teman-teman di kampus. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 07.45 WIB, seharusnya hari ini aku masuk lebih awal dari hari-hari biasanya. Aku langsung bergegas mandi, ya namanya sudah telat aku tidak mungkin buang-buang waktu berlamaan di kamar mandi sambil nyaniy-nyanyi, tapi hari ini tanpa itu semua. Selesai mandi aku segera berpakaian dan bersiap-siap menuju kampus. Dalam hatiku sempat merasa jengkel kenapa aku telat bangun padahal aku telah mengaktifkan jam wekker yang ada di kamarku. Lalu aku siap menuju kampus, akupun tak sempat sarapan bersama keluargaku, padahal adat sarapan pagi sangat selalu kami jalani, kalau begini biasanya Mama selalu membekali sarapan untuk kubawa ke kampus karena memang aku jarang sarapan pagi. Padahal dalam keluarga kami ada sebuah adat yang aku tidak tahu sejak aku lahir dari mana datangnya dimana aku harus sarapan bersama keluarga sebelum aku dan yang lainnya meninggalkan rumah setiap pagi. Kemudian sebelum berangkat ke kantor Papaku selalu saja menyampaikan nasehat kepada kami agar kami giat belajar dan bekerja keras seperti dirinya. Sudah sering nasehat itu-itu saja yang kudengar di telingaku sampai-sampai aku merasa bosan dengan perkataan itu. Tapi namanya anak kampus yang mulai tumbuh dewasa, aku tidak terlalu peduli semua itu, aku merasa mampu membimbing diriku sendiri. Sedangkan orang tua memang sudah menjadi tugas mereka membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga menjadi anak yang dapat dibanggakan kelak.

Tanpa pamit pada mereka aku pun langsung meninggalkan rumah dan mengambil motor usang ku di garasi yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi. Ya motor usang itu aku beri nama Joko, nama itu yang kurasa pantas untuk motor kesayanganku. Papaku pernah berkata bahwa motor ini dulu ia pakai saat kami masih dalam keadaan yang sangat susah. Baginya motor ini bernilai sejarah tersendiri, dan aku menyukainya, tapi aku tidak memperdulikan hal itu, yang jelas aku sangat tertarik dengan si joko. Papaku sempat menawari mobil mewah seperti kakak-kakak ku, karena mereka diberi satu-satu oleh papa. Tapi aku tidak begitu peduli dengan semua itu, aku merasa mengendarai si joko lebih asyik untuk menikmati udara pagi dengan bebas, udara segar yang dapat memberi semangat yang besar padaku. Di kampus tidak sedikit teman-teman yang selalu mengatakan padaku kenapa aku tidak terima tawaran papaku itu, agar mereka bisa jalan bareng denganku. Teman gua Dodi pernah bilang, "wah kalau gua jadi anak seorang pengusaha ternama seperti lo Al, gua minta ama bokap mobil keluaran terbaru merk Ferrari gitu loh, cewek-cewek pasti pada nempel". Tapi kata-kata itu tidak sedikitpun membuatku terpengaruh. Aku tetap suka si Joko motor usang kesayanganku. Tetap juga cewek-cewek bisa ku ajak jalan dengan si Joko.

Pagi itu tampak jalan raya sangat padat sekali, aku tidak tahu pasti apa penyebabnya, padahal di hari-hari sebelumnya jalan raya tampak lengang dan aku bersama Joko bebas berlalu lalang dengan leluasa. Banyak kendaraan yang terperangkap oleh macet. Sempat aku berfikir apakah mereka juga telat bangun sepertiku.ha...ha...ha...tapi aku mulai menepis apa yang ada difikiranku saat itu, yang seharusnya aku ingat adalah presentase yang akan aku paparkan pagi ini. Sial ! dalam hati aku kembali bergumam bahwa hari ini aku memulai sandiwara lagi. Karena hari-hariku penuh dengan sandiwara, mulai aku bangun hingga aku tidur kembali. Aku terus mengamati sekeliling jalan raya yang macet, aku melihat ada seorang bapak tengah baya sedang mengendarai motor yang sedang mengantar anaknya bersekolah serta istrinya ke pasar ramai, aku tidak tahu apakah ia merasa ikhlas mengantar anak dan istrinya sama seperti yang aku lakukan, ya seperti sandiwara. Bisa saja ia takut dengan istrinya. ”Ah dasar fikiran ngaco!”, sergahku. Di sisi lain aku juga melihat ada seorang petugas polisi yang tampak tergesa-gesa, dalam benakku mungkin ia ada apel pagi hari ini atau ia malah cepat-cepat menuju lampu merah terdekat untuk menilang para pelanggar pengguna jalan raya sekalian mencari uang masuk baginya. Sebagian polisi yang berada di kota tempat kutinggal acapkali bersikap seperti itu. Aku berfikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah tugas mereka sebagai aparat keamanan atau tugas tambahan yang mereka buat sendiri demi meraih keuntungan pribadi. Terkadang hal ini membuatku tertawa sendiri saat melihat mereka di jalan raya. Tanpa sengaja aku melihat seorang bapak yang hendak mengantar anaknya ke sekolah serta mengantar sang isteri ke pasar. Saat mereka ditilang oleh petugas polisi yang sedang mengatur lalu lintas tepat di pinggir lampu merah, memang isteri dan anaknya tidak mengenakan helm kecuali si Bapak karena ia sebagai pengendara motornya, mungkin setelah mengantar keduanya ia akan langsung berangkat bekerja. Dengan wajah yang tampak tegas polisi tersebut memberi hormat.

" Selamat pagi Pak!"

" Pagi”. Jawab sang Bapak

"Bapak telah melanggar peraturan, jadi terpaksa Bapak saya tilang"

"Dengan terpaksa si Bapak pun meminggir"

Aku melihat dari kejauhan terjadi negosiasi diantara keduanya, aku pun tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, yang aku lihat sangat jelas sang Bapak merogoh koceknya dengan mengeluarkan uang pecahan Rp.20.000,-, kemudian ia diizinkan berlalu bersama anak dan isterinya. Ha..ha..ha..lagi-lagi sandiwara itu mulai dimainkan oleh polisi tadi. Tapi aku yakin tidak semua aparat kepolisian memiliki mental seperti itu, ada juga petugas yang ramah atau ia tidak mengambil atau meminta yang bukan menjadi haknya. Inilah mental polisi yang pantas kita acungi jempol dan berhak mendapatkan penghargaan dari Negara atas baktinya pada masyarakat.

Akhirnya aku sampai juga di kampusku tercinta, sebuah kampus dimana aku akan mempresentasikan makalahku pagi ini. Aku memang telat beberapa waktu, agaknya aku harus kelihatan benar-benar sibuk agar teman-temanku mengira bahwa aku benar-benar telah menguasai makalah itu. Padahal ini adalah sandiwara yang telah aku rancang sebelumnya setiap kali ada presentasi makalah. Aku pun bergegas masuk kedalam kelas dan duduk tepat di samping Dodi, anak laki-laki yang lebih tinggi dariku dan anak seorang pengusaha batik ternama di Solo. Aku tidak tahu mengapa ia bisa sampai ke tempat ini dan menjadi teman sekampusku, yang jelas dalam pergaulan ia anak yang baik. Lalu ia pun menyapaku menyentak.

"Gimana Al makalah lo, udah ready kan?"

Dengan berpura-pura kelihatan sibuk aku pun membuka tas dan mencari dimana makalahku.

”Oh sudah Dod, emang kenapa?”, tanyaku kembali

”Gua kira lo belum selesai, Al”

"Ya sudah lah, secara Aldie gitu loh…..!

Tak lama dosen yang kami tunggupun datang dan menuju kelas, untungnya ia sedikit terlambat hari ini, sehingga aku tak perlu mendengar ceramah-ceramahnya yang sangat membosankan sama seperti ceramah yang selalu di sampaikan orang tuaku setiap pagi. Ia masuk lalu duduk dan memanggil namaku untuk mempresentasikan makalah. Dengan wajah yang sangat serius aku pun maju ke depan dan memaparkan semua yang ada dalam makalah itu dengan singkat dan tepat. Setelah itu sebelum di ambil alih oleh dosen, langsung saja aku persilahkan teman-temanku untuk mengajukan pertanyaan seputar pemaparanku tadi. Kali ini ada tiga orang yang akan bertanya yaitu Selvi, Andi dan Dodi. Syukurnya ketiga pertanyaan itu dapat aku jawab dengan mulus serta aku sebutkan beberapa pengarang buku terkenal agar mereka yakin kalau aku banyak mengetahui tentang apa yang mereka tanyakan. Akhirnya teman-teman dalam sekelas memberiku applause yang sangat meriah karena mereka puas dengan apa yang telah aku sampaikan. Dari hatiku yang paling dalam aku sembari tersenyum, ternyata aku mampu memainkan sandiwara ini dengan baik. Pelajaran pun selesai, Dosen segera meninggalkan kelas kami sambil berkata, "Aldie kamu akan saya beri nilai A karena makalah kamu sangat bagus dan menarik".

Keadaan ini sering aku dapatkan dari setiap apa yang aku lakukan hingga membuat teman-temanku yang lainnya merasa iri padaku, apalagi beberapa dosen sering mengatakan seperti itu di depan kelas. Kebiasaan dalam kehidupan anak kampus kami seringkali nongkrong bareng teman-teman di kantin yang berada di belakang kampus, sekalian mengamati cewek-cewek yang berlalu lalang keluar masuk kantin. Saat itu Dodi, teman sekelasku itu selalu memanggil beberapa cewek yang ia kenal dan kemudian mengenalkannya padaku. Sungguh aku tak mampu menolak atas perkenalan pada cewek-cewek yang dikenalkan Dodi, ya mumpung rezeki kenapa mesti kutolak, kali-kali aja diantara mereka ada yang dapat aku ajak jalan, walau hati kecil terkadang menolak untuk menerima perkenalan itu. Ini semua dikarenakan Dodi selalu saja mengatakan padaku, "Buat apa wajah tampan, anak seorang pengusaha terkenal kalau tidak bisa menaklukkan yang namanya wanita, ha..ha...”. ”Ya Dod tapi sekali-sekali lo kenalkan juga tuh si Rizal dengan cewek-cewek teman lo itu, biar ia tidak ngerasa minder sama teman yang lain, ayahnya juga kan seorang pengusaha sepatu terkenal di Surabaya”. Liburan kampus ke Bali tahun lalu kami sekelas sempat singgah di rumahnya Rizal. Rizal sudah lama ku anggap sebagai sahabat dekatku. Dalam hidup percintaannya ia tidak pernah gonta-ganti pacar apalagi selingkuh alias setia. Tidak seperti aku dan Dodi yang sibuk ngapalin nama cewek-cewek setiap malam minggu untuk diapelin. Rizal memang benar-benar setia pada Selvi, nama pacarnya itu, seorang gadis asli Bojonegoro yang cantik dan berkulit putih, sungguh menawan laksana seperti putri seorang Raja. Bahkan sekarang Rizal telah bertunangan dengan Selvi, anak seorang Direktur sebuah Bank Swasta di Surabaya. Dalam waktu dekat setelah habis masa persidangan kuliah, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.

Biginilah hari-hariku di kampus yang penuh dengan sandiwara, bahkan dalam percintaan pun aku juga harus bersandiwara. Karena bukan hanya satu wanita yang aku ajak kencan, dalam satu minggu saja aku bisa ngecengin enam bahkan tujuh cewek. Wanita laksana baju yang selalu aku ganti dalam mengenakannya. Bila aku bosan dengan mereka dengan mudah aku mendapatkan penggantinya. Inilah aku yang telah dicap sebagai seorang Playboy oleh teman-temanku. Sebenarnya aku benci dibilang Playboy, tapi aku hanya bungkam atas apa yang mereka katakan, karena sesungguhnya aku memang Playboy. Kalau saja aku bisa memilih, dalam hidupku. sebagai seorang lelaki aku juga mempunyai kriteria wanita yang aku idam-idamkan dalam hidupku, yaitu wanita yang punya karakter kuat dan tidak memandangku bahwa aku anak seorang konglomerat. Hari-hari pun terus berganti, hari-hari bersama cewek-cewek yang telah aku pacari, bahkan sama sekali tidak seorangpun yang kucinta, yang ada hanya untuk kesenangan semu belaka. Aku bosan dengan keadaan ini dan sandiwara cinta yang ku lakoni selama ini dan permainan yang kubuat sendiri. ”Aku bosan Tuhan, tunjukilah jalan-Mu padaku, jalan yang terbaik dari-Mu”, rintihku dalam hati.

Suatu ketika tanpa sepengetahuan ku, Papaku membelikan aku sebuah mobil mewah bermerk Porsche, yang ia hadiahkan di saat ulang tahunku tepatnya ketika aku berumur 24 tahun, padahal selama ini ia tidak pernah memberiku hadiah semahal itu setiap aku berulang tahun. Hanya saja Papaku sering mengajakku bersama Mama dan kakakku berkeliling Eropa saat musim semi di sana. Sebagai anak bungsu aku merasa bahagia karena memiliki orang tua yang sebaik Mama dan Papaku serta kakak-kakakku yang menyayangiku. Dan itulah yang membuat aku makin mencintai mereka. Mobil yang ia belikan untukku adalah mobil yang sudah lama aku idam-idamkan selama ini. Hal ini pastilah sangat membahagiakan diriku. Mobil itu langsung saja aku coba dan mengendarainya untuk yang pertama kali, karena kali ini aku tidak mau Papaku merasa kecewa. Dengan berat hati terpaksa aku tinggalkan si Joko, motor kesayanganku yang selama ini selalu setia menemaniku ke mana saja di garasi rumahku. Ia terlihat seperti barang rongsokan di tengah mesin-mesin modern yang super cepat lajunya. Tapi aku tidak membuangnya bahkan menjualnya. Aku menyimpannya sebagai kenangan. Namun apa yang terjadi selanjutnya, dengan mobil itu pula makin banyak cewek-cewek yang naksir berat malah sampai mereka sendiri yang datang kepadaku untuk diajak jalan bersama. Mereka layaknya seperti perangko yang selalu menempel pada suratnya yaitu aku. Tak dapat aku pungkiri derajatku semakin tinggi dalam pandangan mereka. Wajah ok, penampilan ok, anak orang kaya dan bermobil mewah, rasanya sudah lengkap hidupku ini. Aku terus saja menghamburkan uang bersama cewek-cewek yang tak jelas ujung dan pangkal kemauannya. Dalam hidup ini sebenarnya aku memiliki ambisi yang sangat besar serta cita-cita yang sangat tinggi. Sebuah ambisi dimana kebahagiaan akan kuraih dalam hidupku dan cita-cita yang telah aku tanam dalam sanubariku ketika aku mulai duduk di bangku perkuliahan. Saat ini aku benar-benar merasa bosan dengan kehidupanku yang penuh warna kebohongan dan panggung sandiwara. Betapa aku sangat menginginkan ada sesuatu yang dapat merubah kembali kehidupanku menjadi lebih baik dan benar di masa yang akan datang. “Ya nanti pasti waktu itu akan tiba“, bathinku berkata.

Selasa itu, aku masih mengingatnya, hari yang benar-benar merubah hidupku. Waktu itu Porsche yang aku kendarai tiba-tiba menabrak seorang wanita di jalan raya. Saat itu aku lagi sendirian di mobil. Aku tidak menggunakan jasa sopir, padahal Papaku telah menyiapkan seorang sopir yang akan menemaniku. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku mendengar wanita itu menjerit, aku lihat ia terjatuh hingga terhempas lalu terbaring tepat di depan roda mobilku. Aku sempat memandang disekelilingku, sepi. Aku pun segera melaju meninggalkan wanita itu sendirian. Saat aku lewati tubuhnya yang terkapar sampai tak sadarkan diri, aku sempat melihat wajahnya sekilas, ada sesuatu yang mengusik benakku, aku terlonjak kaget. Tiba-tiba saja kakiku menginjak keras pedal rem mobilku, hingga mobilku mendadak berhenti. Aku memutar haluan mobilku kembali, segera aku keluar dan mengangkat tubuhnya dan meletakkan di kursi belakang mobilku dan langsung aku larikan ke rumah sakit terdekat. Jantungku berdebar kencang, aku berharap tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kala itu aku duduk di koridor rumah sakit. Aku termenung sesaat ketika melihat ia terbaring belum sadarkan diri. ”Oh...Tuhan selamatkan dia”.., Do’aku mengiba. ”Apa yang telah aku lakukan!!”, bentak batinku. ”Aku merasa kasihan padanya”, jeritku dalam hati. Ku pandangi gadis berjilbab motif mozaik turki yang ia kenakan. Jilbab itu masih menutup rambutnya. Aku melarang perawat untuk membukanya. ”Biarkan saja suster, biarkan jilbab itu terus melekat”. Dalam hatiku aku sadar ia pastilah seorang yang taat agamanya dan sangat menghargai jilbab dan auratnya. Tadi Dokter sempat memberitahukan padaku bahwa ia tidak mengalami luka yang serius, ia hanya mengalami kejutan pada jantungnya.

Dua hari aku berada di rumah sakit, berarti dua hari aku absent di kampus dan dua hari aku tak pulang ke rumah. Ini pasti tidak masuk akal. Sudah dua hari ini aku bersama-sama keluarga gadis itu, ya gadis itu bernama Ainy. Dua hari ini juga ia belum siuman. Kulihat wajah ibunya yang sangat terpukul dan sedih, aku tahu kemarin malam ia tidak tidur menunggu anaknya yang terbaring, ia sempat melaksanakan shalat tahajjud memohon kesembuhan anaknya. Oh, hatiku menjerit, tak mampu aku menahan air mataku yang mulai tumpah. Kini aku hanya dapat melihat. Aku juga ingin bertahajjud bersama ibunya, tapi aku merasa malu, karena aku tak pernah melakukannya. Siang itu aku diajak sholat dzuhur berjamaah oleh adiknya yang laki-laki., Bahrum namanya, ia baru berusia 7 tahun, adiknya sempat bercerita mengenai kehidupan mereka, ternyata Ainy dan Adiknya sudah lama ditinggal ayahnya kira-kira 6 tahun yang lalu. ”Sholat!”, aku kaget. Sudah lama sekali aku tidak pernah melakukan sholat, tapi hati kecilku terhenyak bagai hipnotis yang mempengaruhiku, ku ikuti langkah kecilnya menuju musholla rumah sakit. Tiba-tiba ia berbelok ke kanan menuju kamar mandi. ”Mau kemana?”, tanyaku pelan, “mau berwudhu mas”, jawabnya ringan. “Oh iya”, balasku lirih. Aku baru ingat jika sholat itu wajib berwudhu’. Hari itu aku sholat dzhuhur berjamaah bersama adiknya Ainy, sudah sekian lama aku tidak pernah menunaikan sholat, aku merasa hari ini seperti pertama kali kalinya aku sholat. Selesai sholat kami pun bergegas keluar dari Musholla. ”Mas, sudah berdo’a untuk kakak?”, tanya Bahrum. ”Su...Sudah....”, jawabku berbohong. Ia tersenyum di hadapanku. Tak kusadari hatiku berkata, ”Ya Allah, Siapa pun Engkau, Yang bisa menjawab do’a, kabulkan do’aku, sadarkanlah Ainy ya Tuhan dari tidurnya, aku mohon pada-Mu”.

Hanya berselang 5 menit dari saat berdo’a, Bahrum tiba-tiba memanggilku, “Mas, Kak Ainy sudah siuman”. ”Oh iya, Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan do’aku”, jawabnya bahagia. Aku langsung bergegas masuk ke ruangan inap Ainy. Sungguh aneh perasaan ini, betapa aku merasakan kebahagiaan yang tak dapat aku lukiskan dalam hatiku. Sesaat ibunya berkata, ”Nak Aldie inilah orang yang telah membawamu ke rumah sakit, dia yang telah menyelamatkanmu Ainy dan menanggung semua perawatan dan pengobatanmu”. Terima kasih mas Aldie”, ucap Ainy pelan. ”Iya, mudah-mudahan kamu segera sembuh”, jawabku tunduk. Aku tertunduk merasa bersalah pada Ainy dan keluarganya, karena aku telah berbohong pada mereka. Bibirku kelu hingga aku tak dapat berkata bahwa akulah orang yang telah menabraknya hari itu. Aku terpaksa mengaku sebagai penolongnya, ”dasar biadab”, teriakku dalam hati. Sungguh aku benar-benar seorang yang nista, tak berani jujur pada kenyataan yang sebenarnya.

Empat hari sudah waktu berlalu, selama itu aku terus saja menemani Ainy dan keluarganya hingga membuatku lupa akan segalanya, rumah, kampus, bahkan kehidupan playboyku. Aku merasa bahagia bila berada di samping Ainy, sungguh aku tidak ingin melihatnya bersedih. Rasanya aku tak tega melihatnya terbujur sakit bahkan terluka. ”Perasaan apa ini ya Allah?”, tanyaku dalam hati. Rumahku sekarang adalah rumah sakit tempat dimana Ainy dirawat. Belum juga aku pulang ke rumah mewahku. Ya pastilah kedua orang tuaku mengkhawatirkan aku, karena sejak empat hari yang lalu HP-ku ketinggalan di rumah. Tadi malam aku ketiduran di Musholla. Aku bermimpi, aku melihat wajah ayunya sangat lama. Ainy gadis muslimah berjilbab emas, meskipun aku melihatnya dari kejauhan. Wajahnya tampak berseri dan memberiku kedamaian. Mungkinkah aku mencintainya? tapi aku sangat merasakannya, ya rasa itu kini hadir dihatiku. Inikah yang disebut perasaan yang dapat dielakkan. Terbesit kata dalam hatiku bahwa aku akan lakukan apa saja untuk membuatnya bahagia. Kini aku harus jujur kepada Ainy bahwa akulah yang telah menabraknya.

Hari kelima, Ainy memanggilku. Hanya ada aku dan dia dalam ruangan inap itu. Bahrum dan ibunya belum datang. Sesaat ia tersenyum dihadapanku, aku tertunduk beku, kesombonganku terasa hancur berkeping saat melihat keteduhan wajahnya, aku sempat gugup dan hanya berkata terbata, tak kusangka ada selaput air yang bercokol di pelupuk mataku. Ya seorang playboy seperti aku ini berdiri kaku tak berdaya seperti anak kehilangan induknya di depan Ainy. “Duduklah Mas“, pinta Ainy tiba-tiba. Aku langsung duduk tak jauh darinya. Kakiku merasa keram seperti lumpuh dan badan sedikit bergetar, dan dia mulai bicara, “Ainy ingin berterima kasih sama mas Aldie karena telah menyelamatkan nyawa Ainy“. Sejurus aku terdiam atas penuturan Ainy. Aku makin membisu, kini aku pasrah dan takluk di hadapannya. “Sekarang ini Ainy ingin pulang Mas, Ainy sudah tidak tahan bertarung melawan penyakit ini, sampaikan salam Ainy pada Ibu dan Bahrum“. Aku tersentak atas ucapan Ainy. Kemudian ia mengucapkan kalimat tauhid di hadapanku, lalu memejamkan mata. Aku membangunkannya, namun ia tidak juga bangun, berkali-kali aku terus memanggilnya, tak juga ia menjawab. Suasana pun lengang seperti alam syahdu, jernih tapi sangat membingungkan. Aku diam, wajahku pucat pasi, perasaanku sedih, marah, tak rela, panik dan aku ingin sekali menjerit dan menangis sekuat-kuatnya. Segera aku memanggil Dokter jaga saat itu. “Tolong Dokter, tolong selamatkan ia Dok, aku mohon!“, pintaku mengiba. “sabar....sabar mas, akan saya usahakan dan saya minta Anda keluar sebentar“, jawab Dokter singkat. Tak lama Dokter keluar dari ruangan dan lalu berkata, “Maaf, jiwanya tidak tertolong, ia sudah tiada“. Aku menjerit di ruangan itu sendiri, ku lihat Ibu dan Bahrum belum juga datang. Aku sempat meminta pada petugas rumah sakit untuk menelepon keluarga Ainy. Aku menangis histeris, hingga air mataku menetes di kain selimut Ainy. Padahal aku belum pernah menangis seperti ini. “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, tapi kini ia telah Kau ambil kembali“, jerit bathinku. Sementara Ibu dan Bahrum baru saja tiba dan tangisan pun memecah kesunyian ruangan dimana jasad Ainy terbujur kaku. Tapi ia terlihat senyum dengan damai.

“Ya Allah.........Ya Tuhan, Siapa pun Engkau, Yang bisa menjawab do’aku, kali ini aku bermohon untuk yang kedua kalinya, hidupkanlah Ainy kembali, jangan pisahkan aku dengannya”, pintaku memelas. Rasanya aku ingin saja menyusul bersamanya. Air mataku terus saja mengalir. Ku selesaikan semua urusan administrasi rumah sakit, aku berpamit pada Ibu dan Bahrum yang masih dalam keadaan duka. Aku tahu saat itu badanku terasa amat letih. Ku laju mobilku tanpa arah dan tujuan seakan-akan haluan hidupku telah patah. Kini cinta yang sesungguhnya telah pergi untuk selama-lamanya. Kemudian aku berhenti di sebuah warung di pinggir jalan, badanku terasa remuk redam, mataku perih karena kebanyakan menangis. Pikiranku galau, kini aku pasrah pada hidupku selanjutnya. Rasanya ingin sekali Ainy hidup kembali dan aku berkata kepadanya bahwa aku mencintainya. Hatiku perih tak terkira. Dan tiba-tiba dunia terasa gelap gulita...aku pingsan seketika.

Setelah beberapa bulan sejak peristiwa itu, aku menjadi semakin dekat dengan Allah Azzawajalla, Tuhan yang telah menghidupkan dan mematikan manusia. Di tangan-Nya lah kekuasaan hidup dan mati setiap makhluk. Aku pun selalu melaksanakan sholat lima waktu bahkan tahajjud di malam harinya. Aku berharap Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini. Dalam setiap do’aku, aku selalu berdo’a buat Ainy dan keluarga. Kini aku yakin dan berharap suatu hari nanti akan ada Ainy-Ainy yang lain yang dapat aku petik sebagai bunga hidupku dan aku dapat menjadi pria yang lebih baik di depan semua orang. Sejak kejadian itu, aku pun mulai menyadari yang dahulu adalah salah dan aku sangat menghargai yang namanya wanita...

Zaini Yazid

Alumnus PPMDH TPI Medan

Jln.Pelajar No.44

Cerpen Sedih Izinkan Aku Memilih

Sabtu, 28 Juli 2012
Ini perasasan hati tak pernah bisa ku bohongi, menyayangi kalian adalah kebahagiaan dan disayangi kalian adalah kebanggaan, akankan semuanya terus berjalan, seiring dengan kebohongan yang terus dilakukan, salahkah ini semuanya yang ku lakukan untuk membahagiakan diri semata.
* * *
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini, menjadikan kedua laki-laki tak berdosa itu masuk ke dalam kehidupanku, dalam sekejap aku tidak menyadarinya, namun setelah mereka menyatakan perasaannya baru ku seperti terbangun dari mimpi, Kevin dan Yoga kedua laki-laki ini menyatakan cinta padaku dihari yang sama. Dan bodohnya aku tak bisa memilih mereka berdua, bodohnya aku menjadikan mereka sebagai kekasihku.
Kevin adalah seorang laki-laki dewasa yang begitu mengerti akan semua keadaanku, saat aku sedang bosan, malas atau butuh kasih sayang diapun selalu ada. dan Yoga adalah kakak kelas ku yang begitu perhatian padaku, itu yang membuatku jatuh hati padanya.
“Apa Wid lo pacaran sama dua-duanya?” sontak Adel saat aku ceritakan yang terjadi.
“Gue ga ngerti Del, gue sayang sama mereka berdua.”
“Tapi harusnya lo tuh bisa berpikir, ga jadi seperti ini, apa yang lo lakuin kalau diantara mereka tau?”
Pertanyaan Adel terus membayangi pikiranku, apa yang harus aku lakukan ? apakah aku harus jujur kalau aku selingkuh? Apakah aku harus bilang aku mencintai mereka berdua? Apakah aku harus bilang jika ini kesalahanku yang tak bisa memilih? Entahlah aku harus berbuat apa, biarkan waktu yang mendesakku menjawab semuanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan kisah ini, kisah yang terlarang namun begitu ku nikmati.

* * *
Hari ini adalah janji berkencan ku dengan Kevin, berjalan berdua di tengah keramayan sedikit membuatku gemetaran, jantungku selalu berdebar kencang apalagi saat Kevin menggenggam erat tangan ku serasa merasakan getaran yang berbeda dalam perasaan ini.

tibalah kami disuatu taman yang indah, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan taman taman indah itu, enatah tempat apa ini, namun baru ku temui bersama orang yang ku sayang. Cuaca langit yang sedikit menghitam tampaknya mulai menyejukan suasana namun langit masih mau berbaik hati untuk tidak mengeluarkan benih-binih airnya. Tiba-tiba Kevin menarik kedua tanganku membalutnya dengan tangannya yang menjadikan sebuah kehangatan, disitu dia pun berkata.
“Wid, aku begitu menyayangi kamu dengan tulus, apakah kamupun begitu?”
“Tentu Vin, akupun sayang kamu.”

lontaran kata-kata dan tatapan yang tulus membuatku semakin terjerat dalam situasi ini, aku semakin merasa bersalah dan takut bagaimana jika Kevin tau bahwa bukan hanya dia yang menjadi kekasihku saat ini, namun rasa sayang dan egois ku yang memaksaku melakukannya.”
sampai acara kencan itu berakhir, suasana kebahagiaan masih terasa begitu melakat di hati.

* * *
Hari ini adalah hari istimewaku, bertambahnya usia dan berharap akan menambah pola pikir kedewasaanku, walaupun saat ini aku sedang terbelit dalam situasi yang dianggap tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bisa berfikir dewasa. Hari ini juga kepulangan Yoga dari Bandung, setelah berlibur sekitar 2 minggu akhirnya Yoga pulang ke Cirebon, ia tak sabar ingin bertemu dengan Widy kekasihnya itu, karena semenjak mereka bertemu malam itu saat yoga menyatakan cinta, mereka belum pernah dipertemukan kembali karena Yoga harus pergi berlibur bersama keluarganya di Bandung. Kini tibalah mereka bertemu, rasa gugup terpancar dari muka Widy.
“Aku kangen kamu Widy sayang.” tiba-tiba Yoga berkata.
“ J Aku juga kangen kamu Yoga.” Senyuman tipis terpancar dari wajah Widy.
Widy benar-benar merasa gugup, kecanggungan terpancar dari sikap dan bahasa tubuhnya, Yoga pun melihatnya tak biasa.
“Kamu kenapa sih Wid, seperti ga suka aku datang.”
“Engga ko ga, aku senang.”
kenapa saat bersama Yoga, aku selalu terfikirkan Kevin, aku terlalu takut menjalani ini, padahal ini sebuah keputusan yang aku ambil.

* * *
Percintaan ini benar-benar tidak membuat aku tenang dan bahagia, semuanya hanya menjadi pikiran dan bebanku saja.
“Del gue besok mau jalan bareng Yoga.”
“Asik dong Wid, pasti lo di ajak ke tempat yang romantisnya ga kalah sama pacar lo yang satu itu.”
“Ko gue ga bisa lupain Kevin ya Del, saat gue jalan bareng Yoga, beda banget saat gue jalan bareng Kevin.”
“Itu artinya lo lebih sayang Kevin, lo harusnya bisa memilih diantara mereka pasti ada yang terbaik.”
“Gue butuh waktu , karna gue sayang mereka.”
Berkencan dengan Yoga tak bisa melupakan bayangan Kevin, namun tak ingin ku tampakan. Ku yakin hari ini akan bisa senang bersama Yoga, Yoga membawaku ke sebuah Cafe tempat kami akan mengadakan diner. Suasana lilin yang menyala dengan indah, suasana dingin terasa membuat suasana romantisme tercipta.
Saat di waktu sedang menunggu pesanan makanan yang belum datang kamipun berbincang seputar liburan Yoga di Bandung, namun ketika diapun menanyakan seputar liburanku disini aku langsung teringat pada Kevin karna banyak waktu liburanku yang kuluangkan bersama Kevin dan tak mungkin aku bercerita, dan sekali lagi akupun harus berpura-pura.
Sampai waktunya akhir kencan serasa menambah kesempurnaan saat Yoga menarik ulur tanganku dan memakaikan cin cin di jari manisku, namun ku artikan itu hanyalah sebuah kado biasa yang biasanya orang berikan pada saat hari ulang tahun. Hatiku juga berkata ini semua bukan kebahagiaan yang aku inginkan.
Yoga meluncur dengan mobil hitamnya, melaju menuju arah rumahku untuk mengantarku pulang, sampai di depan gerbang dibukakan pintu mobil mewah itu serasa aku menjadi permaisuri saja, saat ku ingin masuk Yogapun tak lupa mencium keningku, anehnya perasaanku tidak merasa nyaman dengan ini semua. Setelah Yoga mengijinkanku masuk ke dalam rumah, rupanya sosok tak asing bagiku telah menyaksikan drama cinta yang telah terjadi, ya Kevin berdiri disana seperti tak berdaya dengan bunga cantik dan sebuah bingkisan yang indah terjatuh dari genggamannya. aku sontak kaget dengan ini semua, begitupun Yoga yang tampak bingung dengan adanya Kevin.Tak bisa ku keluarkan kata-kata berderet pertanyaan dikeluarkan Yoga pada Kevin.
“Siapa kamu, teman Widy? untuk apa datang kesini ? memberikan kado ya buat Widy? Kenalkan aku Yoga kekasih Widy”
Ucapan Yoga membuatku gemetaran, semua kata tak bisa dikeluarkan dari mulutku padahal hati ini sudah menjerit tak tahan, matakupun tak bisa menahan benih-benih airnya.

Kevin tak enggan untuk menjawab pertanyaan dan sapaan Yoga,
“Aku Kevin, dan aku adalah kekasih Widy, aku kesini untuk memberikan ini pada Widy.”
“Wid selamat ulang tahun, dan selamat bersenang-senang dengan kekasih baru kamu, terima kasih untuk semuanya.” Rasanya Kevin tak sedikitpun menampakan kesedihan, namun terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan terpancar dari mukanya. Jawaban dan sorot mata yang tajam begitu menggores luka dihatiku, tak ada kesempatan yang bisa ku jelaskan, Kevinpun pergi dan meninggalkanku tanpa sepatah kata yang membuatku senang di hari ulang tahunku.
Dan Yoga marah-marah meluapkan semua emosinya, aku tak tahan dengan sikapnya.
“Okeh, sekarang kamu udah tau kalo aku selingkuh, buat apa kamu marah-marah kita akhiri saja semuanya.”
“Wid kamu tau kan aku sayang kamu, kenapa kamu lakuin ini semua?”
“Perasaanku yang membawaku dalam situasi ini, kalian begitu berharga buatku dan waktu tak pernah mengijinkan untuk memilih kamu atau dia.”
“Baiklah kita akhiri saja semuanya, kamu terlalu beruntung Wid dicintai seseorang dengan tulus, tapi waktu berjalan Wid kamu tak bisa memanfaatkan waktu untuk memilih yang terbaik.”

* * *
Semuanya pergi luka yang paling menusuk datang dari Kevin tanpa sepatah kata dia mengakhiri semuanya, jika saja dia tau bahwa sekarang aku tersadar dengan cinta yang tulus diberikannya aku ingin dia kembali, berhari-hari ku terfikirkan akan Kevin, kencan yang indah di taman yang indah pula, kini kabarnya entah tak pernah ku dengar lagi. Namun hari ini ku benar-benar merindukannya ku datangi taman indah itu, suasana terpancar sama seperti ku datang dulu bersama Kevin namun kini langit benar-benar ingin menangis seperti hatiku.
Kini aku mengerti betapa cinta tak ingin dikhianati, rasa sakitnya begitu tak bisa dirasakan pada seseorang yang mengkhianatinya, namun sangat menyakiti siapapun yang dikhianatinya. Aku juga mengerti tentang penyesalan yang selalu datang saat semuanya telah berakhir. Aku juga mengerti tentang waktu yang tak bisa berlama-lama untuk memilih suatu keadaan.

Farhatul Aini

Kisah Sedih Seorang Ibu

Jumat, 27 Juli 2012
INI ADALAH REALITI HIDUP....

 Ada kaum wanita menempuh kepayahan hidup di awal remaja mereka dan berubah kepada lebih baik setelah dia bekerja dan berumah tangga.


Ada pula yang susah ketika awal perkahwinan dan bahagia akhirnya setelah anak semakin besar
Ada juga yang susah di penghujung hayat mereka. Inilah yang menyedihkan.
"Nasib saya tidak seperti ibu ibu di atas tadi, boleh saya katakan hidup saya susah, tertekan jiwa, hati dan perasaan sejak dari saya berada di zaman remaja hinggalah setelah saya bercucu sekarang."


"Saya rasa mungkin saya salah seorang ibu malang di dunia ini, namun saya taklah kesal sudah nasib saya. Ini kehendak Allah saya redha, tetapi saya kesal sikap anak menantu yang membuatkan hati saya hancur seperti kaca terhempas ke batu,''


Demikian cerita Puan Hamizah dalam surat pendek yang dihantarkannya dan ketika kami berbual petang Isnin lalu. Sebenarnya sudah beberapa kali kami berbual, tetapi perbualan kami terputus-putus, kerana gangguan cucu menangis dan beliau takut bercakap terlalu lama di telefon bimbang anak menantunya tidak dapat menghubunginya di rumah kerana telefon sedang digunakan. Jadi kami berbual kira-kira 6 minit setiap panggilan. Hinggalah saya faham perasaan hati beliau yang terluka selama ini.


"Dah lama sangat saya nak luahkan isi hati saya ini, tetapi tak ada orang yang boleh saya percayai, lagi pun kehidupan saya yang terkurung tidak mengizinkan saya berjumpa dengan ramai orang. Nak cakap dengan jiran takut anak terasa malu. Jadi saya simpan semuanya dalam hati."


"Tetapi apa pun kesimpulan masalah saya ini semuanya berpunca kerana kemiskinan dan kesusahan hidup saya. Kalau hidup kita miskin, anak menantu pun tak suka, malah menganggap kita menyusahkan hidup mereka sahaja. Itulah nasib saya."


"Saya ibu tunggal, diceraikan kerana suami saya nak kahwin lagi, bakal isteri barunya tak mahu bermadu, jadi tinggallah saya bersama anak-anak seramai empat orang ketika itu masih dalam sekolah rendah dan dua sekolah menengah. Kerana anak pertama dan kedua perempuan agak pandai sikit dapatlah dia belajar ke sekolah menengah sains berasrama. Walaupun duduk asrama saya terpaksa hantar duit sebab belanja mereka agak tinggi, macam-macam benda nak dibeli"




"Saya bekerja keras untuk mencukupkan belanja mereka di samping dua orang lagi yang masih bersekolah rendah. Ayah mereka setelah menceraikan saya nafkah anak-anak langsung tak bagi. Nak jengok anak pun takut isteri baru marah. Puas saya pergi pejabat dan turun naik mahkamah syariah tapi gagal dapatkan nafkah. Buat habis duit tambang aja, terpaksa cuti akhirnya saya buat keputusan biarlah dia berseronok dengan kehidupan barunya dan jawablah di akhirat nanti".


"Ketika bercerai saya tak ada rumah, menyewa rumah kecil di kawasan dekat KL memang mudah saya pergi kerja, tapi sewa rumahnya tinggi. Selain bekerja saya jual kain potong yang orang hantar minta saya jualkan, paling tidak dapat juga anak-anak berganti pakaian yang mereka berikan. Biarpun pakaian terpakai tetapi masih baru, senanglah kami berpakaian. Kalau besar saya kecilkan."


``Dengan izin Allah anak yang tua sambung belajar buat diploma dua tahun kemudian yang kedua pulak ikut sama. Harapan saya bila mereka bekerja nanti senanglah sikit hidup saya.


Sayangnya saya cuma berharap, Allah yang menentukan".


"Tak sampai enam bulan bekerja dia nak kahwin. Tersentak juga rasa hati, cepat sangat anak saya laku. Walaupun saya minta dia tangguhkan dulu, sebab tak berduit buat kenduri, tetapi yang lelaki mendesak. Anak saya Izah terpaksa ikut. ``Kenduri kami ala kadar saja. Kata Izah bakal suaminya tak suka buat majlis panggil ramai orang, membazir aja. Saya ikutkan memang pun saya tak berduit lagipun hantarannya tak tinggi cukup buat kenduri saja. Selesai majlis cuma dua malam menantu saya tidur di rumah, mereka terus pindah rumah lain".


"Dua hari lepas mereka pindah, ketika saya sibuk mengira hutang belum selesai Izah datang ke rumah bersama suaminya, bertanyakan mana set bilik pengantin sebab dia nak bawa ke rumah mereka. Izah tahu saya cuma beli katil dan tilam, almari pakaian dan almari solek pakai yang lama lagi pun rumah sewa kami kecil sangat mana nak muat. Tetapi sebenarnya saya tak mampu nak beli semua benda itu. Kerana tak ada set tersebut menantu saya minta beli yang baru. Hutang lagi. Izah tak berani bantah walaupun dia tahu saya tak berduit. Hutang lama tak selesai hutang baru bertambah. Namun dalam hati kecil saya mengharapkan kalau Izah bagi saya RM100 setiap bulan seperti sebelum dia kahwin, mungkin hutang itu boleh saya selesaikan. Tetapi sejak Izah kahwin dia tak beri saya duit langsung".


"Waktu itu memang saya susah, mana nak bayar hutang, tiga orang anak lagi tengah belajar, seorang peringkat akhir pengajiannya, sementara seorang lagi nak ambil SPM, tetapi pada siapa saya nak mengadu, saudara mara bukan orang kaya, mereka pun duduk kampung harapkan anak-anak. Namun mereka masih bernasib baik daripada saya kerana ada anak-anak yang menolong. Berbanding saya...".


"Kerana terdesak saya minta Izah bantu bayarkan duit pereksa adiknya, tetapi kata Izah dia tak ada duit, semua duit gajinya suaminya pegang. Kata Izah suaminya kata lepas kahwin dia mesti ikut perentah suami bukan emak lagi, syurga bawah tapak kaki suami. Lagi pun dia nak simpan duit beli kereta baru dan rumah. Hendak tak nak saya terpaksa tebalkan muka pinjam pada kawan sekerja RM100 janji bayar dua bulan. Ketika Imah habis belajar saya menyimpan hajat mungkin bila dia kerja nanti dia boleh membantu saya. Imah pulak lambat dapat kerja, dia terpaksa kerja sementara di kilang, memang dia ada bantu saya cuma beberapa bulan sebelum dapat kerja yang memaksanya pindah duduk nun di Selatan".


"Hati saya suka dalam duka. Gembira anak dapat kerja tapi sedih dia terpaksa tinggalkan saya. Di tempat baru dia terpaksa sewa rumah, jadi untuk tiga bulan pertama memang dia tak kirimkan saya duit sedikit pun. Sebaliknya saya terpaksa meminjam bagi dia bekalan sedikit duit semasa pindah dulu. Sekali lagi kawan jadi mangsa. Tapi saya bayar balik semuanya walaupun berdikit-dikit".


"Anak kedua pun cepat jodoh, tak sampai setahun bekerja dia kahwin orang sana. Saya buat kenduri kecil, nak panggil ramai orang kita perlu belanja besar. Asalkan mereka selamat kahwin sudah cukup. Ayah mereka datang untuk izinkan nikah saja. Tak ada satu sen pun dia keluarkan duit belanja".


"Kalau orang lain gembira anak perempuan mereka cepat kahwin tapi orang susah macam saya cuma tangis mengiringi mereka. Sedih dan takut apakah Imah juga ikut jejak kakaknya serahkan semua duit gajinya kepada suami. Kalau saya orang senang memang saya tak harap duit mereka, tetapi susah merekalah harapan saya".


"Dua orang anak lelaki saya Ismail dan Ishak faham masalah saya. Ismail tolak tawaran buat diploma walaupun dia layak, dia bekerja di kilang, katanya nak tolong saya dan adiknya habiskan belajar sampai tingkatan lima".


"Saya menangis mengenangkan pengorbanannya, namun saya terus memujuk supaya dia terus belajar, biarlah saya susah bekerja dan berhutang, asalkan masa depannya terjamin, tetapi dia menolak, dia terus kerja kilang. Katanya dia akan sambung belajar kalau ada rezeki. Tapi sampai kini dia masih kerja kilang dengan pendapatan cukup makan saja. Anak keempat saya pun berakhir dengan kerja kilang".


"Saya cukup sedih, tetapi apakan daya saya tidak ada kemampuan untuk mendesak mereka terus belajar kerana saya pun tak berduit. Ayah mereka tak ambil peduli selepas dia dapat empat orang lagi anak dengan isteri baru dan masil kecil- kecil. Peristiwa itu berlaku kira-kira 10 tahun lalu, kini badan saya semakin tua, sudah tak berdaya nak bekerja lagi. Untuk menampung hidup saya jaga anak orang yang dihantar ke rumah saya. Tetapi bila Izah tak ada pembantu dia suruh saya duduk dengan dia jaga anak-anaknya. Sekarang dah lebih 6 tahun".


"Saya rasa saya adalah pembantu rumahnya, tapi tak bergaji, dapat makan dapat tempat tidur. Tapi masalahnya saya dah berusia dekat 50 tahun, badan saya sudah tak kuat lagi. Kerana hidup susah sejak muda, saya memang kelihatan tua. Saya fikirkan bila dia ambil saya tinggal di rumahnya dapatlah saya ke surau dan buat amal ibadah dengan lebih selesa, malangnya sembahyang terawih pun jarang-jarang dapat pergi, di rumah aja menguruskan anak cucu".


"Bila sendirian saya selalu menangis mengenangkan nasib. Dari kecil anak saya besarkan, berhutang keliling pinggang untuk menyekolahkan mereka, tapi bila dah senang suami dia kutip hasil. Kalaulah anak saya menjaga saya, agaknya tak sampai umur saya 65 pasti saya dah mati. Cuma 15 tahun sahaja dia menjaga saya. Tetapi kalau dia ada umur dia akan hidup bersama suaminya lebih 42 tahun iaitu sejak 23 tahun umur dia mula bekerja hinggalah 65 tahun. Jadi apalah salahnya dia bantu hidup saya yang susah ini dan tolong anak-anaknya melanjutkan pelajaran. Memang tugas ibu membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka, dan tak boleh minta pembalasan, itu benar, tetapi saya bukan orang senang saya susah".


"Apa yang menyedihkan saya ialah hidup dua orang anak lelaki saya sampai bila dia mesti bekerja jadi pekerja kilang. Bukan saya hina pekerja kilang, tetapi mereka pandai, mereka dapat tawaran sambung belajar ke IPTA. Apa salahnya kakak-kakak mereka menghulurkan bantuan kerana dia tahu saya susah dan ayahnya tak membantu dan tak pernah beri nafkah. Salahkah saya meminta bantuan. Mengapa menantu saya terlalu berkira tentang duit dan membuat saya macam hamba abdi, kalau saya jadi pembantu rumah kepada orang lain tentu saya dapat imbuhan, tetapi duduk di rumah anak sendiri saya benar-benar terhina. Saya perlukan masa sendiri untuk membuat amal ibadah yang banyak saya tinggalkan semasa bekerja dahulu. Tetapi semuanya tersekat kerana menguruskan 4 orang cucu pergi sekolah rendah, sekolah agama, tadika dan sebagainya".


"Sudahlah hidup saya susah semasa membesarkan anak-anak dahulu, dah tua begini pun saya terpaksa jaga cucu. Saya rasa terhina kerana duduki menumpang di rumah mereka. Kerana saya tidak punya apa-apa, miskin dan tak berharta saya dibuat macam hamba. Nak berbual dengan anak pun terhad, menantu sentiasa mengawasi, apa lagi kalau nak berbual dengan jiran tetangga".


"Saya merasa amat sedih terutama bila besan atau saudara mara menantu saya datang ke rumah, saya tunggang langgang di dapur memasak, mereka cuma berbual dan menunggu hidangan terhidang di meja saya betul-betul terhina".


"Lagi sedih bila menantu bising pasal bil elektrik dan air meningkat. Sabun pencuci cepat habis pun merunsingkan fikirannya. Menantu saya terlalu berkira pasal duit, duit, duit itu. Entah bila penderitaan saya akan berakhir. Saya sentiasa berdoa supaya saya tidak terlantar sakit terlalu lama sebelum mati. Kerana saya tak tahu siapa nak jaga saya nanti.''


Demikian cerita Hamizah dengan nada suara tersekat-sekat. Saya hanya tumpang sedih apakah zaman ini masih ada anak-anak seperti ini, Benarlah kata Pn Hamizah, kalau diri tak berduit bukan sahaja dihina orang, anak-anak sendiri pun benci dan tak hormatkan kita lagi. Agaknya mereka terlalu hormatkan suami kerana syurga di bawah tapak kaki suami. Ibu tak berguna lagi. Tapi kata seorang teman suami boleh berganti kalau jodoh dah tiada, tapi ibu itulah satu-satunya di dunia dan di akhirat.


Entahlah! Tapi sayangilah ibu semasa dia masih ada lagi. Kerana doa ibu membawa berkat.

Cerpen Romantis Melodi Cinta Topan Dan Viela

Kamis, 19 Juli 2012
“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa ditukar sama martabak?”



“Mau ke mana, Pan?’ sergah Roni saat dilihatnya Topan buru-buru beranjak dari bangkunya.



“Lo kayak nggak tau aja, sebentar lagi malaikat cerewet itu nongol, mending gue nyari udara seger di luar. Ntar kalo ada yang bisa lo bantu, bantuin gue ya?”

“Enak aja lo!” sungut Roni.



“Kan lo temen gue yang baik.”

“Iya deh, iya. Gue tau lo di luar lagi ngincer Viela, kan? Moga-moga aja lo ditolak, biar minum racun serangga, lo!”



“Ha ha ha! Nggak mungkin Meeennn!” Topan buru-buru ngacir keluar.



Bukan cuma guru Killer itu yang jadi alasan Topan, tapi karena jam ketiga ini, Viela praktek olahraga, jadi Topan bisa ngegodain cewek itu dari jauh sambil ngeliat body-nya yang keren, kakinya yang mulus dan terutama senyumnya yang bikin Topan Puyeng itu.

Baru saja Topan sampe di lobby, anak anak kelas Viela baru saja berhamburan dari kelasnya, suara mereka berisik, seperti burung yang dilepas dari kandangnya. Topan celingukan nyari Viela, parkit lincah berkaki mulus yang punya senyum lebih legit dari brownies itu.



Nah itu dia….



“Eh, sempit tauk, enam juta penduduk Jakarta berjubel kayak ikan dalam kranjang….”



“Kayak petugas sensus aja, lo!” ketus Topan sama cewek gendut yang sengaja nabrak Topan dari belakang, sekretaris kelasnya Viela. Terang aja, Topan menghalangi jalan cewek itu yang gak mau ribet dihalang-halangi, yang katanya sih udah lama setengah mati diet buat ngurusin badannya.



“Liat-liat dong kalo jalan, orang segede aku gini kok gak kelihatan,” sengit Topan saat cewek gemuk itu masih berkacak pinggang di depannya.



“Eh, elo yang gak liat, celingak-celinguk… nyari siapa lo? Hmm, gue tau, lo mau lihat paha kita-kita kan.”



“Paha…? Paha siapa?”



“Paha sapi!”



“Emang paha lo gede kayak paha sapi!” Topan ngacir.



“Eh brengsek, gue smackdown lo baru tau rasa…!!”



Topan terus ngacir sambil ngetawain tuh cewek.



Tak jauh di depan, Viela lagi jalan gandengan sama teman-temannya. Jantung Topan berdebar kencang, inilah cewek yang membuat Topan berani mengorbankan pelajaran Bu Rani, guru Bahasa Indonesia yang galak banget bin cerewet itu. Daripada bete nerima pelajaran Bu Rani, mending nyari pemandangan seger di luar, begitu pikir Topan.



“Pan!” Arief tiba-tiba narik tangan Topan.



“Eh Rif, sorry, gue nggak ngeliat lo. Eh salam gue kemaren gimana?” Tanya Topan berbisik ke kuping Arif.



“O… salam lo….”



“Udah lo sampein, kan?”



“Udah, dia cuma senyum doang.”



“Senyum? Gak ada yang laen?”



“Gak ada, malah….” Arif ketawa.



“Maksud lo dia ngetawain gue?’



“Ntar gue sampein lagi yang serius deh….”



“Sialan lo!” Topan buru-buru ninggalin Arif, tapi saat berbalik, jantung Topan berdebar lagi dengan kencang saat melihat siapa yang sudah berdiri di depannya, dengan celana training yang pendek ketat. Dia menyapaku? Pikir Topan gembira.



“Viel….”



“Ada apa Pan, penting banget kayaknya…?’



Mmm… salam gue gimana?” tembak Topan langsung sambil mamerin senyum cute-nya dan tentu saja matanya yang penuh dengan cinta….



“Yang disampein Arif kemaren?”



“Mmm… iya.”



“Sementara gue tampung dulu ya, tunggu aja deh….”



“Kayak kotak saran aja ditampung dulu,” canda Topan sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatal, salah tingkah. Meskipun jawaban yang terlontar dari bibir mungil Viela kurang menyenangkan, tapi Topan menganggap itu masih lebih bagus daripada dicuekin. Saat Viela berlari-lari menuju lapangan, Topan masih bisa menikmati kaki bagus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, yang rambut panjangnya tergerai seakan berkata, “kejarlah daku topan… ntar kamu kujitak.”



***



“Topan….”



“Ya Bu…,” Topan kikuk, sebel.



“Kenapa kamu suka bolos kalau saya masuk?” Ibu Rani muncul, padahal bukan jam pelajaran dia di kelas Topan.



“Pelajaran saya tidak kamu sukai, katanya haree geneee masih belajar bahasa Indonesia, kan dari bayi udah bisa bahasa Indonesia. Iya, kamu yang ngomong begitu?”



“Nggak Bu, bukan saya.”



“Jadi siapa?”



“Roni, Bu, dia juga gak suka sama pelajaran Ibu.”



“Suka Bu, Topan fitnah!” balas Roni teriak.



“Ayo Topan, kenapa kamu tidak suka sama Ibu?”



“Dia lagi jatuh cinta, Bu. Sama anak dua A3, namanya Viela. Pas pelajaran Ibu mereka olahraga, Topan milih keluar melihat pemandangan alam katanya, Bu.”



Seisi kelas riuh menertawai Topan.



“Apalagi anak-anak dua A3 kalo olahraga hobi pake celana dan tank top ketat, Bu!” Tambah Muti yang udah lama diem-diem naksir Topan tapi nggak pernah direspon Topan.



“Jadi karena alasan itu kamu tidak suka pelajaran Bahasa saya? Ya Topan?” serang Bu Rani.



“Bukan begitu, Bu.”



“Katanya Ibu juga galak, mulut Ibu bawel!”



“Eh, kambing, lo!” ketus Topan.



“Muti, jaga mulutmu, ya!” pelotot Ibu Rani.

Seisi kelas tambah riuh.



“Mulai sekarang Ibu tidak mau lagi ada anak yang bolos di jam pelajaran Ibu, Cuma gara-gara naksir cewek, pelajaran diabaikan, mau jadi apa kalian, pacaran aja yang diurusin. Sebentar lagi Ibu masuk, kalian tunggu dan tak ada yang boleh kaluar! Ngerti?”



“Ngerti Buuu…!!!” jawab seisi kelas.



Topan garuk-garuk kepala, dia gagal kali ini ketemu Viela, dan terutama menghindari pelajaran Bu Rani.



***



“Pan… pan, elo mau traktir gue apa nih?” Roni yang baru abis dari kantin teriak-teriak mencari Topan.



“Ada apa Ron?” Tanya Topan penasaran.



“Traktir gue, pokoknya sampe kenyang!”



“Beres, tapi apa dulu dong?”



“Viela….”



“Kenapa Viela?”



“Tapi traktir gue, ya.”



“Beres, apa aja lo minta deh, pokoknya kalo soal Viela beres….”



“Salam lo diterima, Tanya Arif kalo nggak percaya, dia juga nyampein ke Arif, tapi karena gue temen sekelas lo, katanya biar lebih cepet, gue aja yang nyampein.”



“Hah... yang bener?”



“Katanya dia suka sama cowok kayak lo, cuek, cute, berani, ngocol, nekat, dan banyak deh komentarnya.”



“Ah... yang bener lo, Ron!?”



“Samber gledek lo sendirian, kalo gue bohong.”



“Jangan gue sendiri, bareng-bareng dong.”



“Terserah deh pokoknya, usul gue, lo tembak langsung aja, jeger! Jeger! Jeger! Pulang ntar lo barengin ya, sekalian janjian, ntar malam kan malam minggu. Kalo nggak lo bisa keduluan gue!”



“Jeger jeger, memangnya nembak celeng.”



Topan bangkit dari duduknya.



“Yessss!!!” teriaknya keras, sampe ludahnya berhamburan ke wajah Roni.



“Sialan lo Pan, hujan lokal nih.”



“Sori... sori, lo tunggu gue, gue traktir semuanya sekarang juga!” Topan lari keluar kelas.



Roni dan anak-anak yang sudah hadir di kelas langsung tereak kegirangan. Beberapa menit kemudian Topan muncul, dikira Topan bawa makanan enak seperti brownies kukus dan lemper isi abon dari kantin Bu Sarmila, gak taunya singkong, ubi, gemblong segede-gede sandal jepit yang biasa dijual di warung kopi Kang Jaja yang ada di luar sekolahan.

Kontan aja beberapa potong ubi goreng melayang di udara mengenai kepala Topan dan Roni.



Malam Minggu, Topan siap-siap apel. Viela bukan cuma nerima salam Topan, tapi juga udah nyuruh Topan datang malam Minggu. Dengan kemeja kotak-kotak biru, celana jeans sedikit belel, sepatu Cole cokelat kulit kanguru, Topan tampak keren dan macho. Topan dengan gembira melangkah keluar rumah, senyumnya cerah, seperti langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.

Sampai di rumah Viela, dada Topan berdebar tak karuan, tapi sekuat tenaga berusaha ditentramkannya. Topan segera memencet bel di pintu pagar yang sedikit dipenuhi semak bunga bougenville. Beberapa detik kemudian muncul Viela, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dia memakai jeans sebatas lutut yang ketat dengan atasan T-shirt tak berlengan.



“Hai, Pan, yuk masuk!”



Topan melangkah masuk, debar jantungnya makin bertalu, tapi berusaha ditentramkannya.



Sehabis menyalakan lampu teras, Viela menyilakan Topan duduk.



“Bentar ya, Pan. Aku mandi dulu.”



“Loh, emangnya kamu belum mandi?”



“Belom, abis kamu kecepetan sih datangnya, baru aja jam tujuh.”



Topan melirik jam tangannya.



“O iya ya, masih sore….”



“Nggak pa pa sih, cuma kamu semangat banget ya kelihatannya, hi hi hi!” Viela terkikik geli.



Topan garuk-garuk kepala.



“Mau minum apa, Pan? Teh, kopi, atau mau yang dingin, atau air putih aja.”



“Mm… nggak usah repot-repot deh, air putih aja.”



“Wah kebetulan, emang adanya cuma air putih kok.” Masih sambil cekikik geli Viela lalu berlenggak-lenggok masuk ke dalam.



Topan garuk-garuk kepala lagi. Kena dia…

.

Nggak lama kemudian Viela muncul, udah ganti baju yang lebih rileks, nyante banget, Cuma wajahnya kini dipolesi bedak tipis dan bibirnya merah seger dipakaiin lipstick glossy. Topan terpana….



“Ngomong dong Pan, kok jadi salah tingkah kelihatannya?”



Topan yang biasanya jago ngocol masih terus salah tingkah, bibirnya bingung mo bicara apa yang enak. Tapi alangkah kagetnya Topan saat kemudian muncul pembantu membawa nampan berisi dua gelas air putih dan menyilakannya untuk minum yang dihidangkannya.



“Trima kasih ya, Ma. Kok cuma air putih Ma, kue-kuenya mana?”



Sekujur tubuh Topan kejang-kejang. “Bu Rani….”



“Masih mending air putih, bisa dipake dukun buat ngobatin orang, untung nggak Mama kasih racun serangga sekalian tadi.”



“Ih Mama, jahat banget….”



Bu Rani dengan bergaya pembantu lalu balik ke dalam.



Viela tersenyum geli.



“Ayo Pan, diminum, kenapa?”



“Mm… gue… gue pulang aja deh, Bu Rani… Bu Rani itu nyo….”



“Lo, emangnya kamu nggak tau kalo Bu Rani Nyokap gue?”



Topan geleng-geleng kepala. “ Nggak… gue baru tau sekarang. Sumpah, samber gledek bareng-bareng….”



“Ya udah, nyokap gue baek kok orangnya….”



“Bukan begitu Viel, tapi gue….”



“Gue ngerti, kamu sebel banget sama pelajarannya kan, juga orangnya kan?”



“Viel, jadi kamu membalas salam gue dan nyuruh datang malam Minggu supaya gue dikerjain sama nyokap kamu, terus supaya besok-besok gue nggak nakal lagi dan Nyokap kamu jadi nggak repot lagi ngurusin anak bandel kayak gue?”.



5“Doo… yang perasaan, bukan begitu maksudnya Pan. Kamu gue suruh ke mari malam Minggu karena kamu cowok istimewa buat gue. Soal Bu Rani yang lo sebelin itu kebetulan nyokap gue, kan cuma kebetulan doang. Sekarang tinggal kamu, gimana menurut kamu persoalan kita, kamu suka tantangan, kan?”



Topan diam sesaat. “Tantangan apa dulu, kalo ditantang Chris Jhon sih gue nyerah,” Topan berusaha bercanda.



“Ya ngambil hati nyokap gue, dong.”



Topan berdiri. Viela terlihat kecewa.



“Salam deh buat Bu Rani, malam Minggu depan kalo gue apel lagi, gue bawain apel.”



“Jangan cuma apel, Pan. Martabak keju kesukaan nyokap gue juga….”



“Mmm… iya deh.” Pantesan Bu Rani gendut, demen martabak keju sih, pikir Topan dalam hati ngedumel.



Dan malam Minggu yang indah pun berlalu, tapi juga malam yang bikin Topan serba salah. Tadi Topan maunya pulang agak maleman, tapi Topan ngeliat Bu Rani sering ngintip dari gorden pembatas ruangan, matanya melotot galak.



***



Topan berubah jadi cowok paling kalem sedunia sejak dia sadar kalau Viela adalah anak Bu Rani yang disebelinnya, biarpun Topan udah kalem dan selalu hadir nomer satu di pelajaran Bu Rani, tetap saja dia harus mengambil hati Bu Rani, caranya udah dijalani Topan dengan membawa sekeranjang apel New Zealand dan martabak keju, juga martabak telor. Eh itu malah bukannya membuat Bu Rani senang, tapi dianggapnya sesuatu yang melecehkan baginya.



“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa ditukar sama martabak?”

Topan cuma diam.



“Kalau kamu tahu, sejak SMP Viela sebenarnya sudah saya jodohkan.”



“Dijodohkan Bu, sama siapa? Sama saya?” Topan tersentak.



“Sama kamu? Anak nggak pintar kayak kamu kok mau dijodohin sama anak saya.”



“Jadi mau dijodohon sama siapa, Bu?” Tanya Topan hati-hati.



“Mau tau aja!”



Bu Rani juga selalu melirik Topan kalau dia melihat Topan sedang menunggu Viela di depan kelas. Jalan ke kantin, pulang bareng, semua ulah Topan dicurigai. Topan jadi pusing. Menunggu Bu Rani pensiun masih lama, dipindahin sama pemerintah ke Papua, nggak mungkin. Coba kalo gue dulu gak sebel sama Bu Rani, mungkin nggak begini jadinya, sesal Topan. Meskipun Bu Rani kelihatannya baik, dan agak suka becanda, tapi batinnya, Topan ngerasa dia menolak keras, nggak nerima anaknya dipacarin, apalagi lewat jalan belakang.



“Pan!” tiba-tiba Roni menepuk bahu Topan dari belakang.

“Topan kaget, disikutnya perut Roni. “Ganggu gue aja lo, sono,” hardiknya.

Lalu Roni cekikikan melihat buku Bahasa Indonesia Topan yang disampul rapi banget, kayak buku anak kelas 1 SD.

“Kusut amat lo Pan. Udah deh, lo cari aja cewek laen, Viela emang cakep, tapi nyokapnya. Gue heran, Viela cakep, nyokapnya kok ancur. Bokapnya kali keren, ya, Pan?”

“Nggak tau gue, gue nggak pernah ketemu bokapnya.”

“Kalo lo nyium Viela, terus kebayang bibir Bu Rani yang lebar itu, sama aja nyium bibirnya Bu Rani, lo.”

“Brengsek, lo, Ron.”

Roni cekikikan.

Tiba-tiba Viela muncul di depan pintu, tersenyum. “Gue denger apa yang kalian omongin. Ntar malam Minggu ke rumah ya Pan, ada hal penting yang mo gue omongin.”

“Soal apaan Vi?”

“Sekarang apa ntar malam?”

“Sekarang aja deh,” desak Topan.

“Oke… dengerin ya. Bu Rani itu sebenarnya bukan nyokap kandung gue, dia Ibu angkat gue.”

“Maksud lo?”

“Maksudnya lo nggak usah lagi mikirin Bu Rani meskipun dia nggak suka sama lo, gue sendiri suatu saat nanti akan nentukan masa depan gue sendiri, kebetulan aja Bu Rani jadi nyokap gue, tapi dia memang baik dan sayang banget sama gue, udah bikin gue segede ini, seksi lagi.”

“Lantas nyokap kandung kamu di mana?” Tanya Roni penasaran.

“Gue anak adopsi.”

“Adopsi dari mana?” kejar Roni lagi, sementara Topan masih nggak percaya kalau Viela yang dicintainya nggak jelas asal-usulnya.

Viela tertunduk, wajahnya tiba-tiba sedih, Topan dengan prihatin mendekati Viela dan membelai rambutnya. “Maafin Roni, Viel. Dia kalo nanya nyeplos aja.”

Viela menggeleng. “Nggak apa apa kok, Pan. Nyokap pernah cerita, yang ngelahirin gue seorang Ibu kurang mampu, Ibu itu nggak punya uang buat nebus biaya melahirkan, seminggu setelah melahirkan, katanya dia pergi minjam uang ke saudaranya dan menitipkan anaknya sementara di rumah sakit, tapi kemudian dia nggak pernah balik lagi ke rumah sakit. Terus gue diambil Bu Rani. Kata suster di rumah sakit, perempuan yang ngelahirin gue cakep, terbukti kan, gue cantik….” Viela berusaha tersenyum.

Topan juga tersenyum, kembali dibelainya rambut Viela. Kalau cuma Bu Rani penghalang mencintai Rani, kecil, nggak ada apa-apanya, tegas Topan dalam hati, tapi Bu Rani kan udah berjasa ngebesarin Viela, lagian kasihan Bu Rani, sampe sekarang dia belum menikah juga, padahal umurnya udah hampir lima puluh tahun. Tiba-tiba terbersit rasa kasihan yang dalam di hati Topan kepada Bu Rani, sementara cinta dan kasih sayang yang dirasakan Topan kepada Viela pun tambah menggunung, dan Topan ingin selalu melindunginya setiap saat.

“Topan!” Bu Rani tibatiba sudah berdiri di antara mereka, matanya melotot.

Topan gugup.

“Gue gak ikutan!” Roni langsung menjauh.

Tapi Topan segera menangkap tangan Bu Rani dan menciumnya. “Topan janji akan menjaga Viela Bu, Topan nggak akan bolos lagi, Topan juga mau kalau dijadikan anak angkat Bu Rani, Topan senang sama pelajaran Bu Rani….”

Bu Rani menarik-narik tangannya tapi Topan terus menciumnya, hingga akhirnya Bu Rani Luluh dan membiarkan tangannya diciumi Topan, sementara Viela tersenyum senang, Topan pasti bisa mengambil hati Bu Rani, mamaku tersayang, yakin Viela dalam hati sambil menahan senyum melihat ulah Topan yang masih terus menciumi tangan Mamanya.

Cerpen Sedih, Mencoba Tinggalkan Bayangmu

Jumat, 13 Juli 2012
Malam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.

“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”.

Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.

“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”.

“iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”.

Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya.

Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.

“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah.

“Acara apa mah?" tanyaku.

“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.

Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.

“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.

Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”.

“tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.

Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.

Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.


Dia,, pria itu... pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.

Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.

“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku”

Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.

Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku.

Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.

Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.

Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.

    Aku tak pernah tahu
    Aku tak pernah tahu,,
    Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupku
    Ada rasa yang berbeda ketika ku mengingatmu
    Tak sama dengan ketika ku mengingat yang lain

    Aku bahkan tak pernah tahu,,
    kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikiranku
    Aku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,
    Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatiku
    Rasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,
    Indah,, dan mempesona..
    Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,
    Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..

    Percayalah,,
    Aku mencintaimu dengan hati
    Dengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmu
    Dan aku menyayangimu dengan nada
    Dengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,
    Pernah kucoba tuk lupakanmu,,
    Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,
    Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..
    Entah,,
    Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..


Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.

“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.

Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.

“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.

Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.

”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.

Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..
Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..

Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.

Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku.

Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu..

Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu....

Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”...

Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..
*****

Fatkuryati

Demi Valentine

Rabu, 11 Juli 2012
Domie tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.



“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Domie, setiap kali ia merasakan jalan buntu.

Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah ponsel.



“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,” pikir Domie lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa uang ratusan ribu. “Tapi kalo katahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin dari sekolah. Dan malunya itu!”

Domie tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol, tapi dosa besar. Domie cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal.

“Dom, elo liburan mau ke mana?” tanya Zetta, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Domie masih terpekur di bangkunya.

“Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zet. Elo sendiri?” Domie balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zetta tinggal satu blok dengan Domie.

“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Depok.”

“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”.



“Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya kamar sendiri, jauh dari usilnya si Beng, adik gue itu. Tapi jadi repot selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi....”

Domie cukup kenal dengan keluarga Zetta. Mereka keluarga paling kaya di Blok H. Sebersit pikiran muncul di benak Domie.

“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zet?”

“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang dari Depok, rumah udah beres lagi.”

“Bagus deh kalo gitu,” kata Domie.

“Bagus apanya?”

“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Depok.”

“Elo mau juga?”

“Mau apa?”

“Liburan ke Depok.”

“Maksud elo?”

“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”

Domie tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zet.”

Zetta cemberut.

“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”

“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”

“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”

“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zetta mendengus kesal dan meninggalkan Domie. Domie cuma mengawasi cewek manis itu menghilang di luar kelas.

***.



Tante Zelda mengawasi cara kerja Domie yang cekatan. Meski bukan seorang tukang cat profesional, Domie terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat yang menetes di lantai.

“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Zelda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”

“Iya, Tante.” Domie menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok. Sebenarnya Domie agak gugup ditunggui Tante Zelda. Di rumah ini ada dua orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Zelda lebih sering mengawasi dan menunggui Domie bekerja. Pasti karena Tante Zelda merasa paling dekat dengan Domie.

“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Domie.

“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Dom?”

“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”

“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja. Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan sekolah kamu?”

“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zetta sama Beng kapan pulangnya?”

“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”

Domie mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zetta bahwa saya jadi kuli di sini.”

“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan, karena hasil pekerjaanmu emang baik.”

“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya....”

“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”

“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Domie menghentikan gerakan kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zetta saya kerja di sini. Kalo aja Zetta nggak pergi liburan ke Depok, belum tentu saya sanggup meminta pekerjaan di rumah ini.”.



Tante Zelda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran Domie. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok kerjaan Pak Rodi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan. Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng mereka. Oke?”

“Oke, Tante!” Domie merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.

Domie meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya. Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Laudia bukan lagi impian kosong semata.

Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah hadiah paling pas buat Laudia di hari Valentine. Hadiah yang harus ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.

Lagi-lagi Domie tersenyum.

***

Sebuah keributan terdengar dari luar.

“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”

“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Beng emang nggak mungkin bakal tahan terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Zelda.

Suara yang satunya lagi siapa?

“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Beng.”

Zetta?

“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Depok. Beng biar di rumah aja.”

“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Depok! Tanggung!”

Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zetta..



Zetta! Oh my God, itu memang Zetta!

“Mau ke mana, Sayang?”

“Nengokin calon kamar baru gue!”

“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”

“Makan aja sama Beng-Beng! Dasar anak mami!”

Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zetta sengaja menendangnya.

“Ya Allah!! Dom???!!! Ngapain elo di kamar gue?”

Domie tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.

“Gue kerja di rumah elo, Zet.”

“Yaaah elo ini! Surprais banget, Dom. Tapi kenapa juga elo nggak bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini, ngapain juga gue capek-capek ke Depok!” Zetta menatap Domie dengan takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Dom. Kita bisa ngobrol juga.”

“Gue... gue malu, Zet. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”

“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang lain.”

“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Domie. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”

“Tapi tunggu dulu, Dom! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo guru, nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak gini?” Zetta menatap Domie tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo cuman mau nyari sensasi, atau ...?”

“Gue kepepet, Zet.”

“Punya utang maksud elo?”

“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”

Zetta makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”

“Iya,” jawab Domie datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk...”

“Pacar elo? Elo punya pacar, Dom?”

“Gue mau nembak, Zet. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”

“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Dom? Siapa perempuan malang itu?” Zetta berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.

“Laudia.”

“Hah?! Laudia?”.



“Iya. Emang kenapa?”

“Anak kelas 11 B itu, kan?”

Domie mengangguk pasrah.

“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”

“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Domie apa adanya. Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zetta. Domie berharap, Zetta bisa memberinya masukan yang berguna.

“Aduh, romantisnya!” jerit Zetta dalam bisikan. Zetta berharap, Domie tidak mendengarnya.

“Menurut elo gimana, Zet? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”

“Terserah elo aja!” Zetta keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.

Domie terlongong.

Tapi tiga detik kemudian Zetta kembali masuk ke kamar itu.

“Elo ini tolol atau gimana sih, Dom? Elo tau enggak sih, Laudia itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”

Domie tersentak melihat betapa marahnya Zetta.

“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk...!!!”

Memucat wajah Domie. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zetta sudah berlari meninggalkannya.

Domie tak tahu, di kamar yang lain Zetta tengah menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zetta tengah membayangkan betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha yang begitu gigih dari Domie.

Domie memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya..

Cerpen Cinta Pertama Dan Terakhir

Senin, 02 Juli 2012
"rio .. turun nak" teriak bunda dari ruang tamu.
"ada apa sih bun ??" teriak rio dari dalam kamar.

"udah kamu buruan kesinii" jawab bunda.

Rio pun keluar kamar dengan malas-malasan, "kenapa sih bun ?? Rio tuh ca..." kata-kata rio terputus ketika melihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa. Saat dia melihat rio, dia melemparkan senyum yang sudah lama tak ku lihat. Seketika itu rasa cape rio hilang. Rio tersenyum.

"Ify??" kata rio tak percaya saat melihat seorang yang sangat rio sayangi. Seorang yang telah ditunggu rio selama 3tahun.

Cinta pertama rio.
"hy yo" sapa gadis itu yang ternyata bernama Ify

"bunda tinggal dulu ya Ify" kata bunda lalu pergi meninggalkan rio & ify.

Rio berlari menuju arah ify lalu memeluknya.
"Ifffyyyy kapan lo pulang?? gue kangeeen banget sm lo" 3tahun lalu Ify pergi ke singapura untuk berobat tapi rio juga tak tau apa penyakitnya.

"aduh..sakit yo" rintih ify kesakitan karena pelukan rio yang kencang,

"eh sorry fy, abisnya gue kangen banget sama lo" kata rio sambil tersenyum memandang wajah ify.

"haha biasa aja kali yo, gue tau kalo gue tuh ngangenin" kata ify sambil tertawa lepas.

"ih dasar .." kata rio sambil mengacak acak rambutnya

Skip aja yaah...

+++++++++++ keesokan harinya

Rio mengajak ify pergi ke taman, tempat favorit mereka dulu.

"gue gak nyangka lo akan bawa gue kesini lagi" kata ify.

"emang kenapa ?? lo gak suka gue bawa ke sini??" tanya rio penuh curiga.

"eh bukan gitu, gue seneng kok, seneng banget malah" kata ify sambil tersenyum manis.

'apa aku bisa terus sama kamu ? apa aku bisa terus liat senyum kamu itu fy?' batin rio.

Rio memegang tangan ify dan rio bisa melihat raut wajahnya yang berubah menjadi kaget, perlahan wajahnya mulai memerah. Rio tersenyum kecil.

"3tahun gue nunggu fy, dan gue pengen ngomong sesuatu sama lo sebelum semua terlambat" rio melihat raut keheranan di wajah ify, orang yang rio sayang.

"ngomong apaan ??" tanya ify penasaran. Rio tersenyum lembut pada ify dan tetap memegang erat tangan ify.

"apa lo tau perasaan gue selama ini ke lo??

Ify menatapku tak mengerti. Rio pun melanjutkan perkataannya "gue sayang sama lo ify, sayaaaanggg banget..apa lo gatau ?? apa sikap gue selama ini belom bisa nunjukin bahwa gue sayang sama lo ??" kata rio mengungkapkan perasaannya pada ify. Ify semakin tak mengerti

"lo nembak gue ??" tanya ify penuh rasa heran. Rio tersenyum untuk menjawab pertanyaannya yang berarti 'iya'

"hmm..gue pikir pikir dulu boleh ga ??" tanya ify.

"boleh, tapi jangan lama lama ya, ntar gue keburu pergi" kata rio.

"pergi ?? lo mau kemanaa ?? mau pindah ??" tanya ify dengan raut wajah sedih.

"bukan .. udah lo gak perlu tau. pokoknya gue tunggu jawaban dari lo" kata rio menjelaskan.

Suasana sepi beberapa saat, suara hp ify membuyarkan suasana sepi.

"halo ??" ify mengangkat telfonnya "yah, ntar dulu deh maa .... ih iyadeh aku pulang sekarang" ify menutup telfonnya.

Sambil mendesah kecil ify berkata "huh..anterin gue pulang yo" rio menatapnya heran.



"hoh kenapa ?? baru juga bentar" tanya rio pada ify.



"tapi gue disuruh pulang" kata ify dengan wajah cemberut



"oohh..iyadeh gue anter. tapi jangan lupa sama jawaban lo ya" kata rio mengingatkan ify.



"siap bos" kata ify sambil tertawa lepas.



'apa aku bisa ninggalin kamu fy ?? apa aku bisa liat kamu sedih kalo aku ninggalin kamu nanti ??' batin rio.



Rio menggandeng tangan ify menuju motornya dan mengantar ify pulang.



Skiipp..



++++++++++



Rio gelisah, sudah seminggu tak ada kabar dari ify. Seminggu setelah hari dimana rio menyatakan cinta padanya. Apa dia lupa sama rio ?? Atau dia kembali lagi ke singapura ?? Lalu bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan rio ??



Tiba tiba kepala rio terasa pusing, darah segar menetes dari hidungnya. 'Oh Tuhan mengapa penyakitku semakin parah sajaa..' batin rio.



Rio membuka lagi map merah pemberian dokter tadi siang. Kangker otak stadium akhir.Rio melap hidungnya dengan tangan, lalu mengambil motor dan segera melaju kerumah ify.



Setelah rio sampai, rio melihat ramai sekali rumahnya. Rio turun dan mulai melangkah menuju halaman rumah ify. 'kenapa semua menangis ?? ada apa ini' pikir rio.



Saat aku memasuki rumah ify, betapa kagetnya rio melihat sosok seorang yang rio sayangi terbaring lemas tak bernyawa. Air mata rio pun mengalir membasahi pipinya.



"Iffyyyyyyy..."tangis rio pecah, rio tak bisa menahan air matanya lagi. Rio terpukul, rio tak bisa menerima kenyataan.



Dari dalam rio melihat acha, adik ify keluar menghampiri rio. Dia memberikan surat pada rio. Segera rio membuka surat itu, apa isi surat itu.



Dear rio,



Maafin gue ya, gue harus pergi ninggalin lo.Maaf selama ini gue ga cerita tentang penyakit gue ke lo, gue cuma ga pengen liat lo sedih.Maaf gue ga bisa habisin saat terakhir gue sama lo, gue yakin lo bisa tanpa gue.



Lo mau tau ga jawaban gue ?? gue mau yo, gue juga sayang sama lo. Udah lama gue nunggu lo nyatain cinta ke gue. Tapi kenapa baru sekarang ??



Gue sayang sama lo yo, tetep senyum ya pangerankuu ..



I love u forever



byee ...



Tangis rio semakin kencang, rio berlari menuju jasad ify yang tergeletak lemas. Rio mengguncangkan tubuh ify, berharap ify bangun dan memelu rio "Ifyy,, bangun fyy, bangunnn"



Tak lama kemudian rio merasakan pusing yang teramat sangat, rio merasakan hidungnya dialiri oleh darah segar. Matanya perlahan tak dapat melihat apa apa dan kemudian gelap.



Rio melihat ify tersenyum padanya mengajak rio menuju suatu keabadian. Rio memegang tangannya, rio ikut dengan ify menuju surga.



Ify lah cinta pertama dan terakhir Rio. Cinta yg abadi.

 

http://cerita-cerita-di.blogspot.com Copyright © 2012-2013 | Powered by Blogger